
Brakk
Nanda mengebrak meja dia langsung pergi dari sana tanpa bicara apa pun.
"Istri yang seperti itu yang kamu pilih Faiz" tanya Sofi.
Rena memegang tangan Sofi.
"Mah sudah" ucap Rena.
"Mamah hanya bicara hal benar Rena" ucap Sofi.
"Ya aku tau, tapi mah ini urusan Faiz dan istri nya kita tidak boleh ikut campur" ucap Rena.
"Rena kamu harus nya sedikit tegas, hal ini hanya akan membuat Faiz menyesal nantinya" ucap Sofi.
"Mah aku hanya tidak mau ikut campur pada urusan Faiz dan Nanda, mereka punya kehidupan tersendiri jadi aku gak mau ikut campur" ucap Rena.
"Diam kamu itu tak akan berguna Rena, lihat menantu mu bahkan sangat tak sopan pada mu" ucap Sofi.
"Sudah mah biarkan saja aku yakin kalau Faiz sudah melakukan hal terbaik untuk Istri nya, lagi pula mah mau bagaimana pun tugas orang tua itu hanya menjadi penasehat kalau anaknya ada masalah, itu pun kalau anak yang meminta jadi jangan urusi urusan mereka Mah aku yakin mereka tau hal baik untuk mereka" ucap Rena.
"Faiz didik istri kamu kalau tidak kamu akan menyesal" ucap Sofi.
Faiz terlihat tak suka pada ucapan Sofi apa lagi Faiz tidak terlalu suka menerima nasihat dari orang lain walaupun orang itu adalah keluarga nya sendiri.
"Mah sudah jangan bahas ini lagi" ucap Rena.
"Luthfi coba jelaskan apa aku salah" tanya Sofi meminta saran pada Luthfi yang sejak tadi hanya diam saja.
"Mamah gak salah tapi Rena benar mah" ucap Luthfi.
"Terserah lah" ucap Sofi.
"Faiz bawakan makanan untuk Nanda" titah Rena.
"Ya Umi" ucap Faiz.
Faiz membawakan makanan untuk istri nya itu yang sekarang ada di kamar nya karena sedang marah padanya.
"Nanda" ucap Faiz yang langsung masuk ke dalam kamar nya.
"Ayo makan" ucap Faiz memberikan piring yang isinya nasi dan lauk.
"Tak Sudi aku, malas sekali mas aku ada di sini, aku sangat ingin pulang" ucap Nanda.
"Pulang ke mana rumah kita sudah di sita oleh bank" ucap Faiz.
"Kamu kerja dong mas" ucap Nanda.
"Kalau saja kamu tidak punya banyak hutang mungkin kita akan kaya tapi kan kamu banyak hutang dan gak mungkin aku biarkan hutang yang semakin membeludak dengan bunga nya itu tetap naik, aku akan bayar hutang pada satu persatu teman kamu yang pernah kamu hutangi, aku cape di kejar kejar terus" ucap Faiz.
"Lalu kenapa kamu tidak menerima tawaran pekerjaan dari Abi kamu itu" tanya Nanda.
"Aku gak biasa bekerja di perusahaan aku akan cari pekerjaan yang sesuai dengan porsi aku, nanti juga kalau aku gak dapat aku akan bekerja bersama dengan Abi" ucap Faiz.
__ADS_1
"Terserah aku sangat heran pada mu" ucap Nanda.
"Plis sabar lah dulu" ucap Faiz.
"Terserah" ucap Nanda.
Nanda langsung bangkit dan melemparkan piring yang isinya nasi dan lauk itu hingga berceceran di lantai.
Prakk
Faiz menatap pada Nanda yang sekarang semakin tak sopan, di pikiran Faiz saat ini dia merasa kalau Ucapan nenek nya itu ada benarnya juga.
"Apa mungkin didikan aku kurang pada Nanda apa mungkin aku salah mengajar kan Nanda, sampai sampai dia seperti itu" ucap Faiz.
Nanda pergi dari sana entah ke mana, saat ini Faiz hanya menyalahkan dirinya sendiri apa lagi Nanda memang benar benar sudah kelewat batas.
"Bagaimana caranya aku menghadapi Nanda" gumam Faiz.
Di ruang tamu Arsala makan karena merasa sangat lapar.
"Cucu Nenek baru pulang pasti lapar ya" tanya Sofi yang masih ada di meja makan.
