
Pagi ini Rena bangun kesiangan karena semalam Faiz sering nangis.
Luthfi juga terlihat melaksanakan shalat nya di kamar karena tidak keburu datang ke mesjid.
"Syukur lah Faiz sekarang tertidur" ucap Rena.
Rena berjalan ke arah kamar mandi santri putri yang tak jauh dari kamarnya.
Rena melihat ada para santri putri yang tak melaksanakan Sholat karena halangan.
"Aku lihat kalau Gus Luthfi menampar adiknya".
"Lalu apa mungkin Gus Luthfi juga kasar ya pada Ning Rena".
"Tidak mungkin Ning Rena itu wanita yang sangat paham pada agama jadi mana mungkin membiarkan suaminya melakukan hal itu pada nya".
"Mungkin mereka ada masalah".
"Tidak aku tidak yakin akan hal itu".
"Tapi ini beneran".
"Aku sangat menyayangkan sikap Gus Luthfi".
"Ga heran karena kan dari dulu juga Gus Luthfi memang kasar dan ketus".
plakk
Fadly datang ke sana dan langsung memukulkan tongkatnya pada dinding yang ada di kamar santri putri.
"Gosip" sahut Fadly.
"Gus apa sih" ucap santri putri.
"Segera bersiap jangan menggosip lagi" ucap Fadly.
Para santri itu langsung bubar.
"Heran dengan ulah mereka" gumam Fadly.
Namun Fadly melihat ada Rena di sana, Fadly langsung tersenyum.
"Ning" ucap Fadly menyapa.
"Gus" ucap Rena tersenyum dan langsung menuju ke arah kamar mandi.
"Astagfirullah mereka menggosipkan Gus Luthfi di hadapan Istri nya, sungguh mereka tidak tau tempat" gumam Fadly.
Rena tak terlalu mementingkan hal itu, sudah jelas jelas mereka itu salah paham dan tidak mungkin Luthfi akan melakukan hal itu.
Namun menurut Rena wajar saja kalau seorang kakak memarahi adiknya karena adiknya salah, tapi jika harus menampar Gladys tentu saja Gus Luthfi juga salah.
"Astaghfirullah" gumam Rena.
Rena melaksanakan sholat di kamarnya, Rena sangat takut kalau Faiz akan menangis karena terbangun.
Luthfi menatap pada Rena yang sangat sabar menghadapi semua ini, jujur saja Luthfi sangat menyesal melakukan hal itu, namun kemarin dia sangat marah hingga dia tidak sengaja melakukan hal itu pada Gladys.
Sungguh marah membuat seorang manusia lepas kendali, maka penting nya mengontrol emosi itu mungkin untuk ini karena setelah kita lepas kendali maka kita akan melakukan apa pun yang di rasa benar.
Padahal saat marah kita akan sangat mudah di kuasai oleh pemikiran pemikiran yang buruk.
Jadi satu hal yang harus kita hindari, jangan pernah mengambil keputusan saat marah.
Jika tidak bisa mengontrol emosi lebih baik diam atau pergi saja, karena jika kita salah mengambil keputusan maka kita yang akan menyesal nantinya.
Rena mendekat pada Luthfi dia langsung menyalami tangan Luthfi.
"Maafkan aku" ucap Luthfi.
"Untuk apa" tanya Rena.
"Karena aku sudah melakukan hal yang tidak pantas, jujur aku marah pada Gladys apa lagi dia berani sekali melakukan hal itu pada Faiz yang masih kecil, aku tau kalau para santri membicarakan aku, dan aku yakin kamu juga tau, Maafkan aku karena kebodo han aku kau jadi malu" ucap Luthfi.
"Tak apa Gus, aku tau kamu hanya sedang marah saja" ucap Rena.
"Ya tapi aku sudah melebihi batas, aku bahkan jadi buah bibir di pesantren ini" ucap Luthfi.
"Mereka tidak akan tau masalah awalnya, jadi wajar saja mereka menilai kamu salah karena mereka tidak tau awal mula kejadian ini" ucap Rena.
"Ya mungkin begitu tapi aku yakin kalau kamu pasti malu" ucap Luthfi.
"Segera lah minta maaf, oh ya kemarin saat aku tanya Gladys sangat menyesal melakukan hal itu tapi katanya dia sangat muak pada Faiz, aku tau Gus sulit menerima hadiah dari orang yang sudah menghancurkan kita, dan mungkin sama hal nya dengan Gladys walaupun Faiz anak kandung dia tetap saja kan ayahnya adalah kak Abimana orang yang paling Gladys benci" ucap Rena.
