
Malam hari nya Abah memanggil Luthfi untuk datang ke rumah nya karena Abah akan membicarakan masalah lamaran Luthfi dahulu.
sebenarnya Abah merasa tak enak hati pada Luthfi apa lagi Luthfi adalah santri nya yang paling Abah acungkan jempol pada sikap dan ilmu nya.
jadi tak salah kalau Abah sangat malu kalau untuk menolak Luthfi,
keinginan Abah hanya satu yaitu Rena menikah dengan Luthfi karena Abah tau kalau Luthfi itu sangat baik dan jujur.
"assalamualaikum" ucap Luthfi yang baru saja datang ke sana.
"waalaikum salam" ucap Abah tersenyum melihat orang yang dia tunggu tunggu akhir nya datang juga.
"silahkan duduk" ucap Abah.
"ada apa Abah memanggil saya untuk datang" tanya Luthfi.
Abah ragu membicarakan nya tapi dia juga harus membicarakan nya supaya Luthfi tak salah paham pada keputusan Abah.
"Gus begini Abah sangat ingin kamu menjadi pendamping Rena, Abah tak maksa kalau kamu gak mau ya Abah tau alasan nya, tapi Gus untuk lamaran yang telah kau katakan kemarin kemarin Abah akan menjawab nya sekarang" ucap Abah.
Luthfi merasa jantungnya berdetak kencang dia penasaran pada jawaban yang akan ia dapat kan itu.
"ya bagaimana Abah" tanya Luthfi.
"kamu baik nak, Abah menerima lamaran mu" ucap Abah yang langsung membuat Luthfi senang kalau saja Luthfi tak sedang ada di hadapan Abah mungkin dia sudah bergembira sampai loncat loncat.
"tapi ini terserah pada mu Gus, Abah hanya mengingatkan kalau Rena seorang janda dia masih muda dan pendidikan nya hanya sampai SMP dia tak punya prestasi apa pun bahkan harus nya dia masih sekolah sekarang, jika kamu tak siap menikah dengan Rena karena alasan Rena tak berpendidikan tinggi dan dia masih kecil maka Abah tak akan memaksa, semuanya terserah pada mu" ucap Abah.
Luthfi senang bukan main di tanya seperti ini tapi jantung Luthfi saat ini sedang tak aman bahkan jantung nya berdetak dua kali lebih kencang.
"aku siap Abah menikah dengan ning Rena, aku tak akan melihat masa lalu Ning Rena dan siapa Ning Rena" ucap Luthfi.
Abah tersenyum mendengar hal itu.
"benarkah" tanya Abah.
"Abah mu na fik rasanya jika aku menolak tak suka pada Ning Rena, entah lah aku jatuh cinta pada Ning Rena hingga rasa itu yang memberanikan diri ku untuk melamar Ning Rena dua kali padahal aku tau kalau aku sempat di tolak" ucap Luthfi.
"syukur lah kalau kau beranggapan begitu Abah senang mendengar nya" ucap Abah.
"tapi Abah bagaimana dengan Ning Rena dia tak suka pada ku apa lagi aku hanya melihat kebencian saja di mata nya pada ku" ucap Luthfi.
"dia bersedia menikah pada laki laki yang sudah Abah pilihkan, Gus alasan kenapa Abah ingin menikah kan Ning Rena itu karena tak lain adalah ucapan tetangga yang sering kali membuat Rena sakit hati, bukan hanya itu semenjak jadi janda banyak yang melamar Rena tapi mereka hanya lah mempermainkan Rena mereka tak mampu menerima status Rena, Abah heran mereka yang berniat melamar tapi mereka sendiri yang pergi lagi, dan itu pasti membuat Rena terpukul Gus, soal Ning Rena dia itu gengsi jadi dia menyembunyikan perasaannya" ucap Abah.
"ya Abah aku sangat paham pada hal itu, oh ya sebagai meresmikan nya aku akan ajak orang tua ku datang kemari" ucap Luthfi.
