Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 48 Bagai warisan


__ADS_3

Siang ini Luthfi datang ke rumah sakit dia ingin melihat mamahnya, Luthfi tak bisa berkata apa apa lagi karena dia tau bagaimana mamahnya itu.


"Mah entah kenapa aku sangat yakin kalau yang melakukan ini adalah kamu" ucap Luthfi.


Luthfi masuk ke ruang UGD Nomor delapan dia melihat Mamahnya yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Assalamualaikum" ucap Luthfi.


Tak ada jawaban dari Mayang mau pun Herman yang ada di sana.


"Lutfhi kamu datang" tanya Mayang.


"Ya" ucap Luthfi.


"Mamah mu kecelakaan katanya dia baru saja dari restoran tapi di perjalanan dia hilang kendali" ucap Herman.


"Kenapa harus ke restoran bukannya di rumah kalian ada pembantu" tanya Luthfi.


"Ya mamah mu mau makan di restoran favorit nya" ucap Mayang.


"Aneh bukan mamah baru pulang dari restoran tapi kenapa dia pulang mengarah ke arah rumah ku, jalan Bukit indah bukan nya jalan ke rumah ku ya" ucap Luthfi.


Herman mati Kutu dia tak bisa bicara lagi karena Luthfi ada benarnya juga.


"Ya mungkin saja restoran Favorit mamah semalam pindah ya ke jalan rumah ku" ucap Luthfi lagi.


"Kamu mau minum apa" tanya Herman pada Luthfi dia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tidak usah aku sudah banyak minum" ucap Luthfi.


"Luthfi bagaimana perusahaan mu apa sudah baik baik saja" tanya Mayang.


"Sebenarnya dari dulu juga baik hanya saja ada yang ikut campur pada ku" ucap Luthfi.


"Tapi siapa yang berani pada mu" tanya Mayang.


"Jangan di tanya siapa yang berani pada ku, kalian juga tau kan siapa orangnya" ucap Luthfi tersenyum.


"Hah kami gak tau apa apa" ucap Mayang.


"Masa sih" tanya Luthfi.


"Ya kami gak tau Fi" ucap Herman.


"Aku gak terlalu perduli pada mereka bahkan pada berita itu aku gak terlalu perduli" ucap Luthfi.


"Ya jangan dengarkan ucapan mereka Luthfi itu hanya akan membuat kamu menderita saja" ucap Mayang.


"Jika kau meminta untuk tak mendengar aku gak bisa karena pendengaran aku masih sehat, ya memang aku mendengar nya tapi aku tak memasukan ucapan itu pada pikiran ku" ucap Luthfi.


"Kau bijak" ucap Herman.


"Ah bukan bijak malah yang bijak itu adalah mamah yang pergi dari restoran tapi kecelakaan bisa di jalan dekat rumah ku, oh ya semalam ada maling yang masuk ke rumah ku, tapi aku pikir maling itu bo doh karena dia tak mengambil apa apa padahal kalau di lihat ada barang berharga di sana, bahkan maling itu juga membuka brangkas ku kenapa dia tak mengambil uang yang ada di sana, coba Ayah pikirkan maling itu tau sandi untuk membuka brangkas ku" ucap Luthfi.


"Dia berarti tau kamu" ucap Herman.


"Ya aku justru curiga kalau itu keluarga ku" ucap Luthfi.


"Bisa saja itu pembantu mu" ucap Mayang ketus.


"Entah tapi aku lebih percaya pada Bi Cici" ucap Luthfi.


"Jangan terlalu memanjakan pembantu Luthfi jadi begitu kan" ucap Mayang.


"Setidaknya pembantu aku bisa mengabdi pada ku" ucap Luthfi.


"Oh ya Luthfi rencana nya Ayah mau beli mobil kira kira mobil apa ya yang bagus" tanya Herman.


"Ck ayah bukannya yang sering belanja mobil itu Ayah ya kenapa tanya pada ku yang bahkan tak pernah beli mobil" ucap Luthfi.


"Ya tadinya aku mau tanya mobil apa yang bagus versi anak muda" ucap Herman.


"Lamborghini, alfard, Sedan, kijang, angkot, dolak, mobil bok banyak kan" ucap Luthfi tersenyum.


"Ya ayah akan coba cari" ucap Herman.


"Baiklah sepertinya aku sibuk aku permisi, semoga Mamah cepat sembuh dan aku harap jangan ikut campur lagi tentang urusan aku" ucap Luthfi.


Luthfi langsung pergi dari sana meninggalkan ruangan itu, dia tersenyum karena mereka mati kutu saat Luthfi membicarakan itu, bahkan Ayahnya juga sampai mengubah topik pembicaraan supaya Luthfi tak membahas itu lagi.


"Sampai kapan kalian akan berbuat seperti ini pada ku" gumam Luthfi.


