
Dua Puluh Lima Tahun Kemudian..
Saat ini Rena tengah sibuk di dapur, dia mempersiapkan makanan untuk putra dan putri nya yang katanya akan datang ke sana.
Dua puluh lima tahun berlalu, tetapi tak ada perubahan dari Rena maupun Luthfi mereka masih sama, bahkan semakin bertambah nya usia cinta mereka semakin besar.
Wanita paruh baya berusia 42 tahun itu sangat antusias menyambut kedatangan anak anak mereka.
"Umi jangan terlalu cape" ucap Luthfi yang sekarang sudah sangat tua, terkisar dia sekarang berusia 53 tahun.
"Abi aku sedang mempersiapkan ini" ucap Rena.
Luthfi menatap pada istri nya yang sekarang masih sangat cantik.
"Umi lihat kamu, semakin hari kamu semakin cantik sedangkan aku, aku semakin tua umi" ucap Luthfi.
"Sudahlah" ucap Rena tersenyum menatap pada suaminya itu.
"Bagaimana kalau aku meninggal apa kamu akan menikah lagi" tanya Luthfi.
"Tidak akan pernah" ucap Rena tersenyum.
"Aku pegang janji mu" ucap Luthfi.
"Assalamualaikum" ucap seseorang yang suaranya sangat pamiliar di telinga Rena dan Luthfi.
"Waalaikum salam" ucap Rena.
Seorang anak lelaki berusia 16 tahun datang ke sana.
"Umi" ucapnya yang langsung memeluk Rena dengan sangat erat.
"Bagaimana di pesantren lancar" tanya Rena menatap pada putranya.
"Lancar umi Alhamdulillah" ucap nya.
"Syukurlah" ucap Rena.
Waffi Afdal Yasir adalah putra kandung Rena dan Luthfi yang ke lima.
Sedangkan sekarang Rena dan Luthfi mengasuh lima anak.
Pertama, Faiz Syed Abdullah. (25 tahun)
Kedua, Yadna Az Zahra Yasir (24 tahun)
Ketiga, Arsala Afdal Yasir (19 tahun)
Keempat, Adiba Khanza (19 tahun)
Kelima, Waffi Afdal Yasir. (16 tahun)
Kelima anak itu hanya tiga yang menjadi anak kandung Rena dan Luthfi karena Adiba adalah anak yang Rena adopsi dari rumah sakit saat dia melahirkan Arsala.
Usia Arsala dan Adiba hampir sama hanya berbeda satu sampai dua jam saja, dan Arsala yang lebih besar saat itu.
Orang tua Adiba tak bisa merawat Adiba karena posisi nya ibu kandung nya meninggal karena melahirkan Adiba, dan kebetulan sekali Rena mendengar rencana kalau keluarga Adiba akan membuang bayi yang tak berdosa itu.
Namun Rena dengan rasa kemanusiaan nya datang ke sana dan mengadopsi bayi Adiba.
Rena dan Luthfi membesar kan anak anaknya dengan berkecukupan, semakin hari usaha Luthfi semakin maju.
Namun godaan datang pada mereka saat Faiz berusia 24 tahun, berarti satu tahun yang lalu dari waktu saat ini.
Satu tahun yang lalu. (Flash back on)
Faiz baru saja pulang bersama dengan seorang wanita cantik, kehidupan membuat Faiz menjadi seorang Dokter yang sangat pandai tapi sayang Faiz menjadi anak yang membangkang saat bersama dengan Nanda wanita yang tak lain adalah rekan kerja Faiz di rumah sakit.
Faiz membawa Nanda datang ke rumah Rena tapi sayang rekan pertama dia datang sangat kurang menyenangkan apa lagi sikap Nanda kurang baik pada Rena dan Luthfi.
Nanda terlihat sangat sombong bahkan saat dia datang ke rumah sana, bahkan Nanda tidak pernah bersikap sopan pada Rena maupun Luthfi.
Saat pernikahan Luthfi blak blakan bilang pada Faiz kalau Nanda tidak sebaik yang Faiz pikirkan.
Tapi sayang cinta membuat Faiz tunduk pada wanita seperti Nanda.
"Sudah Abi" ucap Yadna Putri kandung pertama Luthfi dan Rena.
"Yad Abi gak mungkin membiarkan kakak mu menikah dengan wanita seperti itu" ucap Luthfi yang sangat marah.
"Abi bagaimana mungkin Abi bisa melarang nya sedang kan acara akadnya akan di lakukan sekarang" ucap Yadna.
"Yadna aku tak mau kakak mu menyesal" ucap Luthfi.
"Tapi Abi sudah Abi malu" ucap Yadna menahan Abinya agar tidak melarang Faiz menikah.
Sebenarnya pernikahan itu dadakan bahkan Rena dan Luthfi tidak tau akan pernikahan itu kalau saja pak supir pribadi Faiz tidak memberi tahunya mungkin Rena tidak akan hadir di acara paling sakral, yaitu acara pernikahan putra pertama nya.
Setelah pernikahan itu setiap Faiz datang ke rumah dia selalu meminta warisan pada Luthfi dan tentu saja Luthfi tidak akan mungkin memberikan hal itu karena Faiz bukan putra kandungnya.