"Aku baru ingat pada hal itu, tapi tetap dia salah" ucap Luthfi.
"Sudah jangan egois, kamu saja yang minta maaf" ucap Rena.
__ADS_1
"Ya" ucap Luthfi.
Dengan bergegas Luthfi langsung menuju ke arah kamar Gladys di sana ada Fadly yang menjaga kamar santri putri.
Karena seperti biasa santri putri ada yang tidur lagi setelah melaksanakan Sholat subuh.
"Gus" sapa Luthfi.
"Mau kemana" tanya Fadly.
"Bertemu dengan adik ku" ucap Luthfi.
"Aku antar" ucap Fadly.
"Baiklah terima kasih" ucap Luthfi.
"Oh ya Gus, aku mau tanya tapi tolong jangan tersinggung ya" ucap Fadly.
"Ya ada apa" tanya Luthfi.
"Adik Gus Luthfi, apa sudah menikah" tanya Fadly.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu tentu saja membuat Luthfi terkejut, Luthfi menghentikan langkahnya sebentar.
"Belum" jawab Luthfi.
"Gus bukan nya aku ikut campur tapi adik mu terkesan seperti wanita gatal, Gus aku pernah melihat dia menggoda pemuda yang datang ke warung itu, bukan apa apa Gus tapi kamu juga tau kan bagaimana sikap warga pada pesantren ini, hal ini akan menjadi Boomerang bagi pesantren karena sudah pasti kalau nama pesantren ini akan buruk" ucap Fadly.
"Oh ya apa Gladys melakukan hal itu" tanya Luthfi.
"Sumpah demi apapun Gus, aku melihat nya langsung tapi Gus tujuan aku membicarakan ini bukan untuk memperkeruh keadaan tapi aku hanya akan meminta ijin pada mu untuk menjaga nya atau bila perlu aku juga akan mengajari dia" ucap Fadly.
"Kamu mau" tanya Luthfi.
"Aku mau, tapi resiko nya aku pasti akan keras mengajari santri, aku tidak akan minta uang Gus tapi aku hanya meminta ijin mungkin dengan ijin mu aku akan menegur dia jika dia mendekati laki laki termasuk Gus Farid" ucap Fadly.
"Ya baiklah terima kasih Gus kau sangat baik" ucap Luthfi.
"Gus aku juga punya adik dan adik ku bahkan lebih parah dari itu" ucap Fadly.
"Oh ya" tanya Luthfi.
"Ya jadi kalau aku melihat Adik mu aku selalu teringat pada adik ku yang sama sangat na kal dan tak punya tata Krama, orang tua ku bahkan sudah melepas kan tanggung jawab adik ku, ya kalau di pikirkan orang tua yang mana yang akan rela melihat anaknya menjadi pela cur" ucap Fadly.
"Astaghfirullah" ucap Luthfi.
"Ya maka dari itu aku akan mengajari adikmu, Dia mau datang ke pesantren bahkan adik mu juga sudah sedikit dikit belajar jadi aku sangat senang melihat nya" ucap Fadly.
"Ya, silahkan Gus kalau mau bicara aku akan tunggu di sana" ucap Fadly yang langsung pergi dari sana.
Luthfi mengetuk pintu kamar Gladys, saat ini kamar Gladys ada di paling ujung barisan ke lima dari kamar yang lain.
Jaraknya lumayan jauh dari rumah Abah.
Tokk
Tokkk
"Gladys" Sahut Luthfi.
Cklek.
Pintu terbuka menampakkan Gladys yang ada di sana.
"Gladys" ucap Luthfi.
"Ada apa" tanya Gladys sedikit ketus.
"Aku mau meminta maaf" ucap Luthfi.
"Maaf untuk apa" tanya Gladys.
"Maaf karena sudah menampar mu kemarin aku tau aku salah" ucap Luthfi.
"Ya tak apa" ucap Gladys.
"Kamu memaafkan aku" tanya Luthfi.
"Ya, lagi pula aku juga salah karena sudah melakukan hal itu pada bayi itu, aku juga ingin berubah aku ingin menjadi orang baik" ucap Gladys.
"Syukurlah kalau kamu menjadi seperti itu" ucap Luthfi.
"Ya kamu tenang saja" ucap Gladys.
"Tolong jangan pernah menggoda laki laki lagi, mulai sekarang Gus Fadly akan mengajari mu" ucap Luthfi.
"Ya" ucap Gladys.
