
Pagi harinya para santri sudah bersiap di mesjid untuk melaksanakan sholat Sunnah satu tahun sekali itu.
Mereka semua tampak sumringah karena akan melaksanakan sholat yang hanya terjadi satu tahun sekali itu.
Bahkan Luthfi dan Rena juga sudah ada di sana karena akan melaksanakan sholat idul Adha berjamaah.
Takbir masih berkumandang para santri senior ada di barisan paling depan karena begitu lah biasanya.
Luthfi tak terlihat gugup berbeda dengan yang lain yang seperti nya sangat gugup dan ketakutan.
Abah menatap pada santri Senior nya satu persatu hal itu lah yang paling mereka takut kan.
Luthfi tak merasakan ketakutan karena setiap tahun dia belum pernah di pilih, apa lagi Luthfi adalah keamanan jadi dia hanya akan menjadi keamanan saja tanpa jadi imam atau ngajar.
Tiba tiba saja Abah menatap pada Luthfi, Abah yakin kalau Luthfi bisa menjadi imam di idul Adha kali ini.
"Gus Luthfi" ucap Abah tersenyum penuh arti.
Degh..
Jantung Luthfi seakan hampir copot tumben sekali Abah menyuruh dia untuk menjadi imam padahal sebelumnya tidak pernah Abah menyuruh nya.
Dia sangat gugup apa lagi dia takutnya grogi karena yang dia dengar dari orang yang sudah menjadi imam mereka akan lebih gugup saat menjadi imam di hari hari Raya dari pada di hari hari biasa.
"Gus Fauzi khutbah" ucap Abah.
"Baik Abah" ucap Fauzi.
Sedangkan Luthfi saat ini masih gemetaran namun dia berdoa semoga tak gugup saat dia di depan.
"Bismilah" ucap Luthfi yang langsung maju ke arah Sajadah yang di siapkan untuk imam.
Luthfi akhirnya bisa menyelesaikan sholat nya tanpa kesalahan sedikit pun dia bisa juga mengimami saat sholat idul Adha.
Fauzi mulai berkhutbah, setelah selesai semuanya bersalaman dan pulang, para santri langsung makan dengan lauk seadanya.
Luthfi menunggu Rena di luar mesjid dia melihat ternyata istri nya itu masih mengobrol dengan Zia yang tak lain kakak ipar nya.
Luthfi merasakan hpnya yang bergetar dia melihat ternyata Dimas yang menelepon.
"Ada apa dia menelpon aku sudah suruh dia untuk libur" gumam Luthfi.
📞📞
"Ada apa" tanya Luthfi.
"Tuan cek berita di media" ucap Dimas.
📞📞
Luthfi panik dia tak tau ada apa tapi perasaan nya cukup tak enak mengenai hal yang sedang dia pikirkan itu.
"Apa ini" geram Luthfi menatap pada berita yang tengah di tampilkan di layar aplikasi sosial media nya itu.
SEORANG PENGUSAHA KEPERGOK JALAN JALAN PADAHAL DI PERUSAHAANNYA TENGAH MENGALAMI KEBAKARAN DAN MEMAKAN KORBAN, SUNGGUH TAK PUNYA HATI PENGUSAHA ITU MEMBIARKAN KARYAWANNYA KESUSAHAN, SEDANGKAN DIRINYA MALAH ASIK JALAN JALAN...
"Apa apaan ini" geram Luthfi marah dia tak tau kalau ada yang memfitnah diri nya itu.
Yang paling membuat Luthfi marah adalah foto saat dirinya ngabuburit bareng Rena di tampilkan di berita itu.
"Kenapa orang orang ini" geram Luthfi.
Rena datang ke sana bersama dengan Zia.
"Ada apa Gus" tanya Rena yang langsung mengagetkan Luthfi.
Prakk
Hp yang ada di tangan Luthfi terjatuh ke tanah, untung saja tak ada yang retak hanya mati saja.
"Gus ada apa" tanya Rena cemas karena suaminya itu sangat ketakutan saat melihat nya.
"Maaf aku terkejut" ucap Luthfi.
"Hp kamu tak apa ayo kita makan" ucap Rena.
"Ya ayo" ucap Luthfi sambil melihat hpnya yang mati karena terjatuh.
Di kota yang sangat panas dan macet itu, Mayang tersenyum karena bahagia sudah membuat berita palsu itu.
Luthfi mengikuti Rena yang sekarang akan ke kamar dahulu karena akan menyimpan mukena yang dia pakai itu.
