Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 120


__ADS_3

Hari ini Rena menuju ke pesantren karena dia akan mengantarkan Waffi untuk pesantren di sana, Rena sangat antusias pada pesantren kali ini bukan karena apa apa, tapi pesantren Abah ini dulunya adalah tempat dia dan suaminya belajar juga.


Rena langsung turun dari mobil setelah sampai di sana, mereka berangkat dari pukul 10 pagi dan sampai di sana pukul dua sore karena jalanan sangat macet.


Rena langsung masuk ke dalam rumah rumah Umi nya, walaupun orang tua kandung Rena adalah Sofi dan Herman tetap saja Rena tak akan mungkin melupakan Abah dan umi yang sudah membesar Rena.


"Assalamualaikum Umi" Sahut Rena yang langsung memeluk uminya itu.


"Waaikum salam, kapan datang nak" tanya Umi pada Rena.


"Barusan Umi" ucap Rena.


"Duduklah dulu" ucap Umi.


Rena duduk di sana sambil menunggu Waffi dan Luthfi untuk masuk ke dalam sana, Rena menatap pada uminya yang sudah semakin tua bahkan keriputan sudah terlihat jelas di wajah nya.


"Ning kapan datang" tanya Abah pada Rena.


"Abah, ya aku baru datang aku mau memasukan Waffi ke pesantren di sini dia punya masalah di sekolah yang dulunya aku tidak suka hal itu maka dari itu aku akan memasukan dia ke sini" ucap Rena.


"Ya baguslah" ucap Abah.


Waffi dan Luthfi datang ke sana mereka berdua langsung menyalami tangan Abah dan Umi secara bergantian.


"Waffi kamu harus betah di sini ya" ucap Rena.


"Ya umi" ucap Waffi.


"Abi juga akan sering datang" ucap Luthfi.


"Oh ya katanya Herman meninggal" tanya Abah.


"Ya Abah baru beberapa hari dan sekarang hari ke empat Papah tidak ada" ucap Rena.


"Oh yang sabar ya" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Rena.


"Kami turut berduka cita Ning maaf kami tak datang ke kota, sekarang bahkan Abah tidak sanggup berjalan jauh" ucap Umi.


"Tak apa Umi minta doanya saja" ucap Rena.


"Ya Amin" ucap Umi.


"Oh ya Waffi gak nyangka ya sudah gede saja anak ini aku melihat nya saat masih kecil" ucap Abah.


"Ya Abah dia sekarang sudah tumbuh besar dan dia ingin menikah dengan Gambar" ucap Luthfi.


"Abi" kesal Waffi karena abinya itu sangat suka menjelek jelekan anaknya.


"Tak salah ingin menikah tapi jangan sama gambar" ucap Abah.


Semuanya tersenyum menatap pada Waffi yang sangat menggemaskan itu.


"Abah aku tidak melakukan apa apa, gambar itu visual calon aku nanti" ucap Waffi.


"Ya suka suka kamu nak" ucap Umi.


Zia dan Adam datang ke sana saat melihat ada suara Rena dan Luthfi yang datang ke sana.


"Kak" ucap Rena yang langsung memeluk Kakak ipar nya itu.


"Rena aku sangat rindu pada mu" ucap Zia.


"Ya aku juga" ucap Rena.


"Ada apa" tanya Zia.


"Aku akan masukan waffi ke pesantren aku sangat jengkel padanya" ucap Rena.


"Mana coba aku lihat Waffi yang menjengkelkan itu di mana dia" tanya Zia.


Waffi hanya terkejut saat uwa nya tidak mengetahui dirinya padahal dia ada di hadapannya.


"Kak ini Waffi" ucap Rena.


Zia langsung menatap pada Waffi.


"Astaghfirullah aku gak sadar kalau ada kamu, Waffi kamu sudah besar" ucap Zia.


"Ya Uwa aku sangat besar sekarang" ucap Waffi.


"Syukur lah kamu sehat" ucap Zia.


"Ya Alhamdulillah" ucap Waffi.


