Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 33 ambil ini dan jauhi Luthfi


__ADS_3

Rena ikut bergabung di antara keluarga suaminya itu, dia merasa canggung karena kali ini adalah pertamanya dia bertemu dengan Ayah tiri Luthfi.


"Di mana Ufi" tanya Herman.


"Dia ke mesjid" ucap Rena.


"Tuh kan sayang aku tau nih kalau Luthfi itu pasti menghamburkan lagi uang untuk membeli hewan kurban" ucap Mayang.


"Sudahlah tak apa" ucap Herman.


Herman sedikit lebih pintar dari Mayang dia berusaha untuk mengambil alih harta Luthfi tapi dengan cara yang lembut dan sedikit memberikan kasih sayang.


Namun Luthfi sangat pandai menebak kepribadian seseorang dia tau betul maksud dari laki laki itu yang tak lain adalah untuk menjatuhkan Luthfi.


Di mesjid saat ini Luthfi akan pulang dia tak akan sholat Isya di masjid tapi dia akan Sholat di Rumahnya.


"Nak Ufi terima kasih sudah berpartisipasi" ucap pengurus mesjid di sana.


"Tak apa pak, semoga ini bermanfaat tapi saya mohon jangan di wawarkan pada orang orang kalau ini dari saya" ucap Luthfi.


"Ya nak" ucap Pengurus mesjid.


"Baiklah pak saya akan pulang, istri saya menunggu di rumah" ucap Luthfi.


"Oh baiklah, hati hati di jalan" ucap pengurus mesjid.


Luthfi keluar dari mesjid saat dia berjalan ke arah jalan pulang ada Ari yang membawa motor berhenti di hadapan Luthfi.


"Ayo mau bareng" tanya Ari.


"Boleh" ucap Luthfi.


"Boleh ayo lah aku antar pulang" ucap Ari.


"Terima kasih" ucap Luthfi.


Mereka pulang hanya sebentar mereka langsung sampai ke rumah Luthfi.


"Mau mampir" tanya Luthfi.


"Gak usah udah malam" ucap Ari.


"Terima kasih" ucap Luthfi.


Ari melajukan motornya menjauh dari Luthfi, sedang kan Luthfi langsung masuk ke dalam rumah sayang nya dia melihat ada mobil milik mamahnya.


"Ada apa mamah datang" gumam Luthfi.


Di rumah saat ini Rena hanya duduk saja dia tak bicara apa apa karena tak tau harus bicara apa.


"Rena kamu yakin cinta sama Luthfi" tanya Mayang.


"Yakin" ucap Rena tersenyum canggung.


"Ini uang satu milyar" ucap Mayang membuka kan koper yang dia bawa itu.


"Ambil uang ini dan tinggalkan Luthfi" ucap Mayang.


"Untuk apa" tanya Rena.


"Ambil ini dan aku harap kau jauhi Luthfi" ucap Mayang yang langsung menyerahkan uang yang tertata rapih di dalam koper itu.


"Aku gak butuh uang" ucap Rena.


"Ayolah aku tau kau pasti mau harta anak aku saja" ucap Mayang.


"Apa dengan mengambil uang ini aku bisa kaya" tanya Rena.


"Aku jamin kau akan kaya tujuh turunan apa lagi kau di kampung" ucap Mayang.


Luthfi yang sekarang berada di ambang pintu mendengar hal itu dia kecewa pada Rena dia tak habis pikir pada ucapan Rena yang seolah akan menerima uang itu.


Luthfi langsung masuk kedalam kamarnya, dia berjalan dengan cepat dan masuk ke dalam kamar tanpa sepengetahuan dari Rena dan orang orang itu.


Luthfi sangat kecewa dia tak habis pikir karena Rena akan menerima uang sogokan itu.


Luthfi membanting pintu dengan sangat keras dia marah pada Rena.


"Rena seperti itu" gumam Luthfi.


Sedangkan Rena saat ini hanya tersenyum menanggapi mamah mertuanya itu.


