
Rena hanya menatap kepergian putra nya itu, Dia tidak tau kalau putra dan menantu nya itu akan melakukan hal itu padanya.
"Abi bilang juga apa jangan undang mereka" ucap Luthfi.
"Aku gak tau akan menjadi seperti ini" ucap Rena.
"Sudah jangan di permasalahkan lagi, kamu melakukan hal yang benar sekarang karena uang kita sudah banyak kita keluar kan untuk Faiz dan istri nya sekarang biarkan yang lain juga merasakan Jeri payah kita" ucap Luthfi.
"Ya Bi" ucap Rena.
Dari arah dapur Yadna dan Adiba hanya menatap pada kedua orang tuanya itu.
"Kak Faiz benar benar" ucap Yadna.
"Kak padahal kan Umi kurang baik apa ya pada Kak Faiz" ucap Adiba.
"Begitu lah kalau anak yang kurang bersyukur" ucap Yadna.
"Ya mungkin saja aku jadi kasihan pada Umi dan Abi" ucap Adiba.
"Sudah jangan begitu, ayo kita bawa makanan ini dan hibur mereka" ucap Yadna.
"Baiklah ayo" ucap Adiba.
Mereka datang ke sana sambil membawa beberapa piring yang isinya makanan.
"Aku sangat sedih" ucap Rena yang masih terdengar oleh kedua putri nya itu.
Namun Yadna dan Adiba pura pura tidak mendengar karena dia tidak mau orang tuanya sedih berlarut larut.
"Umi ini makanan" ucap Yadna.
"Oh ya sayang terima kasih ya" ucap Rena.
"Oh ya Umi sekarang aku akan tinggal di sini karena aku akan belajar di rumah" ucap Adiba.
"Oh ya kakak mu bagaimana" tanya Rena.
"Kakak Arsala akan bekerja" ucap Adiba.
"Oh ya sudah besar anak ku akan bekerja" ucap Rena.
"Aku juga akan istirahat dulu seminggu, aku cape bekerja terus mungkin aku akan kerja dari rumah saja" ucap Yadna.
"Bagus kalau begitu" ucap Rena.
"Ya setidaknya rumah kita akan ramai" ucap Luthfi.
Mereka langsung makan bersama, tanpa terasa waktu berjalan dengan sangat cepat Rena bahkan lupa bagaimana membesar kan anak anaknya dahulu.
Malam ini mereka Sholat berjamaah di mushola, namun sepertinya Adiba tidak akan melaksanakan nya karena dia sedang datang bulan.
Adiba duduk di meja makan sambil menikmati makanan yang ada di sana, Adiba rindu masakan Rena yang sudah lama dia tak merasakan nya.
Adiba merasa kalau dia sedang di awasi dari arah jauh, sayangnya Adiba sangat penakut dengan hal hal yang berbau mistis.
"Aaaaa" Teriak Adiba saat melihat seorang laki laki ada di belakang nya, namun dengan cepat mulut Adiba di bungkam oleh laki laki itu.
"Ini aku" ucapnya yang membuat Adiba langsung terdiam.
"Kak" sahut Adiba yang langsung memukul dada bidang Arsala.
"Mengagetkan saja" ucap Adiba.
Di balik adik kakak itu tersimpan sebuah rasa yang tak tau harus di apa kan, tanpa mereka sadari mereka telah saling menyukai namun tak ada yang bisa membicarakan tentang perasaan itu karena mereka sekarang adik kakak
"Sedang apa di sini" tanya Arsala.
"Aku sedang minum, mau minum kak aku akan buatkan" ucap Adiba.
"Boleh" ucap Arsala.
Arsala melihat setiap gerak gerik dari adiknya itu, dia sangat suka pada Adiba yang terkesan baik dan cantik.
Arsala mungkin akan di tertawa kan oleh teman temannya jika dia bicara kalau dia suka pada adiknya sendiri.
"Sadar lah Arsa, Wanita yang kamu taksir ini adalah adik mu" batin Arsala.
"Kak" ucap Adiba menyuguhkan minuman itu pada Arsala.
"Terima kasih" ucap Arsala.
"Sama sama" ucap Adiba.
Mereka kuliah di kelas yang sama dan di kosan yang sama namun berbeda kamar, Arsala tak akan mungkin menyakiti adiknya karena rasa sukanya itu.
Bahkan sangat rapat sekali Arsala menyembunyikan rasa sukanya itu.
"Adiba kamu tau tidak aku punya sesuatu untuk mu" ucap Arsala.
"Apa" tanya Adiba.
Arsala mengambil sesuatu di dalam tasnya, Arsala menatap pada Adiba yang duduk tak jauh dari nya, Tangan Arsala membentuk sarang Hae.
"Ish aku pikir" kesal Adiba.
Arsala tersenyum melihat Adiba yang terlihat kesal tapi Arasala tidak pernah lupa membeli kan Adiba hadiah.
"Ini" ucap Arsala memberikan hadiah berbentuk kotak.
__ADS_1
"Wah terima kasih" ucap Adiba senang mendapat kan hadiah dari Kakaknya itu.
