
Rena menghela nafas nya kasar.
"dimana air dan selang" tanya Rena.
"ada di belakang nona" ucap Bi Anju.
"tolong bawakan Bi" titah Rena.
BI Anju membawakan selang yang biasa dia gunakan untuk menyiram tanaman.
Rena langsung mengambil nya dan mengguyur orang orang yang tak sadar kan diri dengan air langsung dari selang itu.
"nona jangan begitu nanti mereka marah" ucap Bi Anju.
Rena menatap pada bi Anju.
"kalau aku gak bisa membuat mereka membereskan ini semua maka jangan panggil aku Rena lagi" ucap Rena marah.
semua orang geram dan marah pada Rena karena sudah mengguyur mereka dengan air dari selang.
"argh siapa yang berani nyiram" ucap seseorang yang langsung tersadar.
dia melihat ada Rena di sana, mereka langsung tunduk pada Rena karena mereka tau kalau Rena itu anaknya Sofi yang tak lain adalah majikan mereka.
"ampun nona" ucapnya.
"tak apa bangunkan orang orang bereskan ruang tamu ini dengan benar aku gak mau sampai ada yang protes" ucap Rena tegas.
"baik nona" ucapnya patuh.
Rena berjalan menuju ke arah dapur dia menemui Bi Anju yang sekarang tengah memasak di dapur.
"Bi kira kira kapan mamah pulang" tanya Rena.
"kurang tau Non mungkin dua hari lagi pulangnya" ucap Bi Anju sambil menyuguhkan minuman pada Rena.
Rena seolah segan pada minuman pemberian Bi Anju bukan apa apa karena dia melihat orang orang itu mabuk berat takutnya mereka mencampurkan minuman pada air yang ada di rumah itu.
"gak usah Bi" ucap Rena.
"minumlah Non kamu pasti cape" ucap Bi Anju.
dua hari di rumah itu membuat Rena terus terusan bersabar apa lagi dengan tak tau malunya anak buah Sofi membawa wanita bayaran ke rumah itu, padahal ada Rena juga di sana yang sangat tak suka kalau ada yang datang ke sana.
"kalau saja aku tak menunggu mamah mungkin aku sudah pergi dari sini" gumam Rena marah pada anak buah mamahnya itu.
siang harinya mamahnya itu pulang, dia seolah terbiasa dengan pemandangan anak buahnya itu.
"Rena" ucap Sofi yang langsung memeluk putri nya itu.
__ADS_1
"mah baru pulang" tanya Rena.
"ya tumben kamu ada di sini ada apa Rena, kamu baik baik saja kan" tanya Sofi.
"aku sudah bercerai dengan suami aku Mah jadi aku pulang kemari, tadinya aku mau langsung ke pesantren tapi aku gak punya uang, aku mau pinjam uang pada mamah, aku menunggu selama dua hari di sini" ucap Rena.
"oh baiklah kapan kau akan pulang" tanya Sofi.
"besok pagi" ucap Rena.
"oh baik lah" ucap Sofi.
begitulah Sofi acuh tak acuh pada Rena, bahkan Rena juga sadar kalau mereka juga dulu nya tak terlalu akur apa lagi Sofi cukup ja hat dan serakah dahulu.
"aku akan pulang besok, aku tak jadi minta uang aku hanya minta di antarkan saja" ucap Rena lagi.
"terserah" ucap Sofi yang langsung pergi dari sana meninggalkan Rena yang masih ada di sana.
pagi harinya Rena langsung pulang dengan di antar oleh supir yang di tugas kan Sofi, hingga Rena pulang ke pesantren lagi.
flash back off..
saat ini Rena tengah mengajar di kelas, tak ada yang mau di gurui oleh Rena apa lagi yang para santri tau Rena itu hanyalah lulusan SMP karena sebelum lulus juga Rena sudah menikah.
walau tau dirinya tak pernah di hargai Rena terus saja menjelaskan pelajaran yang kakaknya beri kan.
siangnya Rena tengah merajuk pada Abah karena ingin pergi ke rumah sakit untuk menjadi sukarelawan karena kata temannya Rena bisa ikut dan membantu.
"Abah aku mau ikut" ucap Rena yang sekarang tengah memaksa pada Abah.
"Ning kamu bukan lulusan kedokteran" ucap Abah yang langsung menyimpan tasbih yang ada di tangannya.
"aku tau Abah tapi aku mau ikut aku ingin melihat apa saja yang di lakukan dokter mungkin saja dengan begini aku bisa jadi dokter" ucap Rena.
"ya tak ada yang mustahil tapi Ning" ucap Abah.
"tak ada tapi tapian aku mau ikut, pokok nya aku harus ikut" ucap Rena maksa.
umi datang ke sana.
"tak apa bah ijinkan saja lagi pula apa salahnya kalau Rena membantu, jadi sukarelawan itu tak susah kok" ucap Umi.
"ya umi benar" ucap Rena.
"baik lah kau boleh berangkat, tapi ingat jaga diri ya kota tak sebaik di kampung" ucap Abah.
"tak semua orang sama Abah" ucap Rena.
"ya ya Abah tau" ucap Abah.
__ADS_1
"lagi pula hanya satu Minggu saja, aku juga akan donor kan darah aku untuk mereka yang membutuhkan" ucap Rena.
"itu bagus Ning" ucap Umi.
sesuai dengan keinginan Rena hari ini Rena langsung bersiap untuk pergi, dia bahkan sudah mengemasi pakaian nya untuk segera pergi dari sana.
sedangkan di kamar santri putra, Luthfi dapat kabar kalau Rena akan berangkat ke ibu kota untuk menjadi sukarelawan.
"aku akan jaga kau Layla ku" ucap Luthfi.
Luthfi langsung datang ke rumah Abah untuk meminta ijin pada Abah untuk ijin ke kota,
"Abah aku mau ijin dulu satu Minggu saja" ucap Luthfi.
"tumben sekali kamu ambil cuti" ucap Abah.
"abah banyak kerjaan yang harus aku lakukan" ucap Luthfi berbohong padahal dia mau menjaga Rena.
"abah harap kau tak berbohong" ucap Abah tersenyum melihat gerak gerik anak santri nya itu.
Luthfi tersenyum dan mengaruk kepala nya yang tak gatal.
Abah selalu tau saja kalau para santri sedang berbohong.
"ya Abah" ucap Luthfi.
Luthfi dan Abah melihat teman teman Rena yang datang ke sana.
"para ukhti sudah datang" ucap Abah.
"assalamualaikum Abah" sapa mereka pada Abah.
"waalaikum salam, kalian mau berangkat tolong jaga Ning Rena ya, Abah percaya kalian tolong jangan sampai Ning Rena sendirian" ucap Abah.
"ya Abah kami akan menjaga nya" ucap wanita yang berjumlah 3 orang itu.
"abah tinggal dulu ya, Abah akan ambil bekal untuk Ning Rena" ucap Abah.
"ya Abah" ucap mereka.
"tolong jaga Ning Rena, banyak laki laki yang mau padanya aku takut mereka menyakiti Ning Rena" ucap Luthfi yang membuat ketiga wanita itu terharu mendengar nya.
apa lagi Luthfi adalah laki laki paling tampan setara dengan Adam kakaknya Rena.
"ya Ustadz Luthfi" ucap salah satu wanita itu tersenyum.
"baiklah" ucap Luthfi dengan suara datar dan dingin.
bersambung
__ADS_1