
Yadna bingung pada sikap Arsala mau bagaimana pun dia tau kalau Arsala punya masalah yang sedang dia tutupi.
Yadna tau betul bagaimana dengan sikap Arsala saat dia tengah ada masalah.
"Kenapa orang itu jadi mengancam Arsala, apa aku tidak cukup bagi mereka" gumam Yadna.
Yadna mengambil ponsel nya dia langsung mengirimkan pesan untuk Kathir.
"Ayolah aku akan lakukan ini dengan cepat" gumam Yadna.
{Pak sekarang ayo kita lakukan itu semua} pesan dari Yadna yang baru saja di baca oleh Kathir.
Kathir tersenyum melihat hal itu, dia sangat bahagia karena Yadna bisa menerima dia walaupun dengan terpaksa.
"Aku berjanji walau pun pernikahan kita hanyalah sebagai ajang balas dendam tapi Adna aku janji untuk menjaga kamu" ucap Kathir tersenyum.
Entah apa yang membuat Kathir sampai mau melakukan hal itu dengan Yadna karena yang sekarang Kathir rasakan hanyalah dia sangat sayang pada Yadna.
Kathir langsung mengambil kunci mobil yang ada di atas meja dia langsung menuju ke arah kediaman Yadna.
Sedangkan sekarang Yadna masuk ke dalam kamar Abinya yang sekarang tengah membaca Al Qur'an.
Yadna sudah memastikan kalau Uminya tidak ada di sana.
"Abi" ucap Yadna.
"Ya nak ada apa" tanya Luthfi menatap pada putrinya itu.
"Abi bisa kita bicara" tanya Yadna.
"Bisa ada apa" tanya Luthfi.
"Abi sebenarnya aku ingin menikah dengan pak Kabir" ucap Yadna.
"Menikah" tanya Luthfi.
"Ya Abi sebenarnya keputusan ini aku ambil sebelum aku mendapat kan kabar tentang Nenek dan mungkin aku mengambil keputusan ini kemarin, Abi sebenarnya aku dan pak Kabir sudah mendaftar kan pernikahan di KUA dan itu kemarin, jadwal pernikahan kami tiga hari lagi" ucap Yadna.
"Apa? Yadna yang benar saja tidak mungkin kamu menikah tanpa persiapan" tanya Luthfi.
"Abi kami hanya akan menikah di KUA setelah itu kami akan segera melangsungkan resepsi pernikahan nanti setelah kita tidak berduka lagi" ucap Yadna.
"Tidak, aku tidak mungkin mengijinkan" bantah Luthfi.
"Abi alasannya apa" tanya Yadna.
"Pertama, karena keluarga kita masih dalam duka, kedua aku dan Umi mu belum mempersiapkan apa apa, ketiga mana mungkin kamu menikah dulu bagaimana perasaan umi kalau tau kamu menikah tiga hari lagi" protes Luthfi.
"Jangan beri tau Umi" pinta Yadna.
"Kenapa" tanya Luthfi.
"Abi ayolah coba Abi pikir kan kalau aku gagal menikah di tiga hari itu maka pernikahan kami akan di langsung kan lama lagi karena harus menunggu antrian" ucap Yadna berbohong.
"Biar Abi yang mengatur semua" ucap Luthfi.
"Abi ayolah dengar kan aku dulu Abi" ucap Yadna.
"Aku tidak mungkin merahasiakan sesuatu yang sangat besar ini" ucap Luthfi.
"Abi aku sangat berharap pada mu, ya aku tau aku egois tapi kan aku susah payah melakukan hal ini, Abi aku takut pak Kabir di jodohkan dengan orang lain" ucap Yadna.
"Pertanyaan nya begini, bagaimana mungkin kamu bisa menikah dengan dia sedang kan kamu saja tidak bisa mengucapkan nama dia" ucap Luthfi sambil di barengi dengan gelak tawa karena mentertawakan Yadna yang salah mengucap kan nama Kathir.
"Abi ayolah nama tidak penting kan" ucap Yadna.
