
"Sofi" bentak Abah yang ada di sana.
Sofi menatap pada Abah dia tersenyum tipis pada kakaknya itu.
"Apa yang akan kau lakukan pada putriku" tanya Abah.
"Putri mu? hahaha jangan mimpi dia anak ku, aku uang melahirkan nya" ucap Sofi tertawa.
"Tapi aku yang menemukan nya dan merawat nya, kau kemana selama ini aku pikir kau akan menyayangi nya setelah kau tau kalau Rena putri mu tapi sayang aku berharap pada wanita seperti dirimu" ucap Abah.
"Dia putri ku dan aku akan membawanya" ucap Sofi.
"Membawa Rena, ck jika aku memberikan Rena pada mu maka sama saja dengan aku menitipkan anak ayam pada elang" ucap Abah.
"Tapi kau tak berhak pada Rena" ucap Sofi.
"Oh ya bahkan kau juga tak berhak karena dia sudah menikah" ucap Abah.
"Ck laki laki pengangguran mana mungkin bisa membiayai Putri ku" ucap Sofi ketus.
"Terserah tapi lebih baik pergilah" ucap Abah.
"Ikut aku Rena" ucap Sofi menarik Rena namun Rena bersembunyi di belakang punggung Abah.
"Rena sampai kapan kau akan diam di pesantren ini, kau tak akan maju lihat Zaka dia bahkan tak punya apa apa hanya tanah satu petak yang dia dapatkan, buat apa kau tak akan mendapatkan harta warisan dari Zaka kalau dia sudah meninggal, bahkan mungkin dia akan memberikan nya pada Adam bukan pada mu" ucap Sofi.
"Pulang lah" ucap Abah.
"Aku gak akan pulang sampai Rena mau ikut dengan ku" ucap Sofi.
"Terserah" ucap Abah yang langsung membawa Rena masuk ke dalam pesantren.
Tak di sangka Sofi masuk ke dalam rumah dan langsung menarik Rena dari Abah,
"Sudah aku bilang dia putri ku" geram Sofi.
"Ibu seperti apa yang sudah menampar putri nya tanpa salah apa apa" ucap Abah.
"Sudah Abah kita jadi tontonan warga" ucap Rena pelan.
"Kau sangat tak berguna" ucap Sofi.
"Pulang lah mah" ucap Rena.
"Ikut aku atau aku akan mencelakai suami mu" ucap Sofi.
Rena hanya tersenyum melihat Sofi yang sangat menyebalkan itu.
"Celakai saja tapi jangan harap kau akan menemui aku lagi" ucap Rena.
"Ck dasar anak haram" geram Sofi.
Luthfi datang ke sana dia mendengar semua itu, namun tak ada niatan dari Luthfi untuk membalasnya karena dia adalah mertuanya kalau saja bukan mungkin Sofi sudah habis di tangan Luthfi.
Sofi mengumpat tentang anaknya itu.
"Dasar kau anak haram, anak tak tau malu, anak tak berguna, durhaka kamu Rena, kalau saja aku bisa menghabisi mu dulu mungkin aku sudah menenggelamkan kamu ke sungai itu, Arrghh Rena aku akan mence kik mu sekarang" ucap Sofi tangannya maju ke depan seperti hendak mence kik beneran.
Luthfi datang ke sana, dia langsung menghalangi mertuanya itu.
"Selamat siang mah" ucap Luthfi sopan pada Sofi.
"Kau yang berani menikahi putri ku hah, ceraikan dia sekarang ayo ceraikan dia aku akan membawa dia ke kota dan menjodohkan dia dengan pengusaha kaya raya" ucap Sofi.
Abah hanya geleng geleng kepala menyaksikan keributan yang di ciptakan oleh adiknya itu.
"Saya gak bisa karena Putri anda sudah saya beli" ucap Luthfi tersenyum.
