Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 31 pelajaran dari Luthfi


__ADS_3

Rena dan Aisyah sudah kenyang makan di cafe itu, mereka rencanakan akan pulang karena hari sudah siang juga.


"Kamu yakin gak akan beli apa apa" tanya Aisyah menatap pada Rena.


"Gak kayanya" ucap Rena.


"Baiklah ayo pulang" ucap Aisyah.


Luthfi hendak pulang dan mengikuti mereka tapi sayangnya dia melihat Arsyad dan Iman yang tak lain adalah teman Luthfi saat sekolah dulu.


"Luthfi sedang apa, kenapa pakai masker" tanya Arsyad melihat Luthfi yang berpenampilan aneh.


"Tidak ada aku hanya selesai makan" ucap Luthfi membuka masker dan topi yang dia pakai.


"Bisa kita bergabung" tanya Arsyad.


"Boleh" ucap Luthfi terpaksa padahal dia harusnya pulang karena Rena juga baru saja pulang.


"Aku tadi lihat kakak ipar" tanya Arsyad.


"Oh" ucap Luthfi.


"Atau jangan jangan kau memata matai kakak ipar ya" ucap Arsyad.


"Mana ada" ucap Luthfi.


"Ayolah Luthfi jangan begitu, tak percaya sekali kamu pada kakak ipar" ucap Arsyad.


"Bukan tak percaya aku hanya tak mau dia bersama dengan laki laki" ucap Luthfi.


"Laki laki tapi dia bersama seorang wanita" ucap Iman.


"Luthfi cemburu" ucap Arsyad.


"Luthfi kau salah tak akan ada yang mau sama wanita seperti dia, selera laki laki kota itu sudah beda mereka suka yang terbuka" ucap Iman.


"Jangan bandingkan Rena ku dengan orang lain" ucap Luthfi yang mulai marah pada perkataan Iman.


"Aku berkata benar kan" tanya Iman.


Arsyad merasakan tersinggung karena hal itu dia ingin mengkode temannya yang sudah berkata seenaknya itu.


"Apa masalah mu dengan Rena ku" tanya Luthfi.


"Jujur saja kalau aku jadi kamu akan percaya pada dia lagi pula aku tak suka pada wanita seperti dia" ucap Iman yang cukup jujur.


"Pulanglah lihat istri mu, semenarik apa dia di mata mu maka aku juga sama seperti mu yang ingin melindungi istri ku, jangan bandingkan istri ku dengan yang lain karena layaknya manusia, jika yang suka pada istri ku maka dia akan menghargai istri ku tapi jika tak suka maka aku pasti kan hal itu tak akan membuat aku rugi justru dia lah yang akan rugi, kau suka pada wanita terbuka kan kenapa tak samakan saja wanita mu dengan hewan" ucap Luthfi yang tengah marah dan langsung pergi dari sana meninggal kan kedua tangannya itu.


"Luthfi maafkan Iman" sahut Arsyad yang paham kalau Luthfi marah.


Namun Luthfi tak mendengar kan dia pergi dari sana meninggal kan kedua temannya itu.


Arsyad marah pada Iman yang sudah bicara seenaknya itu.


"Kamu ini bisa bicara lebih sopan gak" tanya Arsyad yang ikut marah karena temannya itu sangat keterlaluan.


"Apa aku salah" tanya Iman.


Luthfi pulang dengan naik motor yang tadi dia Kendarai, dia sangat marah saat ini apa lagi menyangkut soal Rena dia tak mungkin bisa diam saja.


"Kalau saja bukan teman pasti aku sudah habisi dia" geram Luthfi.


Sedangkan Rena sekarang dia pulang ke rumah, Rena turun dari mobil punya Aisyah, dia masuk ke dalam namun saat Rena masuk dia mencari suaminya itu yang tak ada di dalam rumahnya.


"Bi kemana Gus Luthfi" tanya Rena.


"Tuan pergi nona pakai motor" ucap Bi Cici.


"Pergi" tanya Rena heran padahal Luthfi tak menghubunginya kalau mau pergi.