"Kathir nak bukan Kabir" ucap Luthfi mentertawakan putri nya itu.
"Ish Abi kalau Abi begini aku akan kawin lari" ucap Yadna mengancam.
"Silahkan" ucap Luthfi.
"Ih Abi tidak berprikemanusiaan sekali" ucap Yadna kesal.
"Ya baiklah Abi akan datang ke KUA bersama dengan kamu dan tolong Abi tidak mau kamu mengajak siapa pun kalau menurut kamu ini yang akan kamu lakukan" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna.
"Dan ingat ini, setelah kamu menikah nanti kamu langsung minta maaf pada Umi kamu usahakan sampai kamu sujud sujud supaya umi kamu bisa memaafkan kamu" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna.
"Ya kalau begitu kamu persiapkan semua nya, Abi akan kirim pesan pada Papahnya Kathir kalau pernikahan ini akan berlangsung tiga hari lagi" ucap Luthfi.
"Terima kasih Abi" ucap Yadna bersyukur karena mempunyai Abi yang baik seperti Luthfi.
"Ya sama sama" ucap Luthfi tersenyum karena senang melihat putri nya itu tumbuh dengan sangat cepat.
Yadna langsung pergi dari sana meninggalkan Abinya, sekarang dia akan bertemu dengan Kathir untuk melakukan persiapan.
Yadna percaya kalau calon pengantin itu sangat harum jadi rencana nya setelah melakukan persiapan ini Yadna akan langsung berdiam di rumah dan tidak akan bertemu dengan Kathir sebelum ijab qobul.
"Kak mau ke mana" tanya Adiba.
"Aku akan keluar sebentar aku akan pulang sebelum Adzan Ashar" sahut Yadna yang sudah di ambang pintu.
Yadna melihat uminya yang sekarang hanya diam saja mungkin karena masih ingat pada nenek nya.
"Umi sampai kapan kau akan menerima penderitaan ini, aku harap Nanda mendapatkan pembalasan yang setimpal" gumam Yadna.
Tanpa berlama lama Yadna langsung pergi dari sana karena sudah melihat mobil kathir terparkir di jalanan depan rumah nya.
Yadna langsung menuju ke sana dan masuk ke dalam mobil Kathir.
"Pak ayo" ucap Yadna.
"Baiklah ayo" ucap Kathir yang langsung melajukan mobil nya itu membelah jalanan yang tak terlalu ramai.
"Bagaimana dengan Abi kamu" tanya Kathir.
"Alhamdulillah Abi percaya dan dia setuju tapi aku bilang kita menikah tiga hari lagi" ucap Yadna.
"Benarkah" tanya Kathir terkejut dia menatap pada Yadna yang seperti nya tak sedang berbohong.
"Adna yang benar saja mana mungkin tiga hari lagi" tanya Kathir.
"Kamu mau kapan" tanya Yadna.
"Kita bisa menikah setelah Nenek kamu selesai tujuh hari kan" ucap Kathir.
"Tidak mungkin aku sudah bilang sekarang dan harus sekarang kan" bantah Yadna.
"Astaghfirullah kamu ini, persiapan nya tak mungkin beres satu hari" ucap Kathir.
"Ya sudah kita jangan menikah saja" ucap Yadna.
"Adna" kesal Kathir.
"Ayo persiapkan sekarang ada waktu kan beberapa jam lagi dari sekarang" sahut Yadna yang merasa kalau mempersiapkan pernikahan itu sangat gampang dan mudah.
Mereka menuju ke KUA untuk mendaftar kan pernikahan mereka, untung saja Yadna sudah membawa semua persyaratan untuk menikah, bahkan Kathir juga sudah membawa persyaratan nya karena Yadna yang minta kemarin.
Mereka datang ke sana berharap kalau pernikahan mereka bisa tiga hari lagi, padahal dalam hati Yadna juga merasa tidak yakin apa lagi ini sangat mendadak.
"Pak apa bisa kami menikah tiga hari lagi" tanya Yadna pada bapak bapak yang menerima pendaftaran di sana.
