
Sesampainya di pesantren Rena turun sedang kan Bayi Faiz di gendong oleh Luthfi yang baru saja turun dari mobil.
"Ayo turun" ucap Luthfi.
"Biar aku yang bawa koper kamu" ucap Rena yang langsung meminta Supir membuka bagasi mobil itu.
Abah dan Umi yang melihat pun langsung terkejut saat melihat Luthfi menggendong bayi, namun Mereka tak berniat untuk bertanya mereka takut kalau ada yang tersinggung.
"Assalamualaikum Abah, Umi" sahut Luthfi sambil menyalami tangan Abah dan Umi.
"Waalaikum salam Gus" ucap Abah.
"Kalian datang" tanya Umi bahagia saat melihat kedatangan Rena.
Gladys hanya diam saja dia menatap pada sekeliling pesantren itu, dia merasa sangat heran pada pesantren itu dan selama ini Gladys belum pernah ke sana.
"Gladys Salim, ucapkan salam juga" titah Luthfi.
Gladys hanya menatap pada Luthfi dia tak tau harus apa, Namun tatapan Luthfi Sangat tajam hingga membuat Gladys takut.
Gladys langsung menyalami tangan Abah dan Umi.
"Ayo masuk" ucap Abah mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.
"Ya Abah" Sahut Luthfi.
Mereka berjalan ke arah rumah Abah, sedang kan Rena di belakang bersama dengan Umi.
"Umi bayi itu bayi aku bagaimana tampan gak" tanya Rena.
"Bayi kamu dari mana" tanya Umi.
"Aku adopsi umi" ucap Rena.
"Ya bagus Ning" ucap Umi.
"Ya Umi kasihan dia aku akan jaga dia seperti anak aku sendiri" ucap Rena.
"Harus" ucap umi tersenyum.
"Dimana kakak ipar" tanya Rena.
"Ada di dalam" ucap Umi.
Mereka masuk dan benar saja ada Zia juga di sana yang sekarang sedang hamil tua, seperti nya beberapa minggu lagi akan melahirkan.
"Kak" ucap Rena yang langsung memeluk kakak ipar nya.
"Kapan datang" tanya Zia.
"Baru saja" ucap Rena.
"Ning bayi siapa" tanya Zia saat melihat Luthfi menggendong bayi.
"Oh itu bayi aku Namanya Faiz Syed Abdullah" ucap Rena.
"Wah selamat ya" ucap Zia.
"Berikan pada ku" pinta Rena pada Luthfi.
"Kayanya pipis bajunya basah" ucap Luthfi.
"Ya aku akan ganti" ucap Rena.
Luthfi menatap pada Gladys, saat ini Gladys tak memakai kerudung entah kemana kerudung yang tadi dia pakai.
"Gladys mana kerudung kamu" tanya Luthfi.
Gladys tersadar dia meninggal kan kerudung nya di dalam mobil.
"Aku meninggalkan nya di mobil, aku akan ambil" ucap Gladys yang langsung keluar dari sana untuk mengambil kerudung nya.
Gladys keluar dia akan mengambil kerudung nya yang dia tinggal kan di Mobil tadi,
Luthfi tersenyum malu pada Abah karena Gladys sangat tak sopan.
"Maafkan dia Abah" ucap Luthfi.
"Tak apa" ucap Abah.
Gladys mengambil nya dia langsung memakai kan kerudung itu ke kepalanya, Gladys membenarkan kerudung nya di depan cermin yang ada di sana.
Gladys menatap ke arah belakang saat ada seorang laki laki yang tengah berdiri di belakang nya.
"Pak Ustadz anda tak sopan sekali" geram Gladys.
Farid yang mendapat perlakuan seperti itu pun langsung bingung dia tak melakukan apa apa tapi langsung di tuduh yang bukan bukan.
"Apa" tanya Farid.
"Anda memperhatikan saya apa anda tak malu" tanya Gladys protes.
"Mungkin kamu salah lihat, aku sedang berjalan tak sengaja aku melihat ke arah kamu" ucap Farid.
Plak
Gladys menampar Farid namun dengan perlahan.
"Anda sangat tidak sopan" ucap Gladys yang langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Farid yang mendapat kan tamparan itu langsung terheran heran.
"Kenapa dia menampar aku" gumamnya sambil menyentuh pipi nya.
Luthfi akan membicarakan hal itu pada Abah.
