
Kathir menatap pada Arsala walaupun matanya masih sangat mengantuk dia tak menemukan keberadaan Adna di sana.
"Di mana Adna" tanya Kathir.
"Dia di culik" geram Arsala saking geram nya pada Kathir yang terkesan lemot itu.
"Ayo cari" ucap Kathir.
"Ayo" ucap arsala.
Mereka akan keluar dari perusahaan itu tetapi ada seorang bapak bapak yang terdiri di sana.
"Pak satpam" tanya Kathir.
"Pak Kathir saya melihat Adna di bawa oleh Tuan Fathir" ucap pak satpam itu dengan wajah yang babak belur.
"Apa" tanya Kathir.
"Ya pak karyawan memakan makanan yang di dalam nya ada obat tidur jadi mereka tertidur dan mungkin saja Adna juga seperti itu" ucap pak Satpam itu menjelaskan.
"Ke mana arah mereka pergi" tanya Kathir.
"Arah barat" ucap Pak Satpam.
"Baiklah aku akan mencari Adna, bapak obati saja luka bapak itu" ucap Kathir.
"Ya pak" ucapnya.
Arsala dan Kathir berlari ke arah parkiran mobil, tadinya Kathir akan naik mobil milik nya tapi Arsala mencegah dia langsung menarik Kathir menuju ke arah mobil Arsala.
"Naik mobil aku saja" ucap Arsala.
Mereka langsung pergi dari sana meninggalkan perusahaan itu, hingga mereka sudah berada di perjalanan yang sekarang sangat sepi.
Arsala Fokus menyetir dia melihat mobil mobil yang ada di sana.
"Yang mana mobil Fathir itu pak" tanya Arsala.
Namun tak ada jawaban dari Kathir saat Arsala melihat ternyata Kathir sedang tertidur di sebelah nya.
"Astaghfirullah pak" sahut Arsala marah.
"Hah ya" tanya Arsala yang sekarang sudah sangat mengantuk karena pengaruh dari obat itu.
"Yang mana mobil Fathir itu pak, anda jangan macam macam kakak saya dalam bahaya" ucap Arsala.
"Ya aku akan lihat mobil nya" ucap Kathir.
"Bangun lah anda tidak bertanggung jawab sekali sebagai atasan" geram Arsala.
"Bocah tau apa" ucap Kathir kesal karena ucapan Arsala.
"Sekarang kakak saya dalam bahaya jika terjadi apa apa aku akan tuntut kamu" ucap Arsala.
"Ya ya" ucap Kathir yang sekarang juga sangat panik dan cemas hanya saja dia sangat mengantuk berat.
Kathir mengambil botol minum yang ada di sana.
"Ini air bersih" tanya Kathir.
"Ya" ucap Arsala.
Kathir meminum air itu dia mencoba untuk kuat, agar tidak mengantuk lagi.
Namun saat Kathir melihat ke arah kiri jalan dia melihat ada mobil kakaknya yang terparkir di halaman hotel.
"Berhenti" sahut Kathir.
Arsala menghentikan mobilnya dia langsung menatap pada Kathir yang sekarang turun dari mobil itu.
"Pak" sahut Arsala yang sangat marah tapi tidak tau harus apa.
Arsala melihat Kathir yang sekarang masuk ke dalam hotel itu dan Arsala hanya bisa mengikuti Kathir saja tanpa banyak bicara.
Mereka masuk namun saat ini kathir tengah di tahan oleh satpam yang sekarang berjaga di sana.
"Kami akan pesan kamar" sahur Arsala dari belakang.
"Oh silahkan masuk" ucap Satpam itu.
Kathir ikut masuk dia kagum pada Arsala yang mampu membuat satpam itu memperbolehkan mereka masuk.
"Kamu yakin kakak ku ada di sini" tanya Arsala.
__ADS_1
"Mobil putih yang itu mobil kak Fathir" ucap Kathir.
"Baiklah ayo masuk" ucap Arsala.
Mereka mendekat pada resepsionis.
"Mbak selamat malam, apa ada kamar yang di pesan oleh Fathir" tanya Arsala.
"sebentar saya cek" ucapnya.
Arsala menunggu bersama dengan Kathir.
"Ada Pak kamar nomor 23" ucap mbak mbak resepsionis.
"Kenapa kamu bocorkan itu kan privasi" ucap Kathir.
"Terima kasih Mbak" ucap Arsala yang langsung pergi dari sana meninggalkan Kathir yang masih ada di sana.
Arsala menuju ke kamar 23 di hotel itu, dia akan mendobrak kamar itu jika saja Fathir sudah keterlaluan padanya.
Bughh
Arsala menendang pintu itu, setelah beberapa bel yang Arsala tekan tak ada reaksi juga dia mulai menendang nendang pintu itu.
"Buka dasar be de bah" geram Arsala.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang saja" ucap Kathir.
Bugh
Arsala memukul Kathir sejak tadi Arsala sudah marah pada Kathir, apa lagi yang Arsala pikirkan sekarang adalah Kathir tidak perduli pada Yadna.
"Kalau kau mau pulang maka pulang lah aku akan mencari kakak ku sendirian" geram Arsala.
