
Mohon maaf ya kemarin ada kesalahan di bab 155 dan 156.
Author up dua bab sekaligus dan yang bab 155 di tolak karena ada yang melanggar, dan Alhamdulillah sekarang sudah selesai.
Jika di aplikasi nya ada kesalahan atau bab 156 dulu yang muncul duluan, bisa di skip dulu untuk baca yang bab 155 ya.
Insha Alloh sekarang up seperti biasa ya, dan mohon maaf kalau ada perkataan yang berbelit belit, atau katanya yang di ulang ulang kemarin author nya doubel up jadi terburu buru.
Terima kasih...
**
"Kalau begini jadinya bagaimana kalau kita laporkan saja pada polisi" tanya Kathir.
Yadna menatap pada suaminya itu.
"Tidak pak aku gak mungkin membahayakan Arsala, dan kamu tau kan kalau kita lapor polisi maka video itu akan terungkap kebenarannya" ucap Yadna.
"Ya aku paham tapi aku gak sanggup melihat kamu yang seperti ini" sahut Kathir.
"Pak ayolah" ucap Yadna yang sekarang kesal dan marah, namun dia sangat ingin menangis sekarang.
"Ya aku paham Adna aku tak akan laporkan pada polisi sekarang kamu tenang jangan menangis lagi aku akan buat klarifikasi sekarang" ucap Kathir.
"Tidak pak yang paling penting sekarang adalah kita mencari Arsala" ucap Yadna.
"Baiklah ayo" ucap Kathir yang langsung kembali melajukan lagi mobil nya menuju ke arah kediaman orang tuanya.
Kathir berharap kalau mamahnya ada di sana, sehingga dia bisa memata matai mamahnya itu.
Sesampainya di kediaman papahnya saat ini Kathir melihat ada mobil yang tak asing di matanya dia melihat mobil mamahnya itu ada di sana.
Kathir turun dari mobil nya dia mengambil alat pelacak yang sangat kecil dan menempelkan nya di bawah mobil mamahnya itu.
Kathir memastikan kalau pelacak itu menyala sehingga dia bisa tau kemana mamahnya itu pergi.
Kathir masuk lagi ke dalam mobilnya yang di dalamnya ada Yadna yang masih duduk di sana.
"Bersembunyi lah aku akan masuk dulu" ucap Kathir.
"Ya baiklah" ucap Yadna.
Kathir masuk ke dalam dia langsung melihat mamahnya yang sekarang ada di sana tengah menikmati teh hangat.
"Mah" sahut Kathir.
"Kamu, ada apa? di mana Istri kamu itu" tanya Mita yang sekarang sangat ketus.
"Aku rencananya akan pindah ke sini, Aku malu bersama dengan orang tua Adna, boleh kah aku dan Adna pindah ke sini" tanya Kathir menatap pada mamahnya yang bahkan tidak menatap nya sama sekali.
"Boleh" sahut papahnya dari arah atas kamarnya.
"Benarkah pah" tanya Kathir.
"Ya bawa saja dengan istri mu, supaya mamah tidak kesepian jika sendirian dan supaya tidak keluyuran lagi kalau ada teman nya di sini" ucap Pak Amta.
"Mas kamu ini bilang apa" tanya Mita kesal karena suaminya itu berkata kalau seolah olah Mita salah.
"Bukannya memang begitu kan" tanya Pak Amta menatap pada istrinya itu.
"Baiklah aku akan bawa istri ku datang kemari" ucap Kathir.
"Kalian pasti sangat bahagia" tanya Pak Amta.
"Alhamdulillah kami sangat bahagia pah, aku beruntung mendapatkan dia, tapi pah sekarang ada orang yang memfitnah Adna aku heran dengan perlakuan mereka" ucap Kathir.
"Siapa yang tega melakukan hal itu, apa mungkin Adna punya musuh" tanya Pak Amta.
"Aku gak yakin kalau Adna punya musuh Karena setau aku kalau Adna itu bahkan jarang kumpul sama temannya" ucap Kathir membela.
