
Luthfi masuk ke kamar istri nya itu, saat ini rasanya Luthfi sedikit mempunyai dukungan, tetap saja dia tak mungkin bisa menyelesaikan semua nya dengan waktu yang cepat.
"Bagus, aku tunggu cobaan selanjutnya" gumam Luthfi tersenyum tipis.
Luthfi menuju ke arah kamarnya dia melihat istrinya yang sudah bangun dan sedang melaksanakan tadarus Al Qur'an.
Luthfi mengambil tas yang ada di lantai.
"Gus kamu mau ke mana" tanya Rena yang langsung mengakhiri tadarusan nya.
"Aku mau ke kota, aku akan selesai kan masalah ini" ucap Luthfi.
"Kau akan pergi tanpa aku" tanya Rena.
"Aku tak maksa kalau kau mau di sini tak apa aku bisa pergi ke kota sendiri setelah selesai aku akan menjemputmu lagi" ucap Luthfi.
"Kau akan meninggalkan aku" tanya Rena sambil melepas kan mukena nya.
"Aku hanya tak mau menganggu liburan kamu" ucap Luthfi.
"Ya sudah pergi saja jangan datang lagi" ucap Rena.
Luthfi menatap pada Rena yang sekarang cemberut, dia tersenyum hanya Rena lah yang bisa membuat Luthfi bahagia.
"Lalu kau mau apa" tanya Luthfi.
"Ikut" ucap Rena.
"Baiklah ayo tuan putri kita berangkat ada banyak masalah yang harus kita hadapi" ucap Luthfi.
Rena tersenyum dia langsung memeluk suaminya itu dengan sangat erat.
"Aku akan coba untuk membantu meringankan beban mu" ucap Rena.
"Tak perlu kau hanya perlu ada di samping aku dan mendukung ku aku akan sangat bahagia" ucap Luthfi.
"Baiklah" ucap Rena tersenyum.
Luthfi membawa Ransel nya bersama dengan ransel punya Rena.
"Abah aku pamit" ucap Rena.
"Ya semoga kalian bahagia di sana" ucap Abah.
"Umi aku berangkat" ucap Rena menyalami tangan Umi.
"Ya Ning kamu baik baik ya di sana" ucap Umi.
"Ya umi" ucap Rena yang langsung memeluk Umi layaknya orang tua sendiri.
Rena juga tak lupa pada kakak nya yang saat ini tengah mengandung.
"Kak aku akan pergi" ucap Rena.
"Cepat lah pulang" ucap Zia.
"Ya kak" ucap Rena.
Mereka menempuh perjalanan cukup panjang namun untungnya tak macet jadi mereka bisa sampai tepat waktu.
Luthfi menatap pada rumahnya yang sekarang sedang di penuhi oleh polisi yang datang ke sana.
Namun Luthfi yakin kalau ini bukan maling sembarangan maling karena kata Bi Cici gak ada barang yang hilang.
"Sebenarnya maling itu mau apa" tanya Rena yang baru tau kalau rumah nya kemalingan.
"Aku kurang tau" ucap Luthfi.
Mereka langsung masuk ke dalam bukan itu saja ada wartawan juga di sana, Luthfi tak menyangka kalau berita di media akan sangat membuat wartawan bersemangat mengulik kehidupan dia.
"Assalamualaikum" ucap Luthfi.
"Waalaikum salam" ucap beberapa polisi yang ada di sana.
"Silahkan masuk pak" ucap Luthfi mempersilahkan.
"Pak bisa jelaskan kenapa rumah bisa kemalingan dan kemana bapak" tanya polisi itu.
"Saya di pesantren, saya gak tau kenapa bisa ada maling yang masuk tapi saya yakin kalau maling ini bukan maling yang mengincar harta tapi ada yang lain" ucap Luthfi.
"Maksudnya apa" tanya Polisi.
"Mungkin mereka mengincar sesuatu" ucap Luthfi yang sudah yakin kalau itu mamahnya.
"Baiklah aku akan cari bukti" ucap polisi itu.
"Ya" ucap Luthfi.
Saat ini Luthfi membawa ranselnya dan langsung menuju ke arah kamar nya dia tau betul kalau kamar nya masih dia kunci dulu.
Luthfi membuka pintu kamar nya sedangkan Rena ada di belakang nya, mengikuti dia.
