
Pagi ini Rena sudah sibuk memasak di dapur dengan di bantu oleh Yadna yang sejak pagi sudah bangun.
"Bagaimana pekerjaan mu" tanya Rena.
"Alhamdulillah lancar mah aku suka menjadi sekretaris di sana" ucap Yadna.
"Baguslah kalau begitu" ucap Rena.
"Ya dan katanya bos baru akan datang satu Minggu lagi jadi aku akan istirahat dulu sebelum bekerja lagi nanti nya" ucap Yadna.
"Bekerja pada orang lain itu harus jujur, amanah, cekatan, dan tanggap Yad, terkadang mau kita baik atau buruk tetap saja akan ada orang yang akan membenci kita, hanya satu pinta umi Yad, Umi hanya mau kamu menjadi orang yang sabar dan ikhlas menerima apa pun ya, dan ingin satu hal jangan pernah buat orang lain menyesal karena bersama dengan mu tapi buat orang lain menyesal karena telah meninggal kan mu" ucap Rena.
"Ya Umi aku paham" ucap Yadna.
"baguslah" ucap Rena.
"Oh ya Umi aku di tempat pekerjaan aku di panggil Adna tak apa kan" tanya Yadna.
"Tak apa" ucap Rena.
Nanda datang ke sana dia langsung duduk di meja makan, Nanda mengambil beberapa makanan yang sudah matang di sana.
Nanda mencoba makanan mie goreng yang sengaja Rena masak karena mie goreng dan sosis kesukaan Arsala.
Tapi sayang Nanda langsung mendekat pada Yadna dan mengambil bubuk cabe yang ada di toples.
Nanda menaburkan bubuk cabe itu pada mie yang ada di sana.
"Astaghfirullah kakak ipar kenapa di pakaikan bubuk cabe" tanya Yadna.
"Ini tidak pedas" ucap Nanda.
"Tapi Arsala tidak suka makanan pedas" sahut Yadna.
"Ribet sekali sih, tinggal cuci saja mie nya kalau gak suka pedas" ucap Nanda yang langsung memakan mie itu.
Rena mengusap punggung Yadna yang sekarang sedang marah itu.
"Sudah tak apa" ucap Rena.
"Tapi Umi kita susah payah untuk membuat nya" ucap Yadna.
"Tak apa Ya ayo siapkan saja makanan yang lain" ucap Rena.
Nanda hampir memakan seperempat mie yang ada di piring yang cukup besar itu, dia tak memakannya dengan nasi jadi wajar saja kalau dia tidak akan kenyang jika hanya memakan mie saja.
Nanda menyeduh kopi yang ada di sana dia langsung meminum nya sambil melihat hpnya yang menayangkan video video lucu.
Nanda bahkan memakan makanan yang baru saja mertua nya itu hidangkan.
Nanda merasa sangat kenyang karena hampir menghabiskan setengah dari makanan yang akan di makan.
Nanda berjalan ke arah televisi dia langsung menonton televisi di sana.
"Orang itu" geram Yadna.
"Sudah" ucap Rena.
"Umi kenapa umi masih diam saja, ayo lawan dia Umi bila perlu Umi kutuk saja dia menjadi monyet" ucap Yadna.
"Sudah jangan bicara lagi" ucap Rena.
"Ck Umi sampai kapan kamu mau mengalah" batin Yadna kesal karena mamahnya merasa sangat sabar menghadapi orang orang seperti Nanda.
Luthfi datang ke sana dia melihat Istrinya yang sekarang sedang memasak.
"Umi masak apa saja" tanya Luthfi.
"Masak ini" jawab Rena.
"Banyak sekali masaknya" ucap Luthfi.
"Ya Abi, kan ada anak anak juga" ucap Rena.
"Biarkan anak anak yang masak sendiri" ucap Luthfi.
"Ya Umi biarkan parasit itu masak sendiri" ucap Yadna.
"Parasit, siapa" tanya Luthfi.
"Parasit Abi" ucap Yadna tidak dia lanjut kan karena ada Faiz yang datang ke sana.
"Umi mau ke rumah Nenek" tanya Faiz.
"Nenek" tanya Rena.
"Ya Nenek Mayang" ucap Faiz.
"Umi baru beberapa hari ke sana, Alhamdulillah di sana ada Bibi Gladys jadi Umi tidak terlalu khawatir, tinggal Umi lihat Nenek Sofi saja" ucap Rena.
"Nenek Sofi sekarang di mana" tanya Faiz.
"Ada di rumah nya dia bersama dengan Kakek Herman, mereka tengah menikmati kebersamaan di hari tua mereka" ucap Rena.