Kalau pun Luthfi akan memberikan harta itu pada Faiz, dia hanya akan memberikan harta sisa pembagian pada anak anak kandung nya, setelah ada sisa maka itu akan menjadi bagian Faiz dan Adiba.
Namun Faiz seperti nya akan serah dia pasti akan merebut harta milik saudara nya itu, bahkan Faiz juga sudah terang terangan untuk meminta harta itu langsung pada Rena dan Luthfi.
Flash back off..
Yadna dan Adiba sudah datang ke sana, Sekarang Adiba dan Arsala kuliah bersama di kota sedang kan Yadna dia bekerja.
Rena menyuguhi makanan pada anak anaknya itu.
"Adiba di mana kakak mu" tanya Rena menanyakan Arsala.
__ADS_1
"Kak Arsa ada Umi tapi katanya dia tak bisa datang karena ada urusan" ucap Adiba.
"Oh baik lah" ucap Rena.
"Tapi Umi katanya dia akan pulang nanti malam" ucap Adiba.
"Syukur lah" ucap Luthfi.
Rena menatap pada Yadna yang sering kali bertengkar dengan Waffi.
Rena hanya tersenyum menatap pertengkaran anak anaknya itu.
"Abi aku punya pacar" ucap Waffi.
"Pacar" tanya Luthfi.
"Ya lihat ini cantik gak" tanya Waffi memberikan hpnya pada Luthfi yang sekarang ada di sana.
Luthfi terkejut saat melihat foto yang ada di hp anaknya itu.
"Pacar ya" tanya Luthfi.
"Ya Abi" ucap Waffi.
"Yang benar saja dia kartun Waffi" kesal Luthfi pada putra bungsu nya itu.
"Ish Abi ini itu Visual dari calon istri aku nanti" ucap Waffi.
"Ya Menikah saja dengan kartun" ucap Luthfi.
"Hahahaha" Yadna dan Adiba mentertawakan Waffi yang sangat polos itu.
Bahkan sampai sekarang Yadna tak berani memberi taukan pada Abi atau umi nya kalau dia sudah punya calon suaminya, karena dahulu juga pernah Yadna memperkenalkan laki laki pada Luthfi tapi laki lakinya malah menikah dengan orang lain.
"Kak kapan menikah" tanya Waffi menatap pada Yadna.
Yadna hanya melotot pada Waffi mengingat kalau dahulu Waffi pernah melihat dia bersama dengan bosnya.
"Dulu aku melihat kakak dengan seorang laki laki" ucap Waffi.
"Ish mana ada" ucap Yadna.
"Kamu dengan laki laki siapa" tanya Luthfi, sebagai seorang ayah dia akan langsung cemas kalau putri nya di dekati oleh laki laki.
Apa lagi Yadna berusia 24 tahun seharusnya umur segitu sudah pantas untuk menikah.
"Tidak Abi dia hanya bos Yad" ucap Yadna.
"Yad aku gak mau kamu berbohong kalau kamu punya pacar segera bilang pada ku" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna yang langsung melotot pada Waffi yang sekarang terlihat sangat menyebalkan.
Namun ada hal yang membuat Luthfi terkejut yaitu datangnya Faiz dan Nanda.
"Assalamualaikum Abi" ucap Faiz yang langsung menyalami Luthfi.
"Walaaikum salam" ucap Luthfi.
Nanda tak memberi kan salam dia langsung duduk bersama dengan Waffi yang saat ini tengah sendirian di Sofa paling panjang.
Waffi yang merasakan tak nyaman langsung bangkit.
"Aku akan mengambil dulu buku" ucap Waffi.
"Ya" ucap Luthfi.
Tak ada percakapan di ruang tamu, apa lagi seperti nya tak ada yang mau memulai pembicaraan.
"Canggung" gumam Yadna.
Adiba langsung menatap pada Kakak ipar nya.
"Kak bagaimana perjalanannya" tanya Adiba yang berusaha mencairkan suasana.
"Baik hanya saja aku tidak suka dengan panas di luar" ucap Nanda.
"Alhamdulillah kalau begitu" ucap Adiba.
"Oh ya Abi kapan Abi akan datang ke rumah sakit aku" tanya Faiz pada Luthfi.
"Nanti ya sekarang Abi sibuk" ucap Luthfi.
"Ya tak heran karena Abi selalu sibuk kan" ucap Nanda sambil mengikat rambut nya.
Nanda memang tidak memakai kerudung, namun Luthfi pasti akan menerima wanita yang tak berkerudung sekali pun asal kan wanita itu Sholeh, bertutur kata yang lembut dan jika bicara tidak menyinggung perasaan orang lain.
"Kak bisa kah aku kerja di rumah sakit mu" tanya Adiba.
"Kenapa" tanya Faiz.
"Aku mau bekerja saja" ucap Adiba.
"Eh gimana ya, sekarang belum bisa karena aku tidak menerima orang yang tidak berpengalaman, paling ada jadi Ob mau" tanya Faiz.
"Oh tidak ada ya" ucap Adiba tersenyum.