Sedangkan di Rumah Luthfi, saat ini Rena tengah membuat makanan untuk suaminya itu.


Tanpa Rena sadar Rena melihat ada Nagita yang datang ke sana.

__ADS_1


"Siang" ucap Nagita.


"Dokter" ucap Rena menatap pada Nagita yang masuk tanpa permisi dahulu.


"Mana Luthfi" tanya Nagita.


"Ada urusan" ucap Rena.


"Oh baiklah" ucap Nagita yang langsung duduk di meja makan karena dia akan menunggu Luthfi.


"Mau minum apa" tanya Rena tanpa melihat ke arah Nagita.


"Gak perlu aku gak haus" ucap Nagita.


"Oh baiklah" ucap Rena.


Nagita melihat pada jam yang ada di sana, Nagita terlihat sangat gelisah terlihat dari gerak mata dan tangannya.


"Dokter mungkin Gus Luthfi akan lama pulang" ucap Rena.


"Lalu" tanya Nagita.


"Ada pesan apa biar aku sampaikan" ucap Rena.


"Aku mau bicara langsung gak mau lewat kamu" ucap Nagita.


"Oh baiklah" ucap Rena yang langsung pergi dari sana menonton TV yang ada di ruang tamu.


"Enak ya jadi istrinya Luthfi tinggal diam dan nonton tv, gak melakukan apa apa karena semua nya di tanggung oleh Luthfi, berasa seperti beban keluarga ya" ucap Nagita.


"Ya aku memang beban suami Dok" ucap Rena.


"Kasihan Luthfi" ucap Nagita.


"Ya karena mungkin menafkahi istri nya itu tugas seorang suami, jadi apa tugas seorang istri kalau bukan diam nonton dan rebahan" ucap Rena.


"Tetap saja Kasihan Luthfi harusnya dia punya istri yang punya bakat lah, misal seperti Dokter kalau Luthfi sakit jadi kan ada yang urus, apa lagi aku tau kalau Luthfi pasti sering mengalami sakit pada perut nya" ucap Nagita.


"Tapi sayang Dok, jodoh gak ada yang tau kan" ucap Rena.


Nagita kesal namun dia mencoba menahan nya dia tak mau terlihat payah di hadapan Rena.


"Ya seperti nya Luthfi cocok pada dokter asli bukan hanya pada relawan saja" ucap Nagita.


"Ya mungkin saja tapi sayang sekali Gus Luthfi memilih seorang janda dari pesantren yang tak bisa apa apa dan tak punya apa apa" ucap Rena.


"Kalau aku Dok tak akan pernah pergi kalau bukan Gus Luthfi sendiri yang meminta aku pergi" ucap Rena.


"Waw kamu sombong sekali ya" ucap Nagita.


"Sombong, tidak Dok saya tidak sombong karena selama ini aku tak pernah mendengar jasad yang mengubur diri nya sendiri" ucap Rena.


"Ya mungkin kau salah satunya" ucap Nagita.


"Ah dokter ini saya manusia yang juga sering berbuat salah, tapi saya tak akan menerima kalau ada orang lain yang menganggu ketentraman rumah tangga saya" ucap Rena.


"Oh" ucap Nagita dia sangat kesal pada Rena apa lagi ucapan Rena justru seperti kepadanya.


"Baiklah Dokter mau minum apa" tanya Rena.


"Tak usah" ucap Nagita ketus.


"Ya saya takut anda haus karena kan banyak bicara bisa membuat cepat haus" ucap Rena.


"Luthfi lama ya" ucap Nagita.


"Ya gak heran karena Gus Luthfi sibuk" ucap Rena.


"Bisa diam gak" ucap Nagita.


"Bisa aku bisa diam" ucap Rena tersenyum.


"Bilang pada Luthfi aku akan datang lagi nanti malam aku malas bicara sama kamu yang banyak bicara itu" ucap Nagita yang langsung pergi dari sana.


"Waalaikum salam" ucap Rena tersenyum.


Rena menghela nafas nya kasar dia tak mungkin melawan Nagita karena barusan juga Nagita sangat banyak bicara.


Bahkan tanpa malu Nagita juga membicarakan tentang rumah tangga Rena dan Luthfi.


"Sampai kapan aku akan mengalami ini semua" gumam Rena.


Luthfi pulang ke rumah dia melihat mobil Nagita baru saja keluar dari rumah nya.


"Ada apa orang itu datang" gumam Luthfi.

__ADS_1


Luthfi langsung masuk ke dalam rumah dia melihat istrinya yang sedang menonton televisi.


"Assalamualaikum" ucap Luthfi.


"Waalaikum salam, Gus sudah pulang" tanya Rena yang langsung menyalami tangan Suaminya itu.


"Ya baru saja selesai" ucap Luthfi.


"Baiklah ayo aku buatkan minuman" ucap Rena.


