
Siang ini Rena dan Luthfi sudah selesai berkemas sekarang Rena akan ikut ke kota bahkan mobil yang menjemput pun sudah ada di halaman pesantren.
Luthfi akan meminta ijin pada Abah bagaimana pun juga Luthfi akan membawa Rena anaknya Abah jauh dari Abah dan keluarga.
hal itu tentu saja harus ada persetujuan dari abah.
sedangkan Rena saat ini dia melihat kakaknya yang seperti biasa dia sedang jajan di luar pesantren.
"Ning mau kemana" tanya Zia.
"aku mau ke kota" ucap Rena.
"ke kota, mau apa" tanya Zia.
"ikut Gus Luthfi" ucap Rena.
Zia tersenyum mendengar hal itu, karena jika mereka semakin dekat maka mereka akan semakin mengenal satu sama lain lebih jelas lagi.
"gas terus Ning" ucap Zia.
"apa apaan sih kakak ini" ucap Rena tersenyum malu malu.
"Ning aku sarankan jangan pernah menolak jika suami meminta hak nya karena itu akan menjadi dosa bagi mu" ucap Zia.
"ya kak aku tau" ucap Rena.
"pastikan kalau kau yang minta lebih dahulu" ucap Zia.
"ish kakak ini malu tau" ucap Rena.
"kenapa malu bukannya membahagiakan suami itu bagus" ucap Zia.
"ya sih tapi kan malu kak" ucap Rena.
"kenapa malu itu pahala buat kamu karena sudah membahagiakan suami kamu" ucap Zia.
"ya deh aku akan coba" ucap Rena pasrah saja karena nanti terserah nanti saja.
setelah berpamitan mereka berangkat ke kota tempat tinggal Luthfi, sebenarnya Rena belum siap untuk jauh dari keluarganya tapi mau bagaimana lagi karena dia pun tak mungkin tak ikut pada suaminya.
di perjalanan Luthfi fokus pada berkas yang baru saja supirnya itu berikan.
"Ning aku mau jujur" ucap Luthfi namun matanya masih menatap pada berkas yang ada di tangannya.
"apa" tanya Rena.
"mamah ku kurang setuju pada pernikahan ini bahkan aku juga tak dekat dengan mamah, kamu akan tau alasannya nanti, aku harap jika mamah bicara apa pun padamu, kamu jangan dengarkan ya atau bila perlu kau usir saja dia" ucap Luthfi.
"kenapa begitu" tanya Rena.
"ya aku tau betul bagaimana mamah dia pasti akan membuat mu tak betah dengan ku" ucap Luthfi.
"tak apa Gus aku akan memakluminya" ucap Rena berusaha memaklumi.
Luthfi melihat pada Rena dia akan mendaratkan kecupan pada Rena namun dengan cepat Rena menghentikan dadanya sehingga membuat Luthfi tak bisa mendekati Rena.
"jangan ih malu" ucap Rena matanya menunjuk pada supir yang ada di sana.
"baiklah aku mungkin bisa menahannya" bisik Luthfi tepat di telinga Rena.
sesampainya di kediaman Luthfi, Rena langsung menatap rumah yang besar nan mewah itu.
"ini rumah kamu" tanya Rena kagum melihat rumah sebesar itu.
"ya kamu gak suka" tanya Luthfi.
"aku suka" ucap Rena.
"kalau gak suka kita jual saja kita beli lagi yang baru" ucap Luthfi.
"kamu terlalu berlebihan Gus" ucap Rena.
Luthfi membawa kopernya dan koper Rena untuk masuk ke dalam, Rena hanya mengikuti Luthfi saja dari arah belakang.
Rena tak henti hentinya berdecak kagum karena melihat keindahan rumah itu yang sangat indah dengan banyaknya hiasan kaligrafi di setiap dindingnya.
saking senangnya Rena melihat hiasan itu dia tak memperhatikan Luthfi yang sekarang berdiri di hadapannya.