"Mah maaf tapi aku gak mau" ucap Rena yang membuat Mayang kesal karena dia malah tak mau dengan uang itu.


"Jangan gi la Rena kamu bisa hidup bahagia di kampung jika menerima uang ini" ucap Mayang.


"Aku lebih mencintai putra mu Mah" ucap Rena.


"Ck mustahil kau pasti hanya mau hartanya saja kan" ucap Mayang.


"Untuk apa aku memilih harta yang banyak kalau aku tak punya cinta" ucap Rena.


"Setidaknya kau bisa hidup tenang kalau punya uang banyak" ucap Herman.


"Tenang, bagaimana mungkin orang yang masih hidup bisa tenang jika orang meninggal saja masih di kirimi doa supaya mereka bisa tenang" ucap Rena.


"Jangan mencoba menceramahi aku" geram Mayang.


"Mah aku akan pergi jika Gus Luthfi sendiri yang meminta aku pergi" ucap Rena.


"Anak ini" geram Mayang yang langsung menarik lagi resleting koper itu, dengan susah payah dia langsung menarik koper yang berisi uang itu.


Tanpa permisi Mayang pergi dia tak perduli lagi pada Rena yang hanya diam di sana.


"Kami pamit" ucap Herman.


"Ya" ucap Rena.


Rena menatap kepergian keluarga suaminya itu dia merasa sangat bersalah apa lagi dia menolak dengan tegas permintaan mertuanya itu.

__ADS_1


Rena langsung masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai atas dia tak percaya kalau segigih itu mertuanya ingin menyingkirkan Rena.


Rena membuka pintu kamarnya dia melihat Luthfi yang ada di sana tengah menghitung uang yang berserakan di atas ranjang.


"Kau mau berapa" tanya Luthfi.


Rena tak paham pada ucapan Luthfi apa lagi dia juga kurang paham dengan apa yang Luthfi maksud.


"Kau menerima uang dari mamah, berapa uang yang kau dapat kan" tanya Luthfi dengan mata yang merah sepertinya sudah menangis.


"Tidak ada" ucap Rena.


"Ambil uang ini dan aku mohon jangan jauhi aku" ucap Luthfi.


"Aku gak mengambil uang mamah" ucap Rena.


"Lalu tadi kata kamu apa" tanya Luthfi yang langsung bangkit dari duduknya mendekat pada Rena.


"Aku gak bicara apa apa" ucap Rena.


"Kau akan mengambilnya kan" tanya Luthfi.


"Tadinya ya tapi aku sayang pada mu" ucap Rena.


"Jangan bohong aku gak suka orang yang berbohong" ucap Luthfi tegas.


"Aku gak mengambilnya lagi pula mamah juga tak terlalu suka padaku dia ingin menyingkirkan aku" ucap Rena.


"Jangan bohong" ucap Luthfi.


Rena tersenyum dia memeluk suaminya itu.


"Gus aku takut" ucap Rena.


Hati Luthfi terasa sangat sejuk apa lagi Rena memeluknya, dia seolah tak ingin melepaskan Rena yang sekarang sudah menjadi miliknya.


"Takut apa" tanya Luthfi.


"Aku takut kau meninggalkan aku, Gus dengan sangat jelas mamah kamu tak suka sama aku" ucap Rena.


"Kalau kau setia aku juga akan lebih setia Ning aku sangat menyayangimu aku tak mau kehilangan mu" ucap Luthfi.


"Baiklah aku juga sangat mencintai mu" ucap Rena.


"Terima kasih Ning" ucap Luthfi.


Luthfi melepaskan pelukannya saat ini Dia menyesali perbuatannya yang mengeluarkan semua uang dari berangkas dan sekarang dia harus merapihkan semuanya.


"Aku menyesal mengeluarkan uang ini" ucap Luthfi menatap pada uang yang berserakan itu.


"Salah siapa" tanya Rena.


"Ya aku yang salah" ucap Luthfi.