"Romantis sekali" ucap Yadna.
"Ya makannya mencari pasangan itu harus yang sungguh sungguh agar kita bisa menua bersama" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna.
Setelah selesai memasak mereka makan bersama di meja makan, Arsala tadinya sangat antusias karena melihat Uminya memasakan makanan yang sangat dia sukai tapi ternyata makanan nya pedas.
Arsala tadi nya tidak kuat tapi dia tidak bisa mengabaikan hal yang di buat oleh Uminya.
Arsala memaksakan memakan mie itu cukup banyak.
"Arsa tumben makan pedas kamu suka pedas" tanya Faiz yang ikut makan bersama.
"Aku suka Mie jadi jangan banyak tanya" ucap Arsala.
"Lagi pula enak kan mie yang pedas dari pada yang original seperti sedang sakit saja" ucap Nanda.
"Tapi Arsala tidak suka pada pedas" ucap Yadna.
"Maka sih" tanya Nanda.
Yadna hanya diam saja dia tak mau berdebat dengan kakak ipar nya itu, apa lagi Nanda sangat menyebalkan.
"Hari ini Umi dan Abi akan melihat Nenek Sofi kalau kalian mau ikut ayo" ucap Rena.
"Umi aku gak akan ikut kayanya ada pelajaran yang harus aku kerjakan" ucap Adiba.
"Ya tak apa" ucap Rena.
"Aku juga gak akan ikut Umi, aku akan rebahan aku akan menikmati hidup" ucap Yadna.
__ADS_1
"Ya terserah kamu" ucap Rena.
"Aku ikut ah" ucap Waffi.
"Kami juga ikut Umi" ucap Faiz.
"Ah gak aku mau" geram Nanda yang tidak suka pada Nenek dari mertuanya itu.
Apa lagi Sofi sering kali marah marah pada Nanda karena Nanda tidak sopan.
"Ikut saja" ucap Faiz menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
"Terserah" gumam Nanda.
Siangnya mereka langsung berangkat sedang kan Arsala, Adiba dan Yadna ada di sana karena tidak ikut saat ini Arsala dan Adiba akan bekerja kelompok karena ada tugas yang tak mereka Paham.
Mereka duduk di ruang tamu, sedang kan Yadna sekarang tengah rebahan di kamarnya dia ingin sekali bebas sekarang karena waktu istirahat nya hanya satu Minggu saja.
Yadna memutuskan untuk mendengarkan ustadz yang sedang ceramah di aplikasi online nya, Yadna sangat suka pada ceramah ceramah ustadz yang ada di aplikasi.
",islam adalah agama yang mengutamakan ilmu. Islam mengangkat derajat siapa saja orang-orang yang berilmu dan menuntut ilmu.
Namun, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang mengetahui segalanya. Menurut beliau, manusia yang mengetahui segala sesuatu itu salah dan tidak ada. Karena, hanya Allah semata yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu.
Jenjang pendidikan tidak bisa membatasi seseorang untuk menuntut ilmu. Umur tidak membatasi apabila ia mau melakukannya dengan sungguh-sungguh.
.
Pada zaman yang dipenuhi dengan teknologi ini, manusia bersandar kepada suatu benda hingga membuatnya terlupa dengan hal yang penting. Padahal, teknologi hanyalah suatu sarana untuk membantu manusia dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Teknologi bukan untuk mendapatkan apapun yang diinginkan dengan spontan dan praktis.
Dan seharusnya dengan adanya tekhnologi ini sebagai seorang manusia kita bisa semakin hebat dalam mencari ilmu berilmu.
Yadna mendengar kan ceramah sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur, Sekarang Yadna sangat suka pada ceramah tetapi dia belum bisa mengikuti pengajian karena dia terlalu sibuk dengan dunia.
"Senangnya hidup ini" gumam Yadna.
Sedang kan di ruang tamu saat ini Arsala merasakan sakit pada perut nya, Arsala sangat tak tahan pada pedas namun tadi dia tak mau Uminya tersinggung kalau Arsala bilang mie itu sangat pedas.
Adiba menjelaskan pelajaran itu pada Arsala tapi sayang Arsala sangat tak bisa menahan rasa sakit pada perut nya itu.
"Astaghfirullah" ucap Arsala.
"Ada apa" tanya Adiba yang baru sadar kalau Arsala seperti kesakitan.
"Perut aku sakit" ucap Arsala.
"Aku antar ke kamar mandi" ucap Adiba.
"Adiba aku sangat ingin ke kamar" ucap Arsala yang semakin tak tahan, dia langsung menuju ke arah kamarnya untuk buang air besar.
