
Rena menyuguhkan minuman pada mamah mertuanya itu, hanya air putih sebanyak tiga gelas dengan cemilan yang cukup banyak untuk mereka.
Sedangkan Luthfi yang sekarang ada di lantai atas dia langsung melihat ke arah jendelanya saat mendengar ada suara orang orang.
"oh ternyata ada mamah" gumam Luthfi menghela nafasnya kasar.
Luthfi langsung turun ke lantai bawah terlihat kalau mamahnya benar ada di sana ada Body guard juga yang menjaganya.
"mah" ucap Luthfi yang langsung menyalami tangan mamahnya.
"wanita ini yang kamu pilih" tanya Mayang ketus pada putranya itu.
Luthfi melihat tatapan mamahnya pada Rena yang sangat sinis itu.
"ya mah cantik ya" ucap Luthfi membanggakan Rena.
Rena hanya tersenyum pada Luthfi.
"heh kampungan" ucapnya sinis pada Rena.
"ya Ning Rena dari kampung tapi sekarang sudah jadi orang kota kan" ucap Luthfi.
"apa selera kamu jadi rendah Luthfi, setelah tinggal di sana apa selera mu jadi rendahan begini" ucap Mayang.
"mah tau gak pribahasa kalau buah jatuh pasti kebawah tidak mungkin ke atas, jadi mungkin aku juga ikut mamah ya kan" ucap Luthfi terlihat menjengkelkan.
"CK apa yang sudah aku lakukan" tanya Mayang geram.
"mamah rela meninggalkan papah yang kaya, mapan, dan sangat baik demi laki laki yang bahkan mengucap kan syahadat saja dia tak bisa, katanya Islam apa hanya Islam KTP" ucap Luthfi.
"jaga bicara kamu" ucap Mayang.
"mah aku tau mulut aku pedas tapi lebih pedas mana mulut aku atau mulut mamah yang memutar balikkan fakta hanya untuk menguasai harta papah" ucap Luthfi.
"Luthfi kau sudah melampaui batas" ucap Mayang.
"oh ya" tanya Luthfi enteng.
"apa karena wanita kampung itu kau menjadi seperti ini" tanya Mayang.
"dia istriku mah dia bukan orang lain" ucap Luthfi.
"aku ingin kau ceraikan dia" ucap Mayang.
"kenapa tak mamah ceraikan saja laki laki yang hanya menjadi parasit di kehidupan mamah" ucap Luthfi.
"cukup Luthfi kamu sudah tak masuk akal kamu sudah tak waras sekarang" ucap Mayang yang langsung pergi dari sana.
namun saat Mayang di ambang pintu dia melihat lagi pada Luthfi dan Rena.
"aku pasti kan hubungan kalian tak akan berlangsung lama" ucap Mayang.
"waalaikum salam" sahut Luthfi yang langsung membuat mamahnya semakin geram.
Mayang membanting pintu rumah itu dengan keras.
brakk
Mayang berjalan ke arah mobilnya.
"awas kau Luthfi, pasti karena wanita kampungan itu yang sudah menghasut Luthfi aku tau itu" geram Mayang.
Luthfi menghela nafasnya kasar, dia melihat pada Rena yang hanya berdiri di sana mematung.
Luthfi langsung mendekat pada Rena tanpa Rena sadari dia langsung memeluk Rena dengan sangat erat.
"maaf" ucap Luthfi.
"kenapa harus minta maaf" tanya Rena.
"kamu pasti tersinggung kan pada ucapan mamah, maaf Ning mamah tak pernah menghargai keputusan aku" ucap Luthfi.
"tak apa" ucap Rena.
"aku merasa bersalah" ucap Luthfi.
"tak apa" ucap Rena.
Luthfi menenggelamkan wajahnya di pundak Rena yang di tutupi Khimar yang cukup panjang.
"Gus" ucap Rena.
"hmm" ucap Luthfi.
"bisa kau melepaskan pelukannya aku gak bisa nafas" ucap Rena.
"ups maaf" ucap Luthfi melepaskan pelukannya.
"baiklah aku akan bereskan ini, kalau kamu mau lanjut kerja silahkan" ucap Rena.
"Terima kasih" ucap Luthfi.
"ya" ucap Rena tersenyum.
Rena membawa gelas yang isinya air serta cemilan yang tak di sentuh itu, Rena merasa sangat tersinggung dengan ucapan mamahnya Luthfi itu tapi dengan lapang dada Rena mencoba untuk mengikhlaskannya.
"ternyata hubungan Gus Luthfi dan orang tuanya tak terlalu baik, mungkin sama seperti hubungan aku dan mamah Sofi" gumam Rena mengingat kalau hubungannya bersama mamahnya pun tak berjalan dengan lancar.
Rena tersenyum pada kenyataan itu, semenjak Rena menikah mamahnya bahkan tak pernah lagi datang padanya bahkan menjenguk pun rasanya tak pernah.
"Untung saja aku punya Abah dan Umi jadi aku bisa merasakan punya keluarga yang lengkap, tapi bagaimana dengan Gus Luthfi saat dia kesepian pada siapa dia akan bercerita" gumam Rena.
siang harinya Rena membuatkan teh manis dan cemilan untuk Luthfi, sejak kejadian tadi Luthfi tak pernah keluar dari ruangan kerjanya.
