Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 168 Jurang


__ADS_3

Pagi ini Kathir terbangun dia menatap pada Yadna yang saat ini masih terlelap, sebenarnya Kathir masih merasa bersalah pada Yadna Karena semalam dia tidak menuruti keinginan Yadna.


"Maafkan aku ya" gumam Kathir menatap pada wajah Yadna yang masih terlelap.


Tanpa Kathir sadar Yadna langsung memeluknya sangat erat layaknya guling, Kathir merasa sangat sesak karena ulah Yadna itu.


Kathir hendak menjauh tapi sayang saat ini mereka sangat dekat, bahkan bibir Yadna terpampang jelas di mata Kathir.


"Astaga mulai lagi kan" gumam Kathir selalu saja merasakan sesuatu jika bersama dengan Yadna.


Kathir hampir saja kehilangan kendali dia ingin sekali melakukan hal yang sudah selama ini dia inginkan.


Namun pemikiran warasnya melarang itu, dia akan merasa sangat malu kalau saja melakukan hal itu dan Yadna menyadarinya.


Kathir menjauh dari Yadna hanya saja pergerakan Kathir terasa oleh Yadna dan hal itu membuat Yadna terbangun.


"Pagi" ucap Kathir yang sekarang di tatap oleh Yadna.


"Aaaaa" teriak Yadna terkejut saat melihat Kathir di hadapannya, Yadna langsung menjauhkan dirinya dari Kathir yang saat ini sangat dekat dengannya.


"Pak anda sangat me sum" geram Yadna.


"Kamu yang memeluk saya tapi kenapa saya yang di salahkan" tanya Kathir.


"Astaga kamu menyalahkan aku" tanya Yadna kesal.


"Lagian kenapa marah kamu kan istri saya dan saya adalah suami kamu" ucap Kathir.


"Apa" tanya Yadna menyadari hal itu, dan benar saja kalau Yadna adalah istri Kathir, karena hal itu Yadna harusnya tak marah saat Kathir mendekat padanya.


"Benar juga apa yang dia katakan" gumam Yadna.


Kathir langsung bangkit dari ranjangnya dia berjalan ke arah kamar mandi, Yadna menatap pada Kathir yang saat ini semakin dingin dan ketus padanya.


Yadna merasa sangat bersalah pada Kathir karena yang ada di pikiran Yadna saat ini adalah Kathir marah dan tidak mau hidup bersama dengan nya, apa lagi pernikahan mereka juga adalah suatu kesepakatan dengan imbalan kalau Yadna akan mendapatkan kebebasan dan keadilan atas video yang tersebar itu.


"Sikapnya semakin dingin aku tidak yakin kalau dia akan mendukung aku sampai masalah ini selesai" gumam Yadna.


Kathir keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi bagian perutnya.


"Segeralah bersiap kita akan ke Villa" ucap Kathir.


"Baiklah" ucap Yadna.


Kathir sebelumnya sudah menyuruh ajudannya mengikuti mereka secara diam diam nantinya, bahkan Kathir juga meminta anak buahnya menata matai vila itu.


Kathir yakin kalau mamahnya itu tidak pulang dan pastinya Mita akan melakukan sesuatu pada Arsala.


"Semuanya menjadi kacau" gumam Kathir.


Mereka berangkat menuju ke arah Villa itu, sebelum pergi Kathir memastikan kalau ajudannya benar benar mengikuti dia.


"Aku harap kita bisa menangkap Mamah secepatnya" ucap Kathir yang sekarang tengah membawa mobil sendiri.


"Ya aku juga berharap begitu" ucap Yadna, namun dia menatap pada Kathir yang saat ini hanya diam saja tanpa menampakan ekspresi apa pun pada Yadna.


"Ya aku tau pak, kau ingin segera selesai dan bisa melepaskan aku yang sudah menjadi beban ini kan, aku janji akan segera mengakhiri ini semua" batin Yadna.


Di Villa Mita..


Saat ini Mita akan membawa Arsala dan Sisi ke suatu tempat untuk dia habisi di sana, sebelumnya Mita menyebarkan dahulu video saat Yadna bersama dengan Fathir di dalam hotel itu.


Di video tampak kalau Yadna tengah di selimuti oleh Fathir dengan selimut yang ada di sana bahkan saat ini Yadna tidak memakai pakaian apa apa karena pakaian Yadna di buka oleh karyawan wanita di hotel itu.


Mita sudah mengedit video itu sampai sekian jelasnya, bahkan semua orang pasti menganggap kalau hal itu adalah video asli.


Hanya dengan sekali menekan tombol bagikan, video itu langsung viral di media sosial yang saat ini banyak sekali orang orang yang menantikan video lanjutan cerita yang bisa membuat netizen terkejut tak percaya itu.


Mita tersenyum menatap pada videonya yang saat ini sudah banyak yang menonton.


"Bagus" gumam Mita.


Saat ini Mita membawa Arsala dan Sisi, sayangnya dia tidak tau kalau saat ini ada Adiba yang saat ini mengikuti mereka dengan masuk ke bagasi belakang.