"Adiba kerja saja bersama Abi, kamu bisa menjaga toko pakaian milik Umi" ucap Luthfi.
"Tidak Abi aku mau mandiri" ucap Adiba.
"Kerja saja bersama dengan ku" ucap Yadna.
__ADS_1
"Apa" tanya Adiba.
"Jadi Karyawan di perusahaan ku ada lowongan kerja untuk kerja part time" ucap Yadna.
"Oh boleh" ucap Adiba.
"Baiklah aku akan bantu kamu untuk daftar" ucap Yadna.
Luthfi hanya tersenyum saja melihat tingkah kedua putrinya itu.
"Oh ya silahkan makan" tawar Luthfi pada Nanda dan Faiz.
"Tidak usah kami sudah makan di restoran" ucap Nanda.
Luthfi hanya tersenyum saja mendengar nya.
Rena datang ke sana dia langsung memeluk putra nya karena mereka sekarang jarang bertemu jadi Rena sering merasa kangen pada anak anaknya.
"Faiz" ucap Rena.
"Umi bagaimana kabar mu" tanya Faiz.
"Aku baik" ucap Rena.
Rena menatap pada Nanda yang hanya diam saja tanpa bicara apa pun.
"Nanda ayo makan" ucap Rena.
"Tak usah Umi" ucap Nanda.
"Baiklah, Umi ada urusan sebentar di dapur" ucap Rena yang langsung pergi dari sana.
Yadna dan Adiba saling menatap mereka sudah tau caranya keluar dari suasana panas itu.
"Ayo bantu umi" ucap Yadna.
"Ya ayo" ucap Adiba.
Di ruang tamu hanya ada tiga orang saja Faiz menatap pada Istri nya, Nanda terlihat menganggukan kepala nya pada Faiz.
"Abi" ucap Faiz.
"Ya ada apa" tanya Luthfi.
"Butik yang tadi Abi sebut kan, bisa aku pinjam" tanya Faiz.
"Apanya" tanya Luthfi.
"Sertifikat nya aku mau meminjam uang pada Bank aku janji akan menggantinya nanti" ucap Faiz.
"Untuk apa meminjam uang pada Bank" tanya Luthfi.
"Rumah sakit butuh banyak biaya Abi jadi aku akan meminjam uang dan merenovasi rumah sakit" ucap Faiz.
"Bagaimana ya, tapi Abi tidak mau memberikan butik itu, oh ya apa uang yang aku pinjam kan waktu itu habis" tanya Luthfi.
"Habis Abi untuk keperluan Rumah sakit" ucap Faiz.
"Lalu bagaimana dengan uang hasil rumah sakit itu" tanya Luthfi.
"Sekarang yang datang ke sana jarang sekali jadi pendapatan semakin menurun" ucap Faiz.
"Maaf tapi Faiz aku tidak bisa memberikan karena butik itu punya Umi kamu dan Umi kamu sangat suka" ucap Luthfi.
"Aku akan bicara pada umi" ucap Faiz.
Luthfi malah berharap kalau sekarang Rena menjadi pelit dan egois, bukan Luthfi ja hat tapi Faiz sudah banyak meminta uang pada Rena di belakang Luthfi, karena Rena sangat baik jadi dia sering memberikan nya.
Tapi untuk sekarang Luthfi berharap kalau Rena tidak sebaik kemarin, karena ada tiga anak yang harus mereka biayai sekolah nya.
Walau pun Adiba dan Arsala akan bekerja tetap saja Luthfi harus simpan uang untuk masa depan mereka nanti.
Rena datang ke sana dengan membawa beberapa piring makanan.
"Umi duduk" Titah Faiz.
"Ya ada apa" tanya Rena yang sekarang duduk di atas sofa.
"Aku mau meminjam sertifikasi Butik pada mu aku akan meminjam uang pada Bank" ucap Faiz.
"Kamu meminjam Sertifikat untuk jaminan" tanya Rena.
"Ya" ucap Faiz.
Luthfi sangat takut kalau Rena akan memberikan sertifikat itu pada Faiz.
"Maaf Faiz tapi Umi gak mungkin memberi kan sertifikat" ucap Rena.
"Tapi Umi hanya sebentar, apa umi tak percaya padaku" tanya Faiz.
"Umi percaya sangat percaya hanya saja Faiz umi gak mungkin memberikan itu'' ucap Rena.
"Aku bilang juga apa mas orang tua kamu tidak akan memberikan nya" ucap Nanda.
"Padahal hanya sebentar saja Umi" ucap Faiz.
"Maaf tapi gak bisa" ucap Rena menolak dan hal itu membuat Luthfi merasa senang.
"Sudah lah pulang saja orang tua mu sangat pelit" ucap Nanda meraih tasnya dan langsung pergi dari sana.
Faiz pun mengikuti Nanda tanpa sepatah kata atau berpamitan dahulu Faiz langsung pergi dari sana.
__ADS_1
"Astaghfirullah" gumam Rena sedih mendapatkan hal itu dari putranya sendiri.
Padahal Rena dahulu mendidik Faiz untuk menjadi orang yang beradab, tapi sekarang Faiz sangat berubah.