
Rena datang pada tempat di mana suaminya berada dia akan meminta penjelasan dari pesan yang dia baca itu.
"Gus aku baca pesan mu, katanya ada kebakaran emang kebakaran di mana" tanya Rena.
"Rena" ucap Luthfi terkejut karena Rena akan membaca pesannya.
"Aku baca semuanya aku harap kau bisa jelaskan" ucap Rena meminta penjelasan.
"Duduklah aku akan ceritakan" ucap Luthfi pasrah karena dia tak bisa berbuat apa apa lagi selain menjelaskan semuanya.
Rena duduk di samping Luthfi karena sekarang mereka akan di halaman pesantren.
"Beri tau aku" ucap Rena.
"Sayang lain kali jangan lihat hp aku tanpa beri tau dulu ya" ucap Luthfi.
"Kenapa kau berusaha menyembunyikan ini dari aku" tanya Rena.
"Ya aku memang berusaha menyembunyikan ini" ucap Luthfi.
"Ck baiklah ada apa" tanya Rena.
"Perusahaan kebakaran untung saja hanya dapur perusahaan saja yang terbakar aku gak tau ada apa tapi aku yakin kalau ada orang yang mau menghancurkan aku" ucap Luthfi.
"Siapa" tanya Rena.
"Entah aku gak mau sebut kan dulu sebelum aku tau kebenaran nya aku takut nanti jatuhnya fitnah" ucap Luthfi.
"Oh baiklah, jadi apa alasan mu tak memberi tau aku tentang hal ini" tanya Rena.
"Aku takut kau meminta aku untuk pulang" ucap Luthfi.
"Seharusnya ya kau pulang Gus ini perusahaan kamu tanggung jawab kamu jadi kamu harus ada di sana" ucap Rena.
"Aku gak mau pulang" ucap Luthfi.
"Gus ini tanggung jawab kamu" ucap Rena.
"Ini yang mau aku sembunyikan dari kamu, rencana nya aku akan pulang beberapa hari lagi aku masih mau di sini" ucap Luthfi.
"Tapi Gus bagaimana dengan perusahaan" tanya Rena.
"Aku akan minta Dimas untuk memberhentikan karyawan selama beberapa hari, aku akan datang ke sana dan membereskan semua nya, plis jangan suruh aku pulang" ucap Luthfi.
"Baiklah Gus aku ikut apa katamu saja, tapi aku harap lain kali kamu jangan berbohong lagi" ucap Rena.
"Ya janji" ucap Luthfi.
"Baiklah kita ke rumah Abah" ucap Rena.
"Ayo" ucap Luthfi.
Rena tak bisa memaksa lagi dia tak mau Luthfi semakin kepikiran karena masalah itu, dia tau betul bagaimana Luthfi dia akan sangat cepat untuk marah kalau tak pernah di dukung.
"Gus katanya hari ini akan ada sapi dan kambing untuk kurban, baik sekali orang itu mau menyumbang kan sapi dan kambing untuk pesantren ini" ucap Rena.
"Ya masih banyak orang baik Rena" ucap Luthfi.
"Ya Gus kau benar" ucap Rena.
"Gus Farid dan Gus Fauzi ngajak aku ngabuburit di luar kamu mau ikut" tanya Luthfi.
"Kak Ainun ikut gak" tanya Rena.
"Ikut" ucap Luthfi.
"Oh baiklah aku ikut" ucap Rena.
"Ya ayo" ucap Luthfi.
"Aku ikut karena aku gak mau suami ku di goda oleh wanita lain" ucap Rena cemburu.
"Aku gak mungkin tertarik pada orang orang itu" ucap Luthfi.
"Tetap saja, aku akan jaga kau dari mata mata mereka yang selalu memperhatikan mu" ucap Rena.
Luthfi terkekeh dia tak menyangka kalau istri nya itu akan sangat posesif seperti itu tapi Luthfi malah senang karena istri nya itu perduli padanya.
"Jangan marah marah nanti cepat tua" ucap Luthfi.
"Gak papa kalau aku jadi tua asal kamu juga jadi tua" ucap Rena.