Rena masuk ke dalam ruangan suaminya itu, mulai sekarang dia akan mendukung dan memahami apa pun yang Luthfi alami bahkan Rena juga akan berusaha untuk mencintai Luthfi yang sudah menjadi suaminya itu.
"teh" ucap Rena menaruh nampan yang berisi teh manis dan cemilan.
__ADS_1
"terima kasih" ucap Luthfi.
"sibuk ya" tanya Rena.
"ya banyak yang harus aku kerjakan" ucap Luthfi.
"semangat ya" ucap Rena.
Luthfi merasa hatinya berbunga bunga mendengar ucapan semangat dari Rena.
detak jantungnya berdetak kencang padahal mereka tak melakukan apa apa.
"mau aku temani" tanya Rena.
"oh boleh" ucap Luthfi.
Rena duduk di sana karena di sana ada Sofa yang empuk Rena pun duduk di sana.
namun berada di sana Rena malah mengantuk bahkan dia juga sampai tertidur sebentar.
Rena mengucek matanya karena tak mau tidur di sana apa lagi dia tengah menemani Luthfi yang tengah bekerja.
"Gus aku akan ambil novel dulu" ucap Rena.
"oh ya" ucap Luthfi.
Rena datang lagi ke sana dengan membawa Novel yang cukup tipis tak setebal buku Novel yang pernah Rena baca dahulu.
Rena duduk lagi di sana dia mulai membaca Novel itu.
Luthfi mendekat pada Rena yang sekarang tengah membaca.
"kamu suka Novel" tanya Luthfi.
"suka" ucap Rena.
"apa yang kamu suka dari Novel" tanya Luthfi.
"aku suka karena sembilan puluh persen Novel menceritakan kehidupan sehari hari" ucap Rena.
"oh ya" tanya Luthfi.
"hanya untuk mengisi kebosanan sih sebenarnya" ucap Rena.
"judulnya apa" tanya Luthfi.
"Dendam lama sang Mafia" ucap Rena.
"CK aku tau kisah ini" ucap Luthfi.
"apa tau" tanya Rena.
"hmm, kisah ini itu menceritakan seorang gadis yang menikah dengan Mafia namun setelah pernikahan mereka tak melakukan apa apa, hingga suatu malam si laki lakinya itu mengambil minuman dan si wanitanya itu gak tau kalau minuman itu ternyata minuman keras, hingga mereka melakukan hubungan karena pengaruh minuman" ucap Luthfi.
"kamu tau, tapi apa ceritanya hanya melakukan itu saja" tanya Rena.
"tidak ceritanya itu si laki laki itu menghabisi orang yang pernah menghancurkan keluarganya kamu tau ternyata si pelakunya itu adalah kliennya sendiri" ucap Luthfi.
"baiklah baca saja kalau kamu tak percaya" ucap Luthfi.
"tidak karena aku tau ceritanya aku tak akan membacanya" ucap Rena.
"ya terserah kamu saja" ucap Luthfi.
"katanya kamu sibuk tapi kenapa masih di sini" ucap Rena.
"makan yu aku lapar" ucap Luthfi.
"ayo aku sudah masak" ucap Rena.
"benarkah" tanya Luthfi.
"ya" ucap Rena.
"kamu gak perlu repot repot Ning, aku yang akan masak" ucap Luthfi.
"lalu tugas aku" tanya Rena.
"tugas kamu hanya diam dan layani aku sebagai suamimu" ucap Luthfi.
"tidak aku yang akan beres beres cuci baju dan yang lainnya kamu tugasnya kerja" ucap Rena.
"baiklah Ratu ku" ucap Luthfi.
"ish" Rena memukul pelan tangan Luthfi, pukulan itu seperti sengatan listrik bagi Luthfi karena rasanya dia sangat ingin memakan Rena hidup hidup.
"astaghfirullah Luth kamu jangan begini, lalukan secara perlahan jangan tergesa gesa nanti Rena takut" batin Luthfi.
"baiklah ayo" ucap Rena.
"ya Ayo" ucap Luthfi.
sedangkan di sisi lain saat ini Mayang tengah marah karena putranya itu sangat membangkang.
"ada apa" tanya Herman suaminya Mayang Ayah tirinya Luthfi.
"mas aku kesal pada Luthfi kamu bayangkan istrinya itu kampungan dan dia itu tak pintar" ucap Mayang.
"anak itu memang badel" ucap Herman.
"aku gak mau pernikahan Luthfi sampai baik baik saja, aku sekolah kan dia sampai serjana loh tapi dia malah mencari istri yang seperti itu" ucap Mayang.
"sudahlah nanti juga mereka berpisah" ucap Herman.
"mana mungkin mas mereka itu saling cinta" ucap Mayang kesal.
"lalu kamu mau apa" tanya Herman.
