Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 138 Faiz tau tentang lukisan


__ADS_3

"Mana uang aku ingin belanja" ucap Nanda meminta uang pada Faiz.


"Sebenarnya kerjaan kamu di rumah itu apa? Nanda, sampai sampai kamu tidak membereskan kamar kamu sendiri" tanya Faiz.


"Astaga mas ini saja kamu ributkan" geram Nanda.


"Bukan aku ributkan, Tapi Nanda harus nya kamu bereskan kamar ini lagi pula ini kamar kamu, tempat kamu tidur bagaimana kalau kamu sakit karena jorok" tanya Faiz.


"Mas sudahlah kalau kamu mau ceramah di masjid saja, sekarang aku butuh uang aku mau belanja" ucap Nanda.


"Belanja terus yang kamu inginkan, aku akan berikan uang pada mu untuk kamu belanja tapi bereskan dulu ini" titah Faiz.


Nanda langsung membereskan kamarnya itu, Nanda juga mengepel lantai di kamarnya itu, rasanya sangat malas sekali Nanda untuk membersihkan kamar karena dahulu dia punya pembantu.


Faiz duduk di sana dia melihat pada catatan di ponsel nya, Faiz menuliskan semua hutang nya pada orang orang yang sudah dia hutangi dahulu.


"Astaga kenapa masih sangat banyak" gumam Faiz.


Faiz menatap pada Nanda yang sekarang membereskan kamarnya, sebenarnya Faiz tidak keberatan jika istri nya terus mengomel, hanya saja yang Faiz ingin kan adalah Nanda membantu Faiz bekerja untuk melunasi hutang itu.


Namun tidak mungkin bagi Faiz meminta hal itu apa lagi Nanda tidak terbiasa kerja berat, padahal jika mau Nanda pasti di terima bekerja menjadi perawat di rumah sakit karena dahulu Nanda juga pernah berpengalaman menjadi dokter.


Harapan Faiz hanya sia sia saja apa lagi sekarang Nanda hanya diam saja di rumah tanpa melakukan apa apa selain belanja dan nonton film di ponsel nya.


"Nanda" tanya Faiz.


Nanda melihat ke arah suaminya yang sekarang hanya duduk saja.


"Apa mas" tanya Nanda.


"Bisa kah kamu bekerja lagi" tanya Faiz.


"Kalau aku punya suami untuk apa aku bekerja mas" ucap Nanda.


"Ya aku tau, dulu aku melarang hal ini tapi Nanda aku hanya ingin kamu membantu aku melunasi hutang" ucap Faiz.


"Aku gak mau kalau aku bekerja tugas kamu sebagai suami apa" tanya Nanda.


"Bukan begitu hanya saja aku mau kamu membantu aku untuk mengumpulkan uang" ucap Faiz.


"Mas kamu ini tidak berguna sekali menjadi suami" ucap Nanda.


"Nanda aku bukan nya memerintah tapi kan kalau kita sudah bayar hutang kita bisa memulai kehidupan dari nol lagi" ucap Faiz.


"Tidak aku tidak mau" ucap Nanda.


"Terserah lah" ucap Faiz yang langsung keluar dari kamar nya karena tak ingin berdebat dengan Nanda.


Sayangnya Nanda sekarang sangat marah dia langsung menyusul Faiz yang sekarang keluar dari kamar nya.


"Beri kan aku uang" sahut Nanda.


Faiz mengambil uang dari saku celana nya dia memberikan Nanda beberapa lembar uang merah yang baru saja dia dapatkan dari hasil ilegal.


Faiz sebenarnya tidak menyangka kalau dia akan memberikan nafkah dengan uang hasil jual beli barang terlarang.


Namun Faiz berpikir kalau ini hal yang paling baik, karena untuk menafkahi Nanda butuh uang yang banyak.


Dan hanya pekerjaan ini yang mampu memberikan Faiz uang yang bercukupan.


"Aku berangkat" ucap Nanda yang langsung pergi dari sana tanpa salam atau pun pamitan yang benar pada suaminya itu.