"Tiga hari" tanya bapak yang ada di sana.
"Ya kami ingin tiga hari lagi" ucap Yadna.
"Bisa, tapi kenapa dekat sekali kebanyakan orang lain daftar beberapa Minggu sebelum akad" ucapnya.
"Ya kami mendadak" ucap Yadna.
__ADS_1
"Baiklah saya terima ini dan datang lah tiga hari lagi, di usahakan jangan terlambat ya karena kami banyak yang harus di nikah kan" ucap bapak itu.
Yadna melongo tak percaya dia pikir tadinya dia harus memohon mohon agar di percepat ternyata segampang itu.
"Segampang ini" tanya Yadna pada Kathir saat mereka sudah ada di dalam mobil kathir.
"Kamu mau yang seperti apa Adna" tanya Kathir.
"Aku pikir aku harus memohon mohon dulu sambil bersujud di hadapan mereka agar pernikahan kita di percepat" ucap Yadna.
"Entahlah pokok nya kita harus bersyukur karena Alloh memudahkan jalan kita" ucap Kathir.
"Ya dan sekarang apa" tanya Yadna.
"Ikut aku ayo" ucap Kathir menuju ke salah satu toko mas yang ada di kota itu.
Kathir ingin membeli kan mas yang sangat bagus untuk Yadna, bahkan Kathir juga berpikir kalau Yadna yang akan memilih nya secara langsung.
"Kita mau ke mana" tanya Yadna.
"Membeli mas untuk mas kawin" ucap Kathir.
"Kenapa? untuk apa" tanya Yadna.
"Untuk mas kawin" ucap kathir.
"Tidak perlu lah pak, kita kan hanya menikah dengan cara seperti ini jadi jangan terlalu banyak memberikan barang berharga pada ku, lagi pula takutnya pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kebencian" ucap Yadna.
"Tapi setidaknya setelah kita berpisah kamu punya sesuatu yang bisa mengingat kamu pada ku" ucap Kathir.
"Terima kasih karena sudah mendukung aku pak" ucap Yadna.
"Sama sama" ucap Kathir.
Rasanya sakit sekali saat Kathir tau kalau Yadna masih menganggap pernikahan ini hanyalah sebagai ajang balas dendam.
Walau pun kathir juga berpikir begitu tetapi dia merasa sangat sakit juga mendengar itu dari orang lain termasuk Yadna.
"Astaghfirullah" gumam Kathir.
"Ada apa pak" tanya Yadna.
"Tidak ada hanya saja aku terkejut" sahut Kathir.
"Oh baik lah" ucap Yadna.
Mereka sampai di salah satu toko mas yang ada di sana, mereka langsung masuk karena akan memilih emas setelah ini mereka juga akan mempersiapkan gaun pengantin juga.
Kathir memilih kan beberapa emas yang dia sukai, dan seperti nya Yadna sangat pasrah pada apa yang Kathir pilih kan.
"Kamu suka" tanya Kathir saat melihat Yadna memakai cincin yang tengah di lihat lihat itu.
"Suka" jawab Yadna tersenyum.
"Mbak kami ambil yang ini" sahut Kathir.
Namun Yadna menatap dulu pada mbak mbak yang menjaga toko itu.
"Mbak ini berapa" tanya Yadna.
"Harganya sembilan ratus ribu per gram dan yang kakak pegang itu sekitar sepuluh gram, sembilan ratus di kali sepuluh gram jadi harganya sembilan juta rupiah" ucap Mbak penjaga tokonya.
"Kalung" tanya Yadna terkejut.
"Ya dan kalau sepaket bisa jadi dua puluh juta atau lebih" ucap mbaknya itu.
"Ada yang lebih murah" tanya Yadna merasa sangat tak enak hati jika memilih emas yang mahal.
"Adna" sahut Kathir.
"Pak ini terlalu mahal jangan yang mahal yang murah saja" ucap Yadna.
"Tak apa ini terserah aku tugas kamu hanya memilih" ucap Kathir.
"Mbak tolong bungkus kan" titah Kathir.