Adiba membuat kan teh pahit untuk Arsala berharap kalau Arsala bisa sembuh karena teh itu.
Adiba masuk ke dalam kamar Kakaknya itu, Arsala baru saja keluar dari kamar mandi.
"Minum ini" titah Adiba.
"Apa ini" tanya Arsala.
"Teh pahit saat aku sakit perut aku juga suka minum ini" ucap Adiba.
"Aku akan coba" ucap Arsala.
Arsala meminum teh itu sampai habis dia merasa sangat sakit tapi dia tidak mungkin bicara pada Adiba kalau dia sangat tidak kuat apa lagi Arsala Malu di hadapan adiknya itu.
Arsala hanya menuruti apa yang Adiba perintah kan, dia sangat ingin sembuh sekarang apa lagi banyak yang harus dia lakukan sekarang.
Adiba mengusap kan minyak kayu putih pada perut Arsala, dan untung saja Arsala langsung berhenti buang air besar.
Tetapi perut nya masih sangat sakit karena kepedasan.
"Bagaimana" tanya Adiba.
"Masih sakit" ucap Arsala.
"Sabar saja aku yakin akan segera sembuh" ucap Adiba.
"Aku heran kenapa Umi memasak makanan yang pedas" ucap Arsala.
"Kata Kak Yad katanya Kak Nanda yang menaburkan bubuk cabe pada mie itu" ucap Adiba.
"Astaghfirullah jadi ini salah dia" geram Arsala.
"Ya tapi sabar saja dulu" ucap Adiba.
"Kalau tau begini mungkin aku akan tegur dia" geram Arsala.
"Tidak akan mungkin Umi sangat baik dia tak akan membiarkan kita melakukan hal itu" ucap Adiba.
"Ya dia sangat baik" ucap Arsala.
"Umi siapa dulu" ucap Adiba.
"Umi aku" ucap Arsala.
"Punya ku" ucap Adiba.
"Punya kita semua" ucap Arsala.
"ya" ucap Adiba.
Sedangkan sekarang Rena dan Luthfi baru saja sampai ke kediaman Orang tua Rena.
Sudah satu Minggu ini Rena tak datang ke sana karena Rena cukup sibuk.
Namun saat mereka akan masuk ada seorang anak buah Sofi yang datang ke sana.
"Nona sejak beberapa hari ini Nyonya Sofi tak terlihat keluar" ucap anak buah Sofi.
"Kenapa" tanya Rena.
"Nyonya katanya tidak mau di ganggu dan pintu rumah nya juga di kunci dari dalam" ucap anak buah Sofi.
"Bisa di dobrak" tanya Rena.
"Bisa nona" ucap anak buah Sofi yang langsung mendobrak pintu rumah Sofi itu.
Brakk.
"Assalamualaikum Mah" sahut Rena.
"Tak ada jawaban" ucap Waffi.
"Rumah ini mengerikan" ucap Nanda.
Mereka menuju ke kamar Sofi yang ada di lantai atas, Rena mencoba membuka pintu kamar orang tuanya tapi apa yang Rena lihat.
__ADS_1
Rena sangat syok saat melihat orang tua nya itu.
"Astaghfirullah Mah" sahut Rena yang langsung menangis histeris.
Tanpa mereka sangka ternyata Sofi dan Herman tengah tergeletak di lantai, Rena langsung melihat ada apa yang terjadi pada mereka.
Namun saat Luthfi mengecek nafasnya Herman sudah tiada, dan Sofi masih bernafas hanya saja Sofi saat ini pingsan mungkin karena syok apa lagi melihat suaminya yang meninggal.
Faiz langsung memberikan pertolongan pertama pada Sofi, sedangkan Herman akan di bawa dahulu ke rumah sakit untuk di autopsi.
"Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap Luthfi saat mengecek lagi kondisi Herman.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un"
Rena langsung menangis histeris dia tidak percaya kalau akan kehilangan Ayahnya, Rena sangat tak menyangka apalagi satu Minggu yang lalu mereka bahkan masih mengobrol.
Sofi dan Herman di bawa ke rumah sakit yang, Rena sangat panik dia tidak percaya kalau Papahnya akan meninggalkan nya.
Walaupun begitu Rena sangat tidak ingin kehilangan.
Dahulu Rena sangat benci pada Papah dan Mamah nya tapi sekarang Rena sangat sayang apa lagi sikap mereka yang baik pada Rena dan menganggap Rena sebagai putri nya.
Rena merasa mempunyai keluarga yang lengkap, namun sekarang Papahnya sudah tidak bernafas.
Luthfi memeluk istrinya dia mencoba menguatkan Rena supaya Rena tidak lemah.