Tetapi Faiz saat ini sangat capek dia langsung masuk lagi ke dalam kamar nya dan merebahkan tubuh nya di sana.


Nanda sudah membereskan kamar itu namun tetap saja Faiz merasa sangat tidak nyaman di kamar itu.


Faiz melihat ponsel Nanda yang ada di sana,


"Mungkin Nanda lupa membawa ponsel nya" gumam Faiz.


Faiz membuka pesan di ponsel Nanda ternyata ada pesan dari grup sosialita Nanda yang sudah beberapa bulan ini Nanda ikuti.


Ternyata di dalam nya ada pesan dari Nanda dan teman temannya yang membahas sebuah lukisan yang fotonya Nanda kirimkan.


Faiz membuka foto itu ternyata foto itu adalah foto lukisan yang ada di rumah orang tuanya.


"Ini kan Lukisan Abi" gumam Faiz.


Faiz mencari nama kontak di ponsel itu dengan nama Meri, katanya di sana yang membeli nya adalah Meri.


"Astaga aku benar kan kalau yang membeli nya itu adalah Meri" gumam Faiz.


Namun karena untuk memastikan Faiz keluar dari kamar nya dia melihat lukisan yang ada di ruang tamu rumah orang tuanya itu.


Faiz sangat terkejut saat melihat kalau lukisan itu berbeda dengan lukisan yang dahulu selalu di pajang di sana.


Karena lukisan asli nya ada coretan yang di hasilkan oleh Yadna.


"Astaga apa Nanda menjual lukisan itu" gumam Faiz.


Saat ini Sofi menatap pada cucunya yang tengah melihat lukisan itu.


"Faiz kamu tau kan kebusukan istri mu" tanya Sofi.


"Nenek" ucap Faiz terkejut.


"Jangan di tutup tutupi Faiz kamu suaminya kamu berhak mengajari Nanda apa yang salah dan apa yang benar, ya aku tau aku juga dahulu saja tapi kamu tau suami aku dulu membawa aku ke jalan yang benar, dia bahkan rela berkorban hanya demi aku, kamu harus tau jika memang pasangan kita bukan orang yang baik maka belajar lah baik bersama sama" ucap Sofi.


"Ya Nek aku tau kalau sikap Nanda sangat keterlaluan, aku janji akan mengganti ini semua" ucap Faiz.


"Mengganti saja tidak cukup Faiz kamu perlu membicarakan hal ini dengan istri mu, dan buat dia berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi, istri mu menghalalkan segala cara untuk dirinya sendiri" ucap Sofi.


"Ya Nek aku akan berusaha keras untuk menasehati Nanda" ucap Faiz.


"Minta maaf pada orang tua mu terlebih dahulu" ucap Sofi.


"Ya Nek" ucap Faiz.


Faiz benar benar di buat malu oleh istri nya itu, tanpa dia sadari ternyata Nanda sudah melangkah sejauh ini.


Bukan hanya sekali dua kali bahkan sebelum nya juga Nanda pernah mencuri perhiasan Rena, setelah itu uang Gladys dan sekarang lukisan.


Entah nasihat apa lagi yang Harus Faiz ajarkan pada istri nya itu, karena yang Faiz tau kalau perbuatan Nanda itu hanya akan mengundang cekcok saja di dalam rumah tangga nya.


Bahkan jika Faiz melarang Nanda pasti akan menyalahkan Faiz, kalau Faiz tidak pandai memberikan dia nafkah, atau bahkan Nanda akan menyalahkan Faiz karena Faiz tidak memberikan dia uang belanja.


"Astaga aku tidak bisa mengajarkan Nanda" gumam Faiz.

__ADS_1


Sedangkan sekarang di kediaman Mayang saat ini Yadna baru saja bisa tertidur lagi setelah malam tidur larut malam karena masih ingat akan hal itu.


Kathir yang masih ada di sana hanya tersenyum saja menarap pada Yadna yang sekarang tertidur pulas dengan wajah yang masih muram.


Kathir tau betul kalau sekarang Yadna tengah bersedih, namun Kathir berharap Yadna akan baik baik saja dan cepat melupakan hal itu.