"Berapa uang mahar yang sudah kau keluar kan aku akan membayar nya padamu" ucap Sofi.
"Aku gak mau karena Rena bukan barang yang bisa aku tukar atau aku kembali kan" ucap Luthfi.
"Ck Rena itu janda kau jangan belagu" ucap Sofi.
"Tapi sekarang tidak mah, baiklah aku berterima kasih karena kau datang jauh jauh dari kota kemari, jika kau mau kau bisa temui aku di kota, dan ini adalah alamat rumah ku" ucap Luthfi menyodorkan kartu namanya pada Sofi.
__ADS_1
"Perusahaan Ufi A Yasir" gumam Sofi menelan ludah nya kasar.
Sofi orang kota tentu saja dia tau satu persatu nama nama perusahaan karena biasanya banyak pengusaha yang datang ke tempat nya.
"Ternyata dia anak orang kaya, perusahaan ini cukup besar di kota tapi sayang tak ada yang datang ke tempat ku" batin Sofi.
"Aku sangat berterima kasih kalau anda bisa mampir nanti" ucap Luthfi.
"Aku akan pergi" ucap Sofi yang langsung berjalan dari sana akan pergi.
"Tunggu mamah mertua" ucap Luthfi yang berhasil menghentikan langkah kaki Sofi.
"Apa tak ada permintaan maaf untuk putri mu" tanya Luthfi.
"CK perlukan" tanya Sofi geram.
Luthfi mengangguk kan kepala nya.
"Maafkan aku" ucap Sofi yang langsung pergi dari sana.
"Tunggu Nyonya" ucap Luthfi.
Sofi melihat lagi ke arah Luthfi dan Rena.
"Apa lagi" tanya Sofi.
"Tamparan yang Rena rasakan apa kau tak akan menebus nya, atau kau mau merasa kan sakit nya di tampar" ucap Luthfi.
"Aku sudah bilang minta maaf" ucap Sofi.
"Tapi rasa sakit tak bisa di sembuhkan dengan kata maaf" ucap Luthfi.
Luthfi mendekat pada Sofi dia seperti akan menampar Sofi, bahkan Sofi saja sudah ketakutan karena wajah Luthfi yang sangat menyeramkan saat marah.
"Pergilah aku takut tangan ku kotor karena menampar mu" ucap Luthfi.
Sofi langsung pergi dari sana meninggal kan pesantren sedangkan Luthfi saat ini dia mendekat pada Rena dan langsung memeluk Rena.
"Biar aku yang obati" ucap Luthfi.
"Abah aku akan mengobati luka Rena" ucap Luthfi yang langsung membawa Rena menuju ke arah UKS.
"Sofi kau berani sekali menyakiti Rena" gumam Abah sedih karena yang abah ingin kan itu adalah Rena bisa mendapatkan kasih sayang dari mamah kandung nya walaupun tanpa kasih sayang seorang ayah setidaknya Rena bisa merasakan kasih sayang mamanya.
tapi sayang Sofi sangat egois dia rela memberikan Rena pada laki laki hidung belang hanya untuk kepentingan nya sendiri.
Sedang kan Luthfi saat ini dia tengah mengompres bekas tamparan dari Mamahnya Rena itu, terlihat kalau pipi mulus Rena memerah karena tamparan itu.
"Maaf aku gak ada tadi" ucap Luthfi.
"Dari mana kau tau" tanya Rena.
Flash back onn
Farid berjalan ke arah kamar Luthfi matanya baru saja menyaksikan Rena di tampar oleh Mamahnya sendiri.
tokkk
tokk
Farid mengetuk pintu kamar Luthfi, saat ini Luthfi tengah merasa kan sakit pada perut nya.
Luthfi berjalan ke arah pintu dia membuka kan pintu ternyata ada Farid di sana.
"Gus di Rena di tampar mamahnya" ucap Farid.
"Apa" tanya Luthfi tak percaya.
Flash back off..
