Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 41 penyakit kambuh


__ADS_3

Malam nya Rena duduk di tepi ranjang dia merasa sangat ingin bicara pada Luthfi tapi dia tau tau harus bicara apa karena takut Luthfi akan tersinggung.


"Gus" ucap Rena.


"Ya" tanya Luthfi.


"Sapi yang kemarin di kurban kan, itu dari perusahaan kamu kan" tanya Rena.


"Hmm ya punya papah" ucap Luthfi.


"Oh pantas karena yang mengirim nya Pak Yasir" ucap Rena.


"Ada apa" tanya Luthfi.


"Tidak ada hanya tanya saja" ucap Rena.


"Sekarang tau kan" ucap Luthfi.


"Ya Gus" ucap Rena.


"Baiklah ayo tidur" ucap Luthfi.


"Ya ayo" ucap Rena.


Pagi harinya para santri melaksanakan sholat subuh mereka semua sudah berada di mesjid, Setelah selesai para santri langsung berlarian untuk menuju ke arah ruang makan.


Sedang kan Luthfi saat ini dia akan pergi ke warung untuk membeli kopi, dia mulai kecanduan lagi pada kopi, padahal penyakit dia sering kambuh.


Luthfi diam diam pergi ke warung yang ada di samping pesantren, dia membeli kopi sachet dia sangat suka pada kopi itu,


Namun Luthfi melihat pada seorang ibu yang tengah menangis di sana.


Luthfi bertanya pada ibu warung yang ada di sana.


"Bu kenapa" tanya Luthfi menatap pada seorang ibu yang menangis itu.


"Udah biasa di mah Gus, berantem sama suami nya" ucap Ibu warung.


"Oh" ucap Luthfi.


"Dia seperti itu terus, kata ibu kalau begini terus ya sudah cerai saja tapi dia masih saja sama suaminya" ucap ibu warung.


"Biar saya yang tanya Bu" ucap Luthfi.


"Ya silahkan" ucap Ibu Warung.


Luthfi mendekat pada ibu itu, dia duduk cukup jauh dari ibu itu.


"Bu ada apa" tanya Luthfi.


"Hah Ustadz tak apa" ucap ibu itu yang langsung menghapus air mata nya.


"Ada apa bu cerita saja siapa tau aku bisa bantu" ucap Luthfi.


"Ustadz saya punya suami dia sangat kasar pada saya, sebelumnya saya memaklumi tapi saya biarkan lama semakin lama dia malah semakin melunjak Ustadz, dia semakin kasar" ucap ibu itu sambil menangis.


"Kasar bagaimana" tanya Luthfi.


"Kasar Ustadz seperti bilang Sia (kamu dalam Sunda kasar) atau nyatu (makan dalam Sunda kasar), pokoknya dia itu sangat kasar Ustadz" ucap ibu itu.


"Kalau menurut aku sih ya jelas ya sakit hati kalau di perlakukan seperti itu" ucap Luthfi.

__ADS_1


"Ya Ustadz, kira kira saya harus seperti apa ya" tanya ibu itu pada Luthfi.


Luthfi tersenyum dia takut salah bicara.


"Bu saya gak bisa memberi kan saran, hanya saja mungkin Sekarang terserah ibu saja, saya gak mau ikut campur masalah ibu, karena begini Bu baik buruk nya seorang suami maka itu tetap lah imam bagi ibu, saya gak mungkin bisa meminta ibu untuk berpisah kalau ibu masih mau bersama dengan suami ibu, sebenarnya perempuan dengan laki laki itu beda, ibarat begini perempuan itu bisa di arahkan asalkan imamnya saja kuat, tetapi seorang suami sangat susah untuk di arahkan karena dia kelapa keluarga seharusnya dia yang memberikan contoh yang baik untuk istri dan anaknya" ucap Luthfi.


"Ya ustadz saya juga punya anak kecil umur empat tahun saya gak mau dia ikut jejak bapaknya" ucap Ibu itu.


"Kalau saya sarankan untuk anak ibu sedikit ibu arahkan saja pada yang benar, tapi kalau suami ibu, saya pikir akan susah saran saya Bu anggap saja ini cobaan ibu dengarkan tapi jangan di masukan ke dalam hati, ibu dengarkan saja saya tau kalau lambat laun dia akan bosan kok, kecuali ibu punya suami yang kasar dalam bentuk fisik seperti kdrt, saya sarankan segera tinggalkan Bu karena laki laki kalau sudah main fisik akan keterusan, tapi kalau dalam ucapan masih di maklum ya, karena gini Bu kalau ke ibu kasar pasti ke orang lain juga kasar, berdoa saja semoga ada orang yang akan mengingatkan dia" ucap Luthfi.


"Ya Ustadz tapi saya sering sakit hati" ucap Ibu itu.


"Bu semua nya juga punya sikap yang tersembunyi, misal sebelum menikah romantis dan setelah menikah gak romantis lagi, karena mereka berpikir kalau setelah di dapat kan mereka tak perlu melakukan itu lagi, karena mereka tau kalau pasangan nya sudah menjadi miliknya ada atau tidak nya keromantisan maka pasangan kita akan tetap bersama dengan kita kan" ucap Luthfi.


"Ya Ustadz terima kasih" ucap ibu itu.


"Ibu sabar saja, Alloh itu maha membulak balikan hati manusia jadi kita tak akan tau kapan seseorang manusia bisa berubah kalau sudah kehendak Alloh maka apa pun tak akan ada yang mustahil" ucap Luthfi.


"Baiklah Ustadz saya permisi terima kasih" ucap ibu itu yang langsung pulang.