"Baik pak" ucap mbaknya itu.
Yadna hanya menatap pada Kathir yang saat ini tengah merasa kesal padanya.
"Pak kenapa harus yang mahal, aku tidak mau menghabiskan uang kamu" ucap Yadna.
"Sudah aku yang akan membayarnya" ucap Kathir.
Yadna hanya pasrah saja dia tidak tau harus apa, Yadna sebenarnya tidak butuh akan hal itu dia hanya cukup bisa tinggal di kediaman Kathir.
Yadna akan menghapus video itu hingga tak ada lagi bukti yang bisa membuktikan kalau Yadna yang di lecehkan oleh Fathir.
Yadna takut mamahnya Kathir semakin menjadi jadi jika di biarkan saja.
"Sekarang apa" tanya Kathir.
"Kita pilih baju" ucap Yadna.
"Baiklah ayo" ucap Kathir.
Mereka menuju ke salah satu toko yang menyediakan berbagai macam gaun pengantin yang bisa dia pilih untuk nanti.
Yadna masuk ke dalam toko itu bersama dengan Kathir.
Walau pun hanya menikah di kua tetap saja Yadna harus memakai pakaian yang sopan dan pas seperti acara yang tengah dia langsung kan itu.
Tidak mungkin Yadna menikah memakai baju kemeja dan celana kulot yang selalu dia pakai itu.
Yadna memilih kebaya berwarna putih dengan samping yang bermotif seperti batik.
"Yang ini bagus" tanya Yadna.
"Bagus" jawab Kathir.
"Mbak tolong pilihkan jas untuk calon suami saya" pinta Yadna.
"Baik" ucapnya.
Yadna menatap pada kebaya yang ada di sana namun berwarna moka.
"Yang ini lingkar dadanya berapa" tanya Yadna.
"Sekitar seratus sepuluh" jawab pegawai di sana.
"Pas gak ya di aku" gumam Yadna.
"Nona kalau penasaran boleh di coba dulu" ucap nya.
"Ya terima kasih tapi kami sangat sibuk" ucap Yadna.
Yadna menatap pada Kathir yang tengah menatap pada jas yang baru saja pegawai itu berikan.
Antara warna hitam dan putih, Kathir sangat bingung memikirkan hal itu.
"Pak mau saya bantu pasangkan" tanya pegawai yang ada di sana.
Yadna datang ke sana dan langsung mengambil jas itu dari tangan Kathir.
"Tidak perlu mbak biar saya yang pasangkan" ucap Yadna yang langsung membuka kancing jas yang Kathir pakai sekarang.
"aku bisa sendiri" ucap Kathir.
"Apa kau rela tubuh mu di sentuh orang lain" tanya Yadna.
"Bukan begitu hanya saja aku bisa sendiri" bantah Kathir.
"Aku gak perduli pokok nya aku bantu, pak kita tidak punya banyak waktu sekarang" ucap Yadna.
__ADS_1
Yadna membantu memasangkan tapi sayang jas itu tak ada yang pas di badan Kathir kebanyakan yang tangannya panjang dan longgar, ada yang pas namun hanya warna merah dan silver saja.
Yadna merasa warna itu tidak terlalu cocok untuk Kathir apa lagi badan kathir seperti nya hanya cocok dengan warna warna gelap saja.
"Tak apa mbak kalau tidak ada" ucap yadna yang sudah lelah melihat pegawai mundur mandir mencari jas untuk Kathir.
"Tapi Nona maafkan kami, kami sudah berusaha untuk mencari tapi tak ada jad warna hitam yang sesuai dengan badan bapak" ucap pegawai itu.
"Tak apa sekarang tolong bungkus kan kebaya yang tadi di sukai oleh Adna saja" Titah Kathir.
Yadna terkejut saat melihat Kathir mengambil dompet nya dan akan mengeluarkan kartu yang ada di dalam nya.
"Mau apa pak" tanya Yadna.
"Membayar" jawab Kathir.
