Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 72


__ADS_3

Sofi masuk ke ruangan Luthfi tak perduli walaupun menantunya itu tidak ada di sana, dia tetap masuk bahkan tak ada orang yang menegur nya karena takut pada Sofi yang sekarang adalah mertua dari tuannya itu.


Namun Dimas tidak dia melaporkan masalah itu pada Luthfi yang sekarang sudah pulang.


{Tuan mertua Anda masuk ke ruangan anda} pesan dari Dimas.


Dimas melihat gerak gerik dari mertua tuannya itu dia tak begitu percaya pada keluarga tuannya, Dimas tau betul bagaimana keluarga Luthfi.


"Dia sangat mencurigakan" gumam Dimas.


Sofi melihat satu berkas yang ada di atas meja dia membuka nya, begitu terkejut nya Sofi saat melihat kalau berkas itu adalah jumlah uang dari harta kekayaan Luthfi.


"Ini keuangan perusahaan Afdal Yasir" gumam Sofi menutup mulutnya tak percaya.


Nominal dari jumlah nya membuat Sofi melotot.


"Astaga dia punya kekayaan segini banyak nya" gumam Sofi.


Sofi menyimpan berkas itu kembali namun dia memotret nya sebelum dia pergi.


Dimas yang melihat pun hanya mengangguk angguk kan kepala dia paham pada maksud mertua dari tuannya itu.


"Aku paham dia pasti ingin tau kekayaan dari menantunya" gumam Dimas membiarkan Sofi yang sekarang masih berada di ruangan nya.


Sedangkan Luthfi dia yang baru saja mendapatkan pesan itu dia langsung membaca nya.


"Ada apa Mamah masuk ke ruangan aku" gumam Luthfi.


📞📞


"Ada apa" tanya Luthfi saat sudah mengucapkan salam.


"Tuan, Mertua Anda masuk ke dalam ruangan anda dia melihat berkas yang ada di ruangan anda" ucap Dimas.


"Lalu apa yang dia lakukan" tanya Luthfi.


"Dia melihat berkas itu" ucap Dimas.


"Sudahlah tak apa" ucap Luthfi.


"Baik tuan" ucap Dimas.


📞📞


Luthfi menutup telepon nya saat dia melihat ke arah belakang ternyata istri nya sudah ada di sana.


"Astaghfirullah" ucap Luthfi terkejut dia bahkan sampai mundur ke belakang saking kagetnya.


"Rena kamu mengagetkan aku saja" ucap Luthfi.


"Ada apa Gus apa kamu menyembunyikannya sesuatu" tanya Rena.


"Menyembunyikan sesuatu apa aku tak menyembunyikan apa apa" ucap Luthfi.


"Jangan bohong" ucap Rena.


"Gak bohong aku beneran" ucap Luthfi.


"Baiklah aku akan ke kamar mandi, tolong jaga Faiz sebentar ya" pinta Rena.


"Baiklah" ucap Luthfi.


Rena langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Astaghfirullah aku terkejut, kapan Rena datang" gumam Luthfi.


Rena merasa aneh pada suami nya dia tak mendengar apa apa tapi dia merasa kalau suaminya itu menyembunyikan sesuatu.


"Kau menyembunyikan apa Gus" gumam Rena.


Setelah selesai mandi Rena melihat ke arah suami nya yang sekarang sedang mengajak main Faiz.


"Gus mau makan apa" tanya Rena.


"Tidak aku masih kenyang" ucap Luthfi.


"Baiklah" ucap Rena.


Luthfi saat ini tau betul apa yang Rena rasakan dia pasti kesepian karena tak ada teman bicara di sana.


"Mau gak ke rumah paman" ajak Luthfi.


"Mau apa" tanya Rena.


"Seperti nya paman baru pulang dari luar kota, kita bertemu dengan Aisyah" ucap Luthfi.


"Baiklah ayo" ucap Rena.


Rena langsung memangku Faiz, mereka pergi ke rumah pamannya yang ada di sebrang jalan.


Rena merasa heran pada paman dari suami nya itu, paman nya itu tak pernah ada di rumah hanya sekali kali saja paman nya itu datang ke rumah nya itu.