Adiba tidak menutup pintu dia harus rela memegang pintu itu supaya tidak tertutup, jika saja tertutup maka Adiba tidak akan bisa membuka bagasi itu.


"Pengap" gumam Adiba.


Mereka menuju ke salah satu hutan yang lebat dengan jurang yang dalam, saat ini mobil itu berhenti di depan jurang itu.

__ADS_1


Dengan tangan di ikat dan mata serta mulutnya di tutup dengan kain.


Mereka di seret ke jurang itu, kedua anak buah Mita memukul Sisi dan Arsala yang saat ini hanya bisa pasrah saja karena percuma saja melawan pun maka mereka akan semakin di siksa habis habisan.


"Astaga tak ada kah yang mau menolong aku" gumam Arsala sambil meringis menahan sakit pada sekujur tubuhnya.


Adiba turun dari dalam bagasi dia langsung berlari ke arah semak semak yang cukup tinggi, Adiba sembunyi di sana Sambil menatap pada perlakuan anak buah Mita yang dengan tidak berprikemanusiaan memukuli Sisi yang jelas jelas dia seorang wanita.


"Orang itu sangat ja hat" geram Adiba.


Adiba membuka ponselnya yang saat ini sudah ada sinyal walaupun di hutan.


Adiba dengan cepat mengirim kan pesan lokasi pada Yadna dia sangat ingin kalau kakaknya itu paham pada apa yang dia kirimkan.


"Ayo kakak lihat pesan aku" gumam Adiba.


Sedangkan saat ini di mobil saat ini Yadna menatap pada pesan yang di kirimkan oleh Adiba, sayangnya banyak sekali pesan yang masuk hingga pesan Adiba terlihat paling bawah.


"Banyak sekali notifikasi yang masuk" tanya Kathir.


"Ya gak tau" ucap Yadna.


Yadna membuka pesan yang paling atas dari temannya itu, dan ternyata ada video yang di kirim kan oleh temannya itu.


{Apa itu kamu} video itu di iringi dengan pesan seperti itu.


"Aku" gumam Yadna membuka video itu dan ternyata Video itu adalah video dirinya yang tengah bersama dengan Fathir.


"Astaghfirullah" gumam Yadna sampai sampai menjatuhkan ponselnya yang ada di tangannya.


"Ada apa" tanya Kathir sengaja menghentikan laju kendaraannya.


Yadna mengambil ponselnya yang sekarang ada di bawah kakinya.


"Lihatlah ini" ucap Yadna.


Kathir mengambil ponsel Yadna yang saat ini tengah memutar sebuah video yang mungkin akan membuat semua orang salah paham.


"Astaghfirullah, apa lagi ini benar benar mamah pasti pelakunya" geram Kathir.


"Apa yang harus aku lakukan aku malu sekarang" ucap Yadna dengan tatapan matanya kosong mengarah ke arah depan.


Kathir menatap pada Yadna dengan tatapan sedih, tanpa berlama lama Kathir langsung memeluk Yadna dari samping, Kathir juga menyender kan kepala Yadna pada bahunya.


"Aku akan bongkar kebenaran ini" ucap Kathir.


Yadna menghapus air matanya yang membasahi pipi putih itu.


"Sekarang yang paling penting kita ke villa saja dulu" ucap Yadna sampai melupakan pesan dari Adiba yang mengirim kan dia lokasi.


Pemikiran Yadna saat ini tengah penuh dengan ucapan orang orang yang sudah pasti akan menghinanya di hadapan orang lain.


Bahkan teman teman Yadna pun hampir sama mereka seolah mau menghancurkan Yadna hingga mereka merasa sangat puas jika Yadna terlibat pada kabar miring itu.


Tentu saja bukan hanya berita atau sosial media saja yang sudah menyebarkan video itu, bahkan stasiun televisi juga sama sama ikut menayangkan hal itu.


Walaupun di sensor tetap saja pembawa acara bilang kalau Yadna adalah anak dari seorang pengusaha yang sangat sukses di kota itu, malu sekali bagi Yadna jika teman abinya tau kalau Yadna seperti itu mungkin saja Abinya itu akan marah.


"Kenapa aku tidak mati saja" gumam Yadna.


Kathir mencium kening Yadna guna memenangkan Yadna dari pemikirannya itu, namun hal itu tentu saja akan sangat susah apa lagi Yadna sudah sangat hancur sekarang.


"Dunia tak pernah adil pada ku" gumam Yadna.


"Apa pun yang akan terjadi aku akan ada di sini" ucap Kathir.


"Tidak pak, aku tidak akan membawa kau dalam permasalahan aku ini, setelah ini selesai aku pasti kan kalau aku akan pergi jauh dari kehidupan kamu ini" ucap Yadna.


Kathir hanya menarik nafas berat, mungkin saat hal itu terjadi maka Kathir akan dengan segera menghentikan Yadna dan jujur pada Yadna dengan apa yang sedang dia rasakan itu.


