
Para teman teman Nagita langsung menatap pada Nagita yang sekarang terlihat sangat geram.
"Ada apa" tanya temannya.
"Sebaiknya kamu jauhi laki laki itu aku yakin kalau dia sudah menikah" ucap Nagita.
"Kenapa apa salahnya" tanya Teman Nagita.
"Tidak salah kalian ini harus nya sadar kalau dia itu masih anak kecil" ucap Nagita.
"Sejak tadi kamu seperti risih, apa kamu suka juga sama dia" tanya teman Nagita yang satu nya lagi.
"Ah mana ada" ucap Nagita.
"Ayolah Nagita aku tau kalau kamu belum menikah dan belum punya kekasih jadi mungkin laki laki itu bisa menemani kamu" ucap teman Nagita.
"Aku? harus sama dia?" tanya Nagita.
"Ya" ucap teman Nagita.
"Ogah" ucap Nagita.
Makanan sudah datang mereka semua langsung makan bersama di sana, Nagita masih memandang Revan yang sekarang entah kemana.
"Mau ke mana bocah itu" batin Nagita melihat Revan masuk ke salah satu ruangan yang bertulis kan kitchen.
"Udah jangan di pandang terus nanti suka gimana" ucap Teman Nagita.
"Suka" protes Nagita.
"Sudah ayo makan ingat istirahat kita itu hanya satu jam" ucap teman nya yang lain.
Setelah selesai makan mereka langsung kembali lagi ke rumah sakit yang menjadi tempat mereka bekerja.
Nagita masih melihat lihat Revan tapi sayang sampai Nagita pergi Revan tak keluar dari ruangan Kitchen itu.
"Kenapa harus dia yang menjadi suami aku" gumam Nagita.
Malam hari nya Revan pulang terlambat namun di rumah Nagita menunggu kedatangan Revan untuk pulang.
"Selamat malam" sapa Revan.
"Malam" ketus Nagita.
Revan duduk di Sofa yang ada di sana saat ini Revan sangat cape apa lagi baru saja motor Revan mogok di jalan karena Revan lupa menganti ulang oli.
"Kenapa terlambat" tanya Nagita.
"Tadi motor mogok" jawab Revan.
"Lalu" tanya Nagita.
"Aku mendorong nya sampai ke sini" ucap Revan.
"Kenapa" tanya Nagita.
"Karena aku gak bawa uang" ucap Revan.
__ADS_1
"Kenapa tak menghubungi aku" tanya Nagita.
"Aku tidak punya nomor mu" ucap Revan.
"Mana hp mu" tanya Nagita.
Revan mengeluarkan hpnya yang ada di dalam saku celana nya.
"Ini" ucap Revan yang langsung di rebut oleh Nagita.
Namun tujuan Nagita membuka hp Revan bukan untuk memasukan nomor nya tapi untuk melihat pesan apa saja yang di kirim kan teman temannya.
"Bunga" gumam Nagita sambil membuka pesan itu.
{Save ya aku Bunga}
{Kamu sudah pulang}
{Revan senang bisa berkenalan dengan mu, semoga kita bisa menjadi teman ya}
Pesan dari Bunga dan ada banyak lagi pesan yang di kirim oleh teman Nagita.
"Siapa ini Anggun" tanya Nagita.
"Teman" ucap Revan.
"Teman" tanya Nagita sedikit sewot.
"Kenapa bisa sayang sayangan" tanya Nagita.
"Astaga dasar play boy bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan lelaki yang punya banyak kekasih" ucap Nagita.
"Sudah lah aku cape aku mau tidur" ucap Revan yang sudah berdiri dari duduknya.
Namun Nagita menghentikan langkahnya dengan menarik baju Revan, karena lelah Revan tak bisa mengontrol badannya, dia terjatuh menimpa Nagita yang sekarang sudah terjatuh dengan posisi rebahan di atas Sofa.
Brughh
"Aaaaa" Teriak Nagita saat merasakan kalau ada badan Revan di atas tubuh nya.
