Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 57 Gladys lahiran


__ADS_3

Pagi ini Mayang terbangun dia melihat ke arah sekitar tak Mayang sangka kalau dia akan berada di sana, tempat itu adalah Cassino milik Sofi semalam Mayang minum sangat banyak.


"Nyonya apa kau stres kau minum banyak semalam" tanya Sofi yang langsung masuk ke dalam kamar yang ditempati Mayang.


"Sofi aku sangat pusing sekarang, oh ya semalam aku melakukan apa saja" tanya Mayang.


"Tidak ada Nyonya kau hanya mabuk berdansa dan pingsan di kamar ini, ya sih semalam Nyonya masuk kamar ini tanpa ijin dulu, semalam kamar ini di sewa satu pasangan tapi kau menerobos masuk" ucap Sofi.


"Ya sudahlah lupakan saja aku akan ganti semua nya" ucap Mayang.


"Baiklah ayo kita makan aku sudah siapkan makanan untuk mu" ucap Sofi.


"Benarkah" tanya Mayang.


"Ya" ucap Sofi.


Mereka langsung sarapan bersama, Sofi menyuguhi makan yang mewah pada Mayang.


"Terima kasih kau baik" ucap Mayang.


"Sama sama" ucap Sofi.


"Oh ya di mana anak kamu aku belum pernah melihat nya" tanya Mayang.


"Anak aku sudah menikah kan, lagi pula dia hidup bahagia bersama suaminya, kau tau dia tak suka pada bisnis yang sedang aku jalan kan ini" keluh Sofi.


"Kenapa padahal kau sukses" ucap Mayang.


"Ya tapi dia berbeda" ucap Sofi.


"Aku paham, siapa suami anak mu itu" tanya Mayang.


"Dia seorang pengusaha aku tak sangka kalau putri aku akan menikah dengan orang kaya, dua kali dia menikah dan dapat pengusaha bujang lagi" ucap Sofi.


"Bujang hebat sekali anak kamu ya" ucap Mayang.


"Ya aku juga gak percaya" ucap Sofi.


"Anak mu pasti cantik" puji Mayang.


"Ah gak begitu" ucap Sofi.


"Kapan kapan aku mau melihat Putri mu" ucap Mayang.


"Ya kita atur saja" ucap Sofi.


Sedangkan di kediaman Luthfi saat ini Rena tengah mempersiapkan makanan untuk Gladys dan suaminya, Rena sengaja menyiapkan sendiri dia ingin suaminya makan makanan buatan nya.


"Gus ayo makan" Sahut Rena.


"Ya sayang" ucap Luthfi yang langsung duduk di sana.


Mereka makan tapi sayang Gladys datang ke sana sambil memegang perutnya dan meringis kesakitan.


Rena mendekat padanya.


"Gladys ada apa? apa ada yang sakit" tanya Rena khawatir.


"Perut aku sakit" keluh Gladys yang langsung duduk di kursi meja makan.


"Apa kita akan membawa dia ke rumah sakit" tanya Rena.


"Aku yakin ini hanya kontraksi palsu" ucap Luthfi karena dulu juga begitu.


"Tapi ini sakit" ucap Gladys.


"Gus kita bawa saja Gladys ke rumah sakit ya" ucap Rena.


"Nanti aja kata dokter juga kan baru delapan bulan" ucap Luthfi.


"Gus bisa saja kan kalau dokter itu salah" ucap Rena.


"Lalu sekarang bagaimana" tanya Luthfi.


"Tolong bawa aku ke rumah sakit aku sudah gak tahan kak" keluh Gladys kesakitan.


"Baiklah ayo" ucap Luthfi.


Rena memapah Gladys untuk menuju ke arah mobil yang ada di halaman rumah Luthfi, mereka langsung menuju ke arah rumah sakit terdekat.


Luthfi takutnya kalau Gladys akan berbohong lagi, apa lagi dulu juga dia tak jadi pergi ke rumah sakit karena kontraksi palsu.


Sesampainya di rumah sakit kontraksi pada perut Gladys belum berhenti juga dia langsung di bawa ke ruangan perawat untuk segera di tangani.

__ADS_1


Rena dan Luthfi hanya menunggu di luar ruangan perawat, pihak keluarga belum boleh dibiarkan masuk karena Gladys sedang di periksa.


