
Setelah lama di sana akhirnya mereka mendapatkan kabar kalau Rena baru saja bangun dari pingsannya.
Rasa syukur terucap dari mulut semua orang yang ada di sana.
Tanpa berlama lama lagi mereka langsung melihat kondisi Rena yang sekarang sudah pasti sangat hancur.
Setelah semua nya masuk Yadna masih ada di sana bersama dengan Kathir.
Yadna mencoba menguatkan diri nya agar tak menangis di hadapan Rena, karena hal itu hanya akan membuat Rena semakin sedih saja.
Kathir jongkok di hadapan Yadna yang sekarang tengah duduk.
"Sabar ya" gumam Kathir.
"Tapi pak bagaimana kalau Umi melihat video itu, dia sudah sedih sekarang dan aku tidak mau dia semakin sedih" ucap Yadna.
"Aku akan pasti kan kalau mamah tidak akan melakukan hal itu" ucap Kathir.
"Tapi aku takut" ucap Yadna.
"Kamu tenang ya, tenang sekarang yang paling penting adalah kita melihat Umi kamu yang sekarang ada di dalam, ayo" ucap Kathir.
"Baiklah ayo" ucap Yadna.
Namun sebelum masuk Kathir membantu Yadna mengusap air mata nya yang masih ada di pipinya.
"Ayo kuatkan diri mu" ucap Kathir.
Sedangkan di dalam saat ini Rena tengah di peluk oleh Luthfi, tak ada yang bisa membuat Rena tenang sekarang kecuali Luthfi.
"Abi kenapa aku menerima musibah ini, dulu aku kehilangan Papah dan aku berusaha kuat hanya untuk mamah tapi sekarang aku kehilangan Mamah juga, sekarang aku yatim piatu" ucap Rena.
"Tidak kamu masih punya aku" ucap Luthfi.
"Tapi Abi" ucap Rena menangis sesenggukan karena tidak tahan lagi pada kenyataan yang pahit itu.
Sebenarnya anak anak yang ada di sana tak kuat menahan tangis apa lagi melihat Rena yang seperti itu.
Sangat susah untuk mereka agar tidak menetes kan air mata nya.
Arsala menatap pada Adiba yang sekarang ada di sana, dan terlihat kalau Adiba sangat tak kuat melihat pemandangan itu.
Arsala memegang tangan Adiba yang sekarang bergetar karena menahan tangisan.
Adiba menatap pada Arsala yang sekarang hanya menggeleng saja menguatkan Adiba untuk tidak bersedih.
"Umi anak anak akan menemani mu, aku akan membeli minuman untuk mu" ucap Luthfi.
"Abi aku butuh kamu" ucap Rena.
"Baiklah, anak anak tolong belikan minuman" titah Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna yang sekarang pergi dari sana meninggalkan tempat itu.
Kathir, Arsala dan Adiba juga ikut pergi karena mereka tidak mau menganggu kesedihan umi nya itu.
"Kenapa kita tidak melaporkan Kak Nanda ke polisi" tanya Adiba.
"Aku sudah melapor kan nya dan sekarang Nanda tengah menjadi buronan" ucap Arsala.
"Kak kamu dari mana saja" tanya Adiba.
"Aku dari perusahaan" jawab Yadna.
"Arsala bisa kita bicara" tanya Kathir menatap pada Arsala yang sekarang berjalan bersama dengan Adiba.
"Bicara apa" tanya Arsala menatap pada Kathir.
"Sesuatu" ucap Kathir.
"Baiklah ayo" ucap Arsala.
"Hey kalian mau ke mana" tanya Adiba karena melihat Arsala dan Kathir menjauh dari mereka.
"Tolong jaga Kakak mu" pinta Kathir menatap pada Adiba.
"Siap pak" ucap Adiba.
Sedangkan Kathir dan Arsala saat ini akan bicara tentang hal yang serius.
"Mamah aku dalang dari semua kejadian ini" ucap Kathir.
__ADS_1
"Mamah kamu" tanya Arsala.
"Ya mamah aku, dan aku yakin kalau kak Fathir juga melakukan ini karena mamah" ucap Kathir.
"Lalu bagaimana sekarang" tanya Arsala.
"Mamah aku mengancam katanya dia akan menyebar kan video itu, aku tidak tau video apa karena aku tidak melihat nya, tapi saat Adna melihat dia sangat syok" ucap Kathir.