"Umi ayo ke rumah sakit" ucap Waffi.
Mereka langsung menuju ke rumah sakit terdekat, Waffi mengirim pesan pada Yadna kalau Kakek nya baru saja meninggal dan Neneknya pingsan.
Sedangkan di rumah Yadna langsung datang ke kamar Arsala, dan saat ini Arsala dengan bersama dengan Adiba di kamarnya.
"Arsa" sahut Yadna.
"Ya kak" Teriak Arsala.
Yadna membuka pintu nya.
"Aaa" teriak Yadna saat melihat Arsala tidak memakai baju.
"Kalian sedang apa" tanya Yadna.
"Kak Arsala sakit perut" ucap Adiba.
"Ah terserah lah, ayo sekarang kita ke rumah sakit katanya Kakek meninggal dan Nenek pingsan" ucap Yadna.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap Arsala dan Adiba.
"Baiklah ayo" ucap Yadna.
Mereka langsung berangkat ke arah rumah sakit yang lumayan dekat dari rumah mereka, Arsala yang sekarang membawa mobil hanya meringis saat perut nya kesakitan karena tadi makan makanan yang pedas.
"Kamu baik baik saja" tanya Yadna.
"Ya aku baik baik saja kak" ucap Arsala.
Mereka sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ke kamar yang katanya tempat Neneknya di rawat.
"Umi" ucap Yadna yang langsung memeluk Uminya yang sekarang sedang menangis.
"Bagaimana kondisi Nenek" tanya Arsala.
"Belum ada kabar" ucap Luthfi.
"Oh" ucap Arsala.
Mereka menunggu di sana, bahkan Rena tidak pernah berhenti untuk menangis apa lagi Dokter yang mengautopsi papahnya belum juga keluar.
Nanda menatap pada layar ponsel nya yang menyala.
"Mas katanya ada yang mencari kita" ucap Nanda berbisik pada suaminya.
"Siapa" tanya Faiz.
"Gak tau tapi anak buah mu bilang pada ku" ucap Nanda.
"baik lah ayo pergi tapi tunggu aku ingin bicara dulu pada Abi" ucap Faiz.
"Tidak kita pergi saja langsung" ucap Nanda.
"Ya Ayo" ucap Faiz.
Mereka langsung pergi dari sana tanpa pamitan terlebih dahulu, padahal saat ini mereka tengah berduka cita karena kakek Faiz meninggal.
Faiz dan Nanda pulang ke rumah orang tuanya, mereka sembunyi di sana karena takut ada yang menagih hutang padanya.
Faiz sangat marah pada Nanda yang sekarang hanya diam saja di sana.
Bahkan terlihat Nanda saat ini hanya tenang saja padahal kebanyakan hutang itu adalah milik Nanda.
"Nanda Jual semua perhiasan kamu" titah Faiz.
"Apa perhiasan" tanya Nanda sambil memakan cemilan yang ada di dalam kulkas.
"Mas aku gak punya" ucap Nanda.
"Gak punya perhiasan lalu saat kita menikah, pemberian Umi dan Nenek Mayang kamu kemana kan" tanya Faiz kesal.
"Aku jual" ucap Nanda.
"Jual, Astaga Nanda kamu sangat tidak berguna" geram Faiz.
"Mas bukan aku yang tidak berguna hanya kamu saja mas yang jarang kasih aku uang" ucap Nanda.
"Aku kurang kasih uang, Nanda gaji aku semua aku berikan pada mu tapi kalau saja kamu tidak royal pada orang tua mu maka kita tidak akan seperti ini" ucap Faiz.
"Mas kamu lupa ya kalau sudah kewajiban aku memberikan kebahagiaan pada keluarga ku" ucap Nanda.
"Ya aku tau tapi kalau memang begitu kenapa hanya royal kepada orang tua kamu tidak kepala orang tua ku" tanya Faiz.
"Karena orang tua mu kaya" ucap Nanda.
"Ya aku malah bersyukur kalau orang tua aku kaya, setidaknya mereka mampu membantu aku memodali rumah sakit" ucap Faiz.
"Songong sekali" geram Nanda.
"Aku pikir menikah dengan wanita sederhana itu, enak tapi tidak karena orang tua kamu dan kamu itu Matre" ucap Faiz.
"Aku realistis mas, hidup ini butuh uang" ucap Nanda.
"Ya dan kamu boros" geram Faiz.
"Apa mas kamu bilang ku boros" geram Nanda.
"Sudah lah aku malas berdebat" ucap Faiz yang langsung duduk dan diam tanpa bicara lagi.
__ADS_1