
Kathir datang ke kediaman papahnya yang lumayan jauh dari perusahaan nya.
Tanpa berpikir panjang Kathir akan membicarakan pernikahan itu bersama dengan papahnya.
"Pah aku akan menikah dengan Adna" sahut Kathir saat sekarang baru saja datang ke sana sendirian.
Kathir juga sudah memastikan kalau saat ini tak ada mamahnya ada di sana.
Kathir berharap papahnya tidak banyak bertanya dan hanya mengijinkan Kathir segera menikah dengan Yadna.
"Kapan" tanya Pak Amta menatap pada putranya itu.
"Tiga hari lagi dan aku berharap papah tidak pernah membantah aku, aku tidak mau menikah dengan siapa pun kecuali Adna" sahut Kathir.
"Bukannya kamu sudah di tolak oleh Yadna" tanya Pak Amta.
"Ya tapi sekarang dia menerima aku, tapi pah kalau memang papah tidak mau hadir di acara pernikahan aku tak apa, yang paling penting aku sah menikah dengan Adna" ucap Kathir.
"Kamu ini keras kepala" ucap Pak Amta.
"Ya aku tau itu dan kalau papah mau datang silahkan datang ke KUA langsung pukul setengah delapan pagi tapi kalau tidak mau tak apa aku tak akan maksa" ucap Kathir.
"Baiklah" ucap Pak Amta yang tak bicara lagi pada Kathir bahkan tak terlihat di wajah Pak Amta kalau dia keberatan.
"papah mengijinkan aku menikah" tanya Kathir.
"Kenapa tidak" tanya pak Amta menatap pada Kathir yang sekarang hanya bisa melongo saja tidak percaya pada apa yang baru saja dia lihat itu.
"Alhamdulillah kalau papah mengijinkan aku senang" ucap Kathir.
"Ya tak apa kamu berhak menentukan kehidupan kamu" ucap Pak Amta.
"Terima kasih pah" ucap Kathir yang langsung pergi menuju ke arah kamar nya.
"Sama sama" ucap Pak Amta yang bahkan tidak di dengar kan oleh Kathir karena dia sudah masuk ke dalam kamarnya.
Kathir mempersiapkan acara malam pertama mereka di sana, Kathir hanya membereskan kamarnya supaya tidak terlihat berantakan dan kotor saja.
Kathir meminta pembantu di rumah itu untuk mengantikan sprei dan beberapa gordeng yang terlihat sangat kuno.
"Aku mau yang warna coklat saja" titah Kathir.
"Baik tuan Muda" ucap pembantu itu patuh.
Setelah selesai para pembantu itu keluar, Kathir melihat hasil kerja dari pembantu nya itu, dan lumayan menurut Kathir ini terlihat sangat bagus tidak seperti tadi.
Kathir langsung mengambil jas yang berwarna hitam yang jarang dia pakai karena acara pernikahan nya itu adalah acara sakral maka dia akan memakai jas yang masih baru.
Kathir masih tak percaya kalau tak ada jas hitam yang tidak pas di badan nya.
Padahal jika di lihat perawakan Kathir lumayan bagus tapi dia sangat kesusahan mencari jas yang dia inginkan.
Kathir membawa jas dan beberapa kemeja putih sebagai daleman nya nanti, bahkan Kathir juga sudah membungkus kan mukenah dan sejadah, serta uang dan emas yang akan dia jadikan sebagai mas kawin nanti nya.
Kathir membawa koper yang isinya pakaian itu, menuju ke luar kamar dia sekarang akan tinggal di perusahaan nya karena tidak mau terlibat dengan orang tuanya apa lagi dengan mamahnya.
Kathir sangat bahagia bisa menikah dengan Yadna, orang yang saat ini sangat Kathir ingin kan.
"Mau ke mana" tanya Pak Amta.
"Pah aku akan menginap di perusahaan aku sambil menyelesaikan pekerjaan aku karena setelah menikah nanti aku akan banyak mengambil cuti" ucap Kathir.
Pak amta paham dia hanya tersenyum saja melihat putra nya itu, bahkan saat ini pak Amta membela Kathir padahal kemarin istri nya baru saja membujuk dia untuk menikah kan Kathir dengan Risa.
"Terkadang membahagiakan orang lain itu sangat sulit" gumam Pak Amta.