Brugg
Rena menubruk Luthfi yang berdiri di hadapannya, tapi bukan Luthfi yang terjatuh malah Rena lah yang terjatuh ke lantai.
"awwss" ringis Rena.
Luthfi melihat istrinya yang terjatuh itu, Luthfi tersenyum dia langsung mengangkat tubuh Rena dan membawanya ke dalam pelukannya.
"turunkan aku Gus aku malu" ucap Rena.
"kenapa malu tak ada orang yang lihat kan" ucap Luthfi.
"Gus tetap saja aku malu" ucap Rena.
Luthfi membawa Rena ke arah kamarnya yang ada di lantai atas, dia tak memperdulikan Rena yang sudah berontak.
"Gus aku berat" ucap Rena.
"kenapa gak diet" tanya Luthfi.
"apa jadi kamu gak suka pada wanita gendut" tanya Rena.
"aku sangat suka Ning, apa lagi wanitanya itu kamu" ucap Luthfi.
"tadi katanya gak suka" ucap Rena.
"aku gak pernah bilang" ucap Luthfi.
Luthfi membaringkan Rena di ranjang yang sangat empuk itu.
"aku akan keluar dulu ya aku akan ambil koper, kamu di sini saja" ucap Luthfi.
"biar aku bantu" ucap Rena yang langsung di tatap tajam oleh Luthfi.
Rena urung untuk membantu Luthfi karena tak mau Luthfi marah padanya.
"menyeramkan" gumam Rena.
__ADS_1
Luthfi membawa kopernya menuju ke kamarnya, terlihat kalau Rena tengah mengutak atik ponselnya.
Luthfi membuka isi kopernya.
"Ning aku bereskan pakaian mu di lemari yang ini dan punya ku ada di sini" ucap Luthfi.
"ya" ucap Rena.
Luthfi membereskan pakaiannya hingga beres di lemari, Luthfi hendak membuka koper Rena namun Rena menghalanginya.
"jangan Gus biar aku saja" ucap Rena.
"kamu duduk aja" ucap Luthfi tak bisa di bantah.
Luthfi mengeluarkan pakaian Rena dia melihat ada sorban Hitam punyanya yang sudah lama hilang.
"Ning kenapa ada sorban di koper mu" tanya Luthfi.
Rena langsung mendekat pada Luthfi dan mengambil Sorban itu.
"ini punya ku" ucap Rena.
"kok bisa sama ya aku juga punya tapi sekarang gak ada mungkin hilang" ucap Luthfi.
Rena merasa kalau dia salah karena sudah mencuri sorban punya Luthfi itu.
"Gus" ucap Rena.
"hmm" ucap Luthfi yang masih sibuk membereskan pakaian punya Rena.
"maaf" ucap Rena.
Luthfi melihat pada Rena yang ada di belakangnya.
"maaf untuk apa" tanya Luthfi.
"maaf karena aku mengambil sorban mu ini punya mu aku mengambilnya saat malam itu, entahlah gus aku gak tau apa yang dulu aku pikirkan tapi aku terlalu malu untuk memberikan ini pada mu" ucap Rena.
"pantas aku cari gak ada" ucap Luthfi.
"maaf" ucap Rena.
"kalau kau mau kenapa gak bilang saja" tanya Luthfi.
"aku malu" ucap Rena.
"baiklah karena kamu salah kamu harus di hukum" ucap Luthfi tersenyum lebar melihat hal itu Rena langsung merasa takut pada Luthfi.
Luthfi mendekat pada Rena dan berbisik tepat di telinganya.
"layani aku malam ini" bisik Luthfi.
Rena menelan ludahnya kasar dia takut pada Luthfi.
"bersiaplah" ucap Luthfi yang langsung menyelesaikan membereskan pakaian Rena.
Luthfi tersenyum sangat mudah menjahili Rena yang sangat lugu itu.
namun Luthfi malah takut kalau Rena akan mendengarkan mamahnya yang pastinya tak akan merestui hubungan mereka.
