
Mereka sampai di kediaman Mayang.
"Kak aku tau kamu sedang tidak baik baik saja tapi malam ini tolong lupakan sejenak masalah ini dan tidur lah" ucap Arsala.
"Ya, tapi bagaimana kalau laki laki itu meninggal, Arsa aku akan merasa sangat takut kalau laki laki itu sampai meninggal apa lagi setelah dia bersama dengan ku" ucap Yadna.
"Aku tidak akan biarkan mereka menyalahkan kamu, aku berharap kalau laki laki lemot itu bisa bertanggung jawab pada mu, tapi kak jika bos mu itu mau menikahi mu aku harap kamu terima saja ya" ucap Arsala.
"Tapi aku gak suka padanya, mana mungkin aku menikah dengan dia apa lagi aku dan dia tak punya perasaan apa apa" ucap Yadna.
"Tapi kak sekarang lebih baik begini, kalau kakak menikah dengan dia lalu kalian pisah maka calon suami mu nanti tak akan curiga pada mu karena kamu janda, tapi kalau seperti ini bagaimana aku gak mau Abi sama Umi tau, kak plis jangan buat mereka terluka lagi sudah cukup mereka terbebani oleh kak Faiz dan istri nya, kita jangan ya" ucap Arsala.
"Aku juga rencana nya tak akan bilang pada Umi dan Abi, tapi Arsa masalah nya bagaimana kalau aku hamil" tanya Yadna.
"Gak mungkin" ucap Arsala mencoba menguatkan kakaknya tapi sekarang dia merasa sangat hancur.
Bagaimana tidak, kakak nya yang sangat Arsala sayangi di le ceh kan oleh orang lain, hati adik yang mana yang tak akan marah saat mengetahui hal itu.
Jika Arsala tidak melihat kondisi kakaknya sekarang mungkin dia akan datang lagi ke sana dan menghabisi Fathir sampai dia tidak bisa menatap dunia lagi.
Arsala menghapus air mata kakaknya yang terus menerus menetes itu.
"Sudah masuk dan tidur lah" ucap Arsala.
"Baiklah" ucap Yanda yang sekarang langsung masuk ke dalam rumah Neneknya itu.
Arsala merasa bersyukur karena sekarang Yadna ada di rumah Neneknya tak bisa di bayangkan kalau Yadna ada di rumah orang tua nya mungkin kenyataan ini akan banyak yang orang lain ketahui.
Arsala masuk ke dalam mobil nya itu, dia langsung menangis sesenggukan tak mau berhenti karena menangisi nasib sang kakak yang sekarang sangat menyedihkan.
Arsala sangat tidak mau orang tuanya mengetahui hal itu karena orang tuanya itu sudah cukup merasakan penderitaan yang sangat pahit.
Dan sekarang Arsala tak bisa bayangkan kalau orang tuanya tau kabar itu, apa lagi Abinya juga dulu pernah mengalami serangan jantung maka dia juga takut kalau hal itu terulang lagi.
"Ya Alloh kenapa harus Kak Yadna" gumam Arsala menangis.
**
Yadna berbaring di atas ranjang yang empuk dan lembut itu, Fathir meminum semua minuman keras yang ada di dalam botol.
Saat Yadna terbangun dia melihat kalau Fathir ada di sana dan tengah mabuk parah, namun saat Yadna melihat sekarang dia sudah tak memakai bawahan.
Tubuh Yadna hanya di tutupi oleh Selimut saja, tanpa Yadna tau apa yang sudah Fathir lakukan padanya.
"Astaghfirullah" gumam Yadna.
Yadna mengambil celana nya yang ada di samping tempat tidur dia langsung memakai celana itu.
"Pak Fathir" sahut Yadna bangun dari ranjang itu.
"Sudah bangun" sahut Fathir dengan suara serak.
Mata Fathir sekarang sangat merah bahkan seperti yang baru saja menangis.
Namun Fathir tak ingat apa apa karena dia mabuk parah saat ini.
Yadna tak percaya kalau sekarang Fathir sudah menyentuh nya.
"Duduklah aku akan bertanggung jawab" ucap Fathir yang di penuhi dengan kesedihan.
"Kenapa kamu tega melakukan hal ini tuan, apa salah saya pada anda tuan" geram Yadna memegang kerah baju Fathir.
__ADS_1
Air mata Yadna tak bisa dia tahan lagi saat ini Yadna sangat hancur, tanpa dia tau sekarang Yadna sudah tidak asli lagi karena tubuh nya sudah di jamah oleh Fathir.
Brughh
Fathir mendorong Yadna hingga membuat Yadna terjatuh ke lantai.
"Anda jaha t tuan, hikss hiks hiks " Yadna menangis karena merasa sangat ketakutan.
Yadna merasa gagal menjadi seorang wanita karena dia baru saja di jamah oleh orang lain yang tentunya bukan mahram nya Yadna.
"Astagfirullah, apa salah aku sampai sampai aku mendapat kan nasib seperti ini" batin Yadna.
Namun Fathir langsung berdiri dia mendekat pada Yadna yang sekarang terduduk di lantai sambil menangis.
Fathir mencekik leher Yadna yang sekarang masih di balut oleh Jilbab.
"Ini salah kamu" ucap Fathir mencekik leher Yadna.
Hal itu membuat Yadna merasa kesakitan karena cekikan itu sangat kasar.
"Arghh" ringis Yadna.
Brughh
Fathir melempar Yadna ke lantai dan hal itu sangat membuat Yadna kesakitan.
"Aku akan lenyapkan kamu" ucap Fathir.