Setelah lama berbincang Waffi sekarang sudah menuju ke kamarnya bersama dengan santri yang lain.


Luthfi dan Rena bicara dulu pada keluarga nya itu, apa lagi sekarang banyak yang ingin mereka bicarakan.


"Anak anak kalau Abah sudah tidak ada maka titip umi mu ya" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


"Aku harap kalian bisa mengurus Umi, karena Abah sudah sangat tua Abah tidak akan mungkin tetap berada di dunia ini" ucap Abah.


"Jangan bicara begitu Abah, Abah pasti kuat dan sehat" ucap Luthfi.


"Tapi tetap Ajal tidak tau datangnya kapan" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


"Abah sudah memberikan pesantren ini pada Adam, dan tanah kecil yang ada di sana itu milik kamu Ning" ucap Abah.


"Abah tidak apa aku tidak akan minta harta pada mu" ucap Rena.


"Tetap saja Ning aku punya kewajiban memberikan kamu harta ku, anggap saja itu kasih sayang dari ku" ucap Abah.


"Terima kasih Abah" ucap Rena.


"Dan Abah tidak mau ada yang menganggu gugat, jika itu milik kalian maka akan menjadi milik kalian tapi jika ada yang menggugat hal itu jangan pernah berikan pada siapa pun" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


Setelah selesai berbincang bincang akhir nya Rena dan Luthfi pulang juga ke kota yang jaraknya cukup dengan tiga jam perjalanan.


Saat ini mereka akan mengadakan tahlilan sampai hari ke tujuh kematian Herman setelah itu di lanjut dengan empat puluh hari dan seratus hari.


Sore ini Rena sampai di kediaman nya saat ini Adiba tengah mengambil keputusan pada diri sendiri untuk melupakan Arsala, Adiba baru saja ingat pada ucapannya saat bersama dengan Yadna.


Adiba lupa akan hal itu bahkan dia juga lupa kalau dia jatuh cinta pada kakaknya sendiri, walau pun mereka bukan adik kakak kandung bisa saja dahulu mereka adalah anak sepersusuan.


Dan hal itu akan menghalangi hubungan mereka, jika di paksakan juga tidak akan ada gunanya karena cinta mereka tidak akan bersama.


"Bagaimana ini" gumam Adiba.


Adiba ingat bahwa jika kita ingin melupakan seseorang maka jangan pernah ingat ingat orang itu, tetapi bagaimana caranya Adiba malah semakin ingat pada kakaknya itu.


Apa lagi Arsala selalu perhatian pada Adiba jadi tak heran kalau Adiba merasakan hal itu pada kakaknya sendiri, mereka sering bercanda bahkan mereka juga sering menghabiskan waktu berdua.


Adiba duduk termenung dia tak tau harus apa sekarang, jika saja orang tua nya tau akan hal itu mungkin saja akan marah pada Adiba karena sudah berani jatuh cinta pada kakaknya sendiri.


Rena masuk ke dalam kamar Adiba.


"Adiba" tanya Rena.


"Ya Umi" tanya Adiba saat melihat Rena masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa nak" tanya Rena.


"Tidak umi" ucap Adiba.


"Adiba kalau ada apa apa cerita saja sama Umi ya jangan di sembunyikan" ucap Rena.


"Ya Umi" ucap Adiba.


"Jangan ya ya saja ayo cerita pada umi ada apa, Adiba sudah lama rasanya kamu tidak bercerita pada ku" ucap Rena.


Adiba duduk bersama dengan Rena di pinggir ranjang yang ada di kamarnya.


"Umi sebenarnya aku itu bingung" ucap Adiba.

__ADS_1


"Bingung kenapa" tanya Rena.


"Aku punya perasaan, aku suka pada seseorang Umi tapi anggap saja aku dan dia itu tidak bisa bersama" ucap Adiba.


"Alasan tidak mungkin bisa bersama kenapa" tanya Rena.


"Anggap aku dan dia berbeda agama" ucap Adiba.


"Ya" ucap Rena.


"Kami tidak bisa bersama, lalu aku ingin melupakan nya Umi bagaimana caranya ya" ucap Adiba.