"Gus sebenarnya paman kamu itu bekerja apa" tanya Rena.


"Paman punya bisnis di kota" ucap Luthfi.


"Oh pantas tak ada di rumah" ucap Rena.


"Pasti karena dia sibuk" ucap Luthfi.


Tokk


Tokk


Luthfi mengetuk pintu rumah pamannya itu, seorang pembantu membukakan pintu rumah itu.

__ADS_1


"Apa paman ada" tanya Luthfi.


"Ada" ucap pembantu itu mempersilahkan untuk masuk.


Luthfi masuk ke dalam bersama dengan Rena yang mengikuti dari belakang.


"Assalamu'alaikum" ucap Luthfi.


"Waalaikum salam" ucap paman Retno.


"Paman ada apa" tanya Luthfi saat melihat Aisyah yang sedang menangis di sofa.


"Paman punya banyak hutang dan paman gak bisa membayarnya jadi terpaksa paman memberikan Aisyah pada putranya" ucap Paman Retno seakan menyesal.


"Kamu ayah yang buruk mas" ucap Bibi Tutik istri nya paman Retno.


"Aku terpaksa" ucap Paman Retno.


Luthfi dan Rena hanya saling menatap mereka berada di situasi yang sangat sulit,


"Siapa laki laki yang akan di jodohkan dengan Aisyah" tanya Luthfi.


"Keluarga Al Farizky kamu tau kan kalau keluarga itu memang penganut agama yang memperbolehkan beristri banyak, dan kamu tau Ufi, Adik kamu ini akan di nikah kan dengan Salman yang sudah punya istri bagaimana nasib Aisyah yang nantinya akan menjadi istri kedua" ucap Bibi Tutik.


"Apa tak bisa di bicara kan lagi" tanya Luthfi canggung.


"Tak ada pilihan lain" ucap Paman Retno.


Luthfi hanya tersenyum kaku dia tak bisa mencari kan solusi untuk situasi ini.


"Berapa uang yang paman pinjaman" tanya Luthfi.


"Lima belas milyar" jawab paman Retno.


"Astaghfirullah uang sebanyak itu untuk apa paman" tanya Luthfi.


"Perusahaan paman di ambang kebangkrutan dan itu semua karena Aisyah, Paman tak habis pikir uang sebanyak itu di kemana kan oleh Aisyah" kesal paman Retno.


"Tetap saja Mas kamu gak seharusnya menjodohkan Aisyah dengan putranya" ucap Bibi Tutik.


"Umi sudah aku akan menikah dengan laki laki itu" ucap Aisyah sambil mengusap air mata nya.


"Tuh kamu dengar kan Aisyah juga mau di jodoh kan" ucap Paman Retno.


"Tapi Aisyah kamu gak seharusnya mengiyakan keinginan gi la Abi mu ini" ucap Bibi Tutik.


"Sudah Umi aku tau aku yang salah" ucap Aisyah.


Rena hanya diam saja, Luthfi berniat datang ke sana karena ingin membuat Rena ada teman ngobrol tapi sayang, ternyata pamannya itu tengah mengalami musibah.


"Oh ya Ufi kamu sudah punya anak" tanya Tutik.


"Ya Bi aku mengadopsi anak ini" ucap Luthfi.


"Kenapa" tanya Tutik.


"Ya aku paham" ucap Tutik.


"Aku akan pergi dulu untuk menyelesaikan masalah ini" ucap paman Retno yang langsung pergi dari sana.


Tutik berdiri dia langsung mendekat pada Rena, sedang kan Rena yang sadar pun langsung menyalami tangan bibi nya itu.


"Maaf kesan pertama kamu datang ke sini kurang baik" ucap Tutik.


"Tidak apa Bi" ucap Rena.


"Ayo duduk" ucap Tutik.


Rena duduk dia menatap pada Aisyah yang saat ini ada di sana.


"Aisyah tak salah memberi kan uang pada orang lain, itu justru bagus tapi Aisyah memberi dengan uang minjam itu hanya akan membebani kita saja" ucap Luthfi.


"Ya kak aku tau" ucap Aisyah.