Mereka masuk ke kamar santri putra, Luthfi terlihat sangat cemas apa lagi dia tak tau harus apa, karena selama ini dia belum pernah masuk berita.
"Orang itu sangat tak sopan aku akan pasti kan kalau kau akan menderita karena melakukan itu pada ku" batin Luthfi geram.
Mereka masuk ke dalam kamar, Luthfi tersenyum melihat istrinya itu.
Dengan tiba tiba Luthfi memeluk Rena dari arah belakang.
"Gus ada apa" tanya Rena.
"Aku mau" ucap Luthfi.
"Mau apa" tanya Rena menatap pada suaminya.
"Ayolah Rena aku menahan nya lama" ucap Luthfi.
"Baiklah" ucap Rena membalikan badannya menatap pada suaminya itu.
"Lakukan lah" ucap Rena lagi sambil memeluk kembali suaminya itu.
Skip
Siang harinya di pesantren banyak sekali para santri yang melakukan bakar bakaran, setelah di bagikan daging nya masih tersisa banyak.
Abah memperbolehkan para santri untuk melakukan bakar bakaran di halaman pesantren.
Para santri Abah bagi rata karena tak mau ada yang tak kebagian.
Bahkan Rena juga akan melakukan bakar bakaran bersama dengan Luthfi.
"Gus ayo bakar daging" ucap Rena.
"Ya ayo" ucap Luthfi.
Mereka membakar daging itu, ini lah yang para santri ingin ingin kan karena mereka hanya merasa kan momen itu hanya satu tahun sekali saja.
Abah bahagia melihat para santri yang menikmati makanan itu, dia sangat berharap kalau para santri bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara.
Bukan hanya itu Abah juga berharap kalau para santri nya itu menjadi orang yang sukses dengan kemampuan mereka masing masing.
Abah melihat wajah Luthfi yang seperti nya tengah ada masalah dia tau bagaimana Luthfi apa lagi Abah sudah mengenal Luthfi selama beberapa tahun.
"Gus Luthfi ada apa" tanya Abah.
"Tidak Abah" ucap Luthfi.
"Ada masalah" tanya Abah.
"Tidak Abah hanya masalah pekerjaan" ucap Luthfi.
"Semoga cepat selesai" ucap Abah.
"Amin Abah" ucap Luthfi.
"Gus hp kamu bunyi" ucap Rena.
"Aku akan angkat dulu" ucap Luthfi yang langsung pergi dari sana.
Rena membakar daging itu di atas api yang sengaja Luthfi buatkan,
"Abah dari siapa sapi yang di kurban kan ini" tanya Rena.
"Kota namanya pak A Yasir" ucap Abah.
"Afdal Yasir" tanya Rena.
"Ya mungkin saja pak Yasir nya sudah meninggal tapi ini dari putranya, tiap tahun dia selalu memberikan sapi untuk di kurban kan" ucap Abah.
"Apa mungkin sapi ini dari Gus Luthfi" gumam Rena.
__ADS_1
"Lanjutkan makan makannya Abah mau menemui Ustadz Hasan" ucap Abah.
"Ya abah" ucap Rena.
Rena ingat pada nama mertuanya itu, apa lagi namanya sama.
"apa mungkin ini dari Gus Luthfi" gumam Rena bertanya tanya.
Rena ingat pada uang donasi yang pesantren, yang paling besar mendonasi adalah perusahaan Ufi A Yasir dan itu nama perusahaan milik Luthfi.
"Apa mungkin ini dari Gus Luthfi" gumam Rena.
Sedangkan tak jauh dari sana Luthfi tengah menerima telpon dari Dimas karyawan nya.
📞📞
"Ya bagaimana" tanya Luthfi.
"Aku sudah tanya kalau orang yang menjadi kang service itu adalah anak buah Nyonya Mayang yang tak lain ibu anda tuan" ucap Dimas.
"Kamu yakin" tanya Luthfi.
"Yakin tuan" ucap Dimas.
"Bisa hapuskan berita itu" tanya Luthfi.
"Aku gak bisa karena itu harus dari akun sosial media orang yang pertama memposting nya, tapi aku gak yakin karena berita itu sudah tersebar luas" ucap Dimas.
"Oh baiklah tak apa" ucap Luthfi.
"Tuan saya akan selidiki hal yang lain" ucap Dimas.
"Ya" ucap Luthfi.
