
Di perjalanan sekarang mereka tengah menikmati pemandangan jalanan yang sangat indah tak di sangka ternyata mereka hampir sampai ke pesantren.
Luthfi sangat antusias saat melihat wajah istrinya yang sangat bahagia itu dia tak menyangka membahagiakan Rena sangat lah gampang.
"Kamu bahagia" tanya Luthfi.
"Tentu saja Terima kasih" ucap Rena.
"Sama sama" ucap Luthfi.
Sedangkan di kediaman Luthfi saat ini Mayang datang ke sana tapi sayang dia tak menemukan Luthfi atau pun Rena apa lagi dia juga di larang masuk oleh anak buah Luthfi yang menjaga di sana.
"CK Si al aku kalah cepat" geram Mayang.
"Nyonya ada apa" tanya Anak buahnya.
"Si Luthfi dan istri nya sudah pergi" ucap Mayang.
"kemana" tanya anak buahnya.
"Pasti ke kampung" ucap Mayang.
"Mau kita susul" tanya anak buah Mayang.
"Aku punya rencana" ucap Mayang tersenyum dia langsung pergi dari sana meninggalkan rumah Luthfi karena dia tak bisa masuk.
Sesampainya di pesantren, Rena dan Luthfi di sambut baik oleh para santri yang ada di sana apa lagi banyak yang merindukan Luthfi di banding Rena.
"Ning" sahut kakak ipar nya yang tengah hamil itu.
"Kak Zia" ucap Rena yang langsung memeluk Zia.
"Ada apa datang" tanya Zia menatap pada kedua pengantin yang masih baru itu.
"Mau main aja" ucap Rena.
"Huh sombong ya sekarang mentang mentang di kota" ucap Zia.
"Ga ada lah ayo ke rumah Abah" ucap Rena.
"Baiklah ayo, ajak suami mu" ucap Zia.
Rena yang tadinya memegang tangan Zia sekarang melihat pada Luthfi yang ada di belakang nya.
Rena mendekat pada Luthfi yang ada di sana tengah berdiri.
"Ayo ke rumah Abah" ucap Rena.
"Ayo" ucap Luthfi.
Luthfi ikut dari belakang dia tak mau menganggu momen kakak beradik itu.
Luthfi merasa sangat rindu pada pesantren apa lagi bertahun tahun dia hidup di pesantren.
Rasanya berat sekali meninggalkan pesantren ke dunia bebas, tapi apalah daya dia juga punya tanggung jawab yang harus dia laksanakan.
"Rasanya aku ingin berlama lama di sini" gumam Luthfi.
Mereka masuk ke dalam rumah Abah ternyata Abah juga ada di sana tengah membaca buku yang cukup tebal.
"Assalamualaikum Abah" ucap Rena dan Luthfi.
"Waalaikum salam kapan datang" tanya Abah.
"Barusan Abah" ucap Luthfi yang langsung menyalami tangan Abah begitu pun dengan Rena.
"Ayo duduk" ucap Abah.
Luthfi duduk di sana.
"Umi buatkan minum" sahut Abah.
"Jangan Abah aku puasa" ucap Luthfi.
"Oh maaf Abah gak tau" ucap Abah.
"Tak apa" ucap Luthfi.
Rena menatap pada suaminya itu, ingin sekali rasanya Rena tertawa sangat ingat ucapan Luthfi saat dia meminum kopi tadi pagi.
"Kamu puasa" tanya Zia pada Rena.
"Tidak aku sedang datang bulan" ucap Rena.
"Bagaimana kalau kita ke warung sebelah" ucap Zia.
"Baiklah ayo" ucap Rena.
Mereka berdua pergi untuk jajan ke warung sebelah pesantren, sedang kan Luthfi masih ada di sana karena tengah mengobrol dengan Abah.
"Bagaimana apa Ning Rena menyusahkan" tanya Abah.
"Tidak Abah dia sangat membantu aku, dia juga menemani aku setiap malam" ucap Luthfi.
"Syukurlah kalau kamu tidak merasa keberatan pada Rena" ucap Abah.