Luthfi tersenyum dia tak mau seperti itu pada Rena nantinya apa lagi hati seorang wanita sangat lembut.


"Kurang bersyukur sekali rasanya jika aku melakukan itu pada Rena" gumam Luthfi.


Rena mencari cari suaminya itu, dia melihat Luthfi yang sekarang tengah berjalan menuju ke arah gerbang pesantren.


"Dari mana Gus Luthfi pagi pagi sekali ke warung, pikiran ku mulai tak enak" gumam Rena.


Dia mendekat pada suaminya, Luthfi yang menyadari pun langsung menyembunyikan kopi sachetan itu ke belakang punggung nya.


"Apa yang kamu sembunyikan" tanya Rena.


"Gak ada" ucap Luthfi.


"Gak ada" ucap Luthfi.


Rena mengambil tangan Luthfi yang ada di belakang punggung nya.


"Tuh kan kopi lagi" ucap Rena tersenyum.


"Ijinkan aku minum ini plis" ucap Luthfi.


"Gus kamu sudah banyak minum kopi" ucap Rena.


"Ayolah plis aku mau sekali ini saja" ucap Luthfi.


"Ya baiklah" ucap Rena pasrah.


Rena membiarkan saja karena untuk melarang pun Rena tak akan bisa.


"Gus maaf semalam aku lihat berita, ada berita mu di sosial media" ucap Rena.


"Kamu tau" tanya Luthfi.


"Ya aku tau aku lihat" ucap Rena.


"Tak apa lah biarkan saja" ucap Luthfi.


"Tapi Gus pasti gara gara aku ya kamu masuk berita seperti ini, maaf aku gak tau Gus aku pikir gak akan separah ini, aku malu Gus, apa lagi ada mengomentari yang bukan bukan katanya semua ini salah aku" ucap Rena.


"Kenapa jadi salah kamu" tanya Luthfi.

__ADS_1


"Ya buktinya mereka bilang kau ke pesantren ini karena aku, kau ingin membahagiakan aku jadi kau datang ke sini dan membiarkan perusahaan mu" ucap Rena.


"Siapa yang bilang aku akan sumpal mulutnya" geram Luthfi.


"Mereka Gus aku jadi gak enak apa lagi ada mamah mu juga di sana" ucap Rena.


"Mamah berkomentar apa dia" tanya Luthfi marah jika mengingat mamah nya lah yang telah melakukan itu padanya.


"Gak ada dia hanya menanggapi saja" ucap Rena.


"Sayang aku gak menyalahkan kamu, aku datang ke sini karena kemauan aku bukan karena ingin membahagiakan kamu, ya memang tadinya aku mau merayakan idul Adha di sini biar kamu gak kesepian di kota tapi aku gak menyalahkan kamu, aku juga gak melibatkan kamu" ucap Luthfi.


"Tapi tetap Gus aku yang salah" ucap Rena.


"Tidak kau tak salah biarkan masalah ini menjadi masalah ku kamu jangan pikirkan ya" ucap Luthfi.


"Tapi aku takut ini semua salah aku" ucap Rena.


"Gak aku gak akan melibatkan kamu" ucap Luthfi.


"Ya terima kasih" ucap Rena.


mereka makan bersama setelah makan Luthfi menyeduh kopi dan meminumnya sendirian di kamar, sedangkan Rena sekarang tengah mengajar para santri putra yang akan ikut lomba qasidah.


"Baiklah aku akan ajarkan lagunya saja" ucap Rena.


"Tapi Ning aku gak tau cara memukul nya" ucap santri putra.


"Sini aku bantu" ucap Rena.


Rena mengajarkannya sedang kan Luthfi ada di kamarnya sekarang, dia cukup stres menghadapi itu semua apa lagi dalangnya adalah mamahnya sendiri.


"Harus apa aku apa gak akan dosa kalau aku melawan mamah" gumam Luthfi.


Dia melihat hpnya sekarang hari Minggu dia tak punya kegiatan apa apa, karena hari Minggu para santri bebas jadi waktu nya para guru untuk beristirahat.


Luthfi menghabiskan kopinya sampai habis dia berbaring di atas ranjang karena dia sangat pusing sekarang.


"Aku sangat stres bagaimana cara aku mengembalikan semuanya" gumam Luthfi.


Namun tiba tiba saja perut Luthfi sakit, perut nya sangat sakit seperti ada yang membelit perutnya.


"Astaghfirullah kenapa kambuh lagi sekarang" ucap Luthfi memegang perut nya yang terasa sangat sakit.


Dia tak bisa berkata apa apa lagi perut nya benar benar sakit, Dia sampai meringis kesakitan karena perutnya yang terus bersuara.


"Astaghfirullah kenapa sakit begini" gumam Luthfi.


Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..


Hanya kalimat itu yang bisa Luthfi ucapkan dia merasa sangat kesakitan, begitu lah dia kalau kambuh sakitnya dia tak pernah bicara pada siapa pun, dia hanya akan mengurung dirinya di kamar sendirian.


Luthfi tidak mau menyusahkan orang lain.


"Tahan Bismillah aku bisa" gumam Luthfi.


Luthfi melihat lihat kotak obat dia dulu sering menyimpan stok obat sebagai jaga jaga untuk dia kalau sakit nya kambuh lagi.


Tapi sayang sekarang tak ada karena Luthfi tak pernah menyimpan obat lagi.


Bahkan Luthfi juga belum membeli obat untuk nya.

__ADS_1


"Kenapa aku seceroboh ini" gumam Luthfi.


Luthfi mendudukkan tubuhnya di lantai dia merasakan kesakitan yang sangat sangat luar biasa.


__ADS_2