
Selesai sholat Rena langsung menuju kamarnya dia melihat hpnya yang sejak tadi menyala.
ternyata ada pesan dari Luthfi banyak sekali.
{jangan lupa makan Layla ku}
{aku akan usaha kan untuk mendapatkan mu}
{setelah pulang dari sini aku akan melamar mu pada Abah}
{jika aku tak bisa menjadi malam mu tapi aku akan usahakan untuk menjadi imam mu}
dan banyak lagi pesan dari Luthfi yang tak sempat Rena baca.
"apa apaan dia mengirimkan pesan sebanyak ini tak sopan sekali" gumam Rena.
Rena dan ketiga teman nya kembali bekerja,
Rena mengambil makanan di dapur rumah sakit itu, karena sudah di sediakan juga oleh pihak rumah sakit.
"Rena bisa antarkan makanan ke kamar VIP nomor 3" tanya perawat.
"oh boleh" ucap Rena.
"gak papa kan kamu hanya berikan saja, kamu balik lagi ke sini dan makan" ucapnya.
"ya baiklah" ucap Rena.
Rena mengambil kan makanan untuk kamar VIP nomor 3, Rena sampai di pintu ruangan itu dia mengetuk pintu beberapa kali lalu langsung masuk ke dalam.
"permisi" ucap Rena.
Rena terkejut karena di kamar VIP itu adalah Luthfi.
"Ning" ucap Luthfi sambil menahan rasa sakit pada perut nya.
"aku bawa makanan makanlah" ucap Rena.
"sebenarnya aku malu tapi Ning perut aku rasanya sakit sekali, mungkin sakit lambung ku kambuh lagi, awws sakit sekali" ucap Luthfi meringis kesakitan.
Rena menyimpan makanan itu di atas meja.
"mana yang sakit" tanya Rena.
Luthfi menunjuk pada dadanya, yang membuat Rena bingung karena dia mengeluh sakit perut tapi menunjuk pada dadanya.
"jangan bercanda" ucap Rena.
"aku sakit perut" ucap Luthfi sambil tertawa padahal perut nya tengah kesakitan sekali.
"aku akan panggil kan dokter" ucap Rena.
"jangan aku ingin makan saja, seperti nya perut ku akan sembuh jika makan" ucap Luthfi.
"baiklah aku akan suapi" ucap Rena.
Rena mulai menyuapi Luthfi karena Rena juga cemas melihat Luthfi yang kesakitan.
"sejak kapan kamu sakit begini" tanya Rena.
"dari kecil" ucap Luthfi.
__ADS_1
Rena mengerutkan keningnya.
"dari kecil tapi selama di pesantren kamu gak pernah mengeluh kesakitan" ucap Rena sambil menyuapi Luthfi.
"ya karena di pesantren aku gak pernah telat makan, apa lagi kalau di pesantren aku merasakan sakit perut itu malam aku selalu makan obat setelah nya, dan Alhamdulillah sembuh" ucap Luthfi.
"apa itu Setiap hari" tanya Luthfi.
"tidak hanya saja sekarang lebih sakit saja aku mau sembuh Ning jadi aku melakukan ini" ucap Luthfi.
"jadi kau bukan mau di operasi plastik" tanya Rena.
Luthfi tersenyum mendengar hal itu.
"untuk apa lagi pula aku sudah tampan" ucap Luthfi.
"kepedean" ucap Rena.
Rena kembali menyuapi Luthfi hingga nasi nya habis.
"mau tambah lagi" tanya Rena.
"gak usah aku lagi diet" ucap Luthfi.
"terserah" ucap Rena.
"terima kasih Layla" ucap Luthfi.
"sama sama Majnun" ucap Rena yang langsung pergi dari sana meninggal kan Luthfi.
"argh kau menggemaskan sekali" gumam Luthfi.
siang hari nya Rena kembali membantu pasien yang datang, namun Rena melihat ada seorang bapak bapak yang mengeluh sakit gigi.
"pak Harto dari kota Bogor" ucapnya.
"bapak sakit apa" tanya Rena.
"saya sakit gigi, sudah kemana mana tapi gak sembuh sembuh" ucapnya sambil memegang pipinya.
"saran saya ya pak kalau bapak ingin sembuh seringlah Adzan di mesjid pak, karena dulu Abah saya kalau sakit gigi dia tak pernah makan obat dia hanya perlu Adzan, Alhamdulillah dia sembuh" ucap Rena.
"oh saya akan coba saran nya" ucap bapak itu.
"ya itu hanya saran saya saja pak, baiklah sekarang bapak ayo masuk" ucap Rena.
"terima kasih" ucap bapak itu.
Rena melihat seorang ibu yang membawa anaknya,
"ibu siapa namanya" tanya Rena.
"Tini" ucap ibu itu.
"baiklah ibu tunggu dulu setelah pasien keluar giliran ibu" ucap Rena.
"ya terima kasih" ucap ibu itu.
Nisa datang ke sana.
"Ning tolong ambilkan obat yang ini" ucap Nisa memberikan Rena secarik kertas yang ada tulisan obatnya.
__ADS_1
"baiklah" ucap Rena.
saat Rena akan pergi Rena melihat ada ustadz Arif yang dahulu pernah melamarnya namun pulang lagi karena tau Rena seorang janda muda.
Rena berusaha untuk baik baik saja seolah tak melihat keberadaan dia di sana.
hingga Ustadz Arif itu melewati Rena namun Rena salah ternyata ingatan nya sangat tajam hingga dia mengenali Rena.
"Rena anaknya Abah Zakaria ya" tanya nya menatap pada Rena.
niat mau menghindar tapi ternyata dia malah menyapa Rena.
Rena tersenyum melihat nya karena dia juga tersenyum melihat Rena.
"sedang apa di sini" tanya Ustadz Arif.
"aku menjadi sukarelawan" ucap Rena.
"wah bagus dong" ucap Ustadz Arif.
"ya" ucap Rena hanya tersenyum saja karena terasa asing saja jika melihat orang yang sudah menolaknya ada di hadapannya.
"mampir lah kerumah ku, aku juga menikah dengan orang sini" ucap Ustadz Arif.
"ya insha Allah aku mampir, mohon maaf ustadz aku sangat sibuk sekarang jadi aku harus bekerja lagi" ucap Rena.
"oh ya silahkan" ucapnya.
Rena langsung pergi dari sana menuju ke arah ruangan obat karena dia akan mengambil obat.
Rena berjalan ke arah ruang obat dia sekarang tau bagaimana cara menutup pintu itu dengan mengganjalkan kain di pintunya.
Rena mencari obat di sana dia melihat lihat obat yang masih di kemas rapih karena baru saja datang.
"apa di dalam sini ya" gumam Rena.
namun Rena tak berani membuka nya karena itu obat baru dan baru saja datang.
Rena mencarinya di rak obat ternyata ada tapi hanya ada beberapa biji saja.
"semoga saja cukup" gumam Rena.
dokter Andre datang ke sana dia mengambil obat untuk penderita kolesterol.
"dokter" sapa Rena.
"kamu Rena kan" ucap Dokter Andre itu.
"ya" ucap Rena.
dia mengambil obat yang ada di rak itu.
"ada yang menderita sakit kolesterol tapi di suruh menjaga pola makan dia malah tak mau" ucap Dokter Andre.
"ya begitu lah Manusia dok" ucap Rena.
"ya mereka sangat sulit di tebak" ucap Dokter Andre.
"ya begitulah" ucap Rena.
"baiklah aku permisi" ucap Dokter Andre.
__ADS_1
bersambung