"Nak melupakan seseorang orang itu tidak akan mudah karena begini, pada dasarnya kita akan di pertemukan lalu di pisahkan, itu adalah hal wajar bukan, lalu bagaimana cara melupakan nya, tidak akan ada caranya Adiba kalau bukan Alloh sendiri yang sudah menentukan nya, kamu ingat saja kalau pun ya jodoh kamu adalah dia pasti dia bisa menjadi mualaf demi kamu" ucap Rena.


"Tapi akan banyak rintangan nya Umi" ucap Adiba.


"Adiba kalau sudah berjodoh apa susahnya, lihat banyak laki laki yang rela mualaf hanya untuk menikahi wanita yang dia sukai" ucap Rena.


"Kisah aku akan sangat panjang Umi" ucap Adiba.


"Kamu tau Yadna, dia bahkan pernah di tunggal kan menikah namun kalau bukan jodoh nya Yadna bisa apa, kamu tenang saja ya jodoh gak akan ke mana" ucap Rena.


"Ya Umi" ucap Adiba.


"Baiklah nak sekarang ayo kita makan jangan memikirkan hal yang seperti ini dulu ya, kamu harus sukses dulu sebelum punya suami, minimal kalau suami kamu orang yang sederhana kamu yang bisa membantu keuangan nantinya" ucap Rena.


"Ya Umi" ucap Adiba.


"Baiklah Ayo" ucap Rena.


Mereka langsung makan di meja makan, jujur baru sekarang Adiba suka pada seseorang tapi dia tidak bisa membuat nya nyata, karena Arsala sangat susah untuk Adiba gapai.


"Mungkin hanya mimpi bisa bersanding dengan Arsala" batin Adiba.


Rena paham betul apa yang di rasakan pada Adiba, sembilan belas tahun Rena membesar kan Adiba dia tau betul bagaimana Adiba yang sangat ceria dan mudah tersenyum.


Tetapi sayang cinta membuat dia menjadi seperti itu, Adiba murung dan bahkan bisa sampai menangis.


"Waffi di mana" tanya Adiba.


"Umi antar Waffi ke pesantren" ucap Rena.


"Oh ya aku lupa" ucap Adiba.


"Adiba ada apa" tanya Luthfi yang heran pada sikap Adiba.


"Tidak Abi" ucap Adiba.


Arsala baru saja pulang dari bekerja nya, dia langsung bergabung dan duduk di sana.


"Selamat sore" ucap Arsala.


"Kak" sahut Adiba terlihat bahagia saat melihat Arsala yang datang.


"Sedang apa, tak ajak aku" ucap Arsala.


"Kamu saja bahkan baru pulang" ucap Rena.


"Oh ya" ucap Arsala.


"Duduklah bujang ku" ucap Sofi.


"Ya Nenek aku akan duduk dan makan" ucap Arsala.


Arsala duduk di sebelah kursi yang diduduki Adiba.


Arsala mengambil makanannya dia langsung memakan makanan nya itu.


Tapi ada satu kebiasaan Arsala yang membuat Adiba jatuh cinta padanya.


Arsala selalu mengambil kan Adiba makanan kesukaan nya, bahkan Arsala juga selalu ingat pada Adiba.


"Makan lah yang banyak" ucap Arsala.


"Ya kak" ucap Adiba.


Adiba makan dengan lahap, hal itu tentu saja menjadi perhatian dari Luthfi.


"Adiba tapi kamu menggalau tapi setelah datang Arsala kamu jadi ceria lagi" ucap Luthfi.


"Terserah" ucap Luthfi.


"Sudah ayo makan jangan bicara saat makan" ucap Rena.


"Ya Umi yang baik" serempak yang ada di sana.


Sedangkan sore ini di perusahaan Am Group,


Yadna ingin sekali pulang tapi Kathir tak membiarkan Yadna pulang.


"Pak bisa aku pulang" tanya Yadna pada Kathir tapi tak pernah Kathir jawab.


Yadna malah merasa kesal pada Kathir yang sekarang sangat acuh padanya.


