
Mereka masuk ke dalam kamar Rena menutup pintu kamar Luthfi, semuanya terlihat masih sama seperti dahulu, tak ada yang berani masuk ke dalam karena kunci kamarnya masih di pegang oleh Luthfi.
"Gus kamu kenapa" tanya Rena.
"Aku puasa jadi aku ngirit bicara karena kalau aku banyak bicara nanti aku cepat haus" ucap Luthfi.
"Ya deh ya" ucap Rena.
Rena membuka jendela yang ada di sana karena kamar itu terlihat sangat bau karena sudah beberapa hari tak di tempati.
"Kamu habis jajan" tanya Luthfi.
"Ya" ucap Rena.
"Puas puasin jajan Ning di sana kamu jarang jajan" ucap Luthfi.
"Aku jarang jajan hanya saja kalau jajan aku mau yang pedas" ucap Rena.
"Jangan banyak makan yang pedas karena perut tak selamanya kuat apa lagi kalau usia udah cukup tua perut terasa sangat panas kalau makan yang pedas, sayangi badan kita Ning kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga badan kita" ucap Luthfi.
"Ya Gus aku tau" ucap Rena.
"Bagaimana kalau kita pakai nama panggilan" tanya Luthfi.
"Panggilan siapa" tanya Rena.
"Kita" ucap Luthfi yang sangat antusias dia sangat hangat pada Rena tak seperti dengan orang lain yang terkesan dingin dan ketus.
"Baiklah apa" tanya Rena.
"Sayang" ucap Luthfi.
"Jangan ah malu" ucap Rena.
"Layla" ucap Luthfi.
"Jangan nama aku Rena" ucap Rena.
"Lalu apa" tanya Luthfi.
"Kamu panggil aku Rena saja aku panggil kamu Gus" ucap Rena.
"Ya deh aku pasrah" ucap Luthfi.
"Baiklah kamu mau istirahat, adzan masih lama kamu bisa tiduran dulu" ucap Rena.
"Baiklah" ucap Luthfi.
Luthfi tiduran di sana dia istirahat karena perjalanan dari kota sangat lah panjang dan itu sangat melelahkan.
"Aku akan ke rumah Umi" ucap Rena.
"Ya" ucap Luthfi.
"Selamat istirahat sayang" ucap Rena yang langsung pergi sana karena malu.
"Sayang, Argh Kau membuat aku semakin gemas saja" ucap Luthfi gemas.
Rena keluar dari sana, tapi sayang ada seorang laki laki yang menghentikan langkah Rena.
"Kamu siapa" tanya laki laki itu Rena yakin orang baru itu pasti penjaga kamar putra.
"Aku Rena" ucap Rena menatap pada laki laki yang berwajah tegas itu.
"Tau kan peraturan di sini bagaimana jadi jangan macam macam apa lagi berani sekali masuk ke dalam sini" ucap laki laki itu.
"Maaf tapi saya tau aturan di sini" ucap Rena.
"Jika tau kenapa masih masuk" tanyanya.
"Mohon maaf saya permisi" ucap Rena.
Orang itu menahan Rena karena dia tak tau kalau Rena putri Abah Zakaria.
"Jangan pergi kamu harus di hukum" ucap orang itu.
"Siapa nama kamu" tanya Rena.
"Fadly usia 20 tahun aku yakin kalau aku lebih besar dari mu" ucap Fadly.
"Oh" ucap Rena.
"Ikut aku pada Abah" ucap Fadly.
Untungnya ada Farid yang datang ke sana dia melihat pertikaian itu.
"Ada apa" tanya Farid.
"Gus aku di tahan" ucap Rena.
"Kenalkan dia Rena Az Zahra, putri Abah Zakaria dan dia baru datang kemari bersama dengan suaminya Gus Luthfi" ucap Farid pada penjaga baru itu.
"Oh maaf kan aku" ucap Fadly.
"Ya tak apa" ucap Rena yang langsung pergi dari sana dari hadapan Fadly dan Farid.