"Gladys pasti sendirian" ucap Rena.


"Kamu tenang saja" ucap Luthfi.


"Kalau aku melahirkan nanti apa aku juga akan seperti ini" tanya Rena.


"Tidak kamu akan di temani aku" ucap Luthfi.


"Ya tapi nanti ya aku belum siap" ucap Rena.


"Siapin aja dulu" ucap Luthfi.


"Ya" ucap Rena.


"Kamu tenang saja setelah kamu siap aku akan tancap gas" ucap Luthfi.


"Ke mana" tanya Rena yang tak peka pada ucap suaminya.


"Ke pesantren nganter Gladys" ucap Luthfi ketus karena istri nya itu tak paham pada ucapan nya.


"Kamu yakin akan menitipkan Gladys di pesantren, aku takut mamah marah" ucap Rena.


"Gak akan" ucap Luthfi memegang tangan Istrinya.


Dokter keluar dari ruangan nya, Rena langsung mendekat pada dokter itu.


"Bagaimana dok" tanya Rena.


"Pasien akan melahirkan sekarang, tapi pembukaan nya baru delapan sebentar lagi, kalau keluarga nya mau masuk silahkan atau suaminya juga bisa" ucap Dokter itu.


"Suaminya bekerja Dok, Istri saya saja yang akan menemani nya" ucap Luthfi.


"Baiklah silahkan masuk" ucap Dokter.


Rena masuk ke dalam bersama dengan Dokter, sedang kan Luthfi dia lemas sekali mengetahui hal itu dia mendudukkan tubuhnya ke Kursi yang ada di sana, dia tak menyangka kalau Gladys benar benar tak punya suami.


"Ya Alloh aku tau kebenaran ini tapi entah kenapa rasanya seperti sakit sekali mendengar kenyataan ini" gumam Luthfi.


Di ruangan itu Gladys tengah mengeluh kesakitan dia tak bisa menahannya lagi, Rena yang baru datang mencoba mengusap perut Gladys perlahan.


"Kata dokter sebentar lagi" ucap Rena.


"Sabar nya" ucap Rena tak tau harus apa karena dia tak bisa membantu mengurangi rasa sakit Gladys.


Rena membaca kan Ayat kursi dan beberapa surat pendek lain nya dia meniupkan nya pada ubun ubun Gladys.


"Sabar ya" ucap Rena.


Rena mengusap usap perut Gladys dia merasakan kalau perut Gladys seperti bergerak, Rena tersenyum saat merasakan kalau yang bergerak itu bukan perut Gladys tapi pergerakan dari si jabang bayi.


"Aku yakin sebentar lagi" ucap Rena yakin.


Dokter datang ke sana mereka langsung memeriksa lagi dan ternyata pembukaan nya sudah lengkap.


"Sekarang kita persiapkan" bisik dokter itu pada yang lain.


Dokter itu tak mau pasien grogi dia akan melakukan nya secara perlahan dan hati hati.


"Apa ini kelahiran pertama" tanya Dokter itu.


"Ya ini yang pertama" jawab Rena.


"Masih dara ya" ucap Dokter.


"Ya dokter" jawab Rena


Dokter memberikan saran agar Gladys ngeden perlahan, Dokter itu mengukur benang sampai beberapa senti, ada beberapa biji benang yang dokter itu sudah gunting.


"Tarik nafas perlahan dan neden ya" titah Dokter.


Rena tersenyum saat Gladys menatap padanya.


"Kamu kuat" ucap Rena.


Hingga satu jam perjuangan Gladys melahirkan bayi, akhirnya keluar juga bayi laki laki yang sangat tampan.


Rena tersenyum bahagia karena akhirnya Gladys melahirkan juga, padahal kemarin dokter baru memberi tau kan kalau Gladys baru saja beberapa minggu.


Tetapi sekarang sudah lahiran juga dengan bayi yang normal tanpa kurang sedikit pun.


"Alhamdulillah Bu bayinya laki laki berat badan nya 3,5 kg dan panjang nya 49 cm" ucap Dokter sambil membawa bayi itu.

__ADS_1


"Aku akan panggil Gus Luthfi untuk di adzankan" ucap Rena.


Rena langsung berjalan ke arah luar, sedangkan Luthfi saat ini dia sedang cemas sudah lama sekali dia menunggu di luar.