Mita memutar bola matanya malas dia kesal karena Kathir membela Yadna dari pada diri nya itu.
__ADS_1
"Bawa saja aku gak keberatan" sahut Mita.
"Besok aku akan datang ke sini" ucap Kathir yang langsung pergi dari sana meninggal kan kedua orang tua nya.
Kathir keluar dari rumah yang besar itu dia melihat kalau Yadna sekarang sedang menangis sambil menutupi wajahnya.
"Astaghfirullah apa yang harus aku lakukan agar Adna tidak menangis lagi" gumam Yadna.
Kathir mengotak atik ponselnya dia melihat ada nomor seseorang yang bisa melacak akun yang sudah mengunggah video itu.
📞📞
"Selamat siang" tanya Kathir.
"Selamat siang, ada apa pak" tanya nya.
"Bisa tidak kamu lacak orang yang sudah menyebarkan video istri saya" tanya Kathir.
"Oh baik pak saya akan mencari tau, apa bisa kirimkan akun pertama yang menyebarkan nya" tanya seseorang di seberang sana.
"Aku akan kirimkan" ucap Kathir.
📞📞
Kathir mengirim kan video itu pada orang yang dia percaya untuk mencari tau hal itu, Kathir bingung bagaimana mungkin orang orang memvonis Yadna salah padahal di dalam video itu hanya Yadna yang di bawa masuk ke dalam kamar hotel oleh Fathir.
"Mereka terlalu gampang memvonis" gumam Kathir.
Kathir masuk ke dalam mobilnya yang ada di sana dia melihat Yadna yang sekarang mengusap air mata nya karena tak mau Kathir melihatnya.
"Ke mana kita sekarang" tanya Kathir.
"Tolong jangan pulang dulu aku belum siap untuk menjelaskan pada orang tua ku, apa bisa kita tunggu saja di sini sampai mamah kamu menuju ke tempat yang dia jadikan untuk menyekap Arsala, aku sangat ingin menyelamatkan nya" ucap yadna.
"Baiklah" ucap Kathir.
Kathir menjalankan mobilnya namun mereka tidak pulang saat ini Kathir memboking hotel untuk mereka diam di sana sambil menunggu Mita ke villa yang mungkin saja tempat Arsala di sekap sekarang.
Yadna hanya diam saja karena memikirkan hal yang saat ini tengah terjadi padanya itu.
Kathir mendekat pada Yadna yang sekarang hanya diam saja.
"Adna makan lah dulu aku sudah beli kan makanan yang kamu suka" ucap Kathir percaya diri padahal dia tidak tau apa makanan kesukaan Yadna.
Yadna menatap pada makanan yang ada di atas meja itu.
Rasanya Yadna tidak berselera untuk makan apa pun sekarang, bahkan aroma makanan yang berkuah pedas dulunya sangat membantu Yadna tak bisa mengabaikan nya.
Tapi sekarang rasanya sangat hambar bagi Yadna untuk menikmati makanan itu.
"Aku tidak berselera" ucap Yadna.
"Makanlah dulu tadi pagi kamu belum makan" ucap Kathir.
"Aku bilang gak ya gak, kenapa bapak ini sangat bawel aku sedang tidak mau makan" bentak Yadna pada Kathir karena dia sekarang tengah marah pada suaminya itu.
Kathir hanya diam saja dia tersenyum tipis melihat Yadna yang saat ini sedang marah padanya, Kathir paham apa yang tengah Yadna rasakan itu apa lagi saat ini Yadna merasa menjadi tersangka bukan korban.
Sedangkan di Villa tempat Mita mengurung Arsala, saat ini Sisi tengah berada di sana dia menatap pada Arsala yang sepertinya sedang mengantuk.
Sisi menatap pada sudut sudut ruangan itu, tak ada yang mencurigakan dan bahkan tak ada cctv di sana.
Sisi mengambil bantal dan selimut dia langsung membawakan nya pada Arsala yang sekarang masih di ikat.