"Ampun tuan" ucap Yadna ketakutan sekali.
**
"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astagfirullah, Ya Alloh kejadian ini sampai sampai kebawa mimpi" gumam Yadna ketakutan sekarang.
Bahkan tangan nya gemetar karena sangat sangat ketakutan, Yadna menatap pada jam dinding yang sekarang menunjukan pukul tujuh pagi.
Walau bagaimana pun Yadna akan mandi dan melaksanakan Sholat subuh, walaupun sudah jam tujuh pagi Yadna tetap melakukan Sholat subuh, karena sudah terbiasa bagi Yadna walaupun kesiangan dia tetap melaksanakan nya.
Karena kenyataannya sholat Fardhu tak bisa di kodho tidak seperti puasa Ramadhan yang bisa di kodho jika kita meninggalkan nya.
Yadna tetap melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk, dia sangat ketakutan pada kejadian itu entah bagaimana nasib Yadna jika orang lain tau hal itu.
Adiba datang ke kamar kakaknya itu, dia tadinya akan mengajak Yadna berangkat ke kantor tapi Adiba melihat kalau Yadna Sekarang tengah menangis di atas sejadahnya.
Adiba tidak tau apa apa dia hanya tersenyum saja melihat kakaknya yang mungkin saja menangis karena ingat pada dosa perdosaan yang pernah di perbuat.
Karena Adiba juga seperti itu dulu dia sering menangis karena ingat pada dosa yang baru saja dia lakukan.
Namun Adiba ingat pada telpon dari uminya yang menanyakan kabar dia dan Yadna.
"Aku bilang kalau kakak lembur semalam, apa Umi tidak menghubungi kakak ya" gumam Adiba.
Adiba percaya kalau Umi nya pasti menelpon Yadna karena uminya itu sangat sayang pada Yadna.
Adiba masuk ke dalam dan duduk di ranjang kakaknya itu.
Hingga menunggu lama akhirnya Yadna selesai juga, Adiba tidak takut terlambat karena saat ini supir Neneknya akan mengantar nya.
"Kak" ucap Adiba.
"Adiba" tanya Yadna.
__ADS_1
"Ya aku tadinya mau mengajak kamu berangkat bekerja" ucap Adiba.
"Tapi kayanya aku tidak akan masuk aku tidak enak badan" ucap Yadna.
"Oh aku pikir kakak akan ke kantor baik lah kalau begitu aku duluan ya kak" ucap Adiba.
"Ya Adiba" ucap Yadna, namun Yadna ingat pada kejadian malam kemarin yang sangat membuat Yadna ketakutan.
"Adiba jaga diri baik baik ya" ucap Yadna.
"Ya kak siap" ucap Adiba.
Yadna hanya menatap khawatir pada Adiba dia tidak ingin adiknya itu bernasib seperti dirinya, Yadna merasa sangat tak berguna dia bahkan bisa menyebabkan orang tuanya merasa sakit hati.
Yadna sudah berjanji untuk tidak menyakiti hati orang tuanya tapi jika seperti ini, Yadna tak akan mungkin bisa menahan nya.
Terkadang terlintas di pikiran Yadna untuk Bu nuh diri dan lenyap dari kehidupan orang tuanya itu.
Namun Yadna masih sangat waras untuk melakukan hal itu karena dia tidak mau orang tua nya sedih.
"Aku akan hadapi ini semua" gumam Yadna dengan penuh keraguan.
Di benak nya Yadna tengah memikirkan caranya agar dia bisa melewati ini semua, apa lagi dia hanya sendirian saja tanpa dukungan dari siapa pun, orang lain tak akan paham pada Yadna.
Bahkan Yadna berpikir kalau keluarga nya pun tak akan mungkin bisa ada di samping nya.
Bagai menelan pil pahit Yadna tidak bisa berbuat apa apa lagi, bahkan sekarang jika dia mati pun kenyataan itu akan tetap ada dan akan tetap nyata.
Sedangkan sekarang Adiba baru saja keluar dari rumah nenek nya itu, dia merasakan kesedihan yang mendalam dari Kakaknya itu.
Namun Adiba tidak bisa melakukan apa pun pada Kakaknya itu apalagi dia tidak tau apa masalah kakak nya itu.
Adiba masuk ke dalam mobil milik Nenek nya itu.
"Pak antar aku ke perusahaan" ucap Adiba.
"Baik non" ucap supir itu yang suaranya tak asing di telinga Adiba.
Saat ini Adiba menatap pada Supir itu, tenyata Supir itu adalah Arsala yang menyamar menjadi supir.
"Kak Arsa" ucap Adiba bahagia melihat kakaknya itu.
"Selamat pagi Nona" ucap Arsala.
"Sedang apa di sini" tanya Adiba.
"Aku mau mengantar kamu ke sana" ucap Arsala.
"Tapi untuk apa" tanya Adiba.
"Aku tidak mau adik kesayangan aku ini di ganggu laki laki lain" ucap Arsala.
"Ihh" Adiba kesal pada kakaknya itu.
Namun sekarang Adiba tengah mencoba untuk menahan diri dia tidak ingin menyimpan perasaan untuk kakaknya itu, saat ini Adiba berniat akan menelan perasaan itu sendirian.
Tetapi ada saja godaan yang tak bisa membuat Adiba move on dari kakaknya itu.
"Kenapa harus perhatian begini aku sedang berusaha melupakan mu kak" batin Abida.
Mereka berangkat dari sana menuju ke perusahaan tempat Adiba bekerja.
__ADS_1