
Di sebuah Cafe yang sangat terkenal itu terdapat seorang gadis keturunan Indo dan Inggris itu tengah meminum minumannya sambil marah marah.
Dia bergumam menjelek jelekan kedua sejoli yang baru saja menikah.
"Aku gak akan membiarkan kalian bahagia, awas saja kalian" geramnya.
Datanglah seorang wanita paruh baya yang gayanya sangat Hedon itu.
"Nagita ada apa" tanya Mayang yang tak lain adalah Mamahnya Luthfi.
"Tante kata Tante aku dan Luthfi akan menikah tapi apa ini tante, aku datang ke sana dia sudah menikah dengan Rena" ucap Nagita marah marah.
"Ya ini yang Tante tak suka, tapi ngomong ngomong kamu kenal sama Rena" tanya Mayang.
"Dia dulunya sukarelawan di rumah sakit tempat aku bekerja, Tante dia itu janda" ucap Nagita.
"Janda? kata siapa? kamu tau dari mana?" tanya Mayang terkejut.
"Tante gak tau kemana saja" tanya Nagita.
"Aku gak terlalu memikirkan dia aku gak suka padanya" ucap Mayang.
"Lalu sekarang bagaimana dengan hubungan aku" tanya Nagita.
"Kamu tenang saja Tante pasti kan kamu akan menikah dengan Luthfi" ucap Mayang.
"Benarkah Tante bisa pastikan" tanya Nagita.
"Ya Tante akan usahakan" ucap Mayang.
Sore harinya Lutfhi dan Rena tengah bersiap karena akan ke perusahaan Luthfi, sebenarnya Rena masih sakit hati dengan ucapan Nagita tadi pagi karena ucapan Nagita ada benarnya juga.
"Kamu udah siap" tanya Luthfi.
"Ya ayo" ucap Rena.
Luthfi mengendarai mobilnya di sepanjang perjalanan Luthfi sangat banyak bicara dia menunjukkan semua jalanan pada Rena, jika ada bangunan Tinggi Luthfi akan menjelaskan tentang bangun itu.
Rena antusias mendengarkan nya bahkan dia juga kagum mendengar kalau Luthfi tau semuanya.
"Kamu tau gak aku dulu punya teman" ucap Luthfi.
"Teman siapa" tanya Rena.
"Namanya Indra, dia itu orangnya baik tapi sayang dia menikah dengan seorang wanita yang kaya raya, katanya sih dia di jadikan gigolo ada juga yang bilang kalau dia hanya di manfaatkan" ucap Luthfi.
"Gigolo itu apa" tanya Rena.
Luthfi bingung bagaimana cara menjelaskannya bahkan dia tak tau harus menjelaskan apa padanya.
"Gigolo itu apa" tanya Rena lagi.
"Gigolo itu laki laki yang menemani wanita, seperti mendengar kan wanita itu bercerita atau menemani wanita itu jika wanita itu sedih" ucap Luthfi.
"Oh ya asik kayanya, aku juga mau punya gigolo" ucap Rena.
kreett
Luthfi mengerem mendadak saat mendengar Rena bicara seperti itu.
"Ada apa" tanya Rena.
"Tidak aku hanya terkejut saja" ucap Luthfi.
"Hati hati Gus" ucap Rena.
"Ya aku akan maju perlahan" ucap Luthfi.
"Jangan ngebut" ucap Rena.
Luthfi menjalankan lagi mobilnya dengan perlahan tapi pasti, dia tak habis pikir karena Rena sangat sangat polos bahkan dia tak tau makna gigolo.
Mungkin Luthfi menyesal karena membicarakan temannya itu.
"Ning kenapa harus mencari gigolo kalau aku bisa menjadi gigolo mu" ucap Luthfi.
"Gus aku bercanda mana mampu aku menyewa laki laki, lagi pula untuk apa aku menyewa laki laki yang bukan muhrim" ucap Rena.
Luthfi tersenyum mendengar hal itu.
"Aku akan menjadi gigolo gratis untuk mu" ucap Luthfi.
"Kamu ini ada ada saja" ucap Rena tersenyum.