__ADS_1
"aku mau kedua orang itu lenyap Mas, enak saja harta dari si Yasir itu pindah tangan pada Luthfi" ucap Mayang.
dia sangat benci pada anaknya itu padahal Luthfi adalah anak kandungnya, Mayang sudah di buta kan oleh harta dan kekuasaan.
bahkan dia rela menyingkirkan anaknya dari perusahaan yang sudah menjadi miliknya.
sebagai seorang ibu harusnya tugas Mayang adalah mendukung Luthfi dan berharap agar Luthfi menjadi orang yang sukses tapi sayang otak Mayang sudah tak berjalan lagi dengan lancar hingga dia terobsesi dengan harta.
"apa rencana yang kamu inginkan" tanya Herman.
"apa saja yang paling penting bisa membuat mereka berpisah" ucap Mayang tersenyum licik.
malam harinya di kediaman Luthfi.
hari ini pembantu yang biasa kerja di rumah Luthfi baru saja pulang lagi ke sana dia juga membawa ponakannya untuk datang ke sana.
jadi di rumah itu ada dua orang pembantu jadi Rena tak akan kesepian lagi.
"oh ya Bi Cici terima kasih ya sudah mau bekerja di sini" ucap Rena.
"tak apa Nona" ucapnya.
"jangan panggil nona panggil saja Rena" ucap Rena.
BI Cici melihat pada Luthfi meminta ijin untuk memanggil Rena dengan sebutan nama, Luthfi yang sadar pun tersenyum dia menganggukan kepalanya.
"baiklah Rena" ucap bi Cici.
ponakan Bi Cici seorang laki laki dan umurnya mungkin sudah cukup tua bahkan mungkin lebih tua dari Luthfi.
"oh ya Revan kamu bisa bekerja di sini, kamu bisa nyetir" tanya Luthfi.
"bisa tuan aku bisa nyetir aku bisa mangkas rumput" ucap Revan.
"ya baiklah kamu di terima tugas kamu menjadi tukang beberes taman ya sesekali kalau aku gak mau menyetir aku akan minta bantuan pada mu" ucap Luthfi.
"baik tuan" ucapnya.
"tak apa kan" tanya Luthfi.
"saya senang tuan terima kasih" ucap Revan.
Luthfi dan Rena menuju ke dalam kamarnya, Rena mendudukkan dirinya di ranjang.
"kamu gak akan ganti pakaian" tanya Luthfi.
"mau tapi nanti saja" ucap Rena.
"kenapa" tanya Luthfi yang tak peka pada ucapan Rena.
"ya aku akan ganti sekarang" ucap Rena yang langsung berjalan ke arah lemari dia mengambil pakaian tidurnya yang sudah di belikan oleh Luthfi untuknya.
sebelum Rena datang ke sana sudah banyak pakaian yang ada di lemari kata Gus Luthfi pakaian itu sengaja dia beli untuk Rena.
Rena mengambil piyama panjang warna biru dengan gambar kartun di setiap desain kainnya.
tanpa Luthfi sadar Rena berganti pakaian di sana, Luthfi dengan cepat memejamkan matanya karena tak mau melihat Rena yang berganti pakaian itu.
Rena melihat pada Luthfi yang hanya memejamkan matanya saja tanpa mau melirik Rena.
"gus" ucap Rena.
"hmm" ucap Luthfi.
"kamu mau gak bantu aku" ucap Rena.
"apa" tanya Luthfi.
"tolong ambilkan ini" ucap Rena pada Luthfi saat ini dia ingin mengambil kerudung yang biasa karena akan tidur.
namun kerudung itu Luthfi taruh paling atas Rena tak bisa menggapainya.
Luthfi melihat pada Rena ternyata Rena sudah memakai pakaian lengkap.
"kenapa berganti pakaian di sini" tanya Luthfi.
"salah ya" tanya Rena.
"tidak salah hanya saja ada aku kenapa kamu tak malu" tanya Luthfi.
"kenapa malu kamu kan suami aku, lagi pula kenapa malu kamu juga tutup mata" ucap Rena.
"ya salah aku juga sih" ucap Luthfi.
"kenapa salah" tanya Rena.
"karena tak melihat kamu ganti pakaian, aku tak menikmati keindahan barusan" ucap Luthfi.
"ish kamu ini" ucap Rena tersenyum.
Luthfi mengambil kerudung berwarna putih yang ada di atas itu.
"bukan yang ini Gus tapi yang itu" ucap Rena.
"warna hitam" tanya Luthfi.
"ya yang hitam" ucap Rena.
Luthfi mengambil kan dia langsung memberikannya pada Rena.
Luthfi mengambil sesuatu di dalam lemarinya.
sebuah kitak panjang berwarna hitam.
"aku tak pernah melihat kamu bertasbih memakai tasbih, aku punya tasbih ini masih baru aku beli saat aku main ke Mekah, buat kamu aja Ning lagi pula aku sudah punya yang lain" ucap Luthfi memberikan tasbih berwarna hitam itu.
"wah terima kasih, ya aku lupa tasbih aku ketinggalan di pesantren" ucap Rena.
__ADS_1
"ya semoga kamu lebih semangat beribadahnya ya" ucap Luthfi.
"ya Gus" ucap Rena.