Adiba membuka nya dan ternyata isinya adalah Al Qur'an yang dahulu pernah Adiba inginkan tapi tak Adiba beli karena uangnya kurang.
"Terima kasih" ucap Adiba.
"Sudah tak apa, oh ya aku sudah bekerja sekarang" ucap Arsala.
"Kerja apa" tanya Adiba.
"Guru" ucap Arsala.
"Wah selamat harus nya aku yang memberi mu hadiah tapi kamu yang memberi aku hadiah" ucap Adiba.
"Tak apa" ucap Arsala.
"Baiklah aku akan ke kamar" ucap Adiba.
"Ya" ucap Arsala.
Sedangkan di sisi lain saat ini Faiz sedang mendapat kan musibah, dia di kejar bank karena sudah beberapa bulan tidak bayar hutang.
Rumah sakit yang Faiz gadaikan terpaksa di ambil oleh pihak bank karena Faiz dahulunya memberi kan Serifikat rumah sakit untuk jaminan.
Dan sekarang Faiz masih menjadi buronan karena hutang Faiz bukan dari bank itu saja tapi ada yang lain lagi yang Faiz hutangi, sekarang kabarnya orang orang itu mendatangi rumah Faiz untuk menagih hutang.
"Kamu yang pinjam uang" tanya Faiz.
"Ya mas, aku gak tau kalau mereka akan datang" ucap Nanda.
"Kamu ini kenapa punya hutang banyak sekali" geram Faiz.
"Aku gak tau Mas mereka membungakan hutang itu" ucap Nanda.
Saat ini Faiz ada di atas Mobil mereka berhenti di perjalanan karena mendapat kan kabar kalau rumahnya saat ini di datangi oleh orang orang yang akan menagih hutang.
Faiz hanya bisa melihat orang orang yang marah itu dari Video saja karena Faiz takut akan di penjara kalau datang ke sana.
"Arghh bagaimana sekarang" tanya Faiz.
"Aku gak mau miskin mas" ucap Nanda.
"Apa yang kamu bilang Nanda" tegur Faiz karena istri nya bicara begitu.
"Bagaimana sekarang lakukan sesuatu mas" Sahut Nanda.
"Kita sembunyi di rumah orang tua kamu saja bagaimana" tanya Faiz.
"Mas kamu ini, sudah tau kan kalau rumah orang tua ku itu sangat sempit dan banyak yang tinggal di sana, bagaimana mungkin kita akan datang ke sana" ucap Nanda.
"Lalu bagaimana sekarang" tanya Faiz.
"Baiklah ayo" ucap Faiz yang langsung melaju kan kembali mobil nya menuju ke arah rumah orang tuanya yang baru saja tadi siang mereka datangi.
Nanda ketakutan dia sangat tidak mau menjadi miskin namun Nanda juga tidak pernah bersyukur dengan kekayaan yang kemarin dia dapatkan itu.
Nanda sangat dulunya Nanda sanggup menghabiskan uang berjuta juta hanya untuk sekali makan bersama dengan teman temannya.
Hingga dia berani berhutang pada orang lain agar dia bisa terlihat kaya di mata teman temannya.
Faiz juga merasa sangat pusing dengan masalah ini apa lagi dia tak mungkin meminta orang tuanya melunasi hutang nya.
Sesampainya di sana Mereka langsung masuk ke dalam rumah Orang tua Faiz,
"Umi" ucap Faiz tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Ada apa" tanya Rena.
"Umi aku sekarang di kejar kejar orang" ucap Faiz.
"Siapa yang mau mengejar mu" tanya Luthfi.
"Bank" ucap Faiz.
"Astaghfirullah" Semua orang terkejut saat mendengar kalau Faiz di kejar oleh pihak Bank.
"Kamu punya hutang" tanya Rena.
"Ya umi dan kami sudah lama menunggak" ucap Faiz.
"Lalu apa sekarang kamu mau meminta bantuan pada ku" tanya Luthfi marah.
"Tidak Abi kami hanya ingin bersembunyi saja di sini" ucap Faiz.
"Bagus saat senang kau dengan yang lain tapi saat susah dengan ku" ucap Luthfi.
"Maaf" ucap Faiz.
"Tak apa ayo kita sarapan dulu" ucap Rena.
"Baiklah" ucap Faiz.
Malam ini rumah sangat ramai tapi tetap suasana nya yang terasa sangat canggung, mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi tapi sayang tak ada percakapan di antara mereka.
Arsala sangat benci pada kakak sulungnya itu, Arsala tau kalau Faiz bukan anak kandung orang tuanya tetapi Faiz sangat sombong dan tak sopan.
Harusnya Faiz merasa malu karena telah melakukan hal itu pada Rena dan Luthfi orang yang sudah membesar kan nya.
Tapi cinta Faiz pada Nanda membuat Faiz sangat pembangkang.
__ADS_1
"Aku akan tidur" ucap Waffi yang langsung pergi dari sana.
"Ya selamat malam" ucap Arsala.
