
Beberapa orang polisi menghentikan mobil Sofi, karena tak mau ada masalah lagi Sofi langsung turun dari dalam mobil nya.
"Ada apa pak" tanya Sofi.
"Bu Sofi yang punya casino itu kan" tanya Polisi itu.
"Pak masalah saya kan sudah selesai jadi apa yang akan di bahas lagi" tanya Sofi.
"Tapi sekarang bukan masalah Casino itu tapi sekarang anda di tahan karena kasus pencurian" ucap polisi.
"Pencurian" tanya Sofi.
"Ya ada orang yang melaporkan anda, sekarang anda ikut kami ke kantor polisi" ucap Polisi itu.
Sofi di pegang oleh beberapa orang itu, dia di seret paksa oleh polisi itu.
"Tapi aku tidak terlibat kasus apa pun" ucap Sofi memberontak.
Herman turun dari dalam mobil.
"Ada apa ini" tanya Herman menatap pada polisi itu.
"Bu Sofi ditahan atas kasus pencurian, di mohon anda ikut ke kantor polisi sebagai walinya" ucap Polisi.
"Baik Pak" ucap Herman yang langsung melajukan mobilnya mengikuti mobil polisi itu.
Sofi masih berontak dia berpikir tak melakukan apa apa jadi dia tak merasa bersalah.
"Pak aku gak salah" geram Sofi.
"Uang dua milyar milik tuan Luthfi anda kemana kan" tanya Polisi.
"Milik Luthfi? dua milyar" tanya Sofi.
Sofi tidak percaya kalau polisi itu mengungkit uang Luthfi.
"Aku bahkan tidak tau soal itu" ucap Sofi.
"Anda bisa jelaskan di kantor" ucap Polisi itu.
"Terserah lah" ucap Sofi.
Di kantor polisi saat ini Sofi sedang di periksa atas laporan dari Luthfi yang menyalahkan Sofi atas hilang nya uang yang ada di ATM nya itu.
"Anda tau wanita ini" tanya Polisi memperlihatkan foto anggun.
"CK wanita itu ternyata aku yakin kalau wanita itu sudah bilang pada Luthfi siapa yang melakukan itu pada nya" batin Sofi.
"Aku gak kenal" ucap Sofi.
"Benarkah tapi dia mengenal anda" ucap Polisi.
"Lalu" tanya Sofi.
"Apa benar anda yang membeli kartu ATM nya hanya untuk mengambil uang dari rekening pak Luthfi, anda tidak mau di salahkan hingga anda melakukan hal ini" ucap Polisi.
"Ya aku yang melakukan nya tapi pak ada orang lain yang terlibat dalam masalah ini" ucap Sofi.
"Siapa" tanya Polisi.
"Mayang" ucap Sofi.
Di pabrik yang sudah beberapa hari itu di kelola orang lain sekarang jatuh lagi ke tangan Mayang.
"Akhir nya si Herman berguna juga" gumam Mayang.
Mayang menatap pada pabrik itu, banyak sekali pesanan barang yang masuk, Mayang berpikir kalau dia akan untung besar.
Namun tiba tiba saja beberapa polisi datang ke sana, untuk menangkap Mayang yang katanya terlibat dalam kasus pencurian uang Luthfi.
"Bu Mayang anda di tahan atas pencurian uang" ucap polisi itu yang langsung menangkap Mayang yang saat ini ada di sana.
"Tunggu aku pencurian apa? aku gak pernah mencuri" bantah Mayang.
"Anda bisa jelaskan di kantor polisi" ucap Polisi memborgol Mayang dan membawa nya ke dalam mobil.
Mayang di bawa ke kantor polisi di perjalanan Mayang berontak namun dia tak bisa melepaskan diri karena polisi itu menjaga nya ketat.
"Aku tidak pernah mencuri" geram Mayang.
Sesampainya di kantor polisi Mayang langsung di interogasi bersama dengan Sofi yang ada di sana.
"Sejak kapan kalian bersekongkol" tanya Polisi.
"Aku gak bersekongkol dengan wanita seperti dia" geram Mayang.
"Uang nya ada di Mayang pak" ucap Sofi.
"Apa kau berbohong" sahut Mayang.
"Aku tidak berbohong uang itu aku belikan pabrik dan sekarang pabrik itu milik Mayang jadi dia terlibat kan" ucap Sofi.
"Aku hanya mengambil apa yang dia beri kan jadi kenapa aku yang salah" bantah Mayang.
"Tapi anggap saja dia sebagai penadah" ucap Sofi tersenyum.
Herman datang ke sana bersama dengan Luthfi yang juga baru saja datang karena di panggil oleh Herman.
"Pak kalau yang pantas di penjarakan itu adalah aku" ucap Herman.
