Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 59 setelah hujan deras pasti ada pelangi


__ADS_3

Luthfi tak sangka kalau Abimana akan senekat itu, namun dia tak akan mengabaikan permintaan Abimana dia akan menuruti nya.


"Kemarin kemarin kita kurang akrab ya semoga setelah ini kita bisa lebih akur" ucap Abimana.


"Ya" ucap Luthfi tersenyum.


Luthfi melihat Abimana yang selalu saja menatap sinis pada nya bahkan matanya juga sering melihat lihat seluruh ruangan Luthfi.


"Tatapan nya menunjukan tak suka tapi dia baik pada ku" batin Luthfi.


Sedangkan di sisi lain saat ini Rena sedang mengasuh bayi itu sambil melihat Gladys yang sekarang berkemas.


Baju baju gamis yang Gladys bawa baru saja Gladys beli karena selama ini Gladys tak punya baju gamis.


"Kak aku heran pada bayi ini, kata dokter masih lama lahirannya tapi sekarang dia sudah lahir saja" ucap Gladys.


"Begitu lah kuasa Alloh tak ada yang mustahil Gladys" ucap Rena.


"Ya mungkin saja" ucap Gladys.


"Baiklah jangan lupa bawa mukena ini" ucap Rena.


"Hm".


Gladys meminta ijin dia akan bertemu dengan Mayang, apalagi beberapa hari ini mereka tak saling bertemu atau pun berkomunikasi.


"Kak aku akan ke rumah mamah" ucap Gladys.


"Ya baiklah" ucap Rena yang tak bisa melarang karena itu keinginan Gladys.


Gladys mengambil tasnya dia langsung pergi dari sana menuju ke rumah mamahnya yang cukup jauh dari rumah Luthfi.


Gladys merasa sangat malang dia ingin sekali ke kota tempat dia belajar dahulu, dia ingin memberi tau kan pada Ayah dari anak nya itu kalau dia sudah melahirkan.


Namun Gladys tak mungkin melakukan nya karena dia pasti akan di marahi oleh Luthfi, Gladys sangat sangat menyesal sekarang.


"Apa suatu saat nanti akan ada orang yang mau pada ku" gumam Gladys.


Mata Gladys menatap pada seorang laki laki yang berusia lebih tua dari nya,


"Itu kan pak tua itu" gumam Gladys menatap laki laki itu dari kaca mobil yang dia tumpangi itu.


"Pak tolong ikuti Mobil hitam itu" titah Gladys.


Mobil itu mengikuti mobil berwarna hitam, Gladys berharap kalau mobil itu isinya memang laki laki yang menghamilinya.


"Semoga saja orang itu adalah pak tua itu" gumam Gladys berharap.


Mobil itu berjalan sangat jauh namun Gladys masih meminta supir Luthfi untuk mengikuti nya.


Gladys ingin meminta tanggung jawab padanya dia ingin orang itu mengakui anaknya itu.


"Aku sangat berharap kalau pak tua itu ingat pada ku" batin Gladys gelisah.


Hingga lama sekali akhirnya mobil itu masuk ke dalam salah satu rumah yang sangat besar, bahkan rumah itu sangat mewah.


Gladys langsung masuk ke dalam rumah itu dia melihat seorang laki laki yang sangat gagah turun dari mobil hitam itu.


Seorang wanita dengan bayi menunggu di teras rumahnya.


Gladys menatap tak percaya ternyata laki laki itu benar benar pak tua yang telah menghamilinya, Gladys menyaksikan kemesraan pasangan suami istri itu.


"Apa itu istri nya Pak tua itu" Batin Gladys.


Wanita itu menatap pada Gladys.

__ADS_1


"Mas siapa wanita itu" tanyanya yang masih terdengar oleh Gladys.


"Gak tau mungkin yang minta batuan" ucap nya yang langsung mendekat pada Gladys.


"Siapa kamu" tanya nya yang menatap wajah Gladys dari atas sampai bawah.