📞📞
Luthfi geram sangat sangat geram dia tak sangka kalau mamahnya itu akan melakukan hal sekejam itu padanya.
Luthfi mencoba mengirim kan pesan pada mamahnya itu, tapi sayang sepertinya Mamahnya itu tak ada niat membalas nya.
{Aku tak sangka kau akan sejahat itu}
{Aku tak akan memaafkan kamu}
{Kalau mau lawan saja langsung jangan sebarkan berita hoax}
Banyak sekali pesan yang Luthfi kirimkan dia tak percaya pada mamahnya itu.
"Argh mau apa lagi orang orang itu mengusik aku" geram Luthfi.
Sedangkan Mayang yang sekarang menerima pesan itu hanya acuh saja dia tersenyum melihat Luthfi yang panik karena berita itu.
"Luthfi aku tau kalau kau bukan darah daging aku, kau sama seperti Papah mu yang sangat bo doh itu" gumam Mayang tersenyum ja hat.
Dia sangat tak punya hati padahal Luthfi adalah anaknya sendiri bahkan Luthfi anak kandungnya yang dia miliki satu satunya dari Tuan Yasir.
Harusnya dia senang miliki Luthfi apa lagi Luthfi adalah anak yang membuat dia punya harta Gono gini dari tuan Yasir kalau saja Mayang tak melahirkan Luthfi mungkin tuan Yasir tak akan memberikan nya harta Gono gini apa lagi dengan kebenaran Mayang yang selingkuh di hadapan nya.
"Aku bangga menjadi orang tua Luthfi namun Luthfi terlalu banyak membuat aku kesal hingga membuat aku stres memikirkan ini" gumam Mayang.
Nagita datang ke sana karena melihat berita itu, dia langsung datang ke sana apa lagi Nagita tau kalau foto itu adalah dari hpnya.
"Tante apa apaan ini" tanya Nagita pada Mayang.
"Gita ada apa" tanya Mayang.
"Tante kau lihat apa yang sudah kau perbuat, ini pasti mempermalukan Luthfi Tante" ucap Nagita.
"Memang ini rencana kita kan" ucap Mayang.
"Aku pikir Tante hanya minta foto saja tapi ternyata untuk ini, Tante ini sangat kejam bagi Luthfi aku gak terima Tante" ucap Nagita.
"Tapi ini jalan satu satunya untuk menyuruh Luthfi pulang" ucap Mayang.
"Tapi Tante bagaimana mungkin" ucap Nagita.
"Aku yakin dia akan cepat datang" ucap Mayang.
Di pesantren saat ini Luthfi tengah memikirkan berita itu dia benar benar tak bisa berpikir jernih karena selama ini dia tak pernah mendapat kan berita buruk tentang nya.
"Bagaimana cara aku memperbaiki semua nya" gumam Luthfi.
Luthfi meminum kopi yang dia beli di warung, padahal dia tau kalau dia punya penyakit lambung yang sering kambuh.
Rena datang ke sana dia melihat suaminya yang melamun dan meminum kopi sendirian.
Rena mengambil kopi itu dan langsung meminum nya hingga habis.
"Gus sudah aku beri tau kan kalau kamu gak boleh minum kopi" ucap Rena.
"Hanya minum kopi" ucap Luthfi.
"Tetap saja kamu punya penyakit kalau saja kamu gak punya penyakit aku pasti memperbolehkan" ucap Rena.
"Ya aku akan ingat" ucap Luthfi.
"Kamu begitu saja, kamu kenapa" tanya Rena.
"Tidak ada" ucap Luthfi berbohong.
"Gus, Alloh gak akan mungkin memberikan masalah di luar batas kemampuan hambanya" ucap Rena.
"Ya aku tau" ucap Luthfi.
"Ingat Gus di dalam Qur'an surat Al Insyrah ayat 5 dan 6
Fa inna ma'al usri yusra
"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan",
Inna ma'al 'usri yusra
"sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan".
Bahkan Alloh mengulang ulangi Surat itu hingga dua kali karena itu memang benar, Alloh gak akan mungkin menguji hambanya dengan masalah besar melebihi kemampuan hambanya" ucap Rena.
"Ya Rena hanya saja aku merasa beban ini sangat berat, aku tak bisa menyelesaikan nya" ucap Luthfi.
"Hadapi Gus jangan menyerah ada aku" ucap Rena.
"Terima kasih" ucap Luthfi.
"Baiklah ayo kita ke kota kita selesaikan urusan mu" ucap Rena.
"Jangan aku masih mau di sini" ucap Luthfi.
