
Luthfi datang ke arah sofa yang sekarang ada istri dan mamah mertua nya.
"Umi aku akan pergi ke rumah mamah" ucap Luthfi.
"Untuk apa" tanya Rena.
"Aku akan melihat saja, nanti juga aku akan kembali" ucap Luthfi.
"Oh baiklah" ucap Rena.
"Kenapa kamu gak ikut saja Rena" tanya Sofi.
"Mah kalau aku pergi kau di sini bersama dengan siapa" tanya Rena.
"Ya juga ya" ucap Sofi.
"Baiklah aku akan berangkat sekarang" ucap Luthfi.
"Ya Abi hati hati" ucap Rena.
Rena menatap pada kepergian suaminya.
"Kenapa mamah Mayang tak di sini saja" gumam Rena.
"Karena dia tidak mungkin meninggalkan harta Karun di rumah nya" ucap Sofi.
"Oh ya" tanya Rena.
"Ya kau tau harta Karun itu adalah harta yang paling berharga bagi Mayang aku tau hal itu dari Papah mu, terdengar sangat aneh namun itu lah ibu mertua mu" ucap Sofi.
"Apa harta Karun nya" tanya Rena.
"Entah aku gak tau" ucap Sofi.
"Sudah lah aku sangat tak mau membahas ini, mungkin saja itu sesuatu yang sangat berharga bagi Mamah Mayang" ucap Rena.
"Ya bisa jadi" ucap Sofi.
Sedangkan tak jauh dari sana ada Nanda yang tengah mendengar hal itu, Nanda sangat penasaran pada harta Karun yang tadi di bahas oleh mertua dan nenek mertua nya.
"Apa mungkin orang tua itu punya harta Karun yang sangat banyak" gumam Nanda.
Nanda masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi atau ucapan salam terlebih dahulu.
Nanda langsung duduk di sofa bersama dengan Rena dan Sofi.
"Dari mana kamu" tanya Sofi menatap sinis pada Nanda.
"Aku dari luar" ucap Nanda.
"Oh pantas gaya begitu, gak takut sama yang nagih hutang" tanya Sofi.
"Nenek ini bicara apa, aku itu keluar untuk refreshing aku bosan di rumah terus, apa tak bisa kah aku keluar dari rumah dengan tenang" ucap Nanda yang langsung masuk ke dalam kamar nya.
Rena hanya diam saja menatap menantunya yang seperti itu, dia tidak tau kalau Nanda ternyata sangat mudah marah bahkan dia juga akan jadi tak sopan saat di tegur.
"Faiz amalan apa yang sudah kamu lakukan hingga istri mu menjadi seperti itu" gumam Rena.
Sofi akan ke kamar nya, namun Rena tak tinggal diam dia langsung membantu mamahnya untuk berjalan ke kamar nya.
"Istirahat lah" gumam Rena.
"Ya" ucap Sofi.
Rena langsung keluar dia melihat kalau sekarang ada yang datang ke sana, dari pakaian nya terlihat seperti kurir yang biasa menghantar kan barang.
"Ya ada apa" tanya Rena.
"Bu ini ada paket untuk Nanda" ucap kurir itu.
"Oh baik lah" ucap Rena.
"Terima kasih Bu" ucap Kurir itu yang langsung pergi dari sana.
"Ya sama sama" ucap Rena menatap pada benda kotak yang di balut dengan bungkus kado itu.
Rena merasa penasaran pada isinya apa lagi benda itu cukup besar dan lumayan berat.
"Apa ini" gumam Rena.
"Sudah datang paket aku" tanya Nanda yang langsung mendekat pada Rena yang masih ada di ambang pintu.
__ADS_1
"Ya ini" ucap Rena.
"Aku akan bawa masuk" ucap Nanda yang langsung membawa paket itu menuju kamarnya.
Rena menatap pada paket itu yang seperti nya bungkus nya ada yang sobek.
"Apa itu lukisan" tanya Rena.
"Ya" sahut Nanda yang langsung masuk ke dalam kamar nya.