Rena duduk di Sofa sekalian menunggu suaminya itu pulang, Rena merasakan risih karena sekarang dia tengah datang bulan.


"Aku akan mandi dulu" gumam Rena yang langsung masuk ke dalam kamar.


Rena langsung mandi dia keramas karena walaupun tengah datang bulan Rena masih keramas karena jika tidak keramas maka rambutnya akan bau karena dia memakai kerudung.


Rena masih memikirkan kemana suaminya itu apa lagi Luthfi belum pernah pergi tanpa ijin dari Rena.


Deru motor masuk ke halaman rumah Luthfi, saat ini Luthfi pulang dia langsung memarkirkan motornya ke garasi yang penuh dengan mobil dan motor di sana.


Luthfi langsung masuk ke dalam dia sadar kalau Rena pasti sudah pulang ke rumah, apa lagi Mobil Aisyah juga sudah terparkir di halaman rumahnya.


Luthfi masuk ke dalam kamarnya karena dia yakin kalau Rena pasti ada di sana.


Dan benar saja Rena masih mandi karena terdengar dari suara kran yang masih menyala.


Luthfi duduk di Sofa dia sangat capek bukan cape karena itu dia cape karena marah pada temannya itu.


Rena memakai handuk yang hanya menutupi dada sampai pahanya saja dia tak sadar kalau ada Luthfi di sana yang baru saja pulang.


Rena keluar dari kamar mandi dengan rambut terurai yang masih basah itu, dia masih tak sadar kalau di sana ada Luthfi yang tengah menatapnya dengan tatapan lapar seperti ingin memakan Rena hidup hidup.


"Astagfirullah godaan apa ini" gumam Luthfi.


Rena membukakan lemari yang ada di sana, dia memilih gamis yang cukup panjang dengan warna merah muda.


Namun Rena ingat dengan pakaian yang Aisyah belikan untuk nya dia berpikir untuk mencobanya karena Rena penasaran dengan baju yang Aisyah belikan katanya bajunya bagus.


Rena membuka paper bag yang ada di atas ranjang itu.

__ADS_1


flash back Di Mall


Setelah makan Aisyah menuju ke salah satu toko pakaian di sana dia akan membeli kan Rena pakaian yang cukup bagus, Aisyah tertarik pada satu pakaian yang sangat bagus untuk pasangan suami istri.


Aisyah membelinya dengan uangnya sendiri, katanya hadiah untuk pernikahan Rena dan Luthfi.


"Ambil ini aku belikan khusus buat kamu" ucap Aisyah menyerahkan paper bag pada Rena.


"Terima kasih tapi apa ini" tanya Rena yang akan membukanya, namun di cegah oleh Aisyah.


"Nanti buka saja di rumah, kita pulang dulu aku cape" ucap Aisyah.


"Baiklah ayo pulang" ucap Rena.


Flash back off


Rena membuka paper bag itu dia masih tak sadar pada keberadaan Luthfi di sana, Rena malah fokus pada paper bag itu.


Rena melihat baju itu ternyata sebuah Ling rie yang sangat transparan.


"Astaghfirullah Aisyah ini membeli kan aku baju apa" gumam Rena.


Namun karena rasa penasaran Rena hendak memakainya dia melepas kan handuk yang melekat di tubuhnya, hal itu membuat Luthfi semakin panas dingin dia tak bisa menghentikan matanya untuk tak melihat pada Rena.


Rena memakainya terlihat sangat pas namun sangat sangat transparan sekali.


"Aisyah ini mana bisa aku memakai ini, kalau Gus Luthfi tau bisa marah dia padaku" ucap Rena.


"Aku sangat suka Ning" ucap Luthfi yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati saja karena tak mau sampai Rena sadar kalau ada dia di sana.


Rena hendak mengganti pakaiaan dia berjalan ke arah lemari sambil memakai pakaian yang transparan itu, namun Rena melihat keberadaan Luthfi di atas sofa.