"Abah niat aku datang kemari aku mau menitipkan Gladys di sini dia sudah terlalu jauh bergaul jadi aku minta tolong pada abah, aku tidak bisa mengubah sendiri Gladys dia perlu di bimbing" ucap Luthfi.
"Tak apa Gus, kami senang menerima santri baru" ucap Abah.
"Ya Abah Terima kasih" ucap Luthfi.
Luthfi melihat pada Gladys yang sekarang baru datang dengan umpatan umpatan keluar dari mulut nya.
"Ada apa" tanya Luthfi.
"Kak, ada laki laki dia menatap aku" adu Gladys.
"Kamu jangan terlalu baperan mereka punya mata jadi terserah mereka mau melihat ke mana saja" ucap Luthfi.
"Kak aku kesal untung aku tampar dia" kesal Gladys.
"Tampar? Astaghfirullah laki laki yang mana yang kamu tampar" tanya Luthfi.
"Laki laki itu tinggi dia pakai sarung, pakai syal juga, kulitnya putih ada tahi lalat di pipi nya" ucap Gladys.
"Gus Farid" Sahut Zia.
"Mungkin saja aku gak sempat menanyakan namanya" ucap Gladys melipat kedua tangannya di dadanya.
"Gladys jangan seperti itu, ayo pergi dan minta maaf" ucap Luthfi.
"Gak" bantah Gladys.
"Ayo minta maaf" ucap Luthfi dengan tatapan tajam.
"Ya" ucap Gladys pasrah.
"Aku akan antar" ucap Luthfi.
Gladys berjalan lebih dahulu keluar dari rumah Abah.
"Abah aku permisi dulu" ucap Luthfi.
"Ya Gus" ucap Abah.
Luthfi mengantar Gladys dia tak suka kalau adik nya itu memiliki sikap baperan jika di pandang seseorang apa lagi sampai menampar.
Gladys kesal kalau saja bukan karena Luthfi mungkin dia tak akan mungkin meminta maaf.
"Laki laki yang mana yang kamu tampar" tanya Luthfi.
"Laki laki yang itu" tunjuk Gladys.
"Gus Farid" ucap Luthfi.
Luthfi merasa bersyukur karena Farid tak terlalu mempermasalahkan sesuatu, tak seperti yang lainnya.
"Ayo minta maaf" ucap Luthfi.
Luthfi berdiri di ambang pintu kelas yang sedang di ajari oleh Farid.
"Assalamualaikum Gus" sahut Luthfi.
"Waalaikum salam Gus Luthfi, kapan datang" tanya Farid yang langsung mendekat ke arah Luthfi.
"Baru saja datang" ucap Luthfi.
"Oh syukur lah" ucap Farid.
"Gus Farid aku datang ke sini menganggu mu aku mau minta maaf atas kelakuan Gladys yang baru saja menampar mu" ucap Luthfi merasa bersalah.
Luthfi mengkode pada Gladys untuk meminta maaf.
"Maaf kan aku" ucap Gladys terpaksa.
"Yang tulus" ucap Luthfi.
"Gak papa Gus Luthfi" ucap Farid.
"Tidak Gus ini salah Gladys dia harus minta maaf" ucap Luthfi.
"Baiklah pak Ustadz maafkan aku" ucap Gladys sambil memohon pada Farid.
"Aku maafkan" ucap Farid.
"Baiklah ayo kembali lagi" ucap Gladys tanpa rasa bersalah.
"Gladys" geram Luthfi.
"Apa lagi" tanya Gladys.
"Gus aku sungguh minta maaf" ucap Luthfi.
"Tak apa Gus Luthfi aku sudah maafkan lagi pula hanya menampar saja kan, aku juga gak luka" ucap Farid.
"Tuh kan kakak ini terlalu perduli bahkan orang nya saja tidak kenapa kenapa" ucap Gladys.
"Sekali lagi maaf kan saya dan Gladys Gus" ucap Luthfi menunduk di hadapan Farid.
__ADS_1
"Ya gak papa" ucap Farid.
Rena mengajak Gladys jalan jalan mengelilingi pesantren, sedangkan Bayinya Rena titipkan pada Umi dan Zia.
Rena cukup senang ternyata Umi mendukung nya untuk mengadopsi anak Gladys.
Tadinya Rena takut kalau Umi akan melarang nya atau berkomentar tak baik tapi ternyata Umi sangat mendukung nya.
"Kak di mana kamar aku" tanya Gladys.
"Yang itu" tunjuk Rena pada kamar santri putri.