Mereka sampai di perusahaan Luthfi yang sangat besar menjulang tinggi itu.
Rena melihat nama perusahaan itu "Ufi A Yasir" dan hal itu bisa langsung Rena tebak kalau nama itu adalah nama Luthfi.
"Ayo masuk" ucap Luthfi.
Rena berdecak kagum melihat bangunan yang bagus itu bahkan banyak sekali orang orang yang berlalu lalang di bangun besar itu.
"Jangan seperti itu kamu Nyonya di sini" bisik Luthfi.
Rena langsung menghentikan langkahnya dia masih teringat dengan ucapan Nagita yang sangat membuat Rena insecure.
Rena melihat pada karyawan yang ada di sana mereka berbisik bisik sambil melihat pada Rena, dia yakin kalau mereka pasti membicarakan dirinya.
"Aku tak nyaman ada di sini, apa lagi mata mereka tertuju pada ku" gumam Rena.
Rena ingin pergi dari sana meninggal kan Luthfi yang sudah berjalan lebih dahulu, tapi sayang dia terlalu takut kalau Rena ikut maka Luthfi akan di permalukan karena membawa dia.
"Apa dia istrinya tuan".
"Kampungan"
"Norak".
"Selera tuan sangat rendahan".
"Diam lah kita bicarakan nanti saat tuan pergi".
"Tapi lihat dia, sangat kampungan dan tak terlihat seperti orang kaya dia seperti orang kampung yang baru datang ke kota".
"Apa mungkin dia adalah pembantu tuan"
__ADS_1
"Dia istri yang tak becus".
Rena pergi dari sana meninggalkan tempat itu, dia tak sanggup melihat ucapan orang orang yang terdengar oleh telinganya bahkan dia juga seolah di asing kan.
Rena masuk lagi ke dalam mobilnya tak perduli kalau suaminya pasti akan mencarinya.
Benar saja Luthfi akan masuk ke dalam ruangannya dia melihat ke arah belakang ternyata Rena tak ada di sana.
Dia yakin kalau Rena pasti akan bersembunyi apa lagi Luthfi juga menyadari pedasnya mulut karyawannya itu.
"Selamat sore tuan" ucap sekertaris pada Luthfi.
"Sore" ucap Luthfi.
"Baiklah tuan mau meeting sekarang" tanya karyawannya itu.
"Persiapkan dulu aku mau ke mobil ada yang ketinggalan" ucap Luthfi.
"Baik tuan" ucapnya.
Luthfi pergi ke arah parkiran mobilnya dia akan melihat Rena yang kembali lagi ke Mobil.
Saat ini Rena tengah menangis dia malu pada dirinya sendiri apa lagi mereka semua menatap Rena dengan tatapan tak suka, tentu saja Rena semakin tak percaya diri.
Apa lagi saat ini Rena tengah ada di banyaknya wanita wanita yang cantik, bahkan mereka lebih cantik dan sempurna dibandingkan dengan Rena.
Luthfi datang ke sana dengan cepat Rena menghapus air matanya karena tak mau Luthfi melihatnya.
"Ning ada apa" tanya Luthfi yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Gus aku hanya mau istirahat saja rasanya kepala aku pusing Gus" ucap Rena berbohong.
"Jangan bohong" ucap Luthfi.
"Tidak Gus aku sungguh sungguh" ucap Rena.
"Itu perusahaan aku Ning, dan itu juga milik kamu jadi kamu lebih berhak untuk masuk ke dalam sana, mereka itu bawahan kamu" ucap Luthfi.
"Tidak Gus" ucap Rena.
"Tidak apanya ayo masuk ke dalam, ayo lah ada aku kan" ucap Luthfi tersenyum.
Mau tak mau Rena akhirnya keluar juga dan masuk ke dalam perusahaan besar itu dengan di gandeng oleh Luthfi karena takutnya Rena akan kabur lagi.
Saat ini tak ada mata yang melihat pada pasangan itu, mereka takut karena Rena bersama dengan Luthfi.