"Ya saat tua nanti kau masih muda dan aku sudah keriput" ucap Luthfi.
"Kau ini" ucap Rena.
Terpaut usia yang berbeda dua belas tahun membuat Luthfi takut karena otomatis saat dia tua Rena masih akan sangat muda.
Dia takut Rena di ambil orang lain jadi dia rasanya tak mau menjadi tua.
Apa lagi umurnya dengan Adam cukup berbeda satu tahunan tapi Luthfi yang sudah tua itu belum juga punya Putra.
Sedang kan Adam yang tak lain adalah kakaknya Rena sekarang akan mempunyai anak yang tengah di kandung oleh istri nya.
Luthfi menatap pada perut datar Rena walaupun baru melakukan nya sekali tapi dia sangat ingin segera punya buah hati yang bisa membuat hubungan mereka semakin dekat dan semakin mencintai.
"Ada apa" tanya Rena.
"Tak ada rasanya aku mau punya anak" ucap Luthfi.
"Punya anak" tanya Rena.
"Sudahlah ayo aku harus bicara pada Abah" ucap Luthfi yang langsung membahas hal yang lain dia tak mau memaksakan Rena apa lagi dia tau kalau Rena masih sangat kecil untuk mengandung.
Rena hanya tersenyum saja dia tak paham apa yang baru saja Luthfi bicara kan padanya, dia rasa kalau Luthfi tak main main pada ucapannya.
"Bukan tak mau tapi aku masih terlalu kecil untuk punya bayi" gumam Rena.
Rena melihat ada kakak ipar nya yang tengah makan di ruang tamu, setelah melihat Rena dan Luthfi yang datang Zia langsung membawa makanan itu ke dalam kamar nya.
"Kak gak papa kalau mau makan, makan saja di sini" ucap Rena.
"Gak aku malu" sahut Zia dari dalam kamar.
Luthfi hanya tersenyum dia menarik istri nya untuk duduk di sana bersama dengan nya.
"Aku sangat mencintaimu" ucap Luthfi.
__ADS_1
"Aku juga" ucap Rena.
"Kalau nanti saat aku tua dan aku meninggal apa kamu akan mencari lagi pengganti aku" tanya Luthfi.
"Gak akan" ucap Rena.
"Terima kasih" ucap Luthfi.
"Kalau kamu" tanya Rena.
"Tergantung sih kalau ada yang seperti kamu maka aku akan menikah lagi" ucap Luthfi.
"Ish awas ya" ucap Rena.
"Kalau masih ada jodohnya sekuat apa pun kita menolak kalau Alloh meminta kau menikah lagi maka menikah lagi saja" ucap Luthfi.
"Ya aku tau tapi aku ingin setia pada satu orang, aku ingin kematian kita barengan aku gak mungkin bisa tanpa mu Gus" ucap Rena.
"Sayang mungkin takdir kita sangat berbeda jauh karena aku juga gak tau takdir apa yang akan aku dapatkan nanti" ucap Luthfi.
"Kau ini, baiklah aku akan bantu Umi masak buat buka puasa nanti" ucap Rena.
"Ya baiklah, Sayang bisa gak aku request" ucap Luthfi.
"Apa" tanya Rena menatap pada Suaminya yang masih duduk di sana.
"Aku mau kopi yang tempo lalu aku minum saat aku sedang puasa" ucap Luthfi.
"Baiklah aku akan beli nanti" ucap Rena.
"Terima kasih" ucap Luthfi.
Rena hanya tersenyum dia sebenarnya tak mau suaminya itu minum kopi karena Luthfi punya penyakit lambung tapi mau bagaimana lagi dia tak mungkin melarang nya apa lagi Luthfi yang memintanya sendiri.
Sore harinya mereka semua hendak ngabuburit di pasar malam di sana, biasanya pasar malam ada di hari Minggu saja tapi sekarang kan puasa jadi banyak yang ngabuburit ke sana jadi ada setiap hari sampai selesai puasa.
Ada Ainun juga di sana jadi Rena tak terlalu canggung karena ada wanita juga di sana, tadinya Rena mengajak Zia tapi sayang Zia tak bisa jalan jauh jauh karena dia tengah hamil.
katanya kakinya sering kali sakit padahal tak melakukan apa apa.