"Pak tua aku Gladys" ucap Gladys.


"Gladys, maaf aku gak tau kamu" ucap nya.


"Pak tua aku hamil aku sudah melahirkan aku minta kau tanggung jawab" ucap Gladys memohon.


"Tanggung jawab, maaf tapi aku tak mengenal mu" ucapnya yang langsung pergi meninggalkan Gladys sendiri di sana dan masuk ke dalam rumah bersama dengan istri nya.


Pria itu mengingat ingat ternyata dia baru ingat sesuatu.


"Wanita itu kan wanita yang aku temui di kota sebrang" batin nya ingat pada malam malam yang telah dia habis kan bersama dengan Gladys.


"Aku tak sangka dia akan senekat itu" batinnya lagi.


Sedang kan Gladys saat ini dia tak percaya pada yang dia lihat itu.


"Ternyata pak tua itu sudah punya istri dan anak" gumam Gladys yang langsung terduduk di lantai.


Air mata Gladys menetes dia tak menyangka kalau ternyata laki laki yang pernah menggauli nya itu adalah seorang yang punya istri dan anak.


Gladys tak menyangka nasib nya akan seperti itu, dia sangat tak bisa berpikir lagi niat ingin meminta tanggung jawab dan hidup bahagia namun itu tak mungkin terjadi.


Supir Luthfi datang ke sana karena melihat Gladys yang duduk di tanah,


"Nona ayo pulang Nona" ucapnya.


"Ya pak" ucap Gladys yang langsung bangun mengikuti Supir Luthfi itu.


Gladys menatap lagi pada rumah yang besar itu.


Beberapa jam kemudian Gladys sampai ke kediaman mamahnya dengan wajah yang menyedihkan, Gladys lebih sering melamun di sepanjang perjalanan.


"Kamu pulang" tanya Herman saat Gladys masuk kedalam rumah.


"Ya" ucap Gladys.


"Kamu kenapa" tanya Herman.


"Pah aku minta ijin aku akan ke pesantren" ucap Gladys.


"kenapa" tanya Herman terkejut dia tak menyangka kalau Putri nya akan berpikir seperti itu.


"Kak Luthfi benar aku akan ke pesantren, merenungi semua dosa dosa aku di sana" ucap Gladys yang langsung mendudukan Tubuh nya di atas sofa di rumah orang tuanya.


"Tapi apa dosa kamu" tanya Herman geram dia marah namun bukan marah pada Gladys dia marah pada Luthfi yang sudah pasti menjadi dalang di balik kemauan Gladys itu.


"Papah gak setuju" bantah Herman.


"Pah jangan seperti itu, sekarang Kak Luthfi benar" ucap Gladys.


"Jelaskan pada papah dosa apa yang sudah kau lakukan" tanya Herman.


"Pah aku mau ke pesantren ada atau tidak nya restu kalian aku gak perduli" ucap Gladys.


"Berani sekali kau membantah ku, Gladys kau tanggung jawab aku sekarang aku akan sekolah kan kamu di sini, tanpa ikut campur mamah mu dan tanpa ikut campur Luthfi" ucap Herman.


"Pah aku sudah besar hargai keputusan aku" ucap Gladys.


"Terserah tapi Papah gak akan mengijinkan hal itu terjadi" ucap Herman.

__ADS_1


"Pah" Bentak Gladys.


Mayang yang mendengar pun langsung datang ke sana melihat keributan itu.


"Ada apa kau datang" tanya Mayang.


"Mah aku akan ke pesantren besok" ucap Gladys.


"Pesantren, sejak kapan kau mau ke pesantren hah" tanya Mayang.


"Aku mau merenungi dosa dosa aku di sana" ucap Gladys.


"Dosa kau ingat pada Dosa lalu bagaimana pada dosa mu pada ku yang sudah membantah aku" tanya Mayang ketus pada putrinya.


Begitu lah Mayang dia kasar dan tak perduli pada anak anaknya, terkadang Gladys sering merasa tak punya kasih sayang dari mamahnya.