"Tapi Gus, baiklah terserah kamu saja" ucap Rena.
"Ya Rena" ucap Luthfi.
"Baiklah aku akan ke...." ucapan Rena terpotong karena ada Abah yang datang.
"Gus bisa bantu Abah" ucap Abah.
"Oh bisa Abah" ucap Luthfi.
Mereka langsung pergi dari sana Rena hanya tersenyum dia tak sempat ijin pada Luthfi untuk pergi ke Mesjid sebelah.
Rena langsung berangkat ke arah mesjid sebelah karena dia sudah terlambat untuk berceramah.
Satu jam kemudian Luthfi baru selesai membantu Abah membicarakan keuangan pesantren yang sudah semakin meningkat.
Luthfi merasa aneh karena tak ada Istrinya di mana pun berada, Luthfi panik pasalnya dia tak mendengar kan Rena saat Abah datang.
Luthfi bertanya pada para santri yang ada di sana, dia bingung karena Rena tak ada apa lagi para santri tak ada yang mengetahui.
"Dimana Rena" gumam Luthfi.
Luthfi berjalan ke arah mesjid dia masih mencari keberadaan Rena, namun sayang tak ada Rena di sana.
"Lihat Rena" tanya Luthfi pada para santri yang ada di sana.
__ADS_1
"Tidak Gus" ucap para santri.
"Oh terima kasih" ucap Luthfi.
Luthfi tak bisa menemukan Rena di mana mana dia panik, sangat takut sekali Luthfi jika Rena tak ada.
Dia juga tak lupa mengecek ke kamar santri putra dan santri Putri tapi tetap tak ada yang melihat Rena.
"Zia kau lihat Rena" tanya Luthfi pada Zia yang ada di sana.
"Tidak" ucap Zia.
"Oh baiklah" ucap Luthfi.
Luthfi pergi dari sana, namun Zia ingat kalau Rena ke mesjid sebelah.
"Ah aku lupa kalau Rena kan ceramah" ucap Zia.
Zia melihat
Luthfi masih mencari cari Rena namun tetap tak ada juga Rena di sana, Luthfi panik sangat sangat panik.
"Ada apa Gus" tanya Farid.
"Panggil para santri putra bantu aku cari Rena" ucap Luthfi dia semakin panik karena hari juga sudah mulai Maghrib.
"Oh aku akan panggil mereka" ucap Farid.
Para santri datang ke sana karena akan membantu Luthfi mencari Rena yang sekarang hilang.
terlihat jelas di wajah Luthfi yang sangat khawatir, baru kali ini juga para santri melihat Luthfi yang sangat khawatir begitu.
Luthfi sangat sayang pada Rena hingga dia rela mengorbankan dirinya hanya untuk Rena bahagia.
"Tolong bantu aku cari Rena" ucap Luthfi pada para santri.
"Gus emang nya kemana Ning Rena" tanya Farid.
"Aku gak tau kalau aku tau aku tak akan minta kalian" ucap Luthfi cemas.
"Baiklah kita akan bantu, ayo kita cari Ning Rena kita nyebar ya sebagaian ke sana sebagaian lagi ke warung, kalian ke belakang pesantren" ucap Farid menyuruh para santri.
"Baik Gus" ucap Para santri.
Mereka semua mulai mencari Rena yang tak tau ada di mana itu, Luthfi terlihat sangat kacau dia seperti baru saja kehilangan berlian yang sangat berharga.
"Tenang Gus kita pasti menemukan Ning Rena" ucap Farid menatap pada Luthfi yang panik itu.
"Aku takut ada yang mau mencelakai Rena" ucap Luthfi.
"Ah gak akan ada" ucap Farid.
"Masalah aku banyak aku tak mau kalau Ning Rena terlihat pada masalah ini" ucap Luthfi.
"Aku sangat yakin kalau tak akan ada yang akan mencelakai Ning Rena tak akan ada yang akan berani padanya aku yakin itu" ucap Farid.
"Ya tapi kau tak bisa berjanji dia tak akan kenapa kenapa kan" ucap Luthfi.
Dia panik mencari cari ke arah pesantren karena tak mau sampai Rena kenapa kenapa, Luthfi sangat naif dia berpikir kalau Rena akan kenapa kenapa.
Wajar saja Luthfi khawatir karena dia saat ini sedang banyak masalah dia pasti berpikir yang bukan bukan, dia tak bisa mengontrol emosi nya sekarang apa lagi dia marah pada orang tuanya yang sudah membuat dia seperti ini.