Rena melihat pada Zia yang ada di sana.
Rena mendekat pada Zia.
"Baiklah Bayi kau mau apa" tanya Rena pada perut Zia.
"Belikan saja aku yang enak" ucap Zia.
"Baiklah bayi, aku heran padamu kau masih di dalam kandungan tapi kau sudah tau makanan yang enak" ucap Rena.
"Ning awas ya" geram Zia tersenyum pada adik ipar nya itu.
"Aku berangkat ya kak" ucap Rena.
"Ya jaga diri" ucap Zia.
"Ya kakak" ucap Rena.
Mereka berangkat ke arah pasar malam yang tak terlalu jauh dari pesantren bahkan Farid sering kali datang ke sana karena sambil memantau para santri yang datang ke sana.
Abah takut terjadi sesuatu pada para santri jadi dia selalu menugaskan guru senior untuk mengikuti para santri khusus nya para santri putri.
"Ya dia memang tak kenal Manusia" ucap Luthfi.
"Mamah kita sama" ucap Farid.
"Ya mungkin kah kita anak nya tapi bukan anak nya" ucap Luthfi.
"Bukan begitu, kita anaknya tapi dia bukan ibu kita" ucap Farid.
"Ya kau benar" ucap Luthfi.
"Sudahlah jangan debat setidaknya kalian punya harta yang berlimpah" ucap Fauzi.
"Harta saja gak cukup Gus" ucap Farid.
"Betul Sebenarnya yang di inginkan seorang anak itu adalah kasih sayang yang nyata" ucap Luthfi.
Rena merasa sangat sedih namun dia menyembunyikan nya dengan tersenyum.
Rena juga bahkan tak mendapat kan kasih sayang orang tua nya.
Bahkan mamahnya Rena juga sekarang seakan tak perduli padanya.
Rena menghapus air matanya saat mereka membicarakan kasih sayang orang tuanya.
"Jangan di banding banding kan, kalian punya foto satu keluarga saja aku sudah kalah" ucap Luthfi.
"Ya kau benar" ucap Farid.
"Oh ya kita duduk di sana ayo" ucap Fauzi.
Di pasar sana ada tempat untuk duduk yang cukup luas sekali jadi mereka bisa menikmati sunset dari sana.
"Ning Rena kenapa bengong" tanya Farid.
Luthfi menatap pada Rena yang sekarang hanya melakukan saja.
"Ada apa Sayang" tanya Luthfi.
"CK kan begini nih gak mau nya gabung dengan orang yang sudah menikah, kalian bisa uwu uwuan sedangkan aku sendirian" ucap Farid.
"Makannya Nikah" ucap Fauzi.
"Ya nikah Gus" ucap Luthfi.
"Ya nanti Sekarang aku masih pdkt" ucap Farid.
"Sama siapa" tanya Fauzi.
"Janda di kampung sebelah Fau yang punya anak satu anaknya Bapak Abidin" ucap Ainun memberi tau kan semuanya.
"Ck tadinya kan mau di rahasia kan tapi terlanjur kalian tau juga gak papa lah" ucap Fauzi.
"Siapa" tanya Luthfi.
"Entah aku gak tau" ucap Fauzi.
__ADS_1
"Yang janda itu" ucap Farid.
"Bisa di kenalin" ucap Luthfi yang langsung mendapat kan cubitan dari Rena yang menyadari hal itu.
"Sakit" ucap Luthfi.
"Jangan genit" ucap Rena.
"Gak genit" ucap Luthfi.
"Awas" ucap Rena.
Mereka menikmati keindahan langit sore itu namun di sisi lain di sana ada dua orang wanita yang tengah memantau Rena dan Luthfi yang ada di sana.
"Apa kita akan labrak" tanya Nagita yang ada di sana bersama dengan Mayang.
"Ambil Poto bila perlu ambil video yang Luthfi sedang tersenyum dan tertawa" ucap Mayang.
Nagita yang melihat pun langsung melakukan apa yang Mayang perintah kan.