Yadna dan Adiba juga memutuskan untuk tidur apa lagi sekarang sudah sangat malam dan suasana sangat canggung.
Hingga tersisa Luthfi dan Rena serta Faiz dan istri nya, bahkan Arsala ada di sana juga, tak ada percakapan di antara mereka apa lagi suasana benar benar sangat canggung.
"Umi aku akan tidur" ucap Faiz yang langsung berjalan menuju ke arah kamarnya.
Tetapi Nanda sekarang masih ada di sana karena akan bicara dengan mertua nya.
"Umi Abi, aku sangat tak mau menjadi miskin apa bisa kalian bantu aku" tanya Nanda.
"Nanda maaf bukan nya tidak mau hanya saja sekarang Umi sudah mengeluarkan uang banyak untuk kalian, dan anak anak Umi banyak bukan hanya kalian" ucap Rena.
"Kalian memang pelit, sangat itungan sekali padahal aku juga akan ganti kalau uang nya sudah ada" ucap Nanda.
"Nyonya besar kenapa tak meminta tolong saja pada keluarga mu" ucap Arsala.
"Jaga bicara mu" geram Nanda.
"Sudah" Ucap Luthfi dingin, dia sangat marah sekarang apa lagi sikap Nanda sangat melewati batas.
"Tapi kami gak bisa" ucap Rena.
"Harusnya aku tau kalau kalian itu itungan, pelit dan sombong" ucap Nanda yang langsung pergi dari sana menuju ke arah kamar nya yang ada di lantai bawah.
"Astaghfirullah" ucap Rena mengusap dadanya.
"Sabar Umi" ucap Luthfi.
"Umi bukannya kak Faiz bukan anak kalian kenapa tak di berikan pada orang tuanya saja" tanya Arsala.
"Arsala jaga bicara kamu" ucap Rena sambil meninggikan suaranya.
Rena langsung menunduk saat tau kalau barusan dia sama saja sudah membentak Arsala.
"Maafkan Umi" ucap Rena.
"Tak apa" ucap Arsala.
"Umi mu sangat sayang pada Faiz, jadi dia tak akan mungkin memberikan Faiz pada siapa pun" ucap Luthfi.
"Ya aku tau" ucap Arsala.
"Umi sudah malam ayo tidur, dan kamu Arsala cepat tidur" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Arsala.
Arsala mematikan televisi yang masih menyala dia melihat jendela pintu yang sudah terkunci dengan aman.
Hanya arsala anak laki laki yang memikirkan masa depan keluarga nya itu.
Yadna walaupun sudah besar tapi dia tidak bisa berbuat apa apa karena dia saja sampai sekarang masih bergantung pada orang tuanya.
Hanya Arsala yang harus nya menjauhkan orang tuanya dari orang seperti Faiz.
"Aku akan membuat kak Faiz meminta maaf bahkan bila perlu sambil sujud pada Umi" ucap Arsala.
Sedangkan sekarang Rena tengah menangis karena sedih dengan ucapan menantunya itu, Luthfi hanya bisa menguatkan istri nya apa lagi Rena orangnya sangat baik dan tidak pendendam.
"Keputusan mu bagus" ucap Luthfi.
"apa kita salah mendidik Faiz" tanya Rena.
"Tidak dia saja yang salah jalan" ucap Luthfi.
"Mungkin aku yang salah karena sudah membiarkan Faiz masuk ke sekolahan aku dulu tak pernah berpikir untuk ikut pada ucapan mu yang dulu pernah menyarankan untuk memasukan Faiz ke pesantren aku sangat menyesal Abi" ucap Rena menangis sambil memeluk suaminya itu.
"Kamu tidak salah aku yang salah karena sudah melakukan hal ini" ucap Luthfi.
"Abi" ucap Rena.
"Sudah sekarang bukan waktu nya untuk saling menyalah kan tapi sekarang waktunya untuk saling menguatkan, baiklah sudah malam ayo tidur" ucap Luthfi.
"Abi aku takut akan ada banyak masalah nantinya" ucap Rena.
"Tidak akan selagi ada aku, kamu tenang saja ya" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Rena.
Sedangkan di kamar Yadna saat ini Adiba tidur di sana juga, mereka tak bisa tidur justru mereka memikirkan caranya agar orang tuanya tak kepikiran dengan masalah Faiz.
"Aku gak bisa berbuat apa apa" ucap Yadna.
"Aku juga" ucap Adiba.
"Pokok nya Adiba kamu harus janji ya setelah ini kamu tidak boleh melakukan apa pun yang akan membuat Abi dan Umi sedih" ucap Yadna.
"Ya aku janji" ucap Adiba.
"Pokok nya kita tidak boleh seperti itu" ucap Yadna.
"Ya aku janji" ucap Adiba.
Namun sayang Adiba lupa pada perasaan nya yang sudah pasti suatu saat nanti akan terbongkar, bahkan sekarang juga mereka sudah semakin dekat.
Dan tak akan mungkin perasaan itu akan berkurang, bahkan bukti nya semakin hari rasa cinta mereka semakin besar.
__ADS_1