Sejak lama juga Mayang sudah seperti itu, dalam hati nya dia selalu membenci anak anaknya kalau anak nya itu tak bersikap seperti apa yang dia inginkan.


Gladys atau pun Luthfi harus ada dalam kuasa dia tanpa membantah sedikit pun, hingga sikap itu lah yang membuat Gladys atau pun Luthfi tak nyaman punya ibu seperti Mayang.


Mayang terlalu egois dia hanya memikirkan diri nya sendiri, asal dia bahagia dia melupakan kehidupan anak anak nya.


"Pergi saja lagi pula aku sudah tak membutuhkan mu, jangan datang lagi pada ku dan jangan anggap aku mamah mu lagi dan aku akan anggap kalau aku tak punya anak bila perlu aku juga akan anggap kalau aku gak punya suami" geram Mayang yang langsung berjalan ke arah kamarnya yang ada di lantai atas.


"Kau lihat ibu mu bukan dia tak jauh sama seperti dirimu" ucap Herman yang langsung pergi ke luar dari rumah itu.


"Kalian selalu saja tak memperdulikan aku, andai saja kalau aku di perlakukan seperti anak dan di berikan kasih sayang seperti teman teman ku, maka aku tak akan melakukan hal seperti itu, tapi aku tak akan menyesali perbuatan ku ini anggap saja ini adalah pelampiasan dari dendam aku pada Mamah dan Papah, dan sekarang aku akan menebus semua kesalahanku" batin Gladys sambil menangis.


Anak yang mana yang tak ingin merasakan kasih sayang orang tua nya, berbeda dengan Gladys yang hanya di tuntut untuk juara satu di sekolah nya.


Mayang hanya bisa menghargai hasil yang didapat kan anak anaknya, namun dia tak menghargai proses apa saja yang di lalui anak anak nya itu.


"Egois" Ya hanya itu yang bisa mendeskripsikan Mayang sekarang.


Gladys pulang dia melihat kalau bayi nya itu ada di ruang tamu, bersama dengan Rena yang setia mengasuh nya.


"Kak jika dia menyusahkan mu Bu nuh saja dia" ucap Gladys.


Rena terkejut dengan apa yang dia dengar barusan.


"Maksud kamu apa" tanya Rena.


"Aku takut anak itu akan mempermalukan kamu nanti nya" ucap Gladys.


"Jangan bicara seperti itu tak baik, anak itu kan Rezeki jadi jangan bicara begitu" ucap Rena.


"Aku barusan melihat ayahnya, dia punya rumah di daerah ini juga, tapi sayang dia punya anak dan istri" ucap Gladys.


"Kamu tau orangnya?, siapa namanya? di mana alamat nya?" tanya Rena.


"Aku gak tau namanya bahkan dia tak ingat pada ku" ucap Gladys.


"Sudah tak apa" ucap Rena menenangkan Gladys.


"Kau tau Gladys dulu mantan suami aku, dia punya simpanan yang bahkan simpanan nya itu punya anak" ucap Rena.


"Lalu apa yang kamu lakukan" tanya Gladys.


"Aku pergi aku membiarkan mereka untuk bersama aku gak mungkin merebut Seorang ayah dari anak kecil" ucap Rena.


"Ya orang seperti itu pantas untuk di tinggal kan" ucap Gladys.


"Tapi percaya lah sekarang kamu berniat untuk melupakan nya kamu hebat Gladys karena kamu lebih mengalah dari pada harus merebut punya orang lain, bukan maksud aku tak membela kamu, tapi yakin lah setelah ada hujan yang deras pasti akan ada pelangi yang menghiasi hidup mu, Aku yakin kau akan bahagia nanti nya bersama dengan laki laki yang sayang tulus pada mu" ucap Rena.


"Ya kak aku harap begitu" ucap Gladys.

__ADS_1


"Yakin saja" ucap Rena.


__ADS_2