Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 151 Memahami wanita


__ADS_3

Di sekolah menengah pertama saat ini Arsala tengah mengejar Murid yang ada di sana karena sekarang mereka belajar sampai sore mereka masih ada di sana.


Arsala merasa sangat bingung dia merasa sangat kesepian apa lagi tak ada orang yang bisa membantu dia, Kathir orang yang dia beri tau tentang itu pun tak ada kabar.


Arsala menyesal karena tidak bicara pada Yadna tentang hal itu kalau saja dia bilang pada Yadna mungkin saja dia akan punya teman ngobrol dan teman untuk dia membuat rencana bersama.


Sekarang Arsala merasa sangat bingung dia merasa sangat sendirian sekarang.


"Andai saja aku bilang semua masalah ini pada Kakak mungkin saja aku punya teman untuk aku bicara apa lagi sekarang terasa sangat bingung sekali aku, tapi kalau aku bilang pada kak Yadna apa dia tidak akan kepikiran tentang masalah aku ini, apa lagi masalah dia sudah sangat banyak" gumam Arsala.


Arsala hanya diam saja sambil mengawasi murid murid nya itu, karena sekarang tengah ujian jadi Arsala bertugas untuk mengawasi saja.


Namun tanpa Arsala sadar sekarang ada dua orang polisi yang mencari Arsala di sekolah itu, Polisi itu bahkan bertanya pada guru guru yang ada di sana juga.


"Apa ada pak Arsala" tanya Polisi.


"Pak Arsala ngajar di kelas dua SMP pak" sahut seseorang yang sekarang memberi tau kan keberadaan Arsala.


Dan untuk nya Polisi itu memakai baju biasa tidak memakai Seragam nya jadi tak ada yang panik saat Arsala ada yang menanyakan.


"Apa ada Arsala" tanya Kedua polisi yang sekarang ada di ambang pintu kelas dua smp itu.


Arsala terkejut melihat keberadaan polisi itu dia langsung bangkit dari duduknya.


"Anak anak bapak mau melihat itu dulu ya, kerja kan dengan benar dan jangan mengobrol" sahut Arsala pada murid murid nya itu.


"Baik pak" serempak.


Arsala mendekat pada kedua polisi itu dia langsung bertanya ada apa mereka datang karena Arsala mengira kalau mereka adalah orang tua murid karena pakaian mereka yang biasa biasa saja.


"Ada apa pak" tanya Arsala.


"Apa anda Arsala" tanya kedua polisi itu.


"Ya Benar saya Arsala" ucap Arsala.


"Ikut kami ke kantor polisi, anda di lapor kan dengan tuduhan penganiyaan saudara Fathir yang sekarang sudah tidak meninggal" sahut polisi itu.


"Ada yang melaporkan saya tapi siapa" tanya Arsala.


"Anda akan tau saat di kantor" ucap nya.


"Tapi saya tidak salah" sahut Arsala.


"Jelaskan ini di kantor" ucap Kedua polisi itu tadinya akan membawa Arsala dengan paksa tapi sepertinya mereka tidak bisa melakukan hal itu apa lagi ini tengah berada di lingkungan sekolah.


Tidak mungkin membuat kekacauan di sekolah apa lagi saat ini murid murid tengah belajar.


Arsala pasrah saja pada apa yang akan terjadi padanya itu.


Arsala meminta para polisi itu untuk tidak bicara kalau dia di tahan apa lagi pada keluarga nya, karena besok kakaknya itu akan menikah jadi dia tidak ingin menghancurkan pernikahan kakaknya itu.


Arsala hanya diam saja saat di bawa oleh kedua polisi itu, tetapi sayangnya saat di tengah perjalanan ada seseorang yang mencegat mobil yang mereka tumpangi itu.


"Lepaskan dia" sahut orang itu yang langsung menodongkan pistol pada mobil itu.


"Kami kenal dia" tanya polisi pada Arsala yang saat ini hanya duduk saja di bangku mobil.


"Tidak aku tidak kenal dengan dia" ucap Arsala.


Sayangnya saat polisi itu membuka pintu mobil nya orang itu langsung menyuntik sesuatu pada kedua polisi itu, Arsala melihat hal itu dengan jelas dan sayangnya Arsala tidak bisa melakukan apa apa karena tangannya di borgol.


"Siapa kamu" tanya Arsala.


Orang orang itu membawa Arsala dengan sangat kasar bahkan Arsala saat ini di bius dan langsung di bawa ke salah satu tempat yang bosnya sudah tentukan.


"Tolong lepaskan aku" ucap Arsala.


"Diam bed ebah" geramnya yang langsung membius Arsala.


Sedangkan di kediaman Luthfi saat ini.


Prakk


Rena tanpa sengaja memecahkan gelas yang ada di tangannya itu, padahal saat ini tangan Rena tak licin sama sekali.


"Astaghfirullah" gumam Rena.


Rena memunguti pecahan gelas yang ada di atas lantai yang saat ini kotor karena tertumpah oleh teh yang baru saja Rena buat.