"Apa yang sudah bajin gan itu lakukan pada mu Adna, sampai sampai kamu ketakutan seperti ini" gumam Kathir mengusap kepala Yadna yang di tutupi Jilbab.


Dari siang sampai sore Kathir tidak pergi dari sana dia tidak mau pergi meninggalkan Yadna, apa lagi Yadna saat ini tengah hancur.


Tak ada keluarga yang bisa menemani Yadna, karena kemungkinan besar kalau Yadna masih menutupi kejadian itu dari keluarga nya.


Kathir sebenarnya tak enak ada di sana apa lagi Mayang selalu datang ke sana karena khawatir pada kondisi Yadna yang berduaan di kamar bersama dengan Kathir.


Kathir tau betul kalau saat ini Nenek Mayang takut Kathir melakukan hal yang macam macam padanya.


"Nek" sahut Kathir.


"Apa Yadna sudah tertidur" tanya Mayang.


"Sudah Nek baru saja tertidur" ucap Kathir.


"Aku tidak tau kalau Yadna separah itu" ucap Mayang.


"Tidak apa Nek hanya saja Adna butuh istirahat" ucap Kathir.


"Istirahat, mungkin dia kecapean" ucap Mayang.


"Ya Nek, oh ya rencana nya aku akan melamar Adna" ucap Kathir.


"Bagus kalau begitu" ucap Mayang.


"Ya tapi aku takut di tolak" ucap Kathir.


"Kenapa takut" ucap Mayang.


"Aku hanya takut saja aku sadar diri aku Siapa Nek" ucap Kathir.


"Kamu ini sudah baik, ganteng, sopan lagi" ucap Mayang memuji Kathir.


"Tidak Nek aku tidak sebaik itu" ucap Kathir.


"Jika ada wanita yang menolak mu, maka wanita itu akan menyesal Nak, karena menolak laki laki tampan seperti diri mu" ucap Mayang.


"Ya Nek" ucap Kathir.


Setelah lama berbincang Kathir akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah nya karena sekarang di rumahnya tengah berduka atas kematian Fathir sang kakak bagi Kathir.


Saat Kathir pulang dia melihat rumah nya yang cukup kosong hanya ada beberapa tamu saja yang masih ada di sana.


Banyak sekali bunga yang berjajar di sepanjang halaman rumah mewah itu.


Kathir masuk ke dalam rumah itu, di ruang tengah di pajang foto Fathir yang sangat besar, keluarganya duduk di sana memandangi foto Fathir.


"Kamu dari mana saja" tanya pak Amta.


"Aku dari luar pah aku ingin melupakan hal ini, aku juga sedih pah" ucap Kathir.


"Kamu tidak akan sedih Kathir, justru kamu akan bahagia saat melihat kakak mu tiada karena harta warisan akan menjadi milik kamu semuanya ya kan" tanya mamahnya.


"Mah walau pun aku dan kakak sering bertengkar tapi mah tak ada sekali pun aku ingin harta itu" ucap Kathir.


"Aku heran sebenarnya mungkin anak mamah itu hanya Kak Fathir saja" ucap Kathir.


"Kathir jaga bicara mu" geram mamahnya itu.


"Kenapa mah bukan kah itu kenyataan nya" tanya Kathir.


"Diam dan aku tidak mau melihat kamu lagi" ucap Mamahnya itu marah pada Kathir.


"Aku akan pergi, aku hanya ingin memberi tau kan pada kalian kalau Besok aku akan melamar Adna, terserah kalian mau datang atau tidak tapi aku akan melamar Adna" ucap Kathir.


Semua orang terkejut mendengar nya padahal mereka masih saja berduka tapi saat ini Kathir malah bilang akan melamar Yadna.


"Bodo h" geram Mamahnya.


"Anak seperti apa Kathir itu yang mau melamar padahal dia sedang berduka"


"Mungkin ada hal yang di sembunyikan".


"Apa mungkin ada rahasia"


"Kathir dan mamahnya ternyata tidak baik baik saja".