Polisi, Mayang dan Sofi menatap pada Herman yang sekarang baru saja datang.
"Ada apa" tanya Polisi itu.
"Aku sudah menculik Istri nya Luthfi" ucap Herman.
"Tapi apa korban ingin melaporkan" tanya Polisi.
__ADS_1
"Tidak usah melapor dulu aku yang akan menyerahkan diri sendiri" ucap Herman.
"Baiklah penjara kan dia" ucap Polisi.
"Mas" sahut Sofi marah.
"Aku akan menanggung nya" ucap Herman yang langsung di bawa ke arah penjara.
"Mas" sahut Sofi.
Mayang hanya tersenyum melihat hal itu.
"Luthfi aku gak terlibat" ucapnya saat melihat Luthfi.
"Biar polisi yang menentukan mah" ucap Luthfi.
"Tapi aku gak salah" ucap Mayang.
"Baiklah pak aku permisi" ucap Luthfi.
"Baik pak" ucap Polisi.
Luthfi langsung keluar dan menuju ke arah mobil nya yang terparkir di sana.
"Bagaimana" tanya Rena menatap pada Suaminya itu.
"Ayah menyerah kan diri" ucap Luthfi.
"Mungkin hukuman penjara pantas untuk Ayah" ucap Rena.
Rena masih ingat pada ketulusan ucapan Herman saat tadi datang ke rumah nya.
Flash Back onn.
Rena tengah menikmati Susu ibu hamil di sofa ruang tamu sambil menonton televisi.
Sedangkan Luthfi saat ini sedang mengutak atik laptop nya.
Tokk
Tokk
Suara ketukan pintu terdengar di sana, Rena yang sadar pun langsung bangkit dan membuka kan pintu karena takutnya ada yang penting.
"Siapa" tanya Rena menatap pada tamu yang baru saja datang.
Ternyata yang datang adalah Herman Papah Rena yang baru saja Rena ketahui.
"Ayah" ucap Rena.
"Rena" ucap Herman yang langsung bersujud di hadapan Rena.
"Jangan begitu ayah" ucap Rena membantu Herman untuk Bangun.
"Maafkan aku" ucap Herman.
"Ya aku tau kalau aku salah tapi tolong maafkan aku, aku janji aku akan perbaiki semua nya aku akan lakukan apa pun yang kau inginkan" ucap Herman.
Rena menatap pada mata Herman yang berair menahan tangisannya, Rena melihat mata yang penuh duka dan ketulusan di mata Herman.
"Apa pun yang aku minta kau akan melakukan nya" tanya Rena.
"Ya apa saja" ucap Herman.
"Tebus kesalahan mu" ucap Rena.
"Apa dengan ini kamu akan memaafkan aku" tanya Herman.
"Ya aku akan memaafkan" ucap Rena.
"Baiklah aku akan ke kantor polisi sekarang" ucap Herman.
"Ada apa" tanya Luthfi yang baru saja datang ke sana.
"Maafkan aku Luthfi aku salah, tapi sekarang aku adalah Ayah mertua mu aku bukan lagi suami dari mamah mu" ucap Herman.
"Ya begitu lebih baik" ucap Luthfi.
"Aku datang karena aku akan meminta maaf dan sekarang aku akan menebus dosa dosa ku yang telah aku perbuat" ucap Herman.
"Bagaimana cara nya" tanya Luthfi.
"Aku akan ke kantor polisi dan menyerah kan diri" ucap Herman.
"Baiklah aku akan ikut" ucap Luthfi.
Rena dan Luthfi memutus kan untuk ikut bersama karena dia tak mau sampai terjadi apa apa pada Herman, apa lagi Rena ingin tau apa Herman sudah benar benar menyesal atau belum.
Flash back off
"Bagaimana kamu senang sekarang sudah punya Papah" tanya Luthfi.
"Senang namun terasa sangat canggung ya" ucap Rena.
"Tak apa nanti juga kamu akan mengenal dia dengan baik" ucap Luthfi.
"Abi apa kau tau dulu Ayah pernah berkata begini pada ku" ucap Rena.
"Apa" tanya Luthfi.
Flash back on..
Saat Rena sedang di sekap di gudang itu,
"Aku heran dari sisi mana Luthfi menyukai mu" ucap Herman.
Rena merasa sangat tersinggung jujur saja dia sudah sangat insecure dengan keadaan nya begini apa lagi jika di tanya Luthfi suka dari Rena dari mana nya.
__ADS_1
"Yah, setidaknya Gus Luthfi memandang ku dengan hatinya bukan dengan matanya, karena mata Gus Luthfi ku dan mata kalian sangat berbeda kalian menatap kekurangan ku tapi Gus Luthfi menatap ku dengan ketulusan nya" ucap Rena.