"Sudah Tante" ucap Nagita.
"Kirimkan pada nomor ini" ucap Mayang memperlihatkan nomor seperti nomor perusahaan yang tertera di sana.
Nagita mengirim kannya pada nomor itu karena di suruh oleh Mayang yang tak lain adalah ibunya Luthfi.
"Ayo kita pulang" ucap Mayang tersenyum bahagia.
"Tapi Tante kenapa kita gak labrak saja dia" ucap Nagita.
"Jangan kita harus main cantik" ucap Mayang.
"Ck Tante lalu kita naik mobil dengan perjalanan jauh untuk apa" tanya Nagita kesal.
"Ayo lah kamu juga akan tau nanti" ucap Mayang.
"Ya Tante" ucap Nagita.
Sedangkan Luthfi saat ini dia tengah menatap pada istrinya yang sangat bahagia itu.
"Kalian ngerasa gak kalau Gus Farid itu ganteng" tanya Fauzi.
"Emangnya kenapa" tanya Luthfi.
"Entah lah tapi aku rasa para wanita itu melihat ke arah Gus Farid" ucap Fauzi mengkode pada beberapa wanita yang melihat ke arahnya.
"Ah itu biasa aku kan terkenal" ucap Farid.
Rena melihat pada para wanita itu.
"Bukan ah mereka melihat ke arah Gus Fauzi" ucap Rena yang melihat dengan detail mata orang orang itu.
"Apa? berani sekali orang orang itu melihat suami ku, aku akan pasti kan mereka menanggung akibatnya" ucap Ainun yang marah dan hendak mendekat pada orang itu.
"Jangan" ucap Fauzi menghentikan istri nya.
"Bukan Ning mereka melihat Gus Luthfi" ucap Farid.
Rena melihat orang orang itu lagi setelah dia lihat ternyata benar mereka melihat pada suaminya yang hanya menatapnya.
"Mereka menatap mu" ucap Rena kesal.
"biarkan saja" ucap Luthfi.
"Mereka gak tau kalau kamu punya istri" ucap Rena yang masih kesal.
Lutfhi mendekat pada Rena dia langsung merangkul tubuh istri nya itu.
"Kamu istriku" ucap Luthfi.
Terlihat oleh Rena kalau orang orang itu langsung pergi dari sana karena kecewa ternyata Lutfhi sudah punya istri.
"Kenapa gak sama aku saja" gumam Farid.
"Mungkin pesona kamu kurang Gus" ucap Fauzi.
"Ya sudahlah ayo kita pulang sudah mau setelah Enam juga" ucap Luthfi.
"Ya ayo" ucap Farid.
Mereka pulang setelah membeli makanan, namun saat ini Luthfi lah yang banyak membeli makanan.
"Kamu mau makan sebanyak ini" tanya Rena menatap pada kresek kecil tapi banyak.
Dan isinya makanan yang sama.
"Tidak" ucap Luthfi.
Namun Luthfi mengeluarkan uang Beberapa lembar dia memberikan nya pada Kang kue basah yang banyak jenisnya.
"Setelah buka puasa tolong antara ke pesantren" ucap Luthfi.
"Oh baik Ustadz" ucap kang kue itu.
"Terima kasih" ucap Luthfi.
Mereka langsung pergi sana, Luthfi mengambil beberapa kantong kresek yang isinya makanan dari tangan Rena.
"Maaf kamu kesusahan, ambil ini empat" ucap Luthfi.
"Untuk apa" tanya Rena.
"Diamlah" ucap Luthfi.
Luthfi memberikan kantong kresek pada Farid.
"Ambil ini berikan pada Gus Fauzi dan kamu satu" ucap Luthfi.
"Wah terima kasih" ucap Farid.
"Aku akan pulang terlambat" ucap Luthfi.
"Oh baiklah" ucap Farid.
Rena heran pada suaminya dia tak paham pada jalan pemikiran Luthfi.
"Ayo kita ke suatu tempat" ucap Luthfi yang terlihat kesusahan dengan beberapa kantong kresek itu.
__ADS_1
"Mau kemana kita" tanya Rena.