Luthfi menatap tajam pada orang orang yang tadi membicarakan Rena,
Luthfi menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka yang sekarang tengah menyutak atik laptop.
"Meja nomor delapan, meja nomor tiga, meja nomor sepuluh, meja nomor dua, meja nomor lima, aku tunggu surat pengunduran diri kalian" ucap Luthfi.
Luthfi langsung menuju ke arah ruangannya bersama dengan Rena, saat ini Rena tak tau apa yang Luthfi bicara apa lagi Rena belum pernah masuk ke dalam perusahaan sebelumnya.
Ruangan itu sangat mewah terdapat sofa empuk di ruangan itu, meja dan kursi yang sangat indah dengan sedikit corak yang semakin membuat kursi itu sangat indah.
"Ini tempat kerja kamu" tanya Rena.
"Ya, tapi aku belum pernah menduduki kursi itu" ucap Luthfi menunjuk pada kursi yang indah itu.
"Setelah papah tak ada aku tak berani mendudukinya" ucap Luthfi.
"Oh" ucap Rena.
tokk
tok
Suara pintu di ketuk dari luar.
"Masuk" sahut Luthfi.
Seseorang karyawan masuk ke dalam ruang itu.
"Ada apa pak Adit" tanya Luthfi.
"Tuan saya mau bertanya kenapa para karyawan di pecat" tanya pak Adit itu.
"Saya tidak suka pada sikapnya" ucap Luthfi dengan enteng.
"Tapi tuan kinerja mereka sangat bagus'' ucap pak Adit.
"Tapi perusahaan ini butuh orang yang bisa menghargai orang lain bukan orang yang sering menghina orang lain, percuma pintar kalau adab minus" ucap Luthfi.
"Mereka mau bicara tuan" ucap Karyawan Luthfi itu menunduk.
"Bawa mereka masuk" titah Luthfi.
Rena melihat ke arah Luthfi yang hanya tenang saja.
"Gus jangan pecat mereka" ucap Rena.
"Kenapa" tanya Luthfi.
"Kasihan Gus mereka gak salah apa apa" ucap Rena.
"Mereka salah mereka menghina mu" ucap Luthfi.
"Ayo lah Gus aku tak apa lagi pula hanya di hina tak membuat aku luka juga kan" ucap Rena.
"Ya memang kamu tidak terluka fisik tapi kamu terluka batin Ning" ucap Luthfi.
"Aku mohon jangan" ucap Rena yang tak di tanggapi lagi oleh Luthfi.
Lima orang yang Luthfi suruh mengundur kan diri pun datang ke sana.
"Ada masalah apa hah" tanya Luthfi ketus.
"Tuan maafkan kami" ucap salah satu dari mereka.
"Maaf" tanya Luthfi.
"Ya tuan kami merasa menyesal tuan" ucap nya.
"Menyesal" tanya Luthfi.
__ADS_1
"Maafkan kami tuan" ucap salah satu karyawan itu.
"Kalian punya wajah kan" tanya Luthfi.
Semuanya mengangguk kan kepalanya karena takut Luthfi akan semakin marah pada mereka.
"Kalau kalian punya wajah kenapa kalian harus menghina orang lain, kalian menghina orang yang salah, sadar gak? dengan bo doh nya kalian menghina istri dari Bos kalian, Kalian punya wajah kalian punya badan? kenapa tak hina saja diri kalian sendiri" ucap Luthfi.
"Maaf tuan".
"Kami salah tuan, maafkan kamu maklum manusia memang biangnya kesalahan" ucap yang lain.
"Lalu aku harus mengalah kan semua manusia karena kesalahannya hah" tanya Luthfi.
Senyap!!
Tak ada yang berani bicara lagi mereka takut pada tatapan Luthfi yang menatapnya tajam.
"Kalian itu hanya membanggakan kalian sendiri, kalian melihat kalau kekurangan orang lain itu adalah lelucon yang pantas untuk di tertawa kan" ucap Luthfi.
"Sudahlah" ucap Rena.
"Sekarang terserah kalian, kalau kalian masih punya muka untuk ada di sini maka kalian tetap ada di sini, ini terserah pada kalian" ucap Luthfi.