Dan itu terlihat dari cermin yang ada di lemari itu.


"Astagfirullah" ucap Rena yang langsung melihat pada Luthfi yang kepergok tengah melihat ke arah Rena.


"Gus kapan pulang" tanya Rena sambil menutupi bagian dadanya karena terlihat sangat menonjol sekali.


"Dari tadi" ucap Luthfi yang langsung membuang muka dari pandangan Rena.


"Jadi kamu melihat aku...." ucap Rena terpotong dia tak melanjutkan ucapannya karena dia jelas jelas malu sekarang.


"Aku melihat semuanya" ucap Luthfi.


"Ish kamu tak sopan sekali Gus" ucap Rena yang langsung mencari cari baju gamis di dalam lemari.


"Kemana baju gamis yang tadi" geram Rena karena dia tak menemukan gamis yang dia bawa dari lemari tadi.


Luthfi mendekat ke arah Rena yang masih mencari cari pakaiannya itu.


"Ada yang bisa aku bantu" tanya Luthfi.


Rena terkejut dia langsung memundurkan tubuhnya mentok pada lemari, dia juga menutupi dada dan pahanya yang terlihat menonjol itu.


"Gus" ucap Rena saat melihat Luthfi yang seperti akan mendapatkan kecupan di Wajah Rena.


"Kamu cari yang ini" tanya Luthfi mengambil sesuatu dari lemari.


Rena yang semula memejamkan mata nya karena takut sekarang dia langsung membuka matanya.


"Terima kasih" ucap Rena.


"Ning kepala aku pusing" ucap Luthfi sambil memegang kepalanya berharap kalau Rena akan peka.


"Biar aku pijitin" ucap Rena yang langsung memakai gamis itu tak perduli kalau baju transparan itu masih dia pakai.


"Ck gak peka lagi" gumam Luthfi.


Rena langsung menuntun Luthfi untuk duduk di ranjang, Rena memijat kepala Luthfi yang katanya pusing itu.


"Udah mendingan" tanya Rena.


"Belum masih sakit" ucap Luthfi.


"Gus aku harap kau melupakan apa pun yang kau lihat barusan" ucap Rena.


"Ya kamu tenang saja aku pasti akan melupakannya" ucap Luthfi.


"Benarkah terima kasih" ucap Rena.


"Ning aku mau bicara" ucap Luthfi.


"Apa" tanya Rena.


"Aku mau mengajarkan mu pelajaran" ucap Luthfi.


"Pelajaran apa" tanya Rena.


Luthfi membalikan badannya menatap pada Rena, Dia memegang tangan Rena dan berharap kalau Rena akan paham.


"Aku akan memberikan pelajaran ini, tapi pelajaran ini hanya untuk kita saja" ucap Luthfi.


"Ya baiklah apa" ucap Rena.


"Dalam Quran surat Al Baqarah ayat 223, yang Artinya:" Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman." ucap Luthfi.


Rena masih tetap mendengarkan, dia tak tau arah ucapan Luthfi sebenarnya.


"malam yang bagus untuk melakukan hubungan adalah malam Minggu, malam Senin, malam Selasa, malam Rabu, malam Kamis dan malam hari raya" ucap Luthfi lagi.

__ADS_1


"Dan sekarang adalah malam Kamis kan" ucap Luthfi.


"Lalu" tanya Rena.


"Ya aku harap kau paham" ucap Luthfi.


"Maksudnya apa" tanya Rena.


"Kamu paham gak dengan apa yang aku bicarakan" tanya Luthfi.


"Gak" ucap Rena menatap pada Luthfi yang sekarang hanya tersenyum saja.


"Baiklah kita praktekkan" ucap Luthfi yang langsung membuka satu persatu kancing kemejanya.


"Tunggu kamu mau apa" tanya Rena yang sudah hampir melihat perut sixpack Luthfi.


"Kamu gak paham kan, ya sudah kita praktekkan" ucap Luthfi.


"Aku sedang datang bulan" ucap Rena sambil menutup matanya karena takut.