"Tidak ini punya aku dan aku yang harus membayar, aku tidak mau menyusahkan dan sekarang terima kasih sudah berbaik hati pada saya tapi terima kasih" ucap Yadna yang langsung menuju ke arah Kasir dan segera membayar.
Kathir hanya tersenyum, dia berpikir kalau mereka benar benar menikah seperti nya Yadna tidak akan meminta uang pada Kathir apa lagi Yadna sangat tidak ingin memakai uang Kathir.
"Wanita yang tidak pernah memandang seseorang dari uang dan berusaha untuk mandiri, I like it" gumam Kathir.
Yadna membawa paper bag yang isinya kebaya nya itu.
"Ayo pulang sebentar lagi ada acara tahlilan" ucap Yadna menatap pada jam yang sekarang menunjukan kan pukul dua sore hari.
"Baiklah ayo" ucap Kathir.
"Alhamdulillah satu persatu akhir nya selesai, dan pak mulai besok kita tidak boleh bertemu" ucap Yadna.
"Kenapa" tanya Kathir.
"Tidak boleh pak karena calon pengantin tidak boleh bertemu kalau di bahasa Sunda nya di pingit" ucap Yadna.
"Ya baiklah berarti kita bertemu saat pernikahan saja ya" ucap Kathir.
"Ya dan jika kamu ingin bicara pada papah kamu maka ada kesempatan untuk meminta papah kamu datang" ucap Yadna.
"Aku akan berusaha" ucap Kathir.
"Anggap saja ini pernikahan asli pak" ucap Yadna.
"Adna andai kamu tau tidak pernah sedikit pun aku menganggap pernikahan ini hanyalah sebagai ajang untuk bermain main aku sangat sayang pada mu, kalau pun bisa aku berdoa pada Alloh supaya kita menjadi jodoh dan tidak bisa di pisahkan, namun aku tidak bisa melakukan apa apa jika takdir sendiri yang menentukan nya, tapi Adna cinta aku ini benar benar sangat tulus" batin Kathir sambil fokus ke arah depan karena tengah menyetir.
Sedangkan di kediaman Luthfi.
Arsala menatap pada ponsel nya yang sekarang banyak sekali Video yang sudah Arsala lakukan pada Fathir, bahkan video saat Arsala mendobrak pintu hotel pun ada di sana.
{Mau menyerah}
{Kalau di penjara berapa tahun hukuman nya ya}
{CK dunia tak adil pada mu}
pesan itu yang sejak tadi Arsala lihat dia sangat tidak menyangka kalau mamahnya Kathir itu benar benar mengancam nya padahal apa yang akan dia dapatkan dengan mengancam Arsala.
{Jika kamu berani maka balas pesan ini}
Hanya itu saja pesan dari Mita yang tak lain adalah mamahnya Kathir, sekarang kalau saja Arsala tidak memikirkan orang tua dan kakaknya mungkin dia sudah datang ke rumah orang yang mengancam nya itu.
Sayang sekali sekarang dia sedang masa berkabung dan keluarga nya sedang tidak baik baik saja.
Arsala tidak berani untuk membalas apa lagi jika salah sedikit saja dia bisa kena jebakan mamahnya Kathir.
Arsala tadinya akan bicara pada Yadna hanya saja dia urungkan niat nya itu dia takut Yadna kepikiran dan menjadi kan amarah nya itu sebagai alasan balas dendam.
Padahal niat Yadna sudah baik yaitu hanya menghapus video nya saja, tapi kalau Arsala bicara maka akan lain lagi ceritanya.
"Kak kamu tau di mana kak Yadna" tanya Adiba.
"Entah" ucap Arsala.
"Oh baiklah" ucap Adiba.
Sekarang di kediaman Rena itu tengah banyak tamu bahkan Mayang dan Gladys juga ada di sana karena akan ikut tahlilan juga.
Mayang hanya bisa menangisi kepergian Sofi apa lagi dulunya Sofi itu adalah wanita saingannya yang bisa merebut Herman dari Mayang.