"Biar aku bantu bereskan dan aku janji aku gak akan mengambil uang itu" ucap Rena.


"Ini semua milik mu jadi kalau kamu mau aku akan memberikannya" ucap Luthfi.


"Bagai mana kalau besok kita ke pesantren, kita menginap di sana sampai idul Adha" ucap Luthfi.


"Benarkah" tanya Rena bahagia mendengar hal itu.


"Ya kita akan ke sana, kamu senang kan" tanya Luthfi.


"Aku senang, Terima kasih" ucap Rena.


"Ya sama sama sayang" ucap Luthfi mengecup kening Rena.


Rena membantu Luthfi membereskan uang yang berserakan itu dia baru tau kalau suaminya itu adalah orang kaya yang banyak uang.


"Gus kau meninggalkan semua uang ini hanya untuk hidup di pesantren" tanya Rena.


"Ya kebahagiaan aku di sana, tentunya ada kamu juga" ucap Luthfi.


"Gombal" ucap Rena.


Luthfi menaruh uang yang ada di tangannya itu, dia sangat gemas pada Rena apa lagi Rena membuatnya sangat jatuh cinta.


Luthfi mendekat pada Rena dia merebahkan Rena sehingga Rena tidur terlentang di atas kasur yang empuk itu.


Luthfi dengan perlahan menin dih tubuh Rena dia mengecup bibir Rena dengan perlahan.


Skip


Rena bangkit dari rebahannya dia menatap pada suaminya yang sudah di kuasai naf su itu,


"Mandilah Gus" ucap Rena.


"Kapan kamu selesai" tanya Luthfi.


"Mungkin besok aku mandi wajib" ucap Rena.


"Oh baiklah" ucap Luthfi.


Luthfi masih bisa bersabar dia mandi karena ingin menyejukkan badannya yang panas itu, saat ini Luthfi masih bisa mengontrol hasrat yang sudah sejak lama dia pendam itu.


"Sabar" gumam Luthfi.


Rena tentu saja paham pada apa yang dirasakan oleh Luthfi apa lagi dia juga merasakan hal yang sama.


Wajar saja jika seseorang wanita memiliki keinginan karena dia juga punya syahwat.


"Kapan datang bulan ini berakhir" gumam Rena.


Di kediaman Orang tuanya Luthfi saat ini Mayang tengah marah marah dia tak bisa menahan amarahnya lagi.


"Tuh kan sudah aku bilang kalau dia itu sombong dan gak pantas buat Luthfi" ucap Mayang pada suaminya.


"Kita lakukan cara luluh saja sayang" ucap Herman.

__ADS_1


"Cara luluh bagaimana ini juga aku sudah luluh" ucap Mayang.


"Ya maksudnya kau baik baiki saja si Rena itu nanti juga kalau dia percaya kamu bisa ambil harta Luthfi melalui Rena" ucap Herman.


"Gak aku gak mungkin melakukan nya pasti Luthfi akan mencurigai kita dengan mudah kalau seperti ini" ucap Mayang.


"Baiklah bagaimana sekarang" tanya Herman.


"Kita culik Rena" ucap Mayang.


"Kamu gi la apa" tanya Herman.


"Sayang apa lagi yang harus kita lakukan dengan itu kita akan minta tebusan uang pada Luthfi" ucap Mayang.


"Dia tak bo doh Sayang" ucap Herman.


"Lalu bagaimana lagi" tanya Mayang.


"Terserah kamu saja" ucap Herman.


"Aku akan pikirkan caranya kamu diam saja" ucap Mayang.


"Terserah lah" ucap Herman.


Pagi harinya sekarang Rena tengah bersiap akan pergi ke pesantren, merayakan idul Adha di pesantren sangat lah bahagia.


mungkin idul Adha adalah saat para santri bersyukur karena saat idul adha maka mereka akan merasakan makan enak selama beberapa hari.


Bahkan para santri juga bebas memakan daging kurban yang sengaja di berikan oleh orang yang baik.