Luthfi mengobati pipi Rena dia memeluk Rena dengan sangat erat.
"Keluarga kita tak ada yang setuju" ucap Luthfi.
"Tak apa, aku harap kau bisa bertahan dengan ku, tolong jangan tinggalkan aku Gus, apa pun yang terjadi nanti aku harap kamu tak pernah ada niatan untuk pergi" ucap Rena.
__ADS_1
"Aku janji" ucap Luthfi.
"Terima kasih" ucap Rena.
Luthfi mendarat kan kecupan pada Rena dia tak mau istri nya itu di sakiti oleh siapa pun orangnya.
"Aku janji tak akan pernah membiarkan ada orang yang akan menyakiti mu, aku akan hancurkan orang itu" ucap Luthfi.
"Sudah tak apa lagi pula dia mamah ku" ucap Rena.
"Ya aku harap tak akan ada lagi yang melakukan itu" ucap Luthfi.
Namun tiba tiba saja perut Luthfi sakit lagi, sejak tadi dia hanya menahan sakit nya karena tak mau terlihat lemah di hadapan orang orang, Tetapi sekarang perutnya terasa sangat sakit.
"Sakit lagi" tanya Rena yang sadar kalau tangan suaminya itu tengah memegang perut nya.
"Ya sedikit" ucap Luthfi.
"Biar aku mengompres perutmu ya" ucap Rena.
"Ya baiklah" ucap Luthfi.
Rena menuntun Luthfi untuk masuk ke dalam kamarnya yang ada di belakang kamar santri putri.
"Kita ke kamar aku saja" ucap Rena.
"Ya" ucap Luthfi meringis kesakitan.
Rena membawa Luthfi ke kamar nya dahulu, Rena membaringkan tubuh Luthfi di atas ranjang yang kecil itu.
"Tunggu aku akan mengambil air hangat" ucap Rena.
"Ya jangan lama lama" ucap Luthfi.
Rena dengan cepat mengambil air hangat lengkap dengan termos nya bahkan Rena juga membawa baskom kecil untuk wadahnya nanti.
Tak lupa Rena membeli obat dan roti yang cukup banyak untuk cemilan suami nya itu, bahkan Rena juga membeli stok makanan untuk mereka.
Rena kesusahan membawa semua itu tapi tak dia khawatir kan, bukan Rena juga berniat meminjam kompor portabel milik kakaknya itu.
"Ning lebih baik di dua kali kan, sekarang bawa dulu kompor dan nanti makanan ini" ucap Zia.
"Tanggung kak" ucap Rena.
"Ya sudah ayo aku bantu" ucap Zia.
"Jangan kau sedang hamil" ucap Rena melarang.
"Lalu bagaimana kamu" tanya Zia.
"Aku bisa" ucap Rena.
"Terserah" ucap Zia.
Rena terlihat sangat kesusahan namun tak dia pedulikan yang paling penting dia bisa membawa semua itu dan masuk ke kamar menemui suami nya.
Luthfi heran Rena membawa semua itu.
"Rena untuk apa" tanya Luthfi.
"Untuk makanan, aku takut malam ini kamu lapar jadi aku membawa semua ini" ucap Rena.
"Padahal gak perlu" ucap Luthfi.
"Tak apa" ucap Rena.
"Baiklah terima kasih kau sangat baik pada ku" ucap Luthfi.
"Maaf ya malam ini kita tidur di sini, aku kurang nyaman di Kamar santri putra karena ada Gus Fadly yang pasti akan menegur aku" ucap Rena.
"Ya tak apa sayang" ucap Luthfi.
Rena memberikan roti itu pada Luthfi, bahkan Rena juga mengompres perut Luthfi dengan air hangat berharap dia akan segera sembuh.
"Biarkan saja" ucap Luthfi pada Rena untuk tetap menyimpan Kompresan di atas perutnya.
__ADS_1
"Baiklah" ucap Rena.