Rena merasa sangat marah karena orang itu seolah menyalahkan nya, tapi di sisi lain Rena juga salah karena seperti itu lah peraturannya, bahkan Ainun saja yang menjadi Istri Fauzi guru di sana jika masuk ke kamar santri Putra, Ainun pasti bareng sama Fauzi karena peraturan nya sangat ketat.
Seperti tak ada toleransi sedikit pun, tak mandang siapa yang melakukannya kalau salah mereka tetap salah, sekali pun orang yang membuat pesantren itu.
Namun ada keuntungan juga dengan di berlakukan peraturan ini karena para santri jadi tak akan berani melanggar peraturan.
Rena sangat kagum pada Fadly yang tak kenal takut pada orang yang akan dia tegur.
Hal itu sama seperti Luthfi dahulu dia pun sama, tetapi itulah tugas mereka.
"Ning ada apa" tanya Zia.
"Tak ada" ucap Rena.
"Sekarang para santri puasa jadi Umi tak masak nanti saja sore kita bantu umi masak" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Rena.
"Apa Abimana datang" tanya Zia yang membuat Rena menatap pada kakak ipar nya itu.
"Pernah tempo lalu kita ketemu di taman saat aku bersama dengan Gus Luthfi dia meminta aku untuk ikut aku gak mau dia maksa, tapi untung nya ada Gus Luthfi jadi dia pergi" ucap Rena.
"Aku menyesal Ning karena Abimana sangat na kal sekarang apa lagi dia seperti ingin menjatuhkan orang lain" ucap Zia.
"Tak apa kak" ucap Rena.
__ADS_1
"Ya aku sangat tak menyangka kalau dia akan sekejam itu" ucap Zia.
"Tak apa kita berdoa saja kalau sebentar lagi Kak Abi bisa bertaubat" ucap Rena.
"Ya aku harap begitu" ucap Zia.
Malam harinya para santri berbuka puasa di ruang makan, Rena ikut di sana dia memastikan kalau suaminya ikut makan.
Tadi siang dia sudah mandi wajib jadi besok dia bisa ikut puasa seperti yang lain.
"Apa Gus Luthfi sudah selesai makan" tanya Rena.
"Mungkin sudah" ucap Zia.
Allahuakbar Allahuakbar
Allahuakbar Allahuakbar
Adzan Isya berkumandang ternyata yang Adzan adalah Luthfi, semua santri langsung masuk ke dalam mesjid setelah mereka sudah selesai Wudhu.
Rena dan Zia juga ikut ke sana karena mereka juga akan Sholat berjamaah.
Kehidupan di pesantren sangat lah ramai apa lagi dengan banyaknya para santri yang sangat membuat tempat itu sangat ramai.
Semua santri melaksanakan Sholat Isya berjamaah setelah Sholat mereka mendengar kan ceramah dari Abah yang memimpin di sana.
Pukul sembilan lewat lima menit para santri keluar dari Mesjid karena sudah selesai, Mereka semua langsung tidur karena hari juga sudah malam.
Para Santri berhamburan di halaman pesantren yang sangat luas itu, sedangkan Luthfi saat ini tengah bersama dengan Farid yang juga akan keluar dari Mesjid.
"Bagaimana di kota" tanya Farid.
"Lumayan lancar tapi gak seindah di sini" ucap Luthfi.
"Ya sebenarnya pesantren cocok untuk orang orang yang merasa kesepian" ucap Farid.
"Aku saran kan kau menikah Gus" ucap Luthfi.
"Ah kalau menikah nanti saja aku belum punya pasangannya" ucap Farid.
"Kapan bukankah umur kita sama ya" ucap Luthfi.
"Tidak kita beda satu tahun" ucap Farid.
"Tetep saja kita satu kelas kan" ucap Luthfi.
"Kalau aku tenang saja jodoh kan pasti datang dengan sendirinya" ucap Farid.
"Kalau gak di jemput mau naik kendaraan apa jodoh kamu" tanya Luthfi.
"Paling naik angkot" ucap Farid.
"Ya terserah lah" ucap Luthfi.
"Akan tidur di mana" tanya Farid.
"Entah aku masih mencari Rena" ucap Luthfi.