Jika saja bukan orang tuanya mungkin Luthfi sudah melabrak Mayang tapi Luthfi seorang putra yang berbakti pada orang tua juga.
Dia tak mungkin melawan orang tuanya yang saat ini juga cukup jauh dengan nya.
"Kalau Rena sampai kenapa kenapa aku pasti kan kau akan menderita mah" geram Luthfi.
Luthfi mencari cari Rena di warung tak ada juga di sana bahkan tak ada yang melihat Rena.
Zia yang saat ini ada di dalam pesantren heran karena Luthfi mencari cari sesuatu tapi dia tak mungkin bertanya karena dia tak mau di sangka kepo.
"Sudahlah Gus Luthfi kan mantan penjaga dia pasti mencari cari para santri yang masih main" gumam Zia yang langsung masuk ke dalam rumah Abah.
Luthfi mencari lagi ke belakang pesantren dengan berlari karena Takut Rena kenapa kenapa.
"Gus sudah mau Adzan Maghrib, maaf aku harus pergi sekarang aku ada jadwal adzan" ucap Farid melihat jam tangan yang dia pakai.
"Ya pergilah" ucap Luthfi.
"Maaf Gus" ucap Farid.
"Ya tak apa" ucap Luthfi.
Dia masih mencari Rena, Luthfi berjalan lagi ke arah warung yang tadi dia lihat tapi tak ada Rena.
Namun mata Luthfi menatap pada seorang gadis yang sangat dia kenal sedang berjalan dengan Lelah dan lemas.
Luthfi berlari ke arah gadis itu.
"Rena" sahut Luthfi dengan nafas yang ngos ngosan.
Luthfi langsung memeluk Rena yang tengah berjalan itu, dia memeluk nya dengan sangat erat.
"Adaapa" tanya Rena.
"Kamu dari mana aku mencari Rena aku sangat khawatir" ucap Luthfi.
"Aku dari mesjid sebelah aku habis ceramah" ucap Rena.
"Ya aku sangat cemas Rena" ucap Luthfi.
Luthfi menciumi tangan Rena yang dia pegang itu, rasanya tak rela jika Luthfi melepaskan Rena.
"Kamu kenapa gak bilang" tanya Luthfi.
"Aku tadi mau bilang tapi gak mungkin karena ada Abah" ucap Rena.
"Oh baiklah" ucap Luthfi.
Suara adzan Maghrib berkumandang Luthfi langsung mengajak Rena masuk ke dalam kamarnya yang ada di santri putra.
Luthfi masih setia di samping Rena karena dia tak mau Rena pergi sampai pergi tanpa ijin dulu.
"Gus" sahut para santri.
"Ya" tanya Luthfi.
"Gus maaf aku tak menemukan Ning Rena" ucap Para santri merasa bersalah karena tak berhasil menemukan Rena.
"Tak apa Rena sudah di temukan dia pergi ke pengajian tadi" ucap Luthfi.
"Apa" tanya para santri kecewa.
"Ya maaf kan aku, aku sangat takut tadi, tapi Terima kasih sudah membantu aku" ucap Luthfi.
"Ya gus sama sama".
"Maaf Gus kita harus segera pergi karena akan sholat Maghrib" ucap Para santri.
"Ya baiklah sekali lagi terima kasih" ucap Luthfi.
"ya" para santri itu langsung pergi.
Luthfi tersenyum malu entah apa yang dia lakukan saat panik tadi dia merasa sangat bersalah karena para santri itu masih berusaha mencari Rena.
"Ada apa Gus" tanya Rena yang keluar dari dalam kamar.
"Tak ada hanya para santri" ucap Luthfi tersenyum.
"Oh ya ayo ke mesjid" ucap Rena.
"Ya ayo aku mau ambil dulu sarung" ucap Luthfi.
"Ya aku tunggu di sini" ucap Rena.
Adzan Maghrib berkumandang, membuat para santri langsung berlarian ke arah mesjid karena akan melaksanakan shalat berjamaah.
para santri sangat taat pada peraturan, apa lagi saat ini Abah Tengah memilih santri untuk mewakili pesantren untuk mengikuti lomba Qasidah.
Luthfi dan Rena langsung masuk ke dalam mesjid yang sudah cukup penuh itu, mereka langsung melaksanakan shalat Maghrib dengan Abah yang menjadi imam.
__ADS_1
semuanya melaksanakan shalat khusyu.