"Tidurlah kalau Mamah Mita datang aku akan bangun kan kamu dan mengikat kamu lagi nantinya" ucap Sisi.
Arsala menatap pada Sisi tak ada yang aneh dari sisi bahkan dia terasa seperti orang baik bagi Arsala.
Sisi yang menyadari hal itu langsung menatap tajam pada Arsala.
"Jangan buat aku merasa bersalah karena sudah melakukan hal ini, aku hanya ingin membantu mu, aku pikir Nenek tua itu tidak akan melakukan hal ini ternyata dia lebih galak dari yang aku kira" ucap Sisi sambil membuka kan ikatan tangan Arsala.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan hal ini" tanya Arsala.
"Tidak ada alasannya sih, tapi sudahlah maafkan aku" ucap Sisi.
"Kamu yang telah membawa aku kemari namun kamu juga yang melakukan ini pada ku, kau berlagak seolah olah kau tak salah" ucap Arsala.
"Ada permintaan terakhir" tanya Sisi.
"Aku ingin menelpon kakak ku" sahut Arsala.
"Kau tau nomor ponselnya" tanya Sisi.
"Nomor pak Kathir aku yakin dia bersama dengan nya, dan kamu pasti punya kan nomor pak Kathir" tanya Arsala.
"Punya aku akan coba telpon dia" sahut Sisi.
Sisi menelpon Kathir dengan nomor asing yang tak Kathir ketahui pemilik nya, Sisi bukan orang bo doh yang bisa dengan sembarangan melakukan sesuatu yang terkesan ceroboh.
"Ini" sahut Sisi memberi kan ponsel itu pada Arsala.
📞📞
"hallo dengan siapa ini" tanya Kathir.
"Hallo kakak ipar" tanya Arsala.
"Arsala" sahut Kathir,
Yadna yang sekarang ada di samping Kathir pun langsung mengambil alih ponsel Kathir.
"Arsala" sahut Yadna.
"Kak kamu baik baik saja" tanya Arsala.
"Ya aku baik, di mana kamu Arsala" tanya Yadna.
"Di mana aku" tanya Arsala pada sisi yang sekarang hanya menatap saja pada Arsala yang terlihat bahagia.
"Rahasia" ucap Sisi.
"Maaf kak aku tidak bisa memberi tau kan kamu alamat aku sekarang karena penculik ini tidak mau memberi tau kannya" ucap Arsala.
"Aku akan datang ke sana" ucap Yadna.
"Kak kalau orang rumah bertanya di mana aku jawab saja kalau aku ada pekerjaan yang sangat mendadak" ucap Arsala.
"Ya baiklah" ucap Yadna.
"Maaf kak aku tidak bisa berlama lama terima kasih sudah mau mencari aku, tapi yang paling penting sekarang jaga kesehatan kakak, mamahnya pak Kathir itu bukan orang sembarangan" ucap Arsala yang langsung menutup telepon nya secara sepihak.
Tuuttt
📞📞
"Arsala..... Arsa" sahut Yadna saat telpon nya sudah mati.
"Argh Arsala" sahut Yadna sedih karena belum mendapatkan alamat tempat adiknya itu di sekap.
"Tenang lah dulu" ucap Kathir.
"Kamu tau nomor yang ini nomor siapa" tanya Yadna.
"Tidak aku pikir itu nomor asing" ucap Kathir.
"Sekarang sudah jelas kalau benar mamah kamu yang melakukan nya, namun di mana dia menyekap Arsala" ucap Yadna.
"Dia tidak bilang" tanya Kathir.
"Katanya penculik nya tidak mau memberi tau kan hal itu, aku mendengar seperti ada suara wanita di sana" ucap Yadna.
"Wanita siapa? apa mamah" tanya Kathir.
__ADS_1
"Bukan, aku yakin itu bukan mamah kamu, tapi entah karena rasanya aku pernah mendengar suara itu" ucap Yadna berpikir.
"Siapa ya" gumam Kathir.