"Dia istri saya Abah mana mungkin aku keberatan, justru yang aku takutkan adalah Ning Rena yang bosan pada ku" ucap Luthfi.
__ADS_1
"Kenapa bosan" tanya Abah.
"Ya Abah aku takut Ning Rena bosan karena kerjaan aku hanya diam saja di rumah" ucap Luthfi.
"Jangan terlalu berlebihan Abah yakin Ning Rena tak akan melakukan hal itu" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Luthfi.
Sedangkan Rena saat ini dia tengah jajan bersama dengan kakak iparnya,
"Bagaimana kabar kamu" tanya Zia.
"Aku baik" ucap Rena.
"Maksudnya pernikahan kamu" tanya Zia.
"Baik cukup baik" ucap Rena.
"Aku yakin pasti kalian belum melakukannya kan" tanya Zia.
"Kakak ish jangan kencang kencang aku malu" ucap Rena.
"Ya ya aku pelan kan suara Aku" ucap Zia.
"Kami belum melakukan nya, kakak bayangkan saja aku datang bulan" ucap Rena.
"CK ya pengantin baru memang itu halangannya" ucap Zia.
"Ya aku juga gak tau" ucap Rena.
"Kapan selesainya" tanya Zia.
"Mungkin sekarang" ucap Rena.
"Kamu mau gak aku kasih caranya" ucap Zia.
"Emang boleh" tanya Rena.
"Tentu saja aku gak akan mematok harga" ucap Zia.
"Baiklah apa" tanya Rena.
"Sebenarnya mungkin laki laki pesantren ini kurang memuaskan seorang wanita" ucap Zia.
"Maksudnya" tanya Rena.
"Ya dulu juga Gus Adam begitu dia sangat kaku seperti gak tertarik pada wanita, untung saja aku punya trik nya untuk membuat Gus Adam bertekuk lutut pada ku" ucap Zia.
"Bagaimana caranya" tanya Rena.
"Malam ini kamu dekati Gus Luthfi, aku yakin dia gak akan menolak, kamu raih tangannya setelah itu cium, jangan lupa kamu buka kemejanya satu persatu" ucap Zia.
"kamu buka saja bajunya apa susahnya ya kan" ucap Zia.
"Ya lalu" ucap Rena.
"Kamu kecup lehernya aku yakin dia pasti akan luluh" ucap Zia.
"Apa tidak terkesan pemberani" tanya Rena.
"CK kamu ini Ning, kamu istri nya kamu bebas melakukan apa saja, lagi pula badan Gus Luthfi juga sudah menjadi milik kamu semuanya" ucap Zia.
"Ya aku tau, tapi bagaimana kalau dia berontak" tanya Rena.
"Kau ce kik saja kalau dia berontak" ucap Zia.
"Ish kak Zia ini, kalau aku ce kik gak jadi dong malam pertamanya" ucap Rena.
"Ya setelah itu kau berbaring di atas ranjang, aku yakin Gus Luthfi paham" ucap Zia.
"Aku malu" ucap Rena.
"Kenapa malu" tanya Zia.
"Malu kak tatapan Gus Luthfi itu sangat menakutkan" ucap Rena.
"Itu tatapan kalau dia sayang pada mu" ucap Zia.
"Kakak ini gak paham" ucap Rena.
"Kamu yang gak peka" ucap Zia.
"WOOOYYY" Sahut Farid yang membuat Zia dan Rena terkejut bukan main.
"Gus Farid" geram Zia.
"Lagi ngomongin apa" tanya Farid.
"Kepo" ucap Zia.
"Awas Ning, kakak ipar mu itu lagi suka marah marah" ucap Farid.
"Kenapa" tanya Rena.
"Karena Gus Adam nya gak jadi pulang" ucap Farid.
"Kenapa gak jadi" tanya Rena.
__ADS_1
"Ya mungkin Gus Adam belajar nya jadi beberapa bulan lagi" ucap Farid.
"Sibuk saja kamu" ucap Zia.
"Jangan marah marah Zia, ingat kata Umi kalau lagi hamil itu gak boleh benci sama orang lain nanti bayinya mirip seperti orang yang kamu benci bagaimana" ucap Farid.