"Diam lah" ucap Revan yang langsung bangkit dari atas tubuh Nagita.
"Kamu sangat tidak sopan" ucap Nagita.
"Oh ya salah siapa yang menarik tadi" tanya Revan.
"Ya salah aku tapi kenapa kamu tidak menjaga keseimbangan tubuh mu" protes Nagita.
Revan tidak mau berdebat lagi dia langsung masuk ke dalam kamarnya yang terpisah dengan Nagita.
Revan merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu.
Rasa lapar bahkan sampai hilang karena Revan terlalu lama menahan nya.
Sebenarnya Revan ada di posisi yang serba salah.
Jika Revan makan perutnya pasti akan sakit dan jika tidak di isi perut nya juga terasa sangat sakit.
__ADS_1
Revan tidak terlalu mementingkan rasa laparnya itu, apa lagi malu rasanya kalau makan di rumah Nagita.
Begitu lah Revan dia sering makan di luar bahkan Revan jarang makan jika tidak punya uang untuk membeli nya.
Nagita hanya menatap pada hp milik Revan dia memasukan nomor nya pada hp Revan karena takut nya akan butuh.
Namun saat Nagita akan mencoba menghubungi Nomor nya ada seorang yang mengirim kan pesan pada Revan.
{Selamat malam, maaf kalau aku lancang mengirim mu pesan, aku sangat berharap kau bisa seperti dahulu lagi, aku sangat merindukanmu Revan tak perduli kau akan menganggap aku murahan atau apa pun itu, tapi kenyataannya aku sangat sayang pada mu} pesan dari kontak yang di beri nama Anggun.
Nagita tersenyum dia langsung membalas pesan itu.
{Tolong jangan kirim lagi pesan, ini dengan kekasih nya} balasan dari Nagita.
{Revan jangan berbohong} pesan dari Anggun.
"Dasar bocil" gumam Nagita yang langsung memblokir nomor Anggun itu.
Nagita masuk ke dalam kamar nya Karena akan tidur di kamar nya.
"Aku sangat mengantuk" ucap Nagita.
Sedangkan di pesantren saat ini Faiz lebih sering menangis, Rena sudah yakin kalau Faiz mungkin demam karena badannya panas.
Suara tangisan Faiz membuat Umi dan Abah yang mendengar pun langsung datang ke sana malam malam.
"Ada apa" tanya Umi.
"Umi ini Faiz tidak mau berhenti menangis" ucap Rena.
"Mungkin dia pegal pegal, Ning tidurkan Faiz di atas kasur itu" titah Umi.
"Ya baiklah Umi" ucap Rena.
Umi mengoleskan minyak kayu putih Bayi pada badan Faiz, Umi sambil sedikit sedikit memijat lembut badan Faiz.
Terkadang seorang bayi juga merasakan pegal pegal kalau sering di gendong secara bergantian.
"Kalau nangis lihat keadaan Ning, mungkin saja dia gerah mungkin saja dia dingin dan terkadang mungkin dia di gigit semut atau apa yang membuat dia menangis, terkadang bayi menangis juga karena pegal kalau begini gak perlu di pijat yang keras cukup di usap lembut saja seluruh badan nya karena begitu lah seorang bayi" ucap umi.
"Ya umi aku belum tau" ucap Rena.
"Tak apa" ucap Umi.
Faiz sekarang terlihat sudah baik baik saja apa lagi Setelah menangis kencang Faiz langsung tertidur, sekarang sudah larut malam maka dari itu Umi datang ke sana karena mendengar Faiz menangis.
"Terima kasih Umi, Abah sudah datang" ucap Luthfi.
"Tak apa aku hanya takut kalian kerepotan aku hanya mau membantu" ucap umi.
"Ya terimakasih Umi Abah" ucap Rena.
"Baiklah segera tidur, ingat perbanyak berdoa ya" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Luthfi.
"Baiklah kami akan pulang kalau ada apa apa panggil saja" ucap Umi dan abah yang langsung pergi dari sana.
__ADS_1