Kathir tak berani melawan dia hanya diam saja, namun sekarang Arsala semakin berontakan dia memukul dan menendang nendang pintu itu.
Pintu itu terbuka dan benar saja ada Fathir di sana.
"Kak" sahut Kathir.
Bugh
Arsala meninju perut Fathir yang sekarang seperti sedang mabuk parah itu.
"Kak" sahut Arsala yang langsung mendekat pada Yadna.
Arsala memeluk kakaknya itu, air mata Arsala langsung jatuh dia tak kuat melihat kakaknya yang sekarang telah menjadi korban pelecehan itu.
"Astaghfirullah" gumam Arsala.
Tangan Arsala mengepal kuat dia langsung melepaskan pelukan dari kakaknya.
Arsala mendekat pada Fathir yang sekarang tengah sempoyongan itu.
Bughh
Bughh
Plakk
Hugh
Pukulan, tamparan, bahkan tendangan Arsala berikan pada Fathir saat ini Fathir hanya diam saja karena tak bisa melawan.
"Dasar bajin gan berani sekali melecehkan kakak ku" geram Arsala.
Fathir mencoba untuk melawan hingga saat Arsala lengah dia langsung memukul Arsala.
Arsala kelimpungan dan saat itu Fathir berlari dari sana karena akan melarikan diri dari Arsala.
Namun Arsala tidak akan melepaskan Fathir begitu saja dia langsung mengejar Fathir yang sekarang sudah ada di luar Hotel itu.
Arsala sekuat tenaga belari, sedangkan Fathir saat ini ketakutan dia berlari dan akan menyebrang karena ketakutan dia tidak melihat kanan kiri hingga.
Brakk
Fathir tertabrak mobil yang melaju dari arah Kanan, Fathir sampai terguling guling karena tertabrak mobil itu.
Arsala hanya melihat hal itu, Kathir datang ke sana bersama dengan Yadna.
"Astaghfirullah" ucap Kathir melihat kakaknya yang saat ini terbaring lemah.
"Karma di bayar lunas" gumam Arsala.
__ADS_1
Kathir memegang tangan Yadna.
"Pergilah jangan lama lama di sini" titah Kathir.
"Tapi pak" tanya Yadna.
"Rahasia kan ini aku janji akan bertanggung jawab atas semua ini" ucap Kathir.
"Tapi pak" ucap Yadna.
"Boy bawa kakak mu pergi" titah Kathir pada Arsala yang sekarang hanya berdiam diri saja di sana.
Tanpa berlama lama Arsala membawa kakaknya itu pergi dari sana.
"Ayo pergi" ucap Arsala.
"Tapi Arsa kita juga salah" ucap Yadna.
"Ayo" sahut Arsala yang langsung menarik tangan kakaknya itu.
Mereka pergi dari sana meninggalkan Kathir yang masih ada di sana.
Kathir sebenarnya bingung harus apa, karena saat ini kakaknya tidak boleh di pegang siapa pun.
Namun Kathir ini menghilang kan sidik jari bekas tangan Arsala atau tangan Yadna di badan Fathir.
Kathir langsung datang ke sana dan memegang kakaknya itu.
"Kak bangun kak" sahut Kathir yang langsung menangis karena sedih pada nasib kakaknya itu.
"Telpon ambulans" sahut yang lain.
Bahkan saat ini semua orang berteriak histeris karena melihat kejadian itu.
"Kak bangun" sahut Kathir.
Sedangkan saat ini Arsala sangat panik pada kakaknya saat ini.
"Kak kamu baik baik saja" tanya Arsala.
"Aku baik baik saja, oh ya Arsa tolong rahasia kan ini" ucap Yadna.
"Aku janji" ucap Arsala.
Yadna hanya melamun saja dia tidak tau harus apa sekarang.
"Siapa laki laki yang mau menjadi suami aku nanti" batin Yadna.
Yadna ingat pada ucapan Kathir saat di hotel.
Flash back on.
Saat di hotel Arsala pergi dari sana mengejar Fathir sedangkan Kathir saat ini menatap pada Yadna yang sekarang berdiri di dalam kamar itu.
Kathir langsung mendekat pada Yadna.
"Maafkan kak Fathir" Ucap Kathir yang langsung memeluk Yadna.
"Aku janji aku akan tanggung jawab" ucap Kathir.
"Pak" ucap Yadna.
Kathir menatap pada Yadna.
"Kamu tenang saja ya" ucap Kathir.
"Pak aku sangat ketakutan" ucap Yadna.
"Ya aku akan tanggung jawab, apa pun yang terjadi pada mu aku akan lakukan apa pun supaya hal ini bisa segera selesai" ucap Kathir.
"Terima kasih pak, tapi aku mau pulang" ucap Yadna.
"Ya ayo" ucap Kathir.
Namun saat Yadna akan pergi dari sana, Kathir memeluk lagi dari belakang.
"Aku tau kamu ketakutan tapi aku pasti kan kamu akan baik baik saja" ucap Kathir.
Kathir suka pada Yadna, rasanya berat sekali melihat kenyataan kalau Yadna sudah bersama dengan kakaknya.
"Aku sayang kamu Adna" bisik Kathir pada telinga Yadna.
Flash back off.
__ADS_1