"Baiklah sekarang kamu terima saja ini aku tau kalau Salman itu tidak terlalu akur dengan istri pertama nya, jadi kamu buatlah dia dekat dengan mu kasihan dia kekurangan kasih sayang" ucap Luthfi.


"Dari mana Kakak tau" tanya Aisyah.


"Kakak tau dulu dia pernah menjadi klien di perusahaan, jadi sedikit banyak nya aku tau kehidupan dia" ucap Luthfi.


"Bisa ceritakan laki laki itu" tanya Aisyah.


"Tentu" ucap Luthfi.


Aisyah mendekat pada Luthfi dia penasaran pada cerita calon suami nya itu.


"Dia Salman anak dari selir tuan Imran, mungkin dia anak dari istri kedua, Salman paling sulung di antara semua nya, tiga tahun yang lalu dia menikah tapi terpaksa karena Papah dari wanita itu punya hutang banyak pada tuan Imran mungkin sama seperti kamu, sebenarnya senang menjadi istri Salman, kamu hanya perlu diam tidak perlu bekerja dan uang akan mengalir ke dompet kamu, tetapi kisah cinta mereka tak berlangsung baik Salman malah tak suka pada wanita itu" ucap Luthfi.


"Oh begitu ya" ucap Aisyah.


"Menikah lah buat dia nyaman aku yakin dia akan mencintai mu" ucap Luthfi.


"Tapi Kak aku masih belum siap" ucap Aisyah.


"Aisyah tenggelam dalam kenangan masa lalu itu tidak akan membuat kita bangkit sekeras apa pun kamu berdoa sekeras apa pun kamu menangis seseorang yang sudah tiada tak akan kembali lagi, doa kan saja dia" ucap Luthfi.


"Ya kak kau benar tapi aku benar benar tak paham bagaimana cara aku bertahan dengan nya nanti" ucap Aisyah sedih.


"Kamu tenang saja, buat dia nyaman dengan mu layani dia layak nya seorang istri, bisa saja dia memang jodoh mu hanya saja jalan nya seperti ini" ucap Luthfi.


"Ya aku akan ingat ucapan kamu nanti" ucap Aisyah.


"Di mana kalian menikah" tanya Luthfi.


"Di sini" ucap Aisyah.

__ADS_1


Tutik datang ke sana sambil membawakan minuman.


"Bi tidak perlu jadi merepotkan" ucap Rena.


"Tak apa ayo minum maaf ya makanan nya seadanya aku belum ke pasar" ucap Tutik.


"Ya tak apa Bi ini juga terima kasih" ucap Rena.


"Oh ya bagaimana kabar Mayang" tanya Tutik.


"Mamah bangkrut pabriknya di ambil oleh Ayah Herman" ucap Luthfi.


"Oh ya bagaimana sekarang" tanya Tutik.


"Entah dia sangat marah kemarin aku gak mau membantu nya aku hanya memberikan dia uang" ucap Luthfi.


"Biarkan dia Ufi jangan di bantu aku masih ingat bagaimana dia menghianati papah kamu dan aku masih ingat saat dia membuang mu di pinggir jalan" ucap Tutik.


"Buang" tanya Rena.


"Ya dulu saat Luthfi kecil dia di buang di pinggir jalan oleh mamahnya, biadab sekali perbuatan Mayang mungkin ini balasan dia karena sudah menghabiskan uang Papah mu" ucap Tutik marah.


"Sudah Bi seburuk apa pun Mamah dia tetap mamah ku" ucap Luthfi.


"Ufi aku pikir mamah mu itu tak akan pernah berubah dia pasti akan melakukan apa pun asalkan dia bahagia dan dia menang, dia manusia paling egois dan serakah yang pernah aku temui, dia bahkan pernah berniat akan merebut harta ku benar benar tak waras Mayang" ucap Tutik.


"Ya Mamah memang orang egois" ucap Luthfi.


"Aku bersyukur karena kau seperti papah mu, Luthfi kalau bukan kamu yang melanjutkan perusahaan Papah kamu siapa lagi yang akan melakukan nya, aku bahkan tak percaya pada Mayang" ucap Tutik.