Mereka sudah sampai di Villa yang sepertinya sudah kosong tak ada orang di sana, Kathir mencari ponselnya yang tadi dia simpan di saku celananya.


Banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk dari anak buah Kathir,


"Astaga mereka pergi" ucap Kathir.


"Pergi ke mana" tanya Yadna.


"Ke suatu tempat" ucap Kathir.

__ADS_1


Kathir langsung melajukan mobilnya menuju ke lokasi yang saat ini ada anak buahnya juga di sana, hanya saja mereka tidak melakukan apa pun karena tidak di perintah oleh Kathir.


Sedangkan di jurang itu saat ini Mita memerintahkan anak buahnya untuk melempar kan Sisi dan Arsala ke jurang, Mita ingin menghapus bukti bahwa dirinya melakukan hal itu.


Hanya saja sejauh ini Mita melakukan hal yang salah dia tidak tau kalau sekarang banyak saksi yang mengetahui kejadian itu, hanya saja Mita tidak menyadari hal itu.


Brughh


bruhhh


Arsala dan Sisi jatuh ke jurang, Mita tersenyum dengan sangat manis sekali, dia berharap kalau setelah ini mereka akan meninggal di jurang itu.


Hanya karena dendam dia pada satu orang hingga membuat orang lain menderita, bahkan Mita juga rela sampai kehilangan putranya hanya untuk membalaskan dendam nya itu.


Mereka pergi dari sana meninggal kan tempat itu, dan saat ini adalah waktu yang pas untuk Adiba menemukan Arsala yang saat ini sudah ada di jurang.


Adiba bahkan tidak takut untuk meninggal, dia hanya ingin bertemu dengan kakaknya itu.


"Kak Arsa" teriak Adiba dari atas jurang.


Adiba turun ke dalam jurang yang dalam dan cukup gelap itu, tak bisa di pungkiri rasa takut hinggap juga di benak Adiba, apa lagi dia hanya sendirian di sana.


"Bagaimana ini" gumam Adiba.


Dengan keberanian Adiba turun dengan perlahan hingga akhirnya kakinya tergelincir dan membuat Adiba terjatuh ke dasar jurang itu.


Jangan di tanya bagaimana rasa sakitnya, karena jika saja sekarang Adiba tidak tengah mencari arsala maka dia akan menangis dan berteriak untuk melampiaskan rasa sakit nya itu.


Badan kecilnya tergores dengan kayu yang berserakan di sana, bahkan sendal yang Adiba pakai pun sudah tak ada di kakinya.


"Alhamdulillah Untung saja aku masih hidup sampai sekarang, kalau saja aku sudah tidak mempunyai umur yang panjang mungkin aku akan meninggal di sini" ucap Adiba berdiri dengan kaki yang terasa sangat sakit.


Kaki Adiba kesakitan bahkan dia juga berjalan pincang untuk mencari Arsala, hingga dia berjalan cukup jauh namun tetap tak ada ciri ciri Arsala di sana.


Hingga dia mendengar suara seseorang yang membuat Adiba ketakutan hingga Adiba harus bersembunyi di balik semak semak.


Adiba melihat orang orang itu dari semak semak, saat ini orang orang itu tengah membawa Sisi yang saat ini mungkin saja tak sadarkan diri karena terjatuh ke Jurang yang sangat dalam itu.


"Di mana kak Arsala" gumam Adiba.


Setelah lama orang orang itu pergi akhirnya Adiba bisa juga mencari lagi Arsala.


"Apa mungkin itu orang orangnya Ibunya pak Kathir ya, Astaga di mana kak Arsala" gumam Adiba.


Adiba tak mau menyerah dia akan terus mencari Arsala, dia akan menyelamatkan orang yang sudah dia sayangi itu.


saking khawatirnya Adiba akan keselamatan Arsala dia sampai rela datang jauh jauh ke sana.


Setelah lama mencari Adiba menemukan Arsala yang cukup jauh dari sana, Adiba langsung mendekat pada Arsala dan langsung membuka penutup mata yang di ikatkan pada kepala Arsala.


"Kak bangun kak" ucap Adiba.


Adiba membuka ikatan pada kaki dan tangan Arsala juga dia sekarang akan mencoba membangun kan Arsala yang saat ini tergeletak lemah dengan wajah yang sudah babak belur.


"Kak" ucap Adiba.


Adiba memeluk kakaknya itu walau pun dia adalah kakaknya tetap saja Adiba tak bisa menyembunyikan rasa cinta pada kakaknya itu, entah kenapa rasa sayang dari sekedar menjadi adik kakak itu malah lebih dari kata sayang.


Mata Arsala terbuka dia menatap pada Adiba yang saat ini ada di hadapannya.


"Adiba" ucap Arsala.


"Kak ayo bangun kita pulang" ucap Adiba.


Sayangnya sekujur tubuh Arsala tidak bisa di gerakan karena dia merasa sangat kesakitan,


"