Di kediaman Yadna saat ini baru saja selesai melaksanakan Tahlilan yang sudah beberapa kali di gelar itu, mereka percaya pada hal semacam itu apa lagi tahlil juga sama seperti mendoakan orang yang sudah tidak ada.
Yadna melihat kalau adiknya semakin banyak pikiran apa lagi Arsala seperti nya tengah memikirkan sesuatu yang sangat besar hingga membuat dia hanya bisa diam.
"Ada apa" tanya Yadna pada Adiba yang saat ini ada di sana juga bersama dengan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kak" tanya Adiba.
"Kenapa kakak kamu" tanya Yadna.
"Oh entah sejak kemarin dia melamun seperti nya ada yang dia pikirkan" ucap Adiba.
"Oh aku akan tanya dia nanti" ucap Yadna.
"Ya harus kak karena kalau aku yang tanya dia tidak akan menjawab entah ada apa aku tidak terlalu tau pada kehidupan kak Arsala" ucap Adiba.
"Dia akan sangat tertutup kalau soal masalah pada siapa saja" ucap Yadna.
"Mungkin saja kamu benar kak" ucap Adiba.
Malam ini Yadna sudah mengatur semuanya dengan sangat rapih dia tidak ingin pengorbanan ini sia sia saja apa lagi ada Kathir juga yang terlibat di dalamnya.
"Kalau aku gagal aku hanya akan menang malu saja" gumam Yadna.
Tok
Tok
Yadna membuka kan pintu kamar nya dia melihat kalau ada abinya di sana.
"Yadna abi punya ini untuk kamu" ucap Luthfi.
"Abi kenapa harus repot repot aku gak minta apa pun dari kalian, doa saja sudah cukup bagi aku" ucap Yadna.
"Tidak mana mungkin aku tidak memberikan hadiah untuk putri Abi yang sangat besar ini" ucap Luthfi.
"Terima kasih Abi, tapi Abi kamu yakin kan kalau Umi tidak tau akan hal ini" tanya Yadna menatap tak percaya pada Abinya itu apa lagi Abinya sangat terbuka pada Umi Rena.
"Tidak" bantah Luthfi.
"Baiklah aku akan simpan emas ini dan aku pakai saat nanti aku melangsungkan akad, aku sangat sayang pada mu Abi" ucap Yadna.
"Apa pada Umi mu tidak" tanya Luthfi.
"Sudah tak apa setelah menikah kamu minta maaf pada Umi dan datang ke makam nenek" ucap Luthfi.
"Baiklah aku akan lakukan itu dan Abi tenang saja aku tidak akan mungkin mengingkari janji aku" ucap Yadna.
"Ya terima kasih" ucap Luthfi.
"Sama sama Abi" ucap Yadna.
Luthfi keluar dari kamar Yadna yang saat ini Yadna tempati, Yadna lupa kalau saat ini dia akan mempersiapkan semuanya agar bisa selesai dalam sehari.
"Aku sangat lelah malam ini apa aku lakukan ini besok saja aku sangat lelah" gumam Yadna.
Yadna merasa sangat lelah dia langsung tertidur di sana.
Namun saat ini Arsala sangat sedih dia masih sangat kepikiran pada pesan yang mengancamnya itu.
"Aku salah apa, ya aku tau aku salah karena sudah memukuli Fathir tapi apa salahnya jika aku membela kakak aku sendiri" gumam Arsala.
Arsala tak tau harus apa sekarang karena yang dia pikirkan sekarang adalah menyerah kan diri pada polisi.
"Harus kah aku melakukan hal ini agar aku bisa lepas dari ancaman orang tua bosnya kakak, aku takut kalau video itu sampai pada Umi atau Abi aku gak bisa bayangkan kalau mereka melihat" gumam Arsala.
Drtt
{082120982836, nomor Ibu kamu bukan, bagaimana kalau dia melihat video kamu} pesan dari Mita.
Arsala sangat terkejut karena melihat nomor Uminya terpampang di pesan itu.
"Astaga bagaimana ini" gumam Arsala.
Arsala diam saja dia berharap kalau pesan itu hanya lah ancaman bagi dia untuk segera menyerah.
Namun Arsala tidak pernah takut akan hal itu dia berusaha untuk tenang sekarang.
__ADS_1
Dan ternyata ancaman Mamahnya Kathir itu benar benar nyata dia mengirim kan pesan video itu pada Rena yang entah dari mana dia punya nomor nya.
{Uuuuu aku kirim pada ibu kamu} pesan Mita yang disertai dengan foto hasil screen shot pesan dia pada Rena.