Kathir sudah muak mendengar ucapan ucapan orang orang, dia langsung pergi dari sana meninggalkan orang tuanya yang tengah berduka cita di sana.


Tak peduli walau pun di anggap anak durhaka sekali pun, Kathir tidak akan berubah pikiran dia akan tetap melamar Yadna dan akan menikah dengan nya langsung.


Namun Kathir juga tidak bisa memaksa dia harus tanya dulu pada Yadna apa dia menerima Kathir atau tidak.


Sedang kan di kediaman Mayang saat ini Luthfi dan Rena baru saja datang ke sana karena baru pulang dari kediaman Kathir.


"Assalamualaikum Mah" Sahut Rena dan Luthfi.


"Waalaikum salam" ucap Mayang.


"Mah di mana Yadna" tanya Rena sambil menyalami tangan mamah mertua nya itu.


"Dia tidur katanya dia harus banyak istirahat" ucap Mayang.


"Oh Baiklah" ucap Rena.


"Siapa laki laki yang ganteng itu" tanya Mayang.


"Siapa" tanya Rena.


"Kabir" ucap Mayang.


"Mungkin Kathir mah" sahut Luthfi.


"Nak itu katanya dia akan melamar Yadna, saran mamah sih kalau bisa terima saja dia kamu bayangkan sudah baik, ganteng, dan sopan lagi" ucap Mayang.


"Kata siapa dia akan melamar" tanya Luthfi.


"Kata dia pada aku, katanya dia akan bicara pada mu besok" ucap Mayang.


"Aku tidak tau" ucap Luthfi.

__ADS_1


"Berarti aku yang tau ini dari awal" ucap Mayang.


"Mamah sudah makan" tanya Rena.


"Sudah" ucap Mayang.


"Mah datang lah ke rumah, aku akan jaga mamah di sana" ucap Rena.


"Tidak Rena katanya besok Gladys akan pulang lagi ke sini" ucap Mayang.


"Kak Gladys akan datang lagi" tanya Rena.


"Ya katanya jadi datang, aku akan tunggu di rumah ini saja" ucap Mayang.


"Tapi mah alangkah baiknya datang ke sana karena pasti semalaman ini Mamah hanya akan berdua saja bersama dengan Adiba itu pun kalau Adiba pulang ke sini" ucap Rena.


"Tapi aku tidak mah bertemu dengan menantu mu itu" ucap Mayang.


"Mamah tenang saja ada aku kan" ucap Rena.


"Ya mah Rena benar" ucap Luthfi.


"Ya baiklah aku akan ke sana tapi untuk satu malam saja" ucap Mayang.


"Alhamdulillah rumah jadi semakin ramai" ucap Rena.


"Baiklah ayo" ucap Mayang.


Tak lupa Rena mengirimkan pesan untuk Adiba agar pulang ke rumah saja.


{Adiba, Nenek Mayang, mamah bawa pulang kalau kamu mau pulang langsung saja ke rumah ya} pesan dari Rena.


Mereka langsung berangkat saat Yadna terbangun dari tidurnya.


Yadna senang bertemu dengan orang tuanya hanya saja Yadna takut kalau orang tuanya kecewa atau pun marah padanya.


Rumah itu kosong bahkan Rena juga memulangkan pembantu yang bekerja di sana, karena rumah itu akan di kunci apa lagi takutnya ada orang yang jah at datang ke sana.


Mereka sampai di kediaman Luthfi yang sekarang sudah pasti akan sangat ramai karena bertambah satu orang lagi yaitu Mayang.


Hubungan Mayang dan Sofi sebenarnya sedikit renggang tetapi saat tau kalau Herman sudah tidak ada Mayang sudah memaafkan Sofi karena hal itu.


Padahal yang aslinya salah itu adalah Mayang yang dulunya mencuri Herman dari Sofi.


Namun karena mereka sudah tua mereka malu pada cucu mereka kalau harus berdebat lagi.


Mereka baikan walaupun jarang bertegur sapa.


"Kamu datang" tanya Sofi menyambut Mayang.


"Ya" ucap Mayang.


"Ayo masuk dulu aku akan buatkan air" ucap Rena.