"usaha kan jangan sampai Rena tau kita rahasiakan ini dulu ya" ucap Abah.
"oh baiklah Abah" ucap Luthfi.
pagi hari nya Rena terbangun hari ini dia datang bulan jadi Rena bisa santai hingga dia bangun pukul setengah enam pagi.
"Ning selamat ya" ucap Zia yang langsung memeluk nya.
"apa kak" tanya Rena bingung.
"kamu akan menikah" ucap Zia.
"oh ya" tanya Rena heran karena dia tak tau, bahkan Zia sangat berantusias mendengar kabar itu.
"tapi dengan siapa aku menikah" tanya Rena.
Zia berpikir dia pun tak tau kalau Rena akan di nikah kan dengan siapa apa lagi Umi juga tak bilang hal itu.
"aku gak tau" ucap Zia.
"ish kak kalau kasih kabar itu yang benar biar aku gak penasaran" ucap Rena yang semakin penasaran apa lagi jantung nya berdetak tak karuan takut di jodoh kan dengan orang yang tak Rena kenal.
"ya aku gak tau lagian Umi juga gak bilang siapa calon suami kamu" ucap Zia.
"umi tau" tanya Rena.
"aku juga tau dari umi" ucap Zia.
Rena langsung masuk ke dalam rumah nya untuk menemui Umi dan menanyakan hal itu pada Umi.
"umi katanya aku mau menikah siapa calon suami aku" tanya Rena.
umi tersenyum ternyata rencana Abah untuk merahasiakan ini ada benarnya juga karena kalau Rena tau sejak awal maka dia pasti akan menolak tapi kalau seperti ini mau tak mau Rena menerima nya.
"umi gak tau karena yang tau hanya Abah" ucap Umi.
"kapan aku menikah" tanya Rena.
"satu Minggu lagi" ucap Umi.
"apa, satu minggu lagi" tanya Rena terkejut karena dia tak percaya kalau waktu nya akan dekat begitu padahal Rena belum mau menikah.
"kamu terima aja Ning" ucap Abah yang langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rena duduk di kursi bersebrangan dengan Abah yang sekarang tengah istirahat.
"Abah siapa laki laki yang akan abah nikah kan dengan ku" tanya Rena.
"nanti juga kamu akan tau, Abah pasti kan orang ini akan sangat kamu ingin kan" ucap Abah.
"apa seperti le min ho" tanya Rena.
"ini lebih tampan dari aktor Korea" ucap abah.
"di kampung ini tak ada yang tampan melebihi le min ho Abah" ucap Rena.
"sudah lah Ning kamu jangan bicara lagi pokok nya kamu gak akan menyesal" ucap Zia yang langsung ikut duduk di sana.
"tapi abah pernikahan nya satu minggu lagi dan Gus Adam juga bahkan belum pulang" ucap Rena.
"kakak mu itu biarkan saja dia biarkan saja melihat di hp" ucap Abah.
"ya ning jangan cemas aku akan menghubungi nya saat kamu menikah nanti" ucap Zia.
"ya kak" ucap Rena.
rasa penasaran itu hinggap di hati Rena dia sangat penasaran pada orang yang akan menjadi suaminya.
namun saat mereka tengah bicara, ada Luthfi yang datang ke sana sambil menggendong ransel yang sudah Rena yakini kalau itu pakaian.
"assalamualaikum Abah" ucap Luthfi yang langsung masuk.
"walaikum salam" serempak.
"Abah aku mau pamit ada pekerjaan" ucap Luthfi yang tak banyak bicara karena di sana ada Rena, bahkan Luthfi harap Abah juga paham pada ucapan nya.
"ya hati hati di jalan" ucap Abah.
"baiklah Abah aku permisi" ucap Luthfi.