Rena sangat bingung melihat hal itu padahal selama ini Nanda belum pernah memasang lukisan di rumah nya, tapi sekarang dia memesan lukisan di kediaman Rena.
Rena langsung menuju ke arah kamarnya yang sekarang ada di lantai atas rumah itu.
Rena ingin istirahat karena sekarang dia sangat gampang lelah, lagi pula Rena mengerjakan tugas rumah sendirian.
Jika Luthfi meminta Rena untuk mempekerjakan pembantu, Rena pasti akan sangat marah karena Rena mau rumah nya itu dia yang urus.
Sedangkan sekarang Nanda membuka paket itu, lukisan yang dia pesan sama seperti lukisan yang terpampang di dinding rumah itu.
Nanda akan mengantikannya dan setelah dia dapat lukisan itu dia akan jual dengan harga yang sangat mahal pada teman teman nya.
Nanda mulai beraksi dia menatap pada seluruh rumah itu, terlihat sangat sunyi dan sepi, Nanda yakin kalau kedua wanita itu berada di kamarnya.
Nanda membawa lukisan itu menuju ke arah dinding yang di mana lukisan mahal itu tertempel di dinding.
Nanda naik ke atas lemari kecil yang ada di sana.
Nanda menurunkan lukisan itu, dia juga mengganti lukisan itu dengan lukisan yang baru saja dia pesan tadi.
Entah apa yang di pikirkan oleh Nanda hingga dia senekad itu melakukan hal yang sangat di pantrang oleh keluarga itu.
Nanda langsung membawa lukisan mahal itu kedalam kamarnya dia akan menyembunyikan nya di kamar nya sampai dia bisa membawa lukisan itu keluar dari sana.
Nanda berpikir kalau dia akan punya uang dan bisa membeli apa pun yang dia inginkan nantinya, namun Nanda tidak tau akibat apa yang akan dia dapatkan dengan melakukan itu.
Sedangkan Faiz sekarang dia berusaha untuk mencari pekerjaan, Faiz masih berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan, banyak orang yang tadinya akan memberi kan Faiz pekerjaan tapi setelah dia tau kehidupan Faiz mereka langsung menolak Faiz.
Rasa kecewa ada apa Faiz dia langsung menyesal karena melakukan hal itu dahulu, kalau saja Faiz tidak banyak berhutang bahkan Faiz juga sempat korupsi di rumah sakit tempat dia bekerja dahulu.
Faiz duduk di bangku rumah sakit yang baru saja menolak nya itu.
"Dokter Faiz" sahut seseorang yang mengenal Faiz.
"Eh dokter Diki" ucap Faiz.
"Sedang apa dokter ada di sini" tanya Diki.
"Saya sedang melamar pekerjaan" ucap Faiz.
"Mau melamar pekerjaan, apa di terima" tanya Diki.
"Tidak" ucap Faiz.
"Aku punya pekerjaan tapi ini cukup berbahaya" ucap Diki.
"Berapa gaji nya" tanya Faiz.
"Lumayan besar" ucap Diki.
"Kerja apa" tanya Faiz.
"Mengedarkan obat obat" ucap Diki.
Faiz hanya berpikir saja tanpa bicara apa pun dia tidak yakin akan bekerja seperti itu apa lagi sekarang dia sangat banyak masalah.
Di kediaman keluarga Luthfi.
Saat ini Faiz baru saja pulang dia melihat ke arah ruang tamu yang masih sangat kosong itu, Faiz langsung menuju ke arah kamar nya yang ada di lantai bawah.
Faiz masuk ke dalam kamar nya dia melihat ada Nanda yang sekarang sedang rebahan sambil mengutak atik ponsel nya.
"Aku pulang" ucap Faiz.
"Kamu sudah dapat kerja" tanya Nanda.
"Belum" ucap Faiz berbohong dia tidak mau Nanda tau pekerjaan baru dia seperti apa.
"Ck kapan kamu akan bekerja mas" ucap Nanda.