Namun setelah di penjara mereka tidak pernah akur dan bertegur sapa lagi, karena akhir nya Sofi lah yang mampu memenangkan Herman bukan Mayang.
Mayang menatap pada foto Sofi yang di pajang di sana.
"Sofi kamu tau, mas Herman itu memang jodoh kamu, banyak yang dia lewati dan tak sedetik pun dia melupakan kamu" ucap Mayang.
"Ada apa mah" tanya Gladys.
"Tidak mamah hanya tidak menyangka saja kalau teman mamah sudah pergi meninggalkan mamah sendirian, kamu tau kan kalau dulu aku dan Sofi itu tidak akrab" ucap Mayang.
"Sudah Mah ikhlas kan saja" ucap Gladys.
"Bukan ikhlas atau tidak nya hanya saja mamah salah pada Sofi, dulu mamah sudah merebut suaminya hingga mamah punya kamu" ucap Mayang.
"Yang lalu biarkan berlalu dan yang sekarang adalah masa yang akan datang" ucap Gladys.
"Tenang di sana Sofi entah kapan aku akan susul kamu ke sana" gumam Mayang.
Rena masih saja melamun dia tidak pernah tersenyum, sekarang senyum Rena terasa sangat hambar mungkin karena Rena Sekarang sangat bersedih jadi bisa saja Rena tersenyum dengan terpaksa.
Luthfi sekarang dia masih berada di dekat Rena, dia tidak ingin meninggalkan istri nya itu apa lagi saat ini Rena sangat banyak melamun, mungkin Rena masih sangat kacau dan memikirkan mamah dan papah nya.
"Ada apa Abi" tanya Rena menatap pada suaminya.
Walau bagaimana pun Rena tau betul apa yang di rasakan oleh suaminya itu, Rena sangat sensitif pada suaminya itu apa lagi Luthfi akan sangat terlihat jika tengah menutupi sesuatu.
"Tidak ada Umi" ucap Luthfi.
"Jangan bohong Abi" Ical Rena.
"Aku tidak bohong" ucap Luthfi.
"Aku tau betul bagaimana wajah kamu jika sedang bersedih atau tengah menutupi sesuatu dari ku, jujur saja Abi sejak kapan kamu menutupi rahasia dari ku" ucap Rena.
"Mana berani Umi" ucap Luthfi.
"Jujur lah" ucap Rena.
Luthfi yang sangat patuh dan sayang istri itu langsung membicarakan segalanya pada istri nya itu.
Luthfi suami yang sangat susah untuk menyimpan Rahasia.
Apa lagi saat dia baru punya rahasia saja Rena pasti akan langsung menyadari nya.
"Apa wajah aku ada tulisan nya jika tengah menyembunyikan rahasia" batin Luthfi.
**
Sedangkan di kediaman Pak Amta..
Mita tengah bersama dengan orang tuanya Risa yang sekarang datang ke sana.
"Bagaimana" tanya orang tua Risa.
"Belum pasti Kathir sangat keras kepala" ucap Mita.
"Mita kamu tau kan kalau Risa itu sangat jatuh cinta pada putra mu" ucap orang tua Risa.
"Ya aku tau tapi bisa kah bersabar sebentar aku tengah mencari cara agar bisa membujuk Kathir kamu tau kan kalau Kathir itu sangat keras kepala, pokok nya cepat atau lambat aku akan buat Kathir menjadi menantu mu" ucap Mita.
"Ya karena kalau kamu tidak mau maka rahasia kamu akan aku sebar luas kan, bagus bukan" Ancam orang tua Risa.
"Ya aku aka usahakan tolong jangan sebarkan berita itu aku yakin bisa membujuk Kathir apa lagi dia adalah putra ku, jadi aku sangat mudah untuk mempengaruhi nya" ucap Mita merasa sangat sombong padahal dia saja tidak terlalu dekat dengan Kathir.
Karena selama ini Mita juga tidak terlalu dekat dengan Fathir kalau bukan Fathir yang mendekati Mita terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kathir ayolah jangan buat aku kesal" geram Mita dalam batinnya.