"Lalu bagaimana sekarang" tanya Arsala.
"Kamu tau dia juga mengancam kamu, katanya dia akan membawa kamu dalam kasus ini" ucap Kathir.
"Bagaimana mungkin" tanya Arsala.
"Ya dan kemungkinan dia punya bukti cctv yang mengarahkan kalau kamu memu kuli Fathir" ucap Kathir.
"Apa aku akan di penjara" tanya Arsala.
"Entah tapi kemungkinan ya" ucap Kathir.
"Astaga mamah mu ja hat sekali" ucap Arsala.
"Rencana nya aku akan menikahi Adna dan sekarang aku gak mungkin melakukan hal ini kan karena Nenek kamu baru saja meninggal" ucap Kathir.
"Apa yang kamu mau setelah menikahi kakak ku" tanya Arsala.
"Aku akan membantah tuduhan itu" ucap Kathir.
"Aku gak percaya kamu bisa" ucap Arsala.
"Terserah tapi yang paling penting aku dan Adna bersama agar bisa mengalahkan Mamah" ucap Kathir.
"Ya baiklah, tapi tolong kita bicarakan ini lagi nanti karena sekarang aku sedang tidak mungkin membicarakan ini" ucap Arsala.
"Baiklah tapi kamu harus hati hati" ucap Kathir.
"Ya aku akan usahakan" ucap Arsala.
Sedangkan di dalam ruangan Rena, saat ini Luthfi tengah mati matian menahan tangisnya dia tidak bisa diam saja melihat istrinya menangis.
Namun jika bicara pun Luthfi pasti akan menangis, dia hanya bisa diam sambil mengusap usap kepala istri nya itu.
"Belum" jawab Luthfi.
"Aku penasaran kenapa Mamah meninggal" ucap Rena.
"Umi mungkin karena sudah takdir saja, tidak ada yang akan tau kapan datangnya kematian, dan penyakit itu hanya lah sebagai alasan saja kan, tapi tetap semua nya sudah di tentukan oleh takdir" ucap Luthfi.
"Ya Abi tapi kan kamu tau kalau Mamah seperti itu karena Nanda" ucap Rena.
"Tak apa tak usah terlalu mengalahkan aku yakin dia juga ketakutan sekarang" ucap Luthfi.
"Bagaimana dengan Faiz" tanya Rena.
"Aku belum bisa mengabari nya dan kemungkinan besar dia akan berangkat ke luar negeri sekarang" ucap Luthfi.
"Sayang sekali Faiz" gumam Rena.
**
Sedangkan di tempat lain saat ini Nanda yang ketakutan berada di salah satu kosan yang baru saja dia sewa kemarin.
Nanda tengah di bayang bayangi dengan kematian Nenek Sofi itu.
Apa lagi Nanda adalah pelaku utama nya.
"Tidak, tidak, tidak mungkin kalau aku yang salah dia kan sudah tua itu karena dia sudah tua kan, bukan karena aku dorong, tidak, tidak, aku hanya ketakutan karena aku sudah membentak nya bukan karena aku juga kan dia meninggal itu karena dia sudah tua saja kan, hahaha Nenek tua itu sudah tua dan sudah seharusnya dia meninggal" gumam Nanda stres memikirkan itu.
Bahkan sesekali Nanda juga ******* ***** rambut nya hingga membuat nya berantakan.
**
Dokter masuk ke dalam ruangan Rena yang sekarang ada di sana, Dokter itu datang dengan membawa hasil autopsi jenazah Sofi yang sudah meninggal itu.
"Selamat siang pak, dari hasil yang kami kumpulkan Ibu Sofi mengalami serangan jantung mungkin saja karena dia terjauh dan mengalami syok berlebihan hingga membuat dia terkena serangan jantung" ucap Dokter.
"Terima kasih Dok" ucap Luthfi.
"Ya kalau semisal mau di kremasi di sini silahkan mau di bawa pulang juga silahkan" ucap Dokter.
"Tolong kremasi saja di sini Dok soal memakam kan nya kami akan memakam kan nya di kuburan keluarga karena kebetulan suaminya juga ada di sana" ucap Luthfi.
__ADS_1
"Baik Pak" ucap Dokter.
Rena hanya bisa melamun saja karena tidak mungkin bagi nya untuk memutuskan sesuatu sekarang, apa lagi dia sangat rapuh.