"Kamu sabar dulu saja Nanda aku yakin satu hari nanti aku akan dapat pekerjaan" ucap Faiz.
__ADS_1
"Tapi kapan mas kau sangat lambat sekarang, percuma aku menikah dengan mu tapi kamu tidak bisa cari uang" ucap Nanda.
"Apa yang kamu bicarakan Nanda, kamu melupakan aku yang dahulu ya, kamu lupa kalau aku dahulu bekerja mati Matian untuk kamu" ucap Faiz.
"Oh ya kamu sangat itungan mas, harusnya menafkahi aku itu memang kewajiban kamu tapi kenapa kamu malah itungan seperti ini" geram Nanda.
"Bukan itungan aku hanya bicara hal yang benar" ucap Faiz.
"Sudah lah aku benci pada mu" ucap Nanda yang langsung memunggungi Faiz.
Namun Faiz melihat pada lukisan yang ada di sana, terlihat seperti lukisan bagus tapi Nanda menutupi lukisan itu dengan kertas kado.
"Nanda apa ini" tanya Faiz.
"Kepo" ucap Nanda.
Faiz akan melihat lulusan itu tapi dengan cepat Nanda langsung bangun dan mendekat pada Faiz.
"Itu lukisan aku, jangan sentuh barang itu aku akan simpan dengan baik" ucap Nanda.
"Terserah" ucap Faiz yang langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar itu.
Faiz langsung mandi guna untuk menghilangkan pikiran takut di dalam kepala nya.
Faiz bukan seorang kriminal apa lagi orang yang pandai untuk melakukan kejaha tan tapi karena butuh uang dia rela melakukan hal itu.
Flash back on.
Di rumah sakit itu sekarang Faiz tengah berpikir Sedang kan Diki menunggu Jawaban dari Faiz.
"Apa akan bahaya" tanya Faiz.
"Tidak mungkin kamu adalah dokter" ucap Diki.
"Tetap saja kan kalau aku ketahuan bagai mana" tanya Faiz.
"Kamu tenang saja lagi pula kamu juga akan di kawal" ucap Diki.
"Oh baik lah" ucap Faiz.
"Kau mau bekerja ini" tanya Diki memastikan.
"Boleh lah kalau aku di lindungi" ucap Faiz.
"Ya kau pasti aman, baiklah aku akan hubungi bos dan kamu bisa datang ke tempat di besok" ucap Diki.
"Baiklah" ucap Faiz sambil menatap pada alamat yang di tulis kan oleh Diki di atas secarik kertas.
Flash back off
Semua keluarga berkumpul di meja makan termasuk dengan Nanda dan Faiz juga, mereka semua makan bersama di meja makan.
"Faiz kamu sudah dapat pekerjaan" tanya Luthfi.
"Belum Abi" ucap Faiz.
"Oh tak apa nanti cari lagi, kalau kamu mau kamu bisa bekerja di perusahaan Abi" ucap Luthfi.
"Tidak Abi aku tidak biasa di perusahaan" ucap Faiz.
"Ya kalau kamu mau saja" ucap Luthfi.
"Mas kenapa gak di terima saja kita kan sedang butuh uang" ucap Nanda.
"Aku tak biasa kerja di perusahaan" ucap Faiz.
"Ck kamu ini menyebalkan" ucap Nanda kesal pada Faiz yang menurut dia sangat bo doh karena menolak pekerjaan dari Abinya itu.
"Tapi aku gak biasa, Abi kalau tak ada pekerjaan yang bisa aku dapat kan boleh aku masuk" tanya Faiz.
"Boleh" ucap Luthfi.
"Ya aku akan mencari dulu pekerjaan" ucap Faiz.
Sofi menatap pada Nanda yang sekarang terlihat sangat kesal pada suaminya itu.
"Ikuti saja apa yang Faiz mau Nanda" sahut Sofi.
Brakk
Nanda mengebrak meja dia langsung pergi dari sana tanpa bicara apa pun.
__ADS_1