"Gus" Sahut Rena.


"Ada apa" tanya Luthfi.


"Gus bayinya laki laki" ucap Rena.


"Benarkah" tanya Luthfi tak percaya.


"Ya ayo masuk dan adzankan" titah Rena.


Luthfi masuk dia melihat keponakan nya itu, Luthfi langsung menggendong nya, Dia melantun kan adzan pada telinga kanan bayi itu.


Tak lupa Luthfi juga membacakan doa sapu jagad pada bayi itu tepat di telinga kirinya, doa doa yang lain tak lupa Luthfi bacakan pada bayi itu.


"Kamu sudah tak sakit lagi" tanya Rena pada Gladys yang sekarang masih sangat lemas.


"Kak kalau emang bayi itu akan menganggu kalian buang saja" ucap Gladys.


"Buang? tidak Gladys aku yang akan merawat nya, kami sudah payah melahirkan dia tapi kamu meminta aku untuk membuang nya, tidak Gladys" ucap Rena.


"Aku gak mau merepotkan kalian, aku sadar kalau aku gak bisa menjaga anak itu" ucap Gladys.


"Tak apa aku anggap Anak ini sebagai rezeki dari Alloh" ucap Rena.


"Ya kamu gak perlu cemas memikirkan bayi ini yang paling penting satu atau dua hari lagi kamu akan aku kirim kan ke pesantren" sahut Luthfi.


"Ya" Gladys pasrah dia merasa kalau kehidupan nya terlalu banyak salah jadi dia tak akan membantah Luthfi lagi, dia cukup malu karena sudah memberikan anak itu pada Luthfi.


Bukan hanya anak tapi Gladys juga memberikan tanggung jawab yang besar pada Luthfi.


"Terima kasih" ucap Gladys.


"Tak apa" ucap Rena.


Mereka menunggu lama hingga dokter memperoleh kan mereka untuk pulang, Luthfi langsung membawa mereka pulang dia ingin segera selesai permasalahan ini.


Karena Luthfi yakin kalau setelah ini akan banyak lagi masalah yang akan dia hadapi nantinya.


"Satu persatu masalah selesai sekarang selamat datang masalah baru" batin Luthfi sambil tersenyum.


Rena menatap terus pada Bayi yang tertidur lelap itu, hingga mereka sampai dan pulang ke rumah.


Luthfi meminta Bi Cici untuk beres beres di kamar Luthfi karena mereka akan menidurkan bayi itu langsung di kamarnya.


Gladys seperti tak perduli pada bayi itu, terlihat dari raut wajah nya yang seperti anteng saja, bahkan saat bayi itu nangis pun Gladys tak perduli dia hanya mencoba menenangkan namun tetap bayi dalam gendongan Gladys.


Bahkan Gladys juga belum memberikan pelukan hangat pada bayinya itu, dia terkesan tak perduli benar benar tak perduli.


"Gladys nama apa yang akan kau berikan" tanya Luthfi.


"Apa saja aku serahkan semua nya pada kakak ipar" ucap Gladys.


"Aku" tanya Rena.


"Ya Rena kau, baiklah nama apa yang akan kau berikan pada bayi kecil itu" tanya Luthfi.


"Faiz Syed Abdullah" ucap Rena.


"Bagus" ucap Luthfi menatap pada anak itu, "seperti nya nama itu cocok untuk anak ini" gumam Luthfi.


"Bagaimana kalau menurut kamu Gladys" tanya Luthfi.


"Bagus" Ujar Gladys malas.


"Baiklah namanya Faiz" ucap Luthfi.


Mereka sampai di rumah Rena langsung membawa bayi itu ke kamar nya, Rena merasa heran karena Gladys setelah melahirkan langsung sehat seperti tak terasa apa apa.


"Aneh ya Gus, Gladys seperti baik baik saja" ucap Rena sambil menyelimuti bayi kecil itu.


"Ya begitulah" ucap Luthfi.


"Berarti ucapan orang lain itu benar ya" ucap Rena yang baru paham sekarang.


"Ya mau bagaimana lagi" ucap Luthfi.


"Kapan kamu akan antarkan dia ke pesantren" tanya Rena.


"Mungkin dua hari lagi" ucap Luthfi.

__ADS_1


"oh" ucap Rena.


__ADS_2