Luthfi terkejut bukan main dia melihat kalau kamarnya berantakan sekali,
__ADS_1
"Astaghfirullah" ucap Rena tak kalah terkejut nya.
Luthfi tersenyum dia tau siapa yang melakukan nya.
"Gus bagaimana ini" tanya Rena.
"Pak" sahut Luthfi pada polisi itu.
"Tolong periksa kamar ini juga" ucap Luthfi.
"Baik pak" ucapnya.
salah satu polisi datang ke sana.
"Pak saya rasa maling ini sangat lihai dia bisa masuk ke dalam kamar bahkan dia juga mengunci lagi pintu nya jarang saya melihat yang seperti ini" ucap polisi itu.
"Bukan lihai pak dia bo doh" ucap Luthfi.
"Ya kau benar kalau mungkin dia mau harta aku yakin dia akan lebih memilih mengambil tv mu dari pada masuk ke dalam kamar" ucap polisi itu.
"Ya semakin nekad saja manusia jaman sekarang" ucap Luthfi.
Dia tak terlalu menyalahkan mamahnya, Luthfi tak mau dia salah paham karena jika Luthfi terlalu menyalah kan mamahnya maka dengan tidak langsung Luthfi seperti sudah memfitnah mamahnya itu.
"Gus minumlah" ucap Rena yang mengambil kan minuman untuk suaminya dan para polisi yang lain.
BI Cici membawa Revan ke rumah sakit karena takut ada masalah yang serius pada kepala Revan.
"Pak kami sudah mengambil sidik jari" ucap polisi itu.
Luthfi mengambil sebuah berkas yang dahulu ada sidik jari milik Mayang.
"Pak tolong apa sidik jari itu sama dengan sidik jari yang ini" ucap Luthfi memberikan berkas itu.
"Kami akan selidiki dahulu tuan" ucap Polisi.
"Ya" ucap Luthfi.
Salah satu polisi melihat pada kamar yang ada di samping kamar Luthfi.
"Pak ini kamar apa" tanya polisi itu.
"Itu ruang kerja aku akan buka aku takut dia masuk ke sini juga" ucap Luthfi.
"Ya takut maling itu juga masuk" ucap polisi itu.
Dan benar saja banyak sekali barang barang yang berantakan di sana, Luthfi terkejut karena berkas yang harus nya dia kerjakan sekarang berserakan di lantai.
Luthfi tersenyum dia memunguti satu persatu berkas itu.
"Saya pikir tak ada pak karena tak ada yang hilang" ucap Luthfi.
"bapak yakin" tanya Polisi.
"Saya yakin, oh ya pak terima kasih sudah membantu saya, saya akan menutup Kasus ini tak apa aku hanya ingin minta hasil dari sidik jari itu saja, sekali lagi terima kasih pak sudah jauh datang kemari" ucap Luthfi.
"Oh baiklah kami semua permisi pak, kalau ada kejadian lagi segera beri tau kami" ucap polisi.
"Ya pak pasti" ucap Luthfi.
Para polisi itu pergi dari sana karena Luthfi sudah menutup kasus itu.
"Kenapa di tutup" tanya Rena.
"Aku tau pelaku nya" ucap Luthfi sembari memunguti berkas yang berserakan itu.
"Siapa" tanya Rena.
"Mamah" ucap Luthfi.
"Kamu jangan su'udzon Gus mungkin saja bukan" ucap Rena.
"Sudah kamu jangan terlalu memikirkan ini aku yang bermasalah dan aku gak mau kamu terlibat" ucap Luthfi.
"Ya baiklah" ucap Rena.
"Aku akan selesai kan dengan jalur ku saja, melibatkan polisi seperti nya akan semakin susah kalau benar mamah yang melakukan nya apa mungkin aku akan memenjarakan mamah" ucap Luthfi.
"Ya kau benar juga" ucap Rena.
"Bisa bantu aku bereskan ini" tanya Luthfi memohon pada Rena dia tau kalau istri nya itu pasti cape karena perjalanan yang jauh.
"Baiklah ayo" ucap Rena.
"Kamu gak cape, kalau cape gak apa aku akan bereskan sendiri" ucap Luthfi.
"Tidak" ucap Rena.
"Kalau kamu cape duduk saja aku gak papa beresin ini sendiri" ucap Luthfi.