Jika daging kurban sangat banyak Abah akan membagikannya pada warga yang ada di sana lengkap bersama dengan nasi dan yang lainnya.


Karena hal yang berlebihan itu akan menjadi hal yang haram, apa lagi jika kita kelebihan makanan sedang kan tetangga kita merasa kan kelaparan hal itu lah yang akan menjadi dosa.


Bahagia itu adalah ketika kita punya segalanya tapi kita bisa bermanfaat bagi banyak orang.


Jadikan sebagai prinsip hidup


"Jika kita tidak bisa bermanfaat bagi orang lain usahakan jangan membuat orang lain rugi mengenal kita"


Luthfi datang ke kamar membawa dua gelas kopi yang sangat Luthfi sukai.


"kopi" tanya Luthfi pada Rena.


"Kopi" tanya Rena yang baru sadar kalau suaminya itu punya penyakit lambung.


"Gus sebaiknya jangan kamu sakit lambung" ucap Rena.


"Ning hanya kopi kok" ucap Luthfi.


"Gus jangan" ucap Rena.


"Sekali ini saja ya" ucap Luthfi.


"Baiklah sekali ini saja besoknya lagi jangan aku gak mau kamu sakit lagi" ucap Rena.


"Ya gak akan sayang" ucap Luthfi.


"Sayang" ucap Rena tersenyum.


Luthfi pencinta kopi dahulu juga pernah dia tak makan hanya karena dari pagi dia minum kopi.


Hingga sekarang dia merasa kan sakit di perut nya karena terlalu banyak minum kopi.


Rena mengambil kopi yang di buatkan oleh Luthfi, Rena meminumnya secara perlahan karena kopinya masih panas.


"Enak" ucap Rena.


"Oh ya Ning kita menginap di pesantren beberapa minggu saja ya aku ada perlu satu bulan lagi soalnya" ucap Luthfi.


"Ya baiklah" ucap Rena.


"Terima kasih" ucap Luthfi.


"Sama sama, aku pikir kita gak akan pergi ke pesantren" ucap Rena.


"Kenapa, Ning di sini itu hari apa apa saja tak akan seramai di pesantren jadi aku mau di sana karena aku akan merayakan juga di sana, ramainya di sana itu saat kita sahur di sana" ucap Luthfi yang langsung terpikir kalau sekarang dia tengah berpuasa.


Karena tadi pagi juga melaksanakan sahur sendirian karena Rena masih halangan jadi dia puasa sendirian.


"Ning aku puasa" ucap Luthfi menyesali kopi yang sudah dia minum itu.


"Kamu puasa tapi kamu minum kopi" ucap Rena.


"Aku lupa" ucap Luthfi menyesal karena dia sampai lupa apa lagi kopi yang dia minum itu sangat lah enak.


"Kalau lupa ga papa kamu lanjut kan saja" ucap Rena.


"Tapi kopinya enak" ucap Luthfi.


"Ish kau ini" ucap Rena langsung tersenyum menatap suaminya itu.


"Aku akan lanjutkan puasa saja, tak apa kopi ini aku akan buang" ucap Luthfi namun ada rasa menyesal antara kopinya enak dan dia lupa kalau dia sedang puasa.


"Jangan aku saja yang meminumnya, aku gak puasa" ucap Rena.


"Baiklah" ucap Luthfi.


Rena tersenyum melihat suaminya itu, saat ini dia baru tau kalau pria tampan juga bisa bersalah dan bisa lupa juga.


"Kenapa senyum" tanya Luthfi.


"Aku baru tau kalau kamu ganteng" ucap Rena.


"Kamu kemana saja aku kan dari dulu juga ganteng" ucap Luthfi.


"Sombong" ucap Rena.


"Gak sombong hanya saja aku ini membicarakan fakta" ucap Luthfi.

__ADS_1


"Ya ya aku tau" ucap Rena.


"Baiklah ayo aku sudah siap kan mobil sekarang" ucap Luthfi.


__ADS_2