"Astaghfirullah" gumam Arsala yang langsung berlari menuju ke arah kamar orang tuanya karena takutnya kalau sekarang Abi atau Umi nya melihat hal itu.
Dengan lari sekencang kencangnya Arsala langsung masuk ke dalam kamar orang tuanya tanpa permisi dahulu.
"Umi" ucap Arsala yang di tatap tajam oleh Luthfi.
"Ada apa" tanya Luthfi marah pada putranya itu.
"Abi aku mau pinjam ponsel Umi" ucap Arsala.
"Tak bisa kah kalau bukan pintu kamar orang lain itu permisi dulu atau ketuk dulu sebelum masuk" tanya Luthfi kesal.
"Maafkan aku Abi aku sangat menyesal aku butuh ponsel Umi" ucap Arsala.
"Ambillah dan pergi dari sini, Umi kamu baru saja mau istirahat" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Arsala yang langsung mengambil ponsel Uminya dan pergi dari sana karena tidak mau menganggu orang tuanya.
Arsala melihat pesan dari Mita dan ternyata benar di sana ada Video itu dan pesan singkat dari Mita.
Arsala langsung menghapus pesan itu bahkan dia juga memblokir nomor itu karena Arsala tidak mau kalau orang tuanya melihat hal itu.
"Semakin nekad dia" geram Arsala.
Arsala langsung menuju ke kamar Yadna yang sekarang ada di lantai atas dia langsung mengetuk pintu karena takutnya kakak nya itu sudah tidur.
Dan benar saja Yadna sudah tertidur tadinya Arsala akan bicara kan hal itu pada kakaknya tapi jika seperti ini Arsala takut kalau orang tua Kathir semakin senang membuat Arsala ketakutan.
"Aku tau kamu hanya ingin aku ketakutan kan" gumam Arsala menatap pada ponsel Uminya itu.
Arsala punya ide, dia tidak akan memberi tau kan hal itu pada Yadna justru dia akan memberi tau Kathir tentang hal itu.
📞📞
"Waalaikum salam ada apa" tanya Kathir yang baru saja mengangkat telepon nya.
Arsala bingung karena tadi dia belum mengucapkan salam tapi Kathir lebih dahulu mengucap kan nya.
"Assalamualaikum" ucap Arsala.
"Waalaikum salam, Ada apa" tanya Kathir.
"Begini Kak Kathir ada yang mau aku bicara tentang Mamah kamu yang itu, dia mengirim kan pesan pada Umi dia mengirim video pada Umi" ucap Arsala.
"Kenapa bisa, dari mana dia punya nomor orang tua kamu" tanya Kathir.
"Entah aku sekarang yang pegang ponsel Umi aku tidak yakin kalau dia akan berhenti sampai sini saja" ucap Arsala.
"Tenang lah aku akan tanya pada pembantu aku sedang apa mamah malam malam begini" gumam Kathir.
"Ya baiklah" ucap arsala.
📞📞
Kathir mengirim kan pesan pada pembantu yang ada di sana, dia ingin tau sedang apa Mita sekarang karena yang Kathir tau Mamahnya itu sangat jarang bangun tengah malam apa lagi dia punya penyakit yang cukup serius jika berani saja bergadang.
{Tuan saya melihat kalau Nyonya sedang mengutak atik ponsel nya di kamar, saya tidak berani masuk tuan} balasan pesan dari pembantu nya itu.
Kathir hanya menatap pada pesan itu dia tidak tau bagaimana cara menghentikan mamahnya apalagi jika dia meminta bantuan pada orang lain takut nya berita itu akan cepat tersebar.
Kathir merasa sangat bersalah pada Arsala dan Yadna karena ulah mamahnya yang melakukan hal itu dia jadi seperti itu dan bahkan Arsala dan Yadna juga sampai kebawa bawa.
Kathir memberikan pesan pada Arsala untuk berjaga jaga.
Takutnya karena hal itu mamahnya akan mengirim kan pesan yang lain, bahkan Kathir juga memastikan kalau setidaknya Arsala memegang semua ponsel yang ada di rumah itu agar tidak bisa di hubungi oleh mamahnya Kathir.
{Katanya mamah tengah mengutak atik ponsel nya, dia mungkin tengah mencari nomor atau apa pun yang mungkin saja memudahkan dia menghubungi keluarga kamu}
__ADS_1
{Anda tenang saja} pesan Arsala.