Rena membersihkan nya dia takut kalau ada yang menginjak pecahan beling itu dan berdarah.


Namun Yadna yang tadi akan mengambil tissue yang bersih di lantai atas pun sudah datang lagi ke sana.


Yadna merasa sangat terkejut karena Rena ada di sana tengah membersihkan Beling yang ada di atas lantai.


"Umi ada apa" tanya Yadna yang langsung membantu Uminya itu untuk bangun.

__ADS_1


"Ini Yadna Umi tidak sengaja menjatuhkan gelas ini" jawab Rena menatap pada putrinya itu.


"Tapi Umi tidak terluka kan" tanya Yadna.


"Alhamdulillah tidak" ucap Rena.


"Sekarang Umi istirahat saja ini semua biar aku yang bereskan" ucap Yadna.


"Terima kasih adna tapi bagaimana mungkin masakannya masih sangat banyak" ucap Rena.


"Umi istirahat saja dulu" ucap Yadna.


"Ya baiklah lima menit saja aku istirahat" ucap Rena.


"Ya mah" ucap Yadna.


Malam ini mereka semua mengumpul di ruang tamu, mereka akan mengobrol sambil menikmati minuman hangat yang biasa mereka minum tiap malam.


Mereka kumpul tanpa Arsala karena katanya Arsala tidak bisa pulang karena dia sedang ada keperluan mendadak hingga dari itu dia tidak bisa pulang.


Rena tidak bisa protes karena itu adalah jalan yang diambil putranya, tapi Rena merasa sangat senang karena di sana ada Waffi yang sekarang baru saja pulang dari pesantren.


Walaupun terasa sangat canggung tapi sejak tadi Waffi berusaha untuk mengubah suasana yang sangat mencengkram itu karena saking canggung nya.


"Waffi apa yang sudah kamu pelajari di pesantren" tanya Yadna.


"Aku belajar Ilmu nahwu shorof, belajar kitab, Al Qur'an jangan lupa sekarang tengah belajar berusaha untuk memahami wanita" ucap Waffi.


"Bagus itu dulu Abi juga belajar tentang itu dan Alhamdulillah Abi bisa" ucap Luthfi.


"Ya Abi aku juga sedang mendalami itu, katanya susah apa lagi wanita sangat susah untuk di tebak" ucap Waffi.


"Wanita bukan untuk di tebak tapi sangga itu untuk di pahami" ucap Yadna.


"Kenapa harus ada pelajaran wanita, aku dulu tidak ada pelajaran memahami laki laki" tanya Adiba.


"Iya yah, kenapa hanya ada pelajaran wanita saja yang harus di pahami tapi pelajaran yang bisa memahami laki laki tidak ada" ucap Waffi.


"Terus saja berpikir" ucap Luthfi.


"Kenapa Ya Abi" tanya Adiba pada Abinya itu.


"Karena memang kodrat nya laki laki untuk memahami wanita" ucap Luthfi.


"Ya ini tidak terlalu sulit untuk aku" ucap Adiba.


"Kamu ini suka ya membuat aku semakin ingin menjitak mu" ucap Adiba.


"CK kakak" gumam Waffi.


Kira kira kenapa ya alasan seorang laki laki harus memahami seorang wanita??


jawaban nya karena wanita merupakan madrasatul uulaa bagi generasi yang dihasilkannya. Sejatinya manusia hidup bukan hanya untuk menghasilkan keturunan yang menciptakan rantai peradaban, tetapi bagaimana mendapatkan keutamaan dan ridha di sisi Allah dari peradaban yang telah dihasilkan.


Dari Imam Al Bukhari menuliskan dalam hadisnya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasul bersabda "Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya, dan jika kamu bersikap baik, maka kamu dapat berdekatan dengannya, meski padanya terdapat kebengkokan (ketidaksempurnaan).” (Hadist Riwayat. Bukhari)


Ada pula Nabi SAW. bersabda:  "Janganlah seorang mukmin laki-laki memarahi seorang mukminat. Jika ia merasa tidak senang terhadap satu perangainya, maka ada perangai lain yang dia sukai." (Hadist Riwayat Muslim).


Lalu bagaimana cara laki laki memahami seorang wanita??



Pahami wanita secara bijak.


Nasihati dengan lemah lembut ketika wanita salah.


Hadapi dengan sabar.


Menjadi pendengar yang baik.


Selimuti wanita dengan kasih sayang.



Bagaimana bisa memahami wanita??


Susah ya memahami wanita? ya tapi lebih susah lagi menjadi seorang wanita yang sempurna..


**


Yadna merasa sangat heran karena nomor Arsala tidak bisa di hubungi Yadna takut Arsala kenapa kenapa apa lagi sejak tadi pagi Arsala seperti nya banyak pikiran.


{Apa Arsala bercerita pada mu} pesan dari Yadna untuk Kathir tapi sayangnya Kathir tengah mempersiapkan diri di perusahaan nya, jadi dia tidak sempat melihat ponsel nya.


Yadna berpikir kalau mungkin saja Kathir sedang sibuk apa lagi terlihat dari ponsel nya yang tidak aktif.