"Tak apa Sayang" ucap Rena.
Luthfi tersenyum dia menatap bahagia pada istrinya itu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau menemani aku, aku tau berat bagi seorang wanita meninggal kan keluarga nya, bahkan kalau kau yang minta untuk tinggal di pesantren aku gak akan melarang" ucap Luthfi.
"Gus aku gak akan membiarkan kamu sendirian" ucap Rena.
"Kenapa" tanya Luthfi.
"Aku takut ada yang berani menemani kamu saat kamu jauh dari aku" ucap Rena.
"Siapa yang akan berani mendekati aku kalau istri aku saja secantik ini" ucap Luthfi.
"Sudah ayo bereskan ini kalau kita bicara terus ga akan selesai selesai" ucap Rena.
"ya ayo" ucap Luthfi.
Mereka membereskan itu semua namun Luthfi ingat dengan mamanya yang sekarang di rumah sakit.
"Rena nanti aku akan pergi aku ada urusan" ucap Luthfi berusaha menyembunyikan kalau dia akan menemui Mamahnya.
"Ke mana" tanya Rena.
"Perusahaan" ucap Luthfi.
"Oh baik lah hati hati" ucap Rena.
Sedangkan di rumah sakit saat ini Mayang baru saja sadar semalam dia kecelakaan karena menabrak pohon di jalanan.
"Bagus, ayo kita rayakan ini" ucap Herman yang baru datang ke sana.
"Sayang" ucap Mayang.
"Sayang tuh kan lihat kamu celaka plis jangan lakukan apa pun yang akan membuat kamu menyesal aku sudah melarang kamu melakukan ini tapi kamu tak mendengar nya" ucap Herman.
"Maafkan aku tapi aku sangat geram" ucap Mayang.
"Aku bilang apa cara menanggapi Luthfi itu dengan sabar dan perhatian, anak itu kurang perhatian kalau dia di kasih perhatian mungkin dia akan menghormati kamu" ucap Herman.
"Sayang itu sangat mustahil Luthfi itu sangat susah untuk di ajak damai" ucap Mayang.
"Coba saja dulu" ucap Herman.
"Ya deh ya" ucap Mayang.
"Aku sudah telpon Luthfi aku yakin dia akan datang, jadi kamu harus berpura pura untuk kesakitan" ucap Herman.
"Ya sayang" ucap Mayang.
Siang hari nya Luthfi dan Rena selesai membereskan kamar dan ruangan kerjanya.
Mereka duduk di Sofa dengan menikmati secangkir teh.
Pekerjaan itu sangat melelahkan apa lagi Luthfi juga harus mencuci beberapa karpet yang ada di mushola karena terkena darah.
"Duduklah kau sudah terlalu banyak bekerja" ucap Luthfi.
"Tak apa" ucap Rena.
Luthfi melihat Bi Cici baru saja pulang dia bersama dengan Revan yang kepala nya di perban.
"BI bagaimana apa ada yang parah" tanya Luthfi.
"Tak ada tuan" ucap Bi Cici.
"Syukur lah, maaf aku tak datang ke rumah sakit Revan aku menyesal" ucap Luthfi.
"Tak apa tuan anda tak salah yang salah itu justru wanita itu" ucap Revan.
"Wanita mana" tanya Luthfi.
"Wanita yang datang semalam dia seorang wanita tuan, maling itu wanita aku tak menyangka aku kalah dengan wanita" ucap Revan.
"Wanitanya seperti apa" tanya Luthfi.
"Wanita itu berambut panjang tuan, dia memakai selop tinggi, aku tak melihat wajah nya dengan jelas karena saat itu lampunya mati" ucap Revan.
"Apa wanita itu sudah tua" tanya Luthfi.
"Kurang tau" ucap Revan.
Luthfi semakin yakin kalau yang melakukan itu adalah mamahnya karena siapa yang akan melakukan nya sebaik mamahnya.
"Mah aku yakin itu kau" batin Luthfi.
"Masa sih ada maling wanita" tanya Rena.
"Maling bukan sembarang Maling" ucap Luthfi tersenyum.
"Maksud nya" tanya Rena.
jangan lupa mampir ke novel author yang baru ya judulnya " Kekasih kontrak sampai ke pelaminan"
ini cerita ponakan nya Zia ya...
__ADS_1
Terima kasih