"Gak papa nanti bayinya jadi bayi kamu Gus Farid aku buat lagi sama Gus Adam" ucap Zia.
"Ish ish aku gak mau ah selera aku itu janda pirang" ucap Farid menyombong diri karena dia pikir seleranya bagus.
"Janda pirang" ucap Zia tertawa.
"Jangan tertawa selain selera aku tinggi, menikahi janda itu kan bagus" ucap Farid.
"Diam lah Gus kau ini sangat sibuk" ucap Zia.
"Terserah lah aku mau ngajar, setelah aku kamu ngajar ya" ucap Farid.
"Ya ya" ucap Zia.
Farid Pergi dari sana meninggalkan Rena dan Zia yang masih memakan seblak pedas di sana.
"Kak jangan banyak makan pedas nanti kamu sakit perut" ucap Rena.
"Gak akan" ucap Zia.
"Oh ya kak aku mau cerita boleh kan, tapi jangan bilang siapa siapa ya" ucap Rena.
"Ya ada apa" tanya Zia.
"Kemarin mamahnya Gus Luthfi datang dia memberikan uang satu koper, katanya ambil ini dan jauhi Gus Luthfi" ucap Rena.
"Kenapa kau tak ambil saja uangnya" ucap Zia.
"Kak aku serius loh" ucap Rena tersenyum.
"Begini orang lain mau suka atau tidak pada kita biarkan saja karena kita gak harus menuntut orang lain untuk suka pada kita, kamu dengar ini, Ning kalau kamu masih bisa bertahan kamu bertahan jangan dengarkan orang lain kecuali kalau Gus Luthfi sendiri yang meminta mu untuk pergi jadi kamu pergi saja" ucap Zia.
"Dia sepertinya tak suka pada ku" ucap Rena.
"Tak apa kamu jangan dengarkan anggap saja ini adalah rencana Alloh supaya kamu dan Gus Luthfi semakin dekat" ucap Zia.
"Amin" ucap Rena.
"Jangan dengarkan kamu harus kuat jangan menyerah" ucap Zia.
"Ya kak" ucap Rena.
"Dulu aku juga tak ada orang yang suka, tapi aku yakin di balik orang yang tak suka ada orang yang sangat suka padaku" ucap Zia.
"Ya kak mungkin aku terlalu bawa perasaan ya" ucap Rena.
"Ya acuhkan saja Ning mereka gak berguna bagi kita" ucap Zia.
"Tapi aku takut mereka melakukan sesuatu untuk memisahkan aku dan Gus Luthfi" ucap Rena.
"Kamu yakin saja Ning, Alloh gak akan mungkin memberikan hamba-nya suatu ujian melebihi batas kemampuan hamba-nya" ucap Zia.
"Ya kak" ucap Rena.
"Baiklah ayo kita ke pesantren aku ada kelas sekarang" ucap Zia.
"Baiklah ayo" ucap Rena.
Mereka pergi masuk ke pesantren namun Rena melihat ada suaminya yang masuk ke dalam kamar santri putra.
"Gus" ucap Rena.
Luthfi melihat ke arah belakang.
"Ya" ucap Luthfi.
"Kak aku ke sana ya" ucap Rena.
"Ya" sahut Zia.
Rena berjalan ke arah Luthfi yang akan masuk ke kamar para santri putra.
"Mau ke mana" tanya Rena.
"Kamar" ucap Luthfi ketus dan dingin.
"Tuh kan kulkas seribu pintu kembali lagi" gumam Rena.
Luthfi hanya tersenyum tipis dia mendengar ucapan Rena yang sudah pasti membicarakan dirinya.
"Gus" ucap santri putra yang ada di sana.
"Ya" ucap Luthfi tersenyum.
Rena mengikuti suaminya dari belakang karena dia tak mau di tahan oleh penjaga kamar santri putra karena masuk sembarangan.
"Kita akan tidur di mana" tanya Rena.
"Kamar" ucap Luthfi.
"Ya maksud aku kamar yang mana" tanya Rena.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Luthfi hal itu yang membuat Rena sangat marah padanya.
"Ish" gumam Rena.