"Kalau masuk kamar santri putra aku sarankan Ning Rena bersama dengan mu, penjaga yang baru cukup tegas" ucap Farid.
"Siapa" tanya Luthfi.
"Fadly" ucap Farid.
Luthfi melihat Rena baru keluar dari mesjid bersama dengan Zia, terlihat dari tangan Rena yang membawa Mukena.
"Rena Sholat" tanya Luthfi tak percaya.
"Kamu kenapa Gus seperti itu, seperti yang baru lihat Ning Rena sholat aja" ucap Farid.
"Yang belum nikah gak akan paham" ucap Luthfi.
"Apa perlu yang belum nikah gak akan paham" ucap Farid kesal.
"Aku duluan" ucap Luthfi yang langsung pergi dari sana untuk menemui Rena yang sekarang baru saja masuk ke dalam rumah Abah.
"Ya terserah" ucap Farid.
Luthfi langsung masuk ke rumah Abah yang di dalamnya hanya ada Zia dan Rena saja di sana.
"Rena" ucap Luthfi.
"Ya gus" tanya Rena.
"Mau tidur di mana" tanya Luthfi.
"Di kamar kamu" ucap Rena.
"Baiklah ayo kata Gus Farid penjaga baru sangat tegas jadi kamu bareng saja dengan ku" ucap Luthfi.
"Baiklah ayo" ucap Rena yang langsung mengambil bantal untuk tambahan,
"Kak aku tidur ya" ucap Rena.
"Ya" ucap Zia.
"Biar aku yang bawa" ucap Luthfi yang sudah tak sabar untuk unboxing.
"Gus aku baru tau kalau kamu adalah donatur terbesar di pesantren ini" ucap Rena yang langsung menghentikan langkah Luthfi.
"Bukan aku" ucap Luthfi berusaha mengelak.
"Jangan berbohong aku tau kok tiap bulan kau mentransfer kan uang atas nama Ufi A Yasir, itu nama perusahaan kamu kan" ucap Rena.
"Kamu marah" tanya Luthfi.
"Tidak hanya saja aku kecewa karena kau tak bicara" ucap Rena.
"Rena aku hanya ingin membantu" ucap Luthfi.
Luthfi menatap pada Rena yang sekarang ada di belakangnya.
"Maafkan aku" ucap Luthfi merasa bersalah.
"Tak apa aku senang kok suami aku baik sekali" ucap Rena yang langsung mencubit pipi Luthfi yang cukup gemoy itu.
"Jangan sentuh bukan Muhrim" ucap Luthfi dingin.
"Ya deh ya" ucap Rena tersenyum.
Luthfi langsung tertawa karena Rena sangat mengemas kan, dia seperti anak kecil yang sangat senang sekarang.
__ADS_1
Ehemmk
Fauzi ada di sana dia berdehem saat melihat Luthfi seperti anak kecil di hadapan Rena.
Saat mendengar ada orang Luthfi langsung terdiam seketika dia langsung menunjukkan wajah dingin dan datarnya.
"Malam" ucap Fauzi.
"Malam" ucap Rena.
"Selamat menikmati" ucap Fauzi.
"Gus dari mana" tanya Rena.
"Aku cari Ainun" ucap Fauzi.
"Oh udah ketemu" tanya Rena.
"Belum aku tunggu di sini saja nanti juga datang" ucap Fauzi.
"Oh baiklah kami duluan" ucap Luthfi.
"Ya selamat menikmati malam yang dingin" ucap Fauzi.
"Ya Gus" ucap Rena.
Mereka langsung masuk ke kamar santri putra, Luthfi sudah membayangkan hal hal yang indah untuk dia lakukan sekarang pada Rena.
"Rena aku ingin hak ku, tidak tidak jangan begitu mungkin aku langsung maksa saja ya, tapi gak mungkin karena pasti Rena akan ketakutan, apa aku harus melakukan nya perlahan, tapi bagaimana mungkin karena Rena gak peka, Arghh ini membuat aku bingung saja, Luthfi kamu ini punya hak penuh pada Rena jadi terserah kamu saja mau memperlakukan dia seperti apa" batin Luthfi berkecamuk.