"apa mungkin Rena tak akan di sakiti oleh mamah" gumam Luthfi yang langsung merasa takut jika mengingat pada mamahnya.
Luthfi mendekat pada Rena yang ada di sana, saat ini Rena masih ketakutan pada ancaman Luthfi yang tadi berbisik padanya.
tanpa Rena sadari Luthfi langsung memeluknya membuat Rena semakin ketakutan.
"aaaa" teriak Rena saat Luthfi memeluknya.
Luthfi melepaskan pelukannya karena Rena berteriak.
"ada apa" tanya Luthfi.
"katanya nanti malam" ucap Rena.
Luthfi kebingungan mendengar ucapan Rena yang katanya nanti malam,
"padahal aku hanya mau meluk" ucap Luthfi.
"Gus jangan gitu lah aku takut" ucap Rena.
"kenapa harus takut" tanya Luthfi.
"sudah lah" ucap Rena.
"oh ya Ning di rumah ini tak ada pembantu aku belum mencarinya, kamu mau makan apa biar aku yang buatkan" ucap Luthfi.
"kamu bisa masak" tanya Rena seakan meragukan.
"bisa" ucap Luthfi.
"baiklah makan apa saja" ucap Rena.
Luthfi dan Rena menunju ke arah dapur yang ada di lantai bawah rumah itu.
dapurnya sangat bersih dan rapih jika Rena yang punya mungkin dia tak akan ikhlas dapur sebagus itu di pakai masak.
Luthfi memasak ayam untuk Rena bahkan Luthfi juga dengan lihai memotong sayuran yang ada di dalam kulkas.
Rena kagum pada kemampuan Luthfi yang serba bisa itu, tak salah Rena memilih laki laki seperti Luthfi untuk jadi suaminya.
"makanlah" ucap Luthfi saat semuanya sudah matang.
Rena mencicipinya masakan suaminya itu.
"enak" ucap Rena.
"Ning maafkan aku" ucap Luthfi.
"kenapa minta maaf" tanya Rena.
"aku belum sempurna menjadi seorang suami" ucap Luthfi.
"kau sangat sempurna Gus, terima kasih" ucap Rena tersenyum.
malam harinya Luthfi dan Rena baru saja menyelesaikan sholat Maghrib dan isya secara berjamaah.
__ADS_1
Rena mengalami tangan Luthfi dengan takzim.
Rena langsung membuka mukenanya karena sekarang Rena sangat capek dia ingin istirahat.
Luthfi melakukan tadarus Al-Qur'an karena sudah beberapa hari ini Luthfi sibuk dia tak sempat tadarus.
kemarin juga hanya beberapa ayat saja karena Luthfi tak fokus.
Rena merebahkan tubuhnya di atas ranjang tiba tiba saja pikirannya langsung ingat pada ucapan Luthfi yang katanya "layani aku malam ini" seketika Rena langsung melihat Luthfi yang sedang membaca Alquran.
Rena memejamkan matanya berharap kalau dia akan segera tertidur dan Luthfi tak akan berani menyentuhnya.
namun perkiraan Rena salah matanya tertutup tapi katuknya belum datang juga dia tak bisa tidur karena ketakutan itu.
Rena membuka matanya dia akan jujur pada Luthfi sekarang apa lagi kalau seperti ini terus dia juga takut kalau Luthfi marah padanya.
"Gus" ucap Rena.
"hmm" dehem Luthfi.
"aku mau bicara" ucap Rena.
"apa" tanya Luthfi yang langsung menutup Al Qur'an nya dan duduk dekat dengan Rena.
"aku mau jujur Gus" ucap Rena.
"apa" tanya Luthfi.
"maafkan aku karena belum bisa menjadi istri yang baik, Gus jujur aku belum siap untuk melayani mu, maaf" ucap Rena menyesal.
"Ning aku akan bersabar, aku paham kalau kamu belum siap bahkan aku juga belum siap untuk melakukannya" ucap Luthfi.