"Mungkin ini hanya perasaan aku saja" gumam Yadna.

__ADS_1


"Oh ya Abi ada seorang wanita yang bertanya pada aku" ucap Waffi.


"Siapa" tanya Luthfi.


"Entah karena dia sama guru juga di sana, katanya begini dia bertanya pada ku katanya apa kamu anak dari Gus Luthfi aku menjawab Ya ada apa, terus dia bilang lagi kamu tau tidak Abi kamu itu dulunya sangat tampan dia jadi bahan pembicaraan para santri di sini, tapi dia sangat cuek dan seperti nya tidak tertarik pada wanita karena dia sangat dingin pada wanita, begitu Abi katanya" ucap Waffi.


"Oh ya apa dia membicarakan hal itu" tanya Luthfi.


"Ya Abi aku tidak berbohong" ucap Waffi.


"Lalu kata kamu bagaimana" tanya Luthfi.


"Kata aku begini, Ya Bu guru Umi aku beruntung sekali karena mendapat kan Abi yang sangat Sayang pada dia dan bisa menjaga dia, begitu kata aku" ucap Waffi.


"Lalu" tanya Luthfi.


"Dia seperti nya marah Abi karena terlihat dari wajah dia yang menjadi masam" ucap Waffi.


"Lalu" tanya Luthfi.


"Lalu lalu Abi kalau emang kamu penasaran lihat saja ke pesantren siapa dia bukannya bertanya tanya pada anak anak" kesal Rena.


"Tidak Umi hanya mendengar kan saja" ucap Luthfi.


"Ya kalau penasaran datangi saja dia" ucap Rena.


"Tidak Umi" sahut Luthfi yang sangat penakut apa lagi dia takut saat Rena marah apa lagi Rena kalau marah selalu lama untuk di bujuk.


"Kalau kamu mau silahkan pergi" ucap Umi.


"Tidak Umi" ucap Luthfi.


Rena langsung masuk ke dalam kamar nya yang ada di lantai atas, saat ini Luthfi tengah terancam karena takutnya dia di suruh tidak di luar.


"Kamu yang mulai Waffi" geram Luthfi.


"Abi jangan salahkan aku karena aku hanya bicara jujur saja" ucap Waffi.


"Cepat lah tidur sekarang sudah malam" sahut Luthfi.


"Ya Baiklah" ucap Waffi dan Adiba.


Sedangkan Yadna saat ini hanya diam saja sambil sesekali meminum teh yang ada di sana.


"Kak apa aku salah" tanya Waffi pada Yadna.


"Tidak salah hanya saja kamu kalau bicara tidak pernah di saring ya kalau bicara itu lihat dulu kondisi dan keadaan kamu jangan asal jeplak saja" ucap Yadna.


"Kenapa jadi ku yang salah" gumam Waffi.


"Sudah lah ayo kita tidur" ucap Yadna yang langsung berdiri dan akan ke lantai atas.


Waffi dan Adiba mengikuti Yadna karena malam ini Waffi akan tidur di kamar Yadna bersama dengan Adiba dan Yadna.


"Kamu mau di mana" tanya yadna memastikan karena kasurnya hanya cukup untuk dua orang.


"Di sofa saja" ucap Waffi.


"Ya terserah kamu saja" ucap yadna yang langsung berbaring dan tidur di atas kasur.


"Kalian boleh mengobrol tapi jangan keras keras apa lagi sampai tertawa terbahak bahak" sahut Yadna.


"Ya kak" ucap Adiba dan Waffi bersamaan.


Adiba ingin bertanya pada Waffi tentang sikap Arsala padanya akhir akhir ini.


"Waffi bisa beri tau aku, begini ada laki laki yang aku sukai dan aku tidak tau apa dia suka pada aku atau tidak" ucap Adiba.


"Lalu" tanya Waffi menatap pada Adiba.


"Sikapnya baik dan sering kasih aku hadiah, bahkan dia juga sering memanjakan aku, apa itu sudah di bilang kalau dia suka juga" tanya Adiba.


"Ini rumit sih, kenapa tidak kakak tanyakan saja pada orang" tanya Waffi.


"Waffi kalau saja aku berani melakukan hal ini kenapa aku harus meminta kamu untuk menjawab ini kalau aku bisa bertanya langsung, aku malu untuk bertanya Waffi" ucap Adiba.


"Lalu bagaimana kalau malu untuk bertanya susah kak" ucap Waffi.


"Ya makannya" ucap Adiba.


"Tapi kak dulu aku pernah dengar dari teman aku katanya dia juga begitu pada seorang wanita dia sangat perhatian dan selalu dia berikan hadiah karena dia takut kalau wanita nya itu di ambil orang" ucap Waffi.


"Oh ya" tanya Adiba.


"Mungkin saja begitu kak, dan mungkin saja laki laki yang kakak suka juga mengalami hal itu" ucap Waffi.


"Benarkah" tanya Adiba tak percaya karena hal itu akan terjadi pada diri nya.

__ADS_1


__ADS_2