
Alhamdulillah akhirnya Jenazah Sofi sudah di makamkan dengan selayak nya, bahkan keluarga juga hanya tinggal mengurus kan ahli wasiat.
Sayangnya Abah dan Umi dari pesantren tak datang hanya Zia dan Adam saja yang datang ke sana, bukan apa apa Abah sudah tua dia tidak sanggup melewati perjalanan yang jauh.
"Aku turut berduka cita Ning" ucap Zia yang langsung memeluk adik ipar nya itu.
Selama Rena masih di pesantren hanya Zia saja lah yang perduli pada Rena.
Bahkan Zia juga mati matian membela Rena dulunya, rumah itu sekarang menjadi rumah duka apa lagi banyak yang iba dan ikut mengucapkan turut berduka cita pada Rena dan Luthfi.
"Kak aku hanya berharap mereka bisa tenang di sana" ucap Rena.
"Pasti" ucap Zia.
Tak bisa berlama lama Zia harus langsung pulang karena sekarang Zia ada urusan di pesantren, apa lagi setelah Abah menyerahkan pesantren itu sekarang Zia dan Adam lah yang mengelola pesantren Al Zakaria itu.
"Maaf Ning bukan aku tidak mau berlama lama di sini, tapi demi Alloh aku tadi nya sangat ingin menemani kamu saat kamu berdua seperti ini, tapi Ning amanah aku sangat besar di pesantren maafkan aku ya" ucap Zia.
"Ya Kak tak apa" ucap Rena.
"Gus Luthfi tolong jaga Ning Rena untuk aku" ucap Zia.
"Ya Zia" ucap Luthfi.
"Baiklah aku permisi ya Assalamualaikum" ucap Zia dan Adam yang langsung pergi dari sana.
"Waalaikum salam" ucap orang orang yang ada di sana.
Zia keluar dari rumah adik ipar nya itu.
"Abi lihat ada Yadna" ucap Zia.
"Mau ke sana dulu" tanya Adam.
"Ya" ucap Zia.
Yadna senang melihat uwa itu, dia langsung memeluk Zia yang saat ini akan berpamitan.
"Uwa mau ke mana" tanya Yadna.
"Mau pulang nak" ucap Zia.
"Kenapa pulang Uwa" tanya Yadna.
"Kami tidak bisa berlama lama karena banyak yang harus kami lakukan di pesantren, Oh ya di mana Faiz" tanya Zia.
"Dia ke luar negeri" jawab Yadna.
"Kenapa" tanya Zia.
"Entah katanya mau memulai kehidupan yang baru, tapi ya sudahlah kita ga bisa melarang dia" ucap Yadna.
"Tolong jaga Umi kamu ya sayang dia sangat rapuh saat ini" ucap Zia.
"Ya Uwa" ucap Yadna.
Zia dan Adam pulang dari sana karena ada urusan di pesantren nya.
Malam harinya rumah itu sangat sepi apa lagi Nenek mereka baru saja pulang ke Rahmatullah, Mereka hanya melamun saja.
Televisi yang menampilkan film keluarga bahagia pun seolah terasa sangat menyedihkan, malam gelap dengan angin yang berhembus kencang membuat mereka semakin rindu pada Neneknya itu.
"Umi dari pada seperti ini ayo kita tadarusan kita kirim doa untuk mamah" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Rena yang hanya melamun saja, Rena bahkan hanya diam tanpa tersenyum sedikit pun.
Arsala menatap pada orang tuanya yang menuju ke mushola, sebenarnya Arsala akan menanyakan hal yang sudah Kathir bicara padanya tadi siang.
"kak" sahut Arsala pada Yadna yang sekarang akan menuju ke kamar nya.
"Apa" tanya Yadna.
"Ada hal yang mau aku bicarakan" tanya Arsala.
"Baiklah ayo" ucap Yadna.
"Kalian mau ke mana" tanya Adiba yang sangat kesepian karena sendirian di sana.
"Aku akan bicara pada kak Adna, kamu tidur lah" titah Arsala.
__ADS_1
"Aku akan tidur di kamar Kak Adna" ucap Adiba.