"kamu tak akan menduakan aku kan" tanya Rena.
Luthfi menggelengkan kepalanya sambil memegang tangan Rena.
"aku gak mungkin menduakan kamu" ucap Luthfi.
"aku sangat menyesal tapi untuk di paksakan pun aku tak bisa" ucap Rena.
"santai saja lagi pula aku tak akan memaksamu" ucap Luthfi.
"apa aku akan berdosa" tanya Rena.
Luthfi memegang pipi Rena yang sangat tembem itu, Luthfi mencubitnya gemas dia merasa sangat gemas hingga dia seperti ingin memakan Rena hidup hidup.
Rena menepis tangan Luthfi dia tersenyum pada Luthfi.
"oh ya Gus sebelum kita menikah kau dekat dengan Ning Misbah apa kalian ada hubungan" tanya Rena.
"tak ada hanya sekedar rekan bisnis" ucap Luthfi.
"oh ya kata Abah Kalian akan di jodohkan" tanya Rena lagi yang masih tak percaya.
"ya dulunya ya tapi aku gak suka pada Ning Misbah" ucap Luthfi.
"kenapa" tanya Rena.
"karena orang yang aku suka ada di sebelah aku" ucap Luthfi.
"kamu ini bisa saja" ucap Rena.
Luthfi mencium tangan Rena dengan sedikit menggigit tangannya.
"awws" ringis Rena.
"baiklah kamu tidur ya, aku mau tadarus lagi mau sekalian menyelesaikan pekerjaan juga" ucap Luthfi.
"oh baiklah" ucap Rena.
Luthfi langsung mengambil wudhu lagi hanya dengan tadarusan pikiran Luthfi menjadi jernih kembali setelah kabut Naf su menutupi pikirannya.
dengan begini Luthfi bisa mengontrol lagi pemikirannya yang kacau karena adanya Rena di sana yang membuat pikirannya tak jernih lagi.
"bismilah sebentar lagi, tahan saja Luth dulu juga belum pernah melakukannya tak apa apa, tapi sekarang rasanya beda aku merasa sangat ingin" keluh Luthfi sambil menyenderkan kepalanya pada ranjang.
pagi harinya Luthfi yang menyiapkan makanan karena dia tak mau melihat Rena yang kecapean.
saat Rena turun dia melihat suaminya yang sudah ada di dapur.
"Gus kenapa kamu yang masak" tanya Rena.
"gak papa ayo makan" ucap Luthfi.
"aku merepotkan ya" tanya Rena.
"gak merepotkan" ucap Luthfi.
hari ini Luthfi akan bekerja di rumah jadi dia harus sarapan pagi sekali.
"aku akan bekerja di ruangan kerja aku di atas sebelah kamar kita" ucap Luthfi.
"oh baiklah" ucap Rena.
Luthfi bekerja dia membuka laptop dan semua berkas berkasnya yang harus segera Luthfi baca dan pelajari karena akan ada meeting online sore harinya.
sedangkan Rena saat ini dia tengah membereskan rumah Luthfi yang besar itu, sebenarnya lantai dan yang lainnya masih bersih hanya saja Rena tak mau diam saja di rumah.
hingga tiba tiba datang lah mamah mertuanya Rena ke sana dengan beberapa body guard yang juga ikut ke sana.
"kamu istrinya Anak saya" tanya Mayang saat melihat Rena tengah menyapu.
Rena sadar kalau itu pasti mamahnya Luthfi karena terlihat dari penampilannya yang cukup Hedon.
Rena hendak menyalami tangan mamah mertuanya itu tapi sayang Mayang malah tak membalas tangan Rena.
merasa di abaikan Rena pun menarik lagi tangannya.
"di mana Luthfi" tanya Mayang.
"ada di kamar kerjanya" jawab Rena.
"ambil kan aku minuman" titah Mayang.
"ya mah" ucap Rena yang langsung ke dapur.
__ADS_1
bersambung