"Ada apa" tanya Rini.


"Aku mau pulang sekarang ada acara tahlilan di rumah" ucap Yadna.


"Aku tau caranya agar pak Kathir bisa mengijinkan kamu pulang" ucap Rini.


"Bagaimana" tanya Yadna.


"Kamu harus manja padanya, buat dia segeli mungkin karena pak Kathir itu tidak suka wanita yang manja kamu coba aja dulu" ucap Rini.


"Jijik" ucap Yadna.


"Tapi aku selalu berhasil" ucap Rini.


"Tapi aku gak mau" ucap Yadna.


"Terserah karena pak Kathir itu sangat patuh pada peraturan jadi dia tidak mungkin mempulangkan karyawan nya dengan cepat" ucap Rini.


"Walau pun ada acara" tanya Yadna.


"Yaps" ucap Rini.


Yadna bergidik ngeri kalau dia harus bermanja pada seorang lelaki seperti Kathir yang menyebalkan itu.


Drtt


{Yad kalau pulang belikan Umi obat herbal yang sering umi minum} pesan dari Abinya.


"Tuh kan" gumam Yadna.


Yadna langsung masuk ke dalam ruangan Kathir lagi, Yadna sudah hampir enam kali datang ke sana tapi sayang Kathir tidak merespon nya.


"Huhh Bismilah ya Alloh" gumam Yadna berdoa.


Yadna berjalan ke arah Kathir dia langsung duduk di hadapan Kathir.


"Pak" ucap Yadna.


Kathir menatap pada Yadna yang seperti memohon pada Kathir.


"Apa" tanya Kathir.


"Bisa kah aku pulang" tanya Yadna.


"Tidak" ucap Kathir.


"Aku mau pulang" ucap Yadna.


"Aku bilang tidak ya tidak" ucap Kathir.


Brakk


Yadna menggebrak meja yang ada di sana, dia sangat benci pada Kathir apa lagi Kathir sangat menyebalkan.


Yadna mendekat pada Kathir, karena marah Yadna meremas kerah kemeja yang Kathir pakai, bahkan jarak mereka sangat dekat.


"Aku mau pulang" rengek Yadna di hadapan Kathir.

__ADS_1


"Kenapa" tanya Kathir.


"Sekarang ada acara tahlilan empat hari Kakek dan kata Abi aku harus membeli obat herbal yang Umi suka minum" ucap Yadna masih dengan memegang kerah kemeja Kathir.


"Aku bos mu dan tidak seharusnya kamu begini" ucap Kathir yang langsung melepaskan tangan Yadna dari kerah bajunya.


"Pulang lah" sahut Kathir terlihat seperti marah namun dia langsung pergi dari sana meninggalkan Yadna.


"Pak" sahut Yadna.


Kathir pergi dari sana meninggalkan kan Yadna dan para Karyawan nya.


"Pak Kabir" sahut Yadna.


Yadna menatap pada Rini yang sekarang ada di sana.


"Apa yang kamu lakukan Adna, pak Kathir sangat marah" ucap Rini.


"Aku gak tau" ucap Yadna.


"Habis Kamu Yadna" ucap Rini.


Tapi Yadna tak mempedulikan Kathir dia langsung pergi dari sana karena akan pulang.


Yadna pulang ke rumahnya setelah dia membelikan obat herbal yang di minta abinya.


jujur saja Yadna merasa sangat bersalah pada bosnya itu apa lagi sikap Yadna yang sangat keterlaluan tadi, apa lagi Yadna mungkin baru pertama kalinya melakukan hal itu pada seorang laki laki.


"Besok aku akan selesai kan urusan aku dengan pak Kabir itu, sekarang yang paling penting aku pulang dan melaksanakan tahlilan bersama dengan yang lain" gumam Yadna dengan pulang naik taksi yang ada di sana.


Namun kejadian tadi terbayang bayang di benak Yadna yang sekarang akan pulang, Yadna merasa seperti orang yang bo doh karena melakukan hal itu pada Kathir yang tak lain adalah bosnya di perusahaan itu.