"Baiklah berarti kak kita bicara kan ini di kamar ku" ucap Arsala.
"Kenapa kalian tidak mau bicara jika ada aku" tanya Adiba.
"Adiba terkadang ada kenyataan yang tak harus kamu tau, tidur lah aku akan nyusul nanti" ucap Yadna.
"Ya baiklah" ucap Adiba.
Mereka langsung ke kamar Arsala sedang kan Adiba masuk ke dalam kamar Yadna yang juga ada di lantai atas.
Sedangkan kamar Arsala dan Adiba ada di lantai bawah bersama dengan dua kamar yang lain.
"Kenapa mereka bicara tanpa aku" gumam Adiba.
Yadna menatap pada adiknya itu.
"Ada apa" tanya Yadna.
"Katanya aku terlibat ya" tanya Arsala.
"Ya dan kamu tenang saja aku akan selesai ini semua" ucap Yadna.
"Aku akan bantu" ucap Arsala.
"Sekarang aku harus menikah dengan Pak Kathir, ya aku tau aku sudah gi la karena mau mengadakan acara pernikahan padahal sekarang tengah masa berkabung aku tau itu, tapi kalau tidak sekarang bagaimana lagi" ucap Yadna.
"Aku akan bantu" ucap Arsala.
"Tolong jangan sampai Adiba, umi dan Abi tau tentang ini" ucap Yadna.
"Ya aku janji, tapi kak apa kau akan aman jika suatu saat kamu datang ke rumah Bos mu itu" tanya Arsala.
"Justru aku ingin sekali masuk ke sana, Arsa aku paham sekarang kalau terlalu baik dan tidak enakan itu tidak akan membuat kita melupakan apa pun" ucap Yadna.
"Ya begitulah yang aku rasakan dulu, sekarang kamu harus bisa kak aku yakin kamu bisa melakukan hal ini" ucap Arsala.
"Tapi apa aku tidak akan berdosa jika membalas orang lain" tanya Yadna.
Sebenarnya Balas dendam adalah tindakan yang tidak dibenarkan dalam agama islam, hal itu sudah di sebut kan.
Hanya ada dua pilihan yang bisa kita ambil, yaitu memaafkan dan balas dendam.
Maka dari itu pilihlah pilihan pertama yaitu memaafkan.
Allah SWT berfirman: "Dan sungguhnya orang orang yang membela diri setelah teraniaya tidak ada satupun dosa atas mereka, sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka tanpa hak. Mereka mendapat azab yang pedih. Tetapi orang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang amat utama,” (Quran Surat. Asy Syuro ayat 39-43).
Namun sayangnya Yadna memilih untuk membalas dendam padahal dia tau akibat nya apa.
"Aku janji tidak akan pernah melakukan apa pun yang akan merugikan aku, hanya saja aku akan menghapus bukti itu sampai tak ada lagi bukti yang bisa menunjuk kan kalau aku melakukan hal itu dan kamu sudah memukuli Fathir" ucap Yadna.
"Terima kasih" ucap Arsala.
"Ya sama sama" ucap Yadna.
"Kalau pun kamu berdosa kak, biakan dosa mu menjadi dosa aku juga" ucap Arsala.
"Tidak perlu hanya Alloh yang bisa menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar" ucap Yadna.
"Ya" ucap Arsala.
Yadna langsung menuju ke arah kamar nya yang ada di lantai atas di sana sudah ada Adiba yang tengah rebahan sambil membaca buku Novel yang ada di kamar Yadna.
"Kak sudah bicaranya" tanya Adiba.
"Ya sudah" ucap Yadna.
"Oh ya kak menurut aku bos suka pada mu" ucap Adiba.
"Ya aku tau" ucap Yadna.
"Lalu kenapa kakak tolak, kakak tau kata rekan kerja aku katanya Pak Kathir itu laki laki mapan yang sangat tampan, jadi kakak beruntung sekali bisa di lamar oleh nya, tapi masalahnya kenapa kakak tolak" tanya Adiba.
"Kakak gak menolak hanya saja kakak kemarin belum siap dan sekarang Alhamdulillah kakak siap" ucap Yadna.