"Apa yang istimewa dari mu" ucap Herman.
"Tak ada yang istimewa karena aku juga manusia dan tak sempurna" ucap Rena.
"Ck kenapa kau tak sadar diri Rena, tak ada yang istimewa dari mu, lihat apa Luthfi datang sekarang? tidak kan? itu artinya Luthfi tidak mau pada mu, tapi kau sangat berharap kalau dia akan datang" ucap Herman.
"Ucapan mu berbelit belit Ayah, aku tau Gus Luthfi ku pasti akan datang" ucap Rena.
"Kalau dia tak datang maka aku akan jual kamu" ucap Herman.
"Kau Ayah yang sangat buruk" geram Rena.
"Terserah" ucap Herman.
Flash back off
Malam ini Revan pulang dia baru saja pulang dari bekerja, Revan menatap pada Nagita yang sekarang sedang duduk Revan yakin kalau Nagita baru saja pulang bekerja.
Revan duduk di samping Nagita dia langsung menarik Nagita untuk duduk memunggungi nya.
"Ish kau sangat kasar" ucap Nagita.
Namun Revan tak menjawab dia langsung memijat punggung Nagita yang tertutup oleh kaos itu.
Nagita menikmati setiap pijatan yang Revan lakukan pada punggung nya.
Revan berusaha untuk bersikap baik pada Nagita, dia ingin menjadi suami yang baik untuk Nagita walaupun pernikahan mereka di dasari dengan kebohongan.
"Bagaimana" tanya Revan.
"Enak" jawab Nagita.
"Pekerjaan mu" tanya Revan.
Nagita merasa malu karena Revan ternyata tidak menanyakan pijatan nya tapi menanyakan pekerjaan nya.
"Lumayan" ucap Nagita.
"Syukur lah" ucap Revan.
"Ya banyak pasien jadi aku merasa lelah" ucap Nagita.
"Aku juga sudah mendapatkan pekerjaan, lumayan gaji nya buat menafkahi kamu" ucap Revan.
"Kerja di mana? berapa gajinya" tanya Nagita.
"Di restoran, gajinya 2 juta perbulan" ucap Revan.
"Hahaha dua juta" tanya Nagita tertawa terbahak bahak.
"Ya lumayan kan" ucap Revan.
"Dua juta mana cukup" tanya Nagita.
Revan merasa tersinggung mendengar hal itu, apa lagi menurut dia dua juta bukan lah uang yang sedikit.
"Apa kurang" tanya Revan.
"Simpan saja uang mu untuk biaya mu kuliah tidak perlu ribet menafkahi aku, aku sudah sangat berkecukupan dengan gaji aku yang sekarang" ucap Nagita.
"Tapi ini kewajiban aku" ucap Revan.
"Kalau uang nya kecil untuk apa" tanya Nagita.
"Aku pikir uang itu besar" ucap Revan.
"Besar dari mana, sekali makan saja habis" ucap Nagita.
Revan langsung pergi dari sana meninggalkan Nagita yang masih ada di sana.
Revan merasa sangat tersinggung bukan karena baperan tapi dari ucapan Nagita sudah jelas kalau Nagita meremehkan Revan yang sekarang adalah suami nya.
"Assalamualaikum" ucap Papah Nagita yang baru saja datang ke sana.
"Waalaikum salam" ucap Revan yang sekarang akan masuk ke dalam kamar nya.
Revan langsung membuka kan pintu rumah itu.
"Papah" ucap Revan tersenyum menatap mertua nya.
"Nagita ada" tanya Papahnya.
"Ada pah ayo masuk" ucap Revan.
Papahnya masuk dia langsung melihat pada Nagita yang sedang bersantai di sofa.
"Nagita jangan begitu, Suami kamu kecapean kamu harus melayani dia" ucap Papah Nagita.
"Pah ngapain dia juga bisa ambil air sendiri kan" ucap Nagita.
"Tidak begitu" ucap Papah Nagita marah.
Nagita tau betul kalau Papahnya marah akan seperti apa, dia langsung bangun dan mengambil kan Beberapa gelas air minum.
"Minum lah" ucap Nagita pada Revan.
"Begitu" ucap Papahnya.
"Ya pah" ucap Nagita.
"Oh ya Revan kerja di mana kamu sekarang" tanya Papah Nagita.
"Aku kerja di restoran pah, paginya aku kuliah dan malamnya aku kerja" ucap Revan.
"Oh bagus lah kamu pekerja keras, jaga badan jaga kesehatan Revan jangan terlalu cape kamu masih muda" ucap Papah Nagita.
__ADS_1
"Ya pah insha Alloh" ucap Revan.