"Aku jadi merasa bersalah lagi, Astaghfirullah aku sangat gi la jika ingat kejadian tadi, apa Pak Kabir tidak akan menganggap aku murahan atau pak Kabir akan mengajukan hal itu pada Abi" gumam Yadna yang semakin bersalah.


ijin promosi novel mak author yang sedang ongoing ya siapa tau ada yang mau mampir..


kekasih kontrak sampai ke pelaminan


bab 1


Di perjalanan pulang gadis berusia 18 tahun itu berjalan pelan dia sangat cape hari ini apa lagi pekerjaan kali ini sangat banyak membuat Rayna anna Wijaya kecapean apa lagi bosnya itu sangat membosankan.


Rayna di paksa membersihkan beberapa kamar hotel dan kamar mandi padahal itu bukan bagiannya, Rayna ingin mengeluh tapi dia sadar kalau Papahnya itu sedang sakit dan membutuhkan uang yang sangat banyak untuk berobat.


Jalanan cukup licin apa lagi bekas hujan tadi jadi membuat jalanan basah oleh genangan air.


Namun tiba tiba saja ada sebuah mobil hitam yang melaju cukup kencang ke sana.


Hingga mencipratkan genangan air dari jalanan pada Rayna, jujur saja Rayna sangat marah dia ingin menangis apa lagi baju yang dia pakai sekarang adalah baju dari hotel tempat dia bekerja.


Bagaimana nasib Rayna kalau dia datang tak memakai baju kerja khas office girls.


"Dasar kurang ajar, tak sopan sekali kau, Tuh kan baju aku basah mana kotor lagi" geram Rayna pada orang yang membawa mobil itu.


Karena sebagai rasa tanggung jawab seorang supir Mobil itu turun untuk menemui Rayna dan meminta maaf, "Nona maafkan saya" ucap Supir itu.


"Gak sopan sekali kamu lihat baju aku kotor, bagaimana kalau aku di pecat, apa kamu gak tau kalau jalanan sangat basah" geram Rayna.


Rayna ingin menangis hanya kesalahan Rayna yang sedikit saja bisa di hukum oleh bosnya, apa lagi jika dia tak memakai baju kerja nya.


"Tapi Nona saya sudah minta maaf" ucap Supir.


"Pergilah aku gak mau melihat mu lagi" ucap Rayna mengalah dia tak bisa marah lagi apalagi sudah terjadi juga.


Supir itu masuk ke dalam mobil yang dia bawa.


"Maaf tuan ada gangguan sedikit" ucap Supir.


"Siapa wanita itu, tak sopan sekali dia" ucap Elpan Altaf Sudardjo.


"Saya kurang tau tuan" ucap Supir itu.


"Begitu lah kalau anak kurang didikan" gumam Elpan.


Rayna menatap pada mobil yang baru saja pergi itu, Rayna mencoba mengelap bajunya itu dengan tissue tapi sayang baju itu masih kotor, bahkan untuk di cuci pun rasanya sangat tak mungkin karena hari sudah mulai petang.


Rayna pulang sambil menangis dia menyembunyikan tangisan nya dengan menunduk kan kepalanya, dia sangat tak bisa menutupi kesedihan yang dia alami sekarang.


Ingin menyerah tapi bagaimana mungkin dia tak akan sejahat itu untuk meninggalkan papahnya yang sangat membutuhkan nya sekarang.


"Begini lah rasanya menjadi orang yang susah" gumam Rayna.


Rayna pulang dia berjalan kaki dari hotel tempat kerjanya menuju ke arah apartemen nya, jaraknya cukup dekat bahkan bisa di tempuh dalam waktu setengah jam perjalanan.


Rayna saat ini sangat ngirit dia mencoba berhemat bahkan Rayna juga mencoba untuk menahan keinginan nya hanya untuk biaya berobat papahnya dan untuk kehidupan mereka sehari hari.


Sesampainya di apartemen Rayna melihat banyak orang di unit apartemen nya, Rayna bahkan bisa mendengar suara barang yang di banting sangat keras.


"Papah" gumam Rayna.