"Rena lain kali pekerjakan pembantu kamu selalu mengerjakan sendirian" ucap Mayang.


"Ya Rena" ucap Sofi.


"Tidak mah aku lebih senang begini" ucap Rena.


"Rena aku sudah tua mamah mu juga sudah tua, kamu hanya punya Yadna dan Adiba jika kamu butuh sesuatu, Rena kamu beruntung punya anak yang sayang sama kamu, dan kamu Yadna jika suatu saat nanti mamah mu hanya sendirian jaga dia baik baik" ucap Mayang.


"Ya siapa lagi yang bisa di andalkan Selain kamu yang paling de wasa" ucap Sofi.


"Kalian ini kan ada Gus Luthfi yang akan menemani aku" ucap Rena.


"Rena itu berbeda nak, ajal itu tidak tau kapan datang jadi kamu hanya punya anak anak mu untuk menjadi teman berpikir kamu" ucap Mayang.


"Ya mah aku paham" ucap Rena.


"Waktu itu singkat Rena" ucap Mayang.


Namun Mayang ingat pada warisan yang sudah dia bagikan.


"Luthfi, aku sudah membuat surat warisan, tolong berikan sebagian uang ku itu pada Faiz, aku sudah berikan semua pada Gladys kecuali pabrik itu, karena pabrik itu hanya milik kamu" ucap Mayang.


"Mah untuk apa itu semua" tanya Luthfi.


"Bukan begitu aku hanya ingin anak anak ku mendapatkan bagian dari apa yang sudah aku kelola" ucap Mayang.


"Anak anak mu aku bagikan juga hanya saja Adiba yang tidak aku bagi, tapi aku sudah pikir kan ada emas yang aku simpan di bank berikan saja itu pada Adiba" ucap Mayang.


"Aku memberikan warisan lebih pada anak anak Gladys karena aku kasihan pada dia yang hidup nya sangat berkecukupan, maaf kamu hanya setengah nya saja" ucap Mayang.


"Tak apa mah, aku bahkan tidak meminta" ucap Luthfi.


"Ya aku takut ada perselisihan nanti nya" ucap Mayang.


"Tidak akan" ucap Luthfi.


"Ya aku sudah kumpul kan perhiasan tanah dan logam mulia untuk Faiz tapi tolong jangan berikan hal itu pada istri nya aku hanya ingin cucu ku yang menikmati nya" ucap Mayang.


"Mamah namanya juga suami istri" ucap Rena.


"Ya Rena aku tidak mau wanita pencuri itu menikmati hasil kerja keras ku" ucap Mayang.


"Berapa yang kamu berikan kepada Faiz" tanya Sofi.


"Seperempat dari Harta aku, aku lakukan itu karena dia putra Gladys" ucap Mayang.


"Wah aku jamin setelah dapat harta mu dia pasti sangat kaya" ucap Sofi.


"Maka dari itu aku tidak mau" ucap Mayang.


Namun tak jauh dari saja Faiz mendengar hal itu dia tidak menyangka kalau dia katanya putra dari Gladys dan Nenek nya itu sampai segitunya pada Faiz.


"Apa benar aku anak Bibi Gladys" gumam Faiz.


Faiz yang tadinya akan meminta maaf pada orang tuanya atas nama Nanda, hal itu tidak dia lakukan karena banyak orang di rumahnya.


Apa lagi ada Mayang yang datang ke sana.


"Soal lukisan aku akan bicarakan nanti aku sangat malu sekarang, apa lagi Nanda sampai sekarang ta punya rasa malu saja sekali" gumam Faiz.


Namun sekarang Yadna masuk ke dalam kamarnya, dia kepikiran pada ucapan Neneknya itu yang katanya harus menjadi de wasa karena mamahnya hanya akan bertukar pikiran dengan dirinya atau Adiba.


Rasa bersalah itu muncul pada diri Yadna, dia takut kalau orang tuanya mendengar kabar itu apa jadinya Yadna kalau berita itu viral.

__ADS_1


"Ya Alloh tolong lindungi harga diri aku" gumam Yadna.


__ADS_2