"tunggu dulu Abah ada hal penting yang akan Abah sampai kan" ucap Abah yang memberikan kode pada Luthfi padahal dia ingin memberikan siapa saja orang yang akan di undang saat acara itu biar sekalian di cetak oleh Luthfi.
Abah masuk ke dalam kamar nya mencari buku.
"Gus Luthfi kapan kau akan pulang" tanya Zia.
"Zia aku juga baru mau pergi kenapa di tanya kapan pulang" ucap Luthfi dingin.
"ya siapa tau saja kalau kamu mau menghadiri acara pernikahan Ning Rena yang akan di langsung kan satu minggu lagi" ucap Zia.
"selamat Ning" ucap Luthfi pada Rena.
namun Rena hanya membalasnya dengan senyuman tipis saja.
"aku tak akan datang, untuk membayangkan nya saja aku tak berani apa lagi kalau harus datang" ucap Luthfi.
"jangan begitu lagi pula Ning Rena itu kan murid mu jadi kamu harus datang" ucap Zia.
"aku gak mungkin datang aku banyak urusan sekarang" ucap Luthfi.
"oh baiklah" ucap Zia.
abah datang ke sana sambil memberikan buku pada Luthfi.
"semuanya ada di sana kamu baca saja" ucap Abah.
"ya abah aku permisi assalamualaikum" ucap Luthfi.
"waalaikum salam" ucap Abah.
Luthfi pergi dari sana untuk ke kota karena untuk memberi tau kan kabar baik itu.
tapi Luthfi tak tau dia harus apa karena orang tuanya pasti tak akan merestui nya.
"baik buruk nya aku akan tetap menikah dengan Ning Rena" gumam Luthfi.
Rena menatap kepergian Luthfi, dia langsung berpikir kalau Luthfi bukan lah jodoh yang Abah pilihkan.
apa lagi Luthfi saja pergi dari sana hal itu membuktikan kalau Luthfi bukan laki laki yang Abah pilihkan.
"siapa laki laki yang abah pilihkan" batin Rena.
"Abah kapan orang itu akan datang" tanya Rena.
"dia akan datang saat hari pernikahan nanti" ucap Abah.
"tapi Abah menikah sebelum kenalan dulu apa itu tak terlalu terburu buru" tanya Rena.
"Ning kamu percaya kan pada abah" tanya Abah.
"ya aku percaya" ucap Rena.
"sudah lah yang paling penting kamu harus persiapkan diri kamu untuk menikah" ucap Zia yang langsung mengambil tangan adik ipar nya itu.
__ADS_1
"kak sebenarnya aku penasaran pada orang yang akan menikah dengan ku, apa mungkin orang nya tinggal di sini ya" tanya Rena sambil berbisik pada Zia.
"mungkin saja tapi kira kira siapa" tanya Zia.
"aku takut aku dan dia tak saling menyukai" ucap Rena.
"pacaran setelah menikah itu rasanya enak Ning lebih halal juga" ucap Zia.
"ish kakak" ucap Rena.
malam hari nya di kota yang ramai itu, Luthfi datang ke rumah orang tua nya yang cukup jauh dari rumah nya.
Luthfi datang dengan menggunakan mobil pribadi nya dengan supir yang membawa mobilnya.
Luthfi hanya tinggal duduk saja di mobil karena supirnya yang akan membawa mobil itu.
"tuan anda yakin mau ke kediaman Nyonya besar" tanya Supir ragu.
"tentu saja" ucap Luthfi.
mereka menuju ke rumah itu terakhir kali Luthfi datang ke rumah mamahnya itu adalah saat mamahnya sakit tapi sayang saat itu pertemuan mereka hanya ada pertengkaran saja hingga membuat Luthfi kapok untuk datang lagi.
sesampainya di sana Luthfi melihat rumah mewah itu yang bernuansa modern dan berwarna putih tulang.
rumah itu terlihat sangat mewah apa lagi dengan pernak pernik yang ada di dinding rumah itu.
