
Saat Yadna pulang ke rumah dia melihat ada Nanda yang sekarang ada di ruang tamu tengah menikmati siaran televisi yang terlihat seperti tingkah orang orang ko nyol.
"Sedang apa" tanya Yadna.
"kepo" ucap Nanda.
"Aku hanya tanya, lagian sedang apa di sini bukan nya sudah pergi ya" ucap Yadna.
"Jaga bicara mu" ucap Nanda.
"Terserah" ucap Yadna.
Yadna langsung pergi dari sana tapi sayang Nanda menendang kaki Yadna sehingga membuat Yadna kesakitan.
"Awwss dasar" geram Yadna sambil meringis kesakitan.
"Kau masih anak kecil jadi jaga bicara kamu" ucap Nanda.
"Kau ja hat" ucap Yadna yang langsung masuk ke dalam kamar nya sambil berjalan perlahan karena kakinya sakit.
Malam ini anggota keluarga makan bersama hanya Yadna yang berbeda sikap pada Nanda sekarang, sedang kan Nanda terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa apa.
"Dunia ini sempit ya Umi" ucap Yadna.
"Kenapa" tanya Rena menatap pada putrinya.
"Ya sangat sangat sempit nak" sahut Sofi.
"Aku juga merasa begitu" ucap Adiba yang sejak tadi diam saja.
"Dunia hanya akan sempit jika kita ada di rumah saja, tetapi dunia akan luas saat kita keluar dan bertemu banyak orang" sahut Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna.
"Sudah makan lah" ucap Rena.
Faiz hanya diam saja Telinga nya sudah sangat kebal dengan ucapan ucapan hingga saat ada orang yang tengah membicarakan nya pun dia hanya akan menganggap itu hal bercanda.
Setelah selesai makan malah Yadna langsung masuk ke dalam kamar nya dia melihat deretan baju yang berjajar di lemari nya.
__ADS_1
Yadna harus memilih baju yang bagus untuk pergi ke acara besok bersama dengan Kathir.
"Aku harus memakai baju yang mana" gumam Yadna.
Yadna memilih gamis berwarna merah maroon dengan berukat yang ada di pergelangan tangan dan roknya.
Yadna baru ingat kapan terakhir kali dia memakai gamis itu.
"Sudah satu tahun yang lalu aku tidak memakai gamis ini" gumam Yadna.
Yadna mengantung nya di luar lemari, dia berniat akan menyimpan nya di luar supaya saat dia akan berangkat dia tidak perlu mencari nya lagi.
Yadna juga mempersiapkan jilbab pashmina panjang berwarna hitam, Yadna mengantung nya di sana bersama dengan Gamis itu.
Yadna langsung tertidur pulas karena kecapean seharian dia bekerja.
Yadna tidak tau kalau sekarang dia tengah di mata matai oleh Nanda yang ingin membalas perbuatan Yadna padanya tadi siang.
"Jadi dia akan bepergian" gumam Nanda.
Sedangkan di kamar Rena saat ini Luthfi masih membaca Al Qur'an yang ada di tangan nya, saat ini Luthfi mau pun Rena jika membaca Al Qur'an harus pakai kacamata karena Mata mereka minus.
maka dari itu Rena sering memakai kacamata.
"Abi" ucap Rena.
"Ya ada apa" tanya Luthfi.
"Abi tau gak kalau menurut Umi, Nanda itu hanya pura pura meminta maaf dan pura pura menyesal" ucap Rena.
Luthfi menutupi Al Qur'an yang masih ada di tangan nya.
"Kalau Umi tau ya Alhamdulillah" ucap Luthfi.
"Ya Abi aku jadi merasa bersalah karena hal ini, tidak seharusnya aku memaafkan orang semudah itu" ucap Rena.
"Tak apa Umi memaafkan itu harus tapi sekarang kamu lebih waspada saja ya" ucap Luthfi.
"Ya" ucap Rena.
__ADS_1
"Oh ya Umi Abi bermimpi kalau Yadna menikah dengan Kathir" ucap Luthfi.
"Kathir siapa" tanya Rena.
"Kathir itu putranya Pak Amta dia sangat baik Umi, ya kalau menjengkelkan sedikit tak masalah ya" ucap Luthfi.
"Ya tak masalah tapi bagaimana mungkin, mereka tak akan merestui nya apa lagi Yadna hanya lah seorang karyawan" ucap Rena.
"Tapi dia punya kita yang bisa di bangga kan" ucap Luthfi.
"Abi, Yadna tak akan mungkin membawa nama mu dalam masalah nya, dia paham kalau orang lain tau dia anak mu maka orang lain akan menghargai nya" ucap Rena.
"Ya sampai sini Abi paham kalau Yadna itu bukan wanita yang sombong, bahkan Yadna juga seperti nya pekerjaan keras" ucap Luthfi.
"Aku bersyukur Abi, satu persatu anak kita sukses dan bisa mencari uang sendiri" ucap Rena.
"Ya aku tau" ucap Luthfi.
"Tapi sayang putra kita yang lain tengah mengalami kesusahan" ucap Rena.
"Tak apa jangan bahas dia lagi, Umi bahkan Faiz saja tidak memikirkan dia kedepannya bagaimana" ucap Luthfi.
"Ya aku tau setidaknya dia bisa menjadi dokter" ucap Rena.
"aku senang akan hal itu tetapi tetap saja kita sebagai orang tua sudah sepantasnya untuk melepaskan anak anak kita pada dunia yang mulai berubah ini, bahkan susah senang mereka kalau mereka tidak meminta tolong kepada kita sebagai orang tuanya, maka kita tak berhak untuk mencampuri urusan mereka" ucap Luthfi.
"Ya aku tau tapi kan Abi, anak laki laki akan menjadi milik ibunya sampai kapan pun" ucap Rena.
"Ya dan kesana nya bukan tentang kita harus membantu membayar kan hutang anak kita, hanya saja kita hanya perlu memisah kan mereka saat mereka bertengkar dengan pasangan, tugas kita hanya mengembalikan lagi ketika mereka berpisah bukan berarti kita harus memberikan Faiz uang jajan" ucap Luthfi.
"Ya aku tau Abi, hanya saja hati ibu yang mana yang akan rela anak nya di perlakukan seperti itu oleh orang lain" ucap Rena.
"Ya aku tau, tapi sekarang sudah malam ayo tidur" ucap Luthfi.
"Ya Ayo Abi" ucap Rena.
Mereka tertidur pulas namun berbeda dengan Nanda saat dia akan menulis menyelesaikan tulisan nya.
Nanda merasa tak bersama pada kejadian tadi dia marah kalau anaknya hanya diam saja, harganya sebanding dengan uang yang sering anak anaknya itu keluar kan.
__ADS_1