"Maafkan kami tuan" ucap salah satu karyawan Luthfi.
Luthfi tersenyum melihat mereka berlima yang hanya menunduk saja.
"Jika kalian melihat seseorang dari penampilan nya maka aku tak akan segan segan mengeluarkan kalian tanpa uang pensiun" ucap Luthfi.
"Sekali lagi maaf kan saya tuan" ucap yang lain.
"Minta maaf lah kalian salah jika harus meminta maaf pada ku" ucap Luthfi.
Mereka semua langsung bersujud pada Rena yang hanya berdiri mematung saja tanpa bicara apa apa.
Rena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh orang orang itu.
"Maafkan kamu Nona" ucap mereka.
"Sudah tak apa" ucap Rena menyuruh orang itu untuk bangun lagi.
"Terima kasih Nona sudah memaafkan saya, kami mengaku kami salah maaf" ucap seseorang yang ada di sana.
"Tak masalah" ucap Rena.
"Tuan sekali lagi maaf kan saya" ucap yang lain.
"Jika kalian mengulangi lagi, pada siapa pun orangnya maka aku tak akan segan segan mengeluarkan dia dari sini, bukan hanya untuk kalian tapi untuk karyawan yang lain juga" ucap Luthfi.
"Baik tuan".
"Pergilah" ucap Luthfi.
"Terima kasih tuan" ucap mereka yang langsung pergi dari sana.
Luthfi melihat pada Rena yang sekarang hanya berdiri di belakang nya.
"Ning" ucap Luthfi yang menarik Rena mengarah kan Rena untuk duduk di Sofa.
"Kamu cantik, sangat cantik jadi apa yang harus membuat kamu tak percaya diri" tanya Luthfi.
"Gus aku hanya tau mau kamu malu punya aku" ucap Rena menunduk.
Luthfi tersenyum melihat pada istri nya.
"Kenapa aku harus malu punya kamu, justru aku sangat bangga punya kamu, aku bangga karena aku bisa meluluhkan anak dari pemilik pesantren" ucap Luthfi.
"Ish kamu ini" ucap Rena.
"Sudah yah jangan sedih, jangan beranggapan kalau kamu tak sempurna" ucap Luthfi.
"Ya Gus" ucap Rena.
Percaya diri merupakan satu di antara sifat orang yang bertakwa. Percaya diri juga merupakan aspek kepribadian manusia yang berfungsi untuk mewujdukan potensi yang dimilikinya.
Bahkan sikap percaya diri juga terdapat dalam Surat Al Qur'an.
Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm(in).
Yang Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (Quran Surat At-Tin ayat 4)
Wa lā tahinụ wa lā taḥzanụ wa antumul-a’launa ing kuntum mu`minīn
Yang Artinya: "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." - (Ali Imran ayat 139).
Malam harinya Rena dan Luthfi baru pulang dari perusahaan mereka juga makan malam di cafe karena sudah terlanjur lapar juga.
"Kamu sudah kenyang" tanya Luthfi.
"Alhamdulillah" ucap Rena.
"Ning aku mencintaimu" ucap Luthfi.
Rena tersenyum mendengar hal itu, detak jantung nya terasa sangat kencang, hanya karena itu saja sudah membuat Rena merasa hampir pingsan apa lagi yang lain.
"Gus tadi saat kamu kerja aku melihat Aisyah" ucap Rena.
"Aisyah" tanya Luthfi.
"Ya sepertinya dia baru kembali karena saat aku lihat di jendela dia membawa koper dari salam mobil" ucap Rena.
"Besok mau gak datang ke sana, kita bertemu paman Retno aku yakin dia ada" ucap Luthfi.
"Boleh" ucap Rena.
"Selama menikah paman Retno belum datang kerumah kita, dia sibuk orangnya jadi pantas saja kalau dia tak ada di rumah" ucap Luthfi.
"Oh" ucap Rena.
"Baiklah kita sudah sampai" ucap Luthfi.
"Aku sangat lelah mau tidur" ucap Rena.
"Ya sayang ya" ucap Luthfi.
__ADS_1