
Namun Revan malah bingung dia melihat ada kamar yang di buat lorong dengan kain warna putih.
"Pak ini apa" tanya Revan pada kang dekor yang lain.
"Ini untuk pengantin laki laki datang dari kamar itu ke sini, dia akan mengucapkan ijab qobul dengan tertutup" ucap kang dekor itu.
"Oh" ucap Revan, namun dia tersenyum mengingat licik nya Nagita sekarang.
"Dia sengaja ingin melakukan sesuatu aku paham masalah ini, astaga bagaimana caranya aku memperbaiki ini semua" gumam Revan.
Revan membantu kang dekor memasang beberapa tirai dia melihat lihat kamar yang akan di tutup itu dia sebenarnya melihat lihat Luthfi yang tadi terdengar sedang tadarus.
"Kalau tuan tau dia akan menikah dengan Nagita kenapa dia gak pergi padahal kan tuan Luthfi tau kalau yang menculik nona Rena itu bukan Nyonya Mayang atau pun Nagita" gumam Revan.
Revan berhasil melihat seorang laki laki yang ada di kamar itu yang sedang duduk, sayangnya orang itu terhalang oleh lemari yang cukup besar di sana.
"Apa itu tuan" gumam Revan yang hendak masuk tapi sayang Nagita datang ke sana, yang langsung mengagetkan Revan.
"Astaga" gumam Revan terkejut melihat Nagita yang ada di sana.
"Maaf pekerja tidak boleh masuk ke dalam" ketus Nagita sambil menutup pintu dengan sangat keras.
"Maaf nona" ucap Revan menunduk dia tak mau kalau Nagita menyadari bahkan dirinya adalah Revan pembantu di rumah Luthfi.
Revan membantu menyelesaikan itu, namun rasa haus membuat dia langsung berjalan ke arah dapur rumah itu.
"Pak aku mau minum dulu" ucap Revan.
"Ya" ucap rekan kerja nya.
Revan masuk ke dapur dia melihat ada dua pembantu di sana yang sedang mengobrol berdua.
"Aneh ya" ucap pembantu itu pada temannya.
"Mungkin laki laki nya itu di paksa menikah, aneh kan pernikahan seperti ini mana ada laki laki yang pas pernikahan nya di tutupi ada juga perempuan yang di tutupi" ucap pembantu yang satunya lagi.
"Gak mungkin pasti itu salah" ucapnya.
"Kamu tau gak tadi pas aku masuk ke kamar itu laki laki itu tertidur, mana ada laki laki tidur gak bangun bangun, aneh kan pasti ini ada apa apa nya" ucap pembantu itu.
Revan masih mendengar kan pembicara hal itu dia pura pura minum sambil mendengarkan kedua pembantu itu.
"Mungkin dia di bius aku pernah lihat Nona Nagita itu menyuntikan sesuatu pada tangan nya, ja hat sekali ya Nona" ucap yang lain.
"Kenapa begitu ya bukan nya kan kebanyakan laki laki yang sering melakukan itu pada wanita tapi sekarang laki laki yang di perlakukan begitu oleh Wanita" orang salah satu nya.
"Sudahlah ayo kembali bekerja lagi pula apa urusan kita sama mereka yang paling penting kita di gaji" ucap pembantu nya itu.
__ADS_1
Revan langsung pergi dari sana saat semua nya sudah selesai, tak lupa Revan juga mencari cari jalan jendela yang terhubung pada kamar yang tadi di dalam nya ada Luthfi.
Revan melihat kalau di dalam salah satu kamar ada Nagita, dia berpikir kalau kamar itu adalah kamar yang benar.
"Yang ini" gumam Revan menandai jendela itu dengan pensil yang dia pinjam tadi.
Revan langsung pulang setelah sore hari akhirnya semua nya selesai hanya tinggal menyiapkan Persiapan yang lain.
Para kang dekor langsung di berikan gaji di tempat saat Revan datang ke sana dia langsung di asongkan uang.
Revan mengambil nya namun dia tak mengantongi uang itu dia langsung memberikan uang itu pada bapak bapak yang tadi posisi nya dia ganti kan.
"Pak ini terima kasih" ucap Revan.
"Bukan nya kita akan bagi dua" ucap bapak itu.
"Tidak usah aku akan pulang terlebih dahulu aku ada urusan itu buat bapak saja" ucap Revan yang langsung pulang dari sana menuju ke arah perusahaan Luthfi.
Revan langsung melaju ke sana dia berharap kalau anak buah Luthfi bisa memberikan informasi yang baru di tempat penculikan Rena.