"Sayang ya Nenek tidak bisa melihat Kakak menikah" ucap Adiba.
"Sudah jangan di bahas lagi" pinta Yadna.
__ADS_1
"Tapi kak sebelum meninggal Nenek pernah bilang kalau kata dia, dia ingin melihat kakak menikah, dan kakak tau Nenek menjodohkan aku dengan kak Arsala" ucap Adiba yang masih ingat pada perkataan neneknya itu.
Dan mungkin saja itu juga adalah Doa yang sangat sangat Adiba amin kan.
Mengingat Adiba sangat suka pada kakaknya sendiri.
Hanya saja Adiba tidak berani bicara karena dia takut di tertawa kan karena suka pada kakaknya sendiri.
"Gak mungkin lah kalian kan adik kakak" ucap Yadna.
"Ya aku tau tapi kata Nenek gak ada yang mustahil bahkan Umi dan Abi saja adik kakak" ucap Adiba.
"Cerita umi dan Abi berbeda" ucap Yadna.
"Ya aku tau, ayo kita tidur besok akan banyak yang harus kita persiapkan" ucap Adiba.
"Ya ayo" ucap Yadna.
"Selamat malam Nenek" gumam Adiba yang seperti merasa kan kehadiran nenek nya.
"Malam" ucap Yadna.
**
Nanda tengah ketakutan dia tengah di teror dengan bayangan hitam yang selalu muncul di hadapan nya.
Nanda hanya berhalusinasi karena dia takut pada kebenaran yang dia lakukan itu.
"Arghh" teriak Nanda saat melihat ada bayangan di hadapan nya.
Padahal bayanga itu hanyalah bayangan gordeng yang tertiup angin.
"Arghh pulang lah aku gak salah" teriak Nanda sendirian.
Dia sangat ketakutan padahal tak ada apa pun di sana, bisa di bilang kalau Nanda sekarang tengah depresi karena hal itu.
Tanpa Nanda sadari dia menatap satu wajah yang sangat dia kenal.
"Sofi" gumam Nanda yang langsung terduduk di lantai dan berangsur mundur karena ketakutan.
"Kamu yang melakukan ini pada Ku" ucap Sofi yang hanya hayalan Nanda saja.
"Aku tidak melakukan apa apa" geram Nanda.
Nanda marah dia langsung melempar lempar kan barang barang yang ada di sana karena takut pada Sofi, sayangnya barang barang itu tidak mengenai siapa siapa karena tak ada Sofi di sana.
"Argh pergilah, Mass" teriak Nanda memanggil manggil Faiz.
**
Pagi ini di kediaman keluarga Luthfi saat ini tengah ramai karena mereka akan memasak dan mengadakan acara tahlilan nanti nya.
Tanpa Yadna sadari saat ini Mita yang tak lain adalah Nyonya Amta datang ke sana, Yadna hanya menatap pada wanita itu.
"Tidak tau malu sekali" gumam Yadna.
"Adna" Sahut pak Amta dan istri nya yang baru saja datang.
"Kami turut berduka cita ya, pasti sangat berat bagi kamu menerima hal ini" ucap Mita.
"Ya Nyonya aku masih tak menyangka" ucap Yadna.
"Katanya ada yang na kal pada Nenek kamu" tanya Mita.
"Ya ada, tapi kami berharap kalau orang ja hat seperti dia akan menerima akhiratnya nanti" ucap Yadna.
"Ya tak apa karma adil" ucap Mita.
"Begitu lah dan aku juga berharap orang yang ja hat pada ku sekarang mendapatkan karma nya juga aku sangat benci pada orang mu nafik seperti dia" ucap Yadna.
"Ya aku paham" ucap Mita padahal dia sadar kalau ucapan Yadna itu untuk nya.
"Oh ya Nyonya ayo masuk jadi banyak ngobrol" ucap Yadna.
"Tidak usah aku tidak enak hati pada mu" ucap Mita.
"Tidak perlu begitu" ucap Yadna yang langsung menatap sinis pada Mita.
"Dasar anak laknat" batin Mita sambil tersenyum pada Yadna.
__ADS_1