Rayna berlari menuju ke unitnya dan benar saja papahnya itu sedang mengamuk membanting semua barang yang ada di kamar nya itu.


"Pah" ucap Rayna yang langsung membelah kerumunan orang orang itu, dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Papah" ucap Rayna yang langsung memeluk Papahnya itu dengan sangat erat.


Rayna menangis dia sedih karena dahulu papahnya itu sangat di hormati tapi sekarang papahnya sangat menghawatirkan.


Rayna menangis semakin kencang dia tak mampu melihat papahnya seperti itu.


Anak yang mana yang bisa tahan melihat orang tuanya di hina orang lain.


Mungkin Rayna juga sama dia sangat ingin membalas perbuatan orang orang itu pada papahnya.


seorang tetangga Rayna datang ke sana.


"Pak Usir saja mereka lihat mereka sangat menyusahkan" ucap seorang ibu ibu yang tak suka pada keberadaan Rayna.


"Ya pak usir saja ini bisa membahayakan anak anak kita, lihat papahnya aja Gi la dia mengamuk kita usir saja dia demi ketentraman apartemen ini" ucap seorang ibu yang lain.


Rayna melepas kan pelukan nya, dia langsung mendekat pada orang orang itu.


"Ibu tolong maafkan saya, tolong jangan usir saya Bu saya gak punya tempat untuk tinggal lagi, hiks ... hiks.." Ucap Rayna sambil menangis.


"Ah kamu ini, kami semua takut papah mu nyamuk lagi kamu lihat kan tadi papah mu itu mengamuk sangat brutal bagaimana kalau dia mencelakai warga di sini" bentak seorang ibu yang sangat tak suka pada Rayna.


"Tolong Bu beri aku satu kesempatan aku akan pasti kan papah tak akan mengamuk lagi" ucap Rayna sampai memohon.


"Kita bawa saja papahnya itu ke rumah sakit jiwa" ucap seorang ibu mengompori ibu ibu yang sedang marah itu.


"Ya kami setuju".


"Bawa saja".


"Jangan" ucap Rayna menghalangi para warga untuk membawa papahnya.


Untung saja seorang pria paruh baya datang ke sana dia adalah pemilik apartemen itu untung nya bapak itu sangat baik pada Rayna.


"Ibu ibu jangan main hakim sendiri, kasihan Rayna ayo kita kasih mereka kesempatan untuk berubah Rayna berjanji kalau dia akan menjaga papahnya dengan sangat baik" ucap bapak itu.


"tapi Pak lihat papahnya itu mengamuk" sahut seorang ibu.


"Pulanglah kita akan berikan sekali lagi kesempatan, kalau Rayna tak bisa menjaga papahnya maka kita semua akan mengusirnya bagaimana Rayna kamu setuju" tanya bapak itu.


"Setuju pak terima kasih atas kebijakan nya" ucap Rayna pasrah.


"Huhh ganggu saja" sahut ibu ibu itu marah sambil meneriaki Rayna.


"Terima kasih pak sudah membantu saya" ucap Rayna.


"Tak apa Rayna, maaf kan ibu ibu itu mereka memang begitu" ucap Bapak itu.


"Ya pak aku paham" ucap Rayna mengusap air mata nya, "Terima kasih pak dan maaf karena menganggu waktu bapak" ucap Rayna.


"Ya baiklah bapak akan pergi kamu selamat beristirahat ya" ucap bapa itu.


"Ya" ucap Rayna.


Rayna menutup pintu apartemen nya itu, dia menatap ke arah sekitar nya yang sangat berantakan seperti kapal pecah, barang barang di apartemen nya itu tergeletak di lantai semua bahkan ada yang sampai pecah mungkin karena papahnya itu membanting barang cukup kasar.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang" gumam Rayna melepas kan tas yang dia gendong, Rayna menatap pada papahnya yang sekarang sudah tenang dan hanya melamun saja.

__ADS_1


siapa tau ada yang mau mampir langsung aja ya ke Novel mak Author yang judul nya Kekasih kontrak sampai ke pelaminan..



__ADS_2