Luthfi masuk ke dalam tak lupa dia menekan tombol bel yang ada di dekat pintu utama.
sebagai seorang anak Luthfi tak berani langsung masuk ke dalam apa lagi hubungan mereka tak terlalu akur jadi Luthfi merasa canggung.
pintu di buka dari dalam terlihat para pembantu yang membukakan nya.
"assalamualaikum" ucap Luthfi.
"waalaikum salam Tuan muda ayo masuk tuan" ucap pembantu itu.
"bilang pada mamah aku datang" ucap Luthfi yang langsung masuk dan duduk di sofa.
Luthfi menatap ke arah sekitar tak ada anak buah mamahnya di sana padahal yang dia tau kalau mamahnya itu sangat bergantung pada anak buahnya.
"Luthfi kamu datang" tanya Mayang yang tak lain adalah mamanya Luthfi.
"ya mah" ucap Luthfi yang langsung menyalami tangan mamahnya itu.
"mah aku punya kabar baik aku mau menikah" ucap Luthfi yang langsung membuat raut wajah mamahnya itu langsung berubah.
yang tadi nya tersenyum sekarang malah cemberut.
"dengan siapa apa dengan wanita yang ada di kampung itu" tanya Mayang.
"ya mah namanya Rena dia anak pemilik pesantren" ucap Luthfi.
"mamah gak setuju" bantah Mayang.
memang begitulah Mayang sejak dahulu dia tak pernah setuju Luthfi menikah dengan wanita dari kampung dia hanya ingin Luthfi menikah dengan wanita pilihannya.
"ada atau tidak nya restu mamah aku gak perduli karena aku akan ajak paman untuk mewakili papah" ucap Luthfi.
"kamu durhaka Luthfi" ucap Mayang.
Luthfi tersenyum tipis.
"Mah kalau tau aku durhaka kenapa mamah melahirkan aku" tanya Luthfi.
"dasar anak tak tau di untung" ucap Mayang.
"jangan bicara begitu mah kalau papah masih hidup dia akan bilang dasar istri tak tau di untung sudah di beri kenyamanan malah mencari kenyamanan di laki laki lain" ucap Luthfi.
"jaga bicara mu Luthfi" geram Mayang.
"Terima kasih sudah mendengarkan tapi saya harus pamit karena banyak yang harus saya urus, assalamualaikum" ucap Luthfi yang langsung pergi dari sana.
begitu lah setelah bertemu hanya akan ada pertengkaran dan Luthfi akan pulang untuk menghentikan pertengkaran itu.
Luthfi sudah mengabari pamannya tadi siang jadi dia tak perlu datang lagi karena pamannya akan datang.
Luthfi juga sudah mengurus semuanya hanya tinggal menunggu sampai hari pernikahannya saja.
bahkan Luthfi berencana akan menyewa bus untuk membawa para tamu yang akan ikut memeriahkan acara Luthfi.
malam harinya di pesantren, Rena sedang tadarus Al Qur'an dia tak bisa berbuat apa apa lagi selain pasrah menerima kenyataan bahwa dirinya akan di persunting laki laki yang tak ia kenali.
"semoga saja laki laki ini bisa membimbing aku ke jalan yang benar dan bisa mencintai aku, insha Alloh aku juga akan mencintainya dan mencoba berbakti padanya" gumam Rena.
Rena menutup Al Qur'an nya dia langsung tertidur di ranjang sambil memikirkan bayangan laki laki yang akan menikah dengannya, tapi sayang justru pikirannya malah tertuju pada Luthfi.
"astaghfirullah jangan dia lagi pokoknya aku harus segera melupakan Gus Luthfi karena aku akan segera menikah, ya Alloh bantu aku melupakannya tapi kalau tak bisa melupakannya bisa kah kau menjodohkan aku dan dia saja" ucap Rena tersenyum karena perkataan nya itu.
tanpa terasa Rena akhirnya tertidur dengan pulas juga walaupun dia hanya sendirian di sana.
__ADS_1