"Ya Bi kemarin aku berniat akan memberikan sebagian harta padanya tapi aku batalkan saat aku tau kalau Mamah membuat berita buruk tentang aku" ucap Luthfi.


"Oh ya" tanya Tutik.


"Ya Bi aku malah berpikir akan memberikan harta itu untuk Gladys saja kasihan dia tak punya harta warisan" ucap Luthfi.


"Gladys itu benih dari orang lain" ucap Tutik.


"Ya aku tau tapi kasih dia Bi sudah tidak punya keluarga yang lengkap bahkan dia juga tidak punya kasih sayang, aku sudah masukan dia ke pesantren" ucap Luthfi.


"Ya bagus lah" ucap Tutik.


Mereka berbincang bincang lama hingga Luthfi memutus kan untuk pulang dia tak enak juga pada Rena karena telah membawa istri nya melihat musibah orang lain.


"Maafkan aku" ucap Luthfi.


"Untuk apa" tanya Rena.


"Karena membawa mu melihat musibah yang terjadi di keluarga paman" ucap Luthfi.


"Tak apa aku yakin kalau kamu juga tidak tau" ucap Rena.


"Ya kalau begini jadinya aku tak akan datang ke sana" ucap Luthfi.


"Sudahlah ayo masuk sekarang sudah malam aku mau tidur" ucap Rena.


"Masih Maghrib jangan tidur dulu" sahur Luthfi.


"Ya" sahut Rena.


Sedangkan di sisi lain Mayang tengah minum minum di Kasino milik Sofi dia datang ke sana untuk minta gratisan pada Sofi saat ini Mayang tak punya uang banyak.


"Jeng jangan minum banyak banyak" ucap Sofi.


"Aku ingin melupakan ini semua" Sahut Mayang.


"Tapi jangan semua nya ini mahal" ucap Sofi yang langsung merebut satu botol minuman yang mahal.


Sofi menyuruh anak buahnya untuk menyimpan minuman mahal itu.


Sofi menuangkan beberapa minuman yang berbeda beda ke dalam satu gelas yang sama.


"Minum lah" titah Sofi pada Mayang.


Sofi sangat marah pada Mayang apa lagi Mayang sering memerintah layaknya Sofi adalah pelayan nya.


"Andai saja kalau kau bukan besan ku mungkin aku akan menghancurkan wajah mu itu" geram Sofi bicara pada Mayang yang sekarang sedang tak sadarkan diri.


Mayang menatap ke arah sekeliling yang sekarang banyak orang di sana.


"Argh awas kau sialan Herman datang lah pada ku" sahut Mayang.


Sofi terkejut saat mendengar kalau Mayang menyebut kan nama Herman.


Sofi mempunyai masa lalu yang kelam bersama dengan Herman.


"Sofi jangan banyak pikiran ingat Herman itu banyak" gumam Sofi.


Sofi melihat pada Mayang yang sekarang tergeletak di atas meja barnya.


"Hey bawa wanita ini ke kamar kosong" titah Sofi.


"Baik Nyonya" ucap anak buahnya.


Sofi hanya menatap pada Mayang yang sekarang di gandeng oleh anak buahnya.


"Sudah tua aja so soan mau minum banyak, huh malas sekali aku melihat nya nanti aku yang rugi karena kamar di pake sia sia oleh orang yang tidak berguna" gumam Sofi.


Sedangkan Herman saat ini tertawa karena Mayang mencari nya dengan beberapa anak buahnya.


Herman bahkan memantau sendiri keberadaan Mayang yang sekarang ada di sebuah kasino yang paling besar di sana.


"Cari tau kasino ini milik siapa" titah Herman.


"Baik tuan saya akan cari informasi nya" ucap anak buah Herman.

__ADS_1


Herman hanya tertawa terbahak bahak karena tak tau harus membalas dengan apa Mayang, dia malah merasa kasihan pada Mayang apa lagi Mayang sangat menghawatirkan sekarang.


"Aku kasihan pada Mayang tapi bukanya itu adalah keuntungan bagi aku untuk mendapatkan Perusahaan Luthfi" gumam Herman sangat senang.


__ADS_2