Revan langsung masuk ke dalam perusahaan tuan nya itu dia mencari cari karyawan yang bernama Dimas.
"Ada yang bernama Dimas" tanya Revan pada wanita yang menjaga resepsionis.
"Dimas ada di ruangan nya" ucap resepsionis itu.
Revan masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat sore pak Dimas" ucap Revan.
"Sore, Tuan Revan" ucap Dimas.
Revan heran karena Dimas berkata seperti itu padanya.
"Aku pembantu Tuan Luthfi" ucap Revan.
"Ya aku tau dan mungkin pembantu itu tugasnya hanya beres beres ya bukan malah membantu musuh tuan sendiri, gak bersyukur sekali kamu menghianati tuan kamu sendiri" ucap Dimas.
"Aku tau kesalahan aku dan aku akan menembus nya sekarang jadi aku harap kamu mau membantu aku menebus kesalahan aku itu" ucap Revan.
"Haha gak akan aku gak mengkhianati tuan seperti yang kamu lakukan" ucap Dimas.
"Ayolah aku mau tau kabar Nona Rena sekarang aku janji sampai besok aku akan menyelamatkan kedua nya" ucap Revan.
"Kamu sangat lancang aku akan telpon tuan dan memintanya untuk datang supaya dia tau kebusukan pembantu nya ini" ucap Dimas yang langsung mengambil hpnya dan menelpon Revan.
Revan hanya menggeleng geleng kan kepalanya dia tak tau apa yang akan di lakukan Dimas sekarang.
__ADS_1
Drtt drrtt
Namun ternyata suara nada dering hp Luthfi terdengar di sana dan lebih tepatnya lagi di saku celana Revan.
"Bagaimana kamu bisa dapat hp Tuan" ucap Dimas tak percaya.
"Tuan saat ini di culik kamu tau yang nyulik siapa, hah, yang nyuliknya itu adalah mamahnya sendiri dan Nagita, dia sedang dalam kesusahan sekarang, apa kau akan membiarkan tuan dalam kesusahan" tanya Revan.
"Di mana tuan" tanya Dimas.
"Kamu gak perlu tau sekarang ayo beri tau aku di mana nona" tanya Revan.
"Aku akan membantu tuan, beri tau aku di mana tuan" tanya Dimas yang langsung memegang baju Revan yang sekarang hanya diam saja.
"Jangan repot repot aku akan melakukan nya" ucap Revan.
"Aku ingin membantu" ucap Dimas.
"Baiklah bantu dia besok sekarang kita pikirkan caranya" ucap Revan yang membuat Dimas melepaskan tangan nya dari baju Revan.
"Perlihatkan pada ku bagaimana kabar Nona" ucap Revan.
Dimas memperlihatkan cctv yang ada di hutan itu, ternyata tak ada yang aneh di sana apa lagi hanya menampakkan anak buah Herman saja yang bulak balik dari sana dan masuk ke gudang.
"Apa kau yakin nona baik baik saja" tanya Revan.
"Ya aku pastikan dia baik baik saja" ucap Dimas.
"Baiklah aku akan berusaha percaya pada mu" ucap Revan.
Revan membisikan rencana nya itu pada Dimas, hingga mereka pun sepakat melakukan hal itu dan itu semua demi Luthfi, bahkan Revan tak ada masalah jika Dimas mengadukan kesalahan nya itu pada Luthfi.
Sedangkan di gudang hutan itu, saat ini Herman sangat marah apalagi Luthfi tak pernah datang ke sana, bahkan sejak kemarin juga tak ada reaksi apa apa dari anak buahnya.
"Bagaimana sekarang" tanya Herman dengan kesal.
"Tuan kita lepaskan saja dia, lihat tuan dia sangat tak berguna" ucap anak buah Heman.
"Tidak kalau aku melepaskan dia sayang sekali aku kan kehilangan uang, bagaimana kalau aku akan menjualnya saja" ucap Herman.
"Ide bagus" ucap anak buah Herman.
(Hati hati Herman nanti nyesel kalau sampai terjadi)
"Jangan berani menyentuh ku" geram Rena namun hanya dalam hati saja dia tak bisa bicara karena mulut nya di ingat.
Kalau pun Rena bisa bicara dia tak bisa bicara lancar apa lagi mulutnya di ikat oleh tali yang sangat kencang hingga membuat Mulut Rena sakit jika di gerakan.
__ADS_1
"Astaga sakit sekali mulut ini" batin Rena.