"Ya terima kasih" ucap Luthfi.


Namun Rena ingat pada ucapan Nagita dia duduk di samping suaminya.


"Gus tadi ada Dokter Gita datang dia menunggu mu tapi katanya dia akan datang lagi ke sini nanti malam" ucap Rena.


"Sudahlah biarkan saja" ucap Luthfi.


"Ya aku tak suka saja dia datang" ucap Rena.


"Kenapa di biarkan masuk" tanya Luthfi.


"Dia masuk sendiri Gus" ucap Rena.


"Tak tau tata Krama" ucap Luthfi.


"Sudahlah jangan bicara kan lagi dia" ucap Rena.


"Ya sayang" ucap Luthfi.


Luthfi ingat pada satu ayat di Quran surat an-Nahl ayat 96 yang artinya:


“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.


"Benar cara menanggapi orang munafik itu adalah sabar, tetapi rasanya sulit ya Alloh melaksanakan sebuah sabar" gumam Luthfi.


Tidak akan kekuatan yang paling kuat selain sabar, namun Sabar adalah satu kata yang terdengar sangat gampang tapi sangat sulit untuk di lakukan.


Tak heran karena dalam diri setiap orang ada nafsu dan amarah, jika tak bisa di kendalikan maka kedua hal itu bisa membuat manusia hilang kendali.


Banyak orang yang melakukan kesalahan saat dia tengah emosi, hingga kita di anjurkan untuk diam saat marah, bahkan ada juga di dalam hadits yang artinya:


"Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam." (Hadist Riwayat Ahmad dan Bukhari).


“Mengekang lidah dari berbicara adalah keluhuran sedangkan melepasnya adalah kehancuran.” Nasihat Ali bin Abi Thalib.


“Sikap diammu sehingga engkau di minta berbicara itu lebih baik dari pada engkau banyak berbicara sehingga engkau di minta untuk diam" Ali bin Abi Thalib.


Namun diam saat kita di hina, di caci, di maki, di fitnah, itu sangat lah susah apa lagi saat kita di hadapkan dengan ucapan orang yang menyakiti hati tanpa mereka tau susahnya memperbaiki hati yang sudah terluka.


Bahkan luka karena pedang akan cepat sembuh dari pada luka yang di ciptakan oleh lidah yang tak bertulang.


Malam ini Luthfi mengimami sholat Rena, karena di sana Luthfi jarang untuk ke mesjid dia lebih sering melakukan nya di rumah bersama dengan Rena.


Apa lagi sekarang Luthfi sudah membuat mushola jadi dia tak akan sholat di kamar lagi, terkadang saat sholat kita butuh yang namanya ketenangan.


Namun bagaimana kita akan mendapatkan ketenangan jika kita masih berada di dunia yang tengah di gunjang ganjing masalah ini.


Banyak yang terjadi sekarang, dunia tak seperti dahulu lagi, sekarang sudah berbeda semua nya berbeda.


Sekarang semua orang lebih mementingkan diri nya sendiri, banyak saudara yang tak akur hanya karena tersinggung satu status di hp.


Banyak keluarga yang hancur hanya karena memperebutkan sebuah harta yang belum tentu di bawa mati, bahkan banyak yang melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan kepuasan sendiri.


Luthfi menatap pada istri nya.


"Rena aku harap saat aku sudah tiada nanti aku ingin kau yang mengurus ini semua, kalau kau tak sanggup berikan pada anak anak kita, aku gak akan rela harta ini jatuh ke tangan orang yang salah" ucap Luthfi.


"Ya Gus" ucap Rena.


"Aku gak tau kenapa mamah Sangat terobsesi pada harta ini, jujur saja dalam hati ku kalau mamah minta pasti aku akan berikan, namun aku gak akan memberikan semua aku takut mamah menyalah guna kan Harta yang dia punya" ucap Luthfi.


"Jangan begitu dia juga mamah mu" ucap Rena.


"Ya dia orang tua aku tapi Orang tua yang mana yang rela menyingkirkan anaknya hanya untuk sebuah harta" ucap Luthfi.


"Sabar" ucap Rena.


"Oh ya satu lagi aku harap saat nanti aku punya anak tetapi aku sudah tak ada, tolong jaga anak anak aku kalau aku punya anak perempuan tolong jangan biarkan dia membuka aurat mereka, karena aku sebagai Papah aku gak akan rela jika aurat Putri Putri ku menjadi tontonan orang orang" ucap Luthfi.


"Ya Gus ini semua bagai warisan bagi ku" ucap Rena.


Luthfi menyentuh kepala Rena yang di balut dengan mukenah, dia sangat beruntung mempunyai istri seperti Rena.


"Luthfi..... Luthfi...." teriak seseorang yang terdengar di ruang tamu ruang Luthfi.

__ADS_1


"Siapa itu" tanya Luthfi.


 


__ADS_2