Yadna dan Adiba datang ke sana sambil membawa kan minuman yang di minta Abinya.
"Umi minum lah" ucap Yadna.
"Yadna" ucap Rena yang langsung memeluk putri nya itu dan menumpahkan semua tangisan nya pada Yadna.
"Aku tidak sekuat ini Adna" ucap Rena.
"Sabar Umi" ucap Adiba yang sekarang hanya bisa membuat Uminya itu tenang.
Yadna sudah tidak kuat tubuh nya bergetar hebat menahan tangisan,.
"Tolong aku tidak ingin musibah lain datang" ucap Rena.
Yadna langsung ingat pada kenyataan diri nya yang sekarang tengah di ambang kebingungan.
"Ya Alloh aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Umi tau masalah aku" batin Yadna.
Ketakutan itu semakin menjadi jadi di dalam diri Yadna, sekarang dia tidak bisa menahan tangisannya itu.
"Umi aku ijin ke toilet ya" ucap Yadna yang langsung pergi dari sana karena takut dia menangis di hadapan Uminya.
Yadna keluar dari ruangan itu dia tidak masuk ke toilet dan dia masuk ke kamar jenazah yang di sana ada jenazah Neneknya di sana.
"Maafkan aku Nek, maaf atas segala dosa perdosaan aku yang sudah membuat mu kecewa atau membuat kamu terluka" ucap Yadna.
Bismillahirrahmanirrahim Allahummaghfir lahu warhamha wa'afihia wa'afu anhu, wa akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu. Semoga Allah Subhanallohu Wa Taala mengampuni segala dosa-dosanya, diberikan rahmat serta mendapat tempat terbaik baginya di surga, Amin.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, husnul khotimah untuk (Nenek Sofi binti Kosyim). InshaAllah mendapat surga terbaik di sisi-Nya, Amin" bisik Yadna berdoa di telinga Neneknya itu.
Yadna menumpahkan air matanya di sana, semua kekesalan, kekecewaan, kegagalan, kemarahan, ketidak mampuannya untuk membalas, dan menangisi nasib Yadna kedepannya.
"Sabar Nak" sahut seseorang yang datang ke sana.
"Ya Ibu" ucap Yadna menatap pada Ibu itu.
"Kau tau pedih rasanya menerima kenyataan ini, tapi mau bagaimana lagi takdir tak ada yang bisa menebak" ucap Ibu itu.
"Ya Ibu" ucap Yadna.
"Kamu masih muda jangan pernah merasa hidup mu akan berakhir saat kamu mendapatkan musibah, ayo bangkit dan hadapi semuanya, Alloh yakin kamu bisa makannya kamu di berikan derita sebesar ini" ucapnya.
Yadna membenarkan ucapan ibu itu apa lagi ada benarnya juga ibu itu, berkata seperti itu.
"Ya benar Yadna apa kamu akan menyerah sampai sini saja" gumam Yadna.
"Alhamdulillah ibu terima kasih motifasi nya" ucap Yadna.
"Tak apa semua orang juga punya masalah" ucap Ibu itu yang langsung pergi dari sana setelan berpamitan.
"Ya Yadna ayo bangkit lagi ini bukan kamu, kamu kuat kamu tidak lemah" ucap Yadna yang langsung mengusap air mata nya.
Kathir saat ini tengah mencari cari Yadna yang sekarang entah ada dimana.
Kathir tak berani masuk ke dalam ruangan yang ada orang tuanya Yadna karena dia merasa sangat malu pada abinya Yadna.
Kathir melihat ke arah kamar jenazah dia akan menunggu di sana dan benar saja ternyata Yadna ada di sana.
"Adna" sahut Kathir.
"Pak" ucap Yadna.
"Kenapa ada di sini sendirian" ucap Kathir.
"Pak ayo kita hadapi ini bersama" ucap yadna.
Kathir menatap pada Yadna yang sekarang terlihat sangat bersemangat.
"Ayo" ucap Kathir.
"Tapi apa kau akan membela aku Pak, bahkan pelakunya adalah mamah kamu" tanya Yadna.
"Aku berjanji tak akan pernah mengkhianati kamu" ucap Kathir.
"Syukur lah tadinya kalau kau tidak mau aku akan balas nyonya amta sendirian" ucap Yadna.
"Aku membela kamu" ucap Kathir.
__ADS_1