__ADS_1
Di kota saat ini Revan merasa sakit mungkin karena kemarin dia tidak makan jadi dia merasakan tak enak badan.
Brakk
Pintu kamar Revan ada yang membuka paksa dari arah luar.
"Revan ini ponsel mu" ucap Nagita.
Namun Revan hanya diam saja dia tidak menjawab rasanya Revan sangat lemas sekali.
"Ada apa" tanya Nagita yang aneh melihat tingkah Revan yang terlihat seperti pendiam.
Revan hanya diam saja sambil menutup mata nya dan menarik selimut nya supaya menutupi seluruh tubuhnya yang merasakan kedinginan.
Nagita yang sudah bertahun tahun bekerja di rumah sakit, dia paham kalau saat sakit para pasien nya akan melakukan hal seperti itu untuk membuat tubuh nya nyaman.
"Kamu sakit" tanya Nagita.
Namun tak ada jawaban dari Revan, tanpa permisi Nagita langsung menarik selimut itu dan memegang kening Revan.
Terlihat kalau badan Revan menggigil kedinginan.
"Kamu sakit" ucap Nagita.
Nagita menghela nafas nya kasar, Nagita mengambil kan obat penurun panas serta kompres untuk menurunkan panas pada badan Revan.
Namun Nagita lupa untuk memberikan Revan makan dia malah langsung menyuruh Revan memakan obat penurun panas itu.
"Minumlah obat ini" ucap Nagita.
Revan hanya Patuh saja pada ucapan Nagita apa lagi Nagita seorang dokter dan tak mungkin Nagita salah.
Revan meminum obat itu dengan air panas yang di bawakan oleh Nagita.
Revan berusaha menahan air panas itu supaya tidak dia muntahkan walaupun lidahnya terasa seperti terbakar.
"Sudah" tanya Nagita yang di balas anggukkan kepala oleh Revan.
Revan merebahkan kembali tubuh nya, Nagita mengompres kening Revan dengan Kompresan.
Revan hanya bisa diam saja apa lagi saat ini badannya terasa sangat panas dan tidak nyaman.
Nagita ingat sesuatu dia langsung menatap pada Revan yang sekarang memejamkan mata nya.
"Kamu sudah makan" tanya Nagita.
Revan menggeleng kan kepala nya.
"Aish astaga kamu sangat menyebalkan" ucap Nagita yang langsung menuju ke arah dapur mengambil nasi dan lauk pauk.
Nagita membawa kembali ke dalam kamar Revan.
"Ayo makan" ucap Nagita menyimpan piring yang berisi nasi itu di atas laci yang ada di samping Ranjang.
Revan tak kuat untuk bangun dia merasa sangat lemas, Revan bahkan merasa sangat pusing.
"Ayo bangun" ucap Nagita.
"Aku tidak bisa bangun" ucap Revan dengan suara perlahan.
"Aku bantu" ucap Nagita dengan nada ketus, Nagita membantu membangun kan Revan karena saat ini Revan harus makan.
"Ayo makan" ucap Nagita memberikan piring itu pada Revan.
Revan tak bisa memakan makanan itu sendirian, Nagita paham dia langsung menyuapi Revan yang sekarang sangat memprihatinkan apa lagi wajah Revan yang pucat membuat dia semakin terlihat semakin memprihatinkan.
"Ayo makan" ucap Nagita.
"Kau tidak bekerja" tanya Revan.
"Mana mungkin aku kerja kalau kau sakit, bagaimana kalau papah tau aku bekerja di saat kamu sakit begini bisa bisa aku kena marah" ucap Nagita.
"Tenang saja aku akan yakinkan papah untuk tidak marah pada mu" ucap Revan.
"Bagaimana cara nya" tanya Nagita.
"Aku bisa mengatasinya" ucap Revan.
"Tidak aku akan diam di sini" ucap Nagita kekeuh, Nagita sangat takut kalau Hartanya di ambil oleh papahnya.
Nagita belum siap untuk menjadi orang miskin apa lagi banyak yang mau Nagita kerjakan sekarang.
Bahkan saking takutnya Nagita juga membatalkan rencana nya untuk berpisah dengan Revan.
Nagita menatap wajah Revan yang sekarang terlihat sangat tampan, tak heran karena selama ini juga Revan sangat tampan tapi sayang nya Nagita tidak melihat nya.
"Makan lah" ucap Nagita memandang wajah Revan.
__ADS_1
"Ya" ucap Revan sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulut nya.
Revan tak sangka kalau Nagita akan baik padanya.