Mereka menuju ke arah salah satu kamar di sana, Gladys satu kamar dengan dua santri yang sama seperti dirinya.
Abah sengaja menyatu kan mereka agar mereka bisa lebih dekat dan saling membantu untuk merubah diri sendiri.
"Yang ini, bagaimana" tanya Rena.
"Kamarnya kecil dan siapa mereka" tanya Gladys pada kedua santri putri yang ada di sana sedang membaca buku.
"Apa aku akan sekamar dengan mereka" tanya Gladys lagi.
"Dia siapa Ning" tanya santri putri itu bernama Amy dan Nawang.
"Teh Amy ini namanya Gladys adiknya Gus Luthfi" ucap Rena.
"Oh mau di sini" tanya Amy.
"Ya teh" ucap Rena.
"Masuk saja ada kasur kosong juga di sini" ucap Nawang.
"Terima kasih Teh" ucap Rena.
"Ning kapan pulang" tanya Nawang.
"Baru saja, tapi sebentar lagi mau ke kota lagi" ucap Rena.
"Semoga bahagia ya di sana" ucap Amy.
"Amin teh" ucap Rena sambil memasang kan sprai pada kasur yang akan Gladys tempati.
Gladys menatap jijik pada tempat itu namun dia tak bisa bicara apa apa karena di sana ada kakak ipar nya juga.
"Teh Nawang, Teh Amy, saya titip Gladys ya dia baru akan masuk tolong bimbing dia ya Teh" ucap Rena.
"Tak apa Ning kami akan membangunkan dia kalau dia telat bangun untuk sholat subuh" ucap Nawang.
"Tapi Teh saat ini Gladys sedang datang bulan jangan heran kalau datang bulan nya lama" ucap Rena.
"Ya gak apa hanya wanita yang akan merasa kan nya" ucap Amy.
"Baiklah teh saya permisi" ucap Rena yang langsung keluar dengan di ikuti oleh Gladys di belakang nya.
"Kakak ipar apa bener aku akan di simpan di sini" tanya Gladys.
"Bener" ucap Rena.
"Apa menurut kakak ini tidak terlalu kumuh" tanya Gladys.
"Kamu akan biasa nantinya" ucap Rena.
"Percuma saja bicara padanya, dia terbiasa karena emang dia dari sini" gumam Gladys kesal.
Sedangkan di rumah Umi saat ini Umi dan Zia tengah mengasuh bayi Faiz.
"Lihat Umi bayinya sangat tampan ya" ucap Zia.
"Ya Neng, Gak sangka Umi sudah lebih dahulu jadi Nenek" ucap Umi.
"Ya Umi mungkin aku juga sudah jadi uwa" ucap Zia.
Luthfi yang mendengar pun langsung tersenyum, dia berharap orang tuanya seperti Umi dan Abah yang selalu mendukung apa pun yang anak anaknya lakukan.
"Umi maaf sebenarnya ide mengadopsi anak ini adalah ide aku" ucap Luthfi.
"Lalu kenapa" tanya Umi.
"Ya Umi kalau umi mau protes atau marah lampiaskan pada aku saja" ucap Luthfi.
"Gus kenapa umi harus marah, Umi senang kalau ada anak di adopsi dan mendapatkan kasih sayang, Ya dulu juga Rena seperti itu Umi gak sanggup memikirkan hal itu" ucap Umi.
"Tak apa Umi sudah" ucap Zia.
"Umi senang sekali, Umi harap dengan adanya anak ini hubungan kalian akan jauh lebih baik lagi" ucap Umi.
"Amin umi" ucap Luthfi.
"Gus kau sangat berperan besar pada kehidupan Rena kau menerima kekurangan Rena yang hanya sebagai seorang Janda" ucap Umi.
"Umi tak apa aku sayang pada Rena" ucap Luthfi.
"Ya Umi sangat berterima kasih" ucap Umi.
"Sudah Umi" ucap Luthfi.
Sore hari nya Rena akan pulang dia sebenarnya tak mau pulang tapi mau bagaimana lagi dia tak mungkin meninggalkan rumah apa lagi Luthfi juga sangat banyak pekerjaan.
Setelah berpamitan mereka langsung pulang tadinya Gladys juga meminta untuk ikut tapi Rena meyakinkan agar Gladys tetap di sana.
__ADS_1
Untung saja Gladys mau tetap di sana, Bahkan Gladys juga berjanji akan berubah sikap dan perkataan.