"Ya Nek" ucap Arsala.
"Arsala apa hubungan kamu dengan Adiba" tanya Sofi.
Uhukk
Uhukk
"Nenek ini bicara apa aku tidak punya hubungan hanya adik kakak biasa saja" ucap Arsala.
"Nenek hanya aneh saja karena kalian sangat dekat apa lagi kalian juga sering memberikan hadiah pada satu sama lain" ucap Sofi.
"Astaghfirullah Nenek hanya itu saja tidak membuat kita menjadi aneh kan, aku dan Adiba tetap menjadi adik kakak" ucap Arsala.
"Kalau pun ya, kalian bisa kok" ucap Sofi.
"Maksud Nenek" tanya Arsala.
"Ya kalau kalian sampai menikah kalian bisa kok kan kalian bukan adik kakak kandung dan setau Nenek kalian itu bahkan tak punya hubungan darah sama sekali, jadi apa salahnya jika kalian menikah" tanya Sofi.
"Bukan kah aku dan Adiba adik kakak sepersusuan" tanya Arsala.
"Tidak kalian itu jelas saja berbeda apa lagi dulu Rena tidak menyusui Adiba dari nya tapi dia memberikan Adiba susu formula" ucap Sofi.
"Kenapa begitu" tanya Arsala.
"Asi Rena hanya cukup untuk kamu saja" ucap Sofi.
"Oh ya" tanya Arsala.
"Ya dia tidak memberikan adiba Asi milik nya" ucap Sofi.
"Sudahlah nenek ini bahas apa aku dan Adiba tak ada apa apa" ucap Arsala.
__ADS_1
"Ya tak apa, baiklah lanjut kan saja makannya Nenek akan ke kamar dulu, nenek akan tidur" ucap Sofi.
"Ya Nek" ucap Arsala.
Arsala hanya diam saja saat dia makan, Arsala benar benar merindukan Adiba hanya saja dia baru tau kalau Adiba tinggal di rumah Nenek Mayang.
Arsala menatap pada kalung yang dia baru saja beli, dia sengaja membeli kan kalung itu untuk Adiba, bahkan Arsala juga menyimpan uang dari gaji pertama nya untuk membeli kalung itu.
"Aku akan datang ke sana sekarang" gumam Arsala.
Sedangkan di perusahaan Kathir, saat ini ada Yadna yang tak bisa pulang karena harus lembur, dengan terpaksa Adiba pulang sendirian ke rumah Mayang.
Adiba akan langsung ke rumah neneknya itu, tapi tanpa Yadna karena Yadna akan lembur malam ini.
Yadna menatap pada Kathir yang masih fokus bekerja padahal sekarang sudah waktunya untuk istirahat.
"Pak Kathir mau saya buatkan kopi" tanya Yadna.
"Tidak usah Adna" ucap Kathir.
"Tapi anda terlihat lelah" ucap Yadna.
"Tidak aku hanya mengantuk saja" ucap Kathir.
"Mau aku pijit" tanya Yadna.
"Tidak usah" ucap Kathir.
"Oh baiklah" ucap Yadna yang langsung kembali bekerja lagi.
Mereka lembur bersama sebenarnya yang lembur banyak hanya saja Yadna bertugas lembur di ruangan Kathir bersama dengan Kathir.
Yadna merasakan mengantuk tapi dia mencoba untuk menahan nya.
padahal jam masih menunjukkan pukul delapan malam.
"Mau makan" tanya Kathir.
"Tidak usah pak aku belum lapar" ucap Yadna.
Namun Kathir memesan makanan untuk diri nya dan Yadna, bahkan tak lupa kathir juga memesan makanan untuk karyawan nya yang lain.
"Bisa aku tiduran" tanya Kathir.
"Bisa" ucap Yadna.
Kathir merebahkan tubuhnya di Sofa yang ada Yadna juga di sana, namun mereka berbeda sofa saat ini Yadna ada di sofa yang kecil muat dua orang.
Sedangkan Kathir sekarang di sofa yang lumayan besar.
"Aku mengantuk sekarang" gumam Kathir.
"Tidur saja" ucap Yadna.
"Kalau ada pesanan aku datang, ambil makanan itu dan bagikan untuk Karyawan sisakan untuk aku" ucap Kathir.
__ADS_1
"Ya pak" ucap Yadna.