Garis kecewa terlihat di wajah Luthfi dia sangat sangat kecewa mendengar hal itu, namun Luthfi juga tak bisa berkata apa apa karena dia tak mungkin memaksakan melakukan itu pada Rena.


"Maaf" ucap Rena.


Luthfi hanya tersenyum dia tak bicara apa apa lagi, dengan cepat Luthfi masuk ke dalam kamar dia mengguyur badannya dengan shower yang ada di sana.


Guna untuk mendinginkan pikiran kotornya itu, dia kecewa tapi Luthfi juga tak bisa marah karena itu memang sudah menjadi kodratnya wanita untuk datang bulan.


Setelah lama Luthfi keluar dari kamar mandi dia hanya memakai handuk saja dengan badan semua yang basah.


Rena melihat Luthfi yang baru keluar dia langsung mendekat pada suaminya,


"Gus maafkan aku" ucap Rena.


Luthfi tak menggubris dia langsung memakai bajunya, Rena ingin bertanya tentang luka yang ada di punggung Luthfi tapi sekarang bukan waktunya.


"Baiklah Gus aku akan berikan pada mu setelah aku selesai datang bulan" ucap Rena yang tak mau kalau Luthfi marah lagi.


Luthfi tersenyum tipis dia bahagia karena Rena akan memberikan hak Luthfi padanya.


"Kapan kau selesai" tanya Luthfi dengan nada ketus.


"Mungkin dua sampai tiga hari lagi" ucap Rena.


"Baiklah" ucapnya ketus.


"Maafkan aku" ucap Rena.


"Ya aku maafkan" ucap Luthfi dengan nada ketus.


Rena mendekat pada Luthfi dia langsung memeluk Luthfi yang hanya memakai kaos polos dan bawahan sarung.


"Ning aku sudah ambil wudhu" ucap Luthfi.


"Hah" Rena terkejut dia langsung melepaskan pelukannya.


"Tak apa lah lagi pula aku bisa wudhu lagi" ucap Luthfi.


"Maaf" ucap Rena.


"Sudah tak apa" ucap Luthfi.


"Oh ya Gus ada luka hitam di punggung mu itu kenapa" tanya Rena.


"Luka ini adalah luka yang di ciptakan oleh Papah dulu mungkin ini adalah kenangan terakhir dari papah" ucap Luthfi.


"Oh ya" tanya Rena.


Luthfi membawa Rena untuk duduk di ranjang,


"Biar aku ceritakan" ucap Luthfi.


"Baiklah" ucap Rena.


Flash back on


Saat Luthfi berusia delapan tahun, saat itu dia masih sangat kecil namun dia paham pada situasi dan kondisi yang terjadi.


Saat itu dia melihat dengan kedua matanya dia melihat Mamahnya tengah berselingkuh dengan seorang laki laki.


Dengan tak tau malunya Mayang membawa seorang laki laki masuk ke dalam rumah itu saat tuan Yasir yaitu papahnya Luthfi bekerja di perusahaannya.


Luthfi kecil melihat dengan jelas kalau mamahnya itu tengah bermesraan dia tak berani untuk menegur mamahnya itu dia hanya bisa bersembunyi saja di kamarnya.


Hingga malam hari tuan Yasir pulang dia masuk ke kamar Luthfi karena seperti biasa dia sangat sayang pada putranya itu.


Tuan Yasir selalu membawa tongkat yang terbuat dari bambu hoe.


"Ufi mau belajar" tanya Tuan Yasir.


"Papah kapan pulang" tanya Luthfi yang langsung memeluk papahnya itu.


"Papah baru saja pulang" ucap Tuan Yasir.


Mereka belajar dengan tuan Yasir yang melihat putranya itu.


Luthfi hendak memberi tau kan pada papahnya tentang mamahnya itu.


"Pah aku mau bicara" ucap Luthfi.

__ADS_1


"Ada apa sayang" tanya Tuan Yasir.


"Pah tadi siang aku melihat mamah dengan laki laki" ucap Luthfi.


__ADS_2