Rena menatap pada Luthfi yang hanya bengong saja di belakangnya.
"Gus" ucap Rena.
Tak ada jawaban dari Luthfi dia hanya bengong dan seperti melamun.
"Gus Luthfi" ucap Rena.
Rena menyentuh pipi suaminya itu, namun Luthfi seperti tak memberikan respon Rena langsung mencubit hidung mancung suaminya itu.
"Sayang" ucap Luthfi.
"Kamu kenapa bengong" tanya Rena.
"Maaf aku lagi mikirin berkas" ucap Luthfi.
"Oh baiklah" ucap Rena.
"Ayo masuk" ucap Luthfi.
"Ya ayo" ucap Rena.
Mereka masuk ke dalam kamar, ranjang di kamar Luthfi lumayan besar karena dia sendiri yang memilihnya jadi pas untuk berdua.
Namun Rena kepikiran dengan ucapan Zia sungguh kakak ipar nya itu adalah ahli dalam segala hal.
"Kak kau membuat aku gelisah" gumam Rena.
"Kamu besok puasa" tanya Luthfi.
"Puasa" ucap Rena.
Luthfi menganti pakaian di sana karena di sana hanya ada satu ruangan jadi Luthfi melakukan apa pun di sana.
Tanpa Luthfi sadari Rena langsung mendekat ke arahnya, Rena memeluk Luthfi dari belakang.
Hal itu membuat Luthfi semakin tak karuan dia tak bisa bernafas dengan lega karena sekarang dia tengah di kuasai Na fsu.
"Gus" ucap Rena.
"Hmm".
"Aku mau" ucap Rena.
"Mau apa" tanya Luthfi.
"Mau kamu" ucap Rena.
"Lalu" tanya Luthfi.
"Ish kamu ini" Rena marah karena Luthfi tak peka, niat akan memberikan nya karena Rena tak mau jadi wanita yang berdosa karena sudah menolak Suaminya.
Namun Rena ingat pada ucapan kakak iparnya.
"Sebenarnya mungkin laki laki pesantren ini kurang memuaskan seorang wanita" ucap Zia yang terngiang ngiang di benak Rena.
"Apa mungkin maksud kak Zia laki laki di pesantren gak peka ya" batin Rena.
Tak mau di cap durhaka pada suami, Rena langsung melakukan apa yang Zia bicarakan padanya.
Rena mendekat pada Luthfi yang masih berdiri di sana, dia masih tak sangka kalau hari ini dia akan melakukan nya.
Luthfi saat ini tengah membacakan Doa yang Pernah dia pelajari dahulu untuk malam pertama.
"Malam ini kamu dekati Gus Luthfi, aku yakin dia gak akan menolak, kamu raih tangannya setelah itu cium, jangan lupa kamu buka kemejanya satu persatu"
" Kamu kecup lehernya aku yakin dia pasti akan luluh"
"Ya setelah itu kau berbaring di atas ranjang, aku yakin Gus Luthfi paham".
Ucapan Zia kemarin Rena lakukan pada Luthfi tak ada respon dari Luthfi antara senang dan kaget bercampur jadi satu.
Rena berbaring di ranjang, namun tak ada reaksi dari Luthfi dia hanya melihat Rena dengan tatapan tajam.
Rena menghela nafas nya kasar.
"Mungkin Gus Luthfi tak sama seperti Gus Adam, ck kak saran mu payah" batin Rena yang akan marah pada kakak ipar nya itu.
Rena bangkit dari pembaringan nya dia mengambil handuk karena dia akan Wudhu untuk tadarusan.
Luthfi memegang tangan Rena guna menghentikan langkahnya Rena.
Luthfi mengecup bibir Rena yang merah muda itu.
Hingga lama mereka melakukan hal itu akhirnya Luthfi membawa Rena ke atas ranjang.
"Gus lakukan lah perlahan" pinta Rena.
"Ya aku paham" ucap Luthfi.
"Aku takut" ucap Rena.
__ADS_1
"Aku pasti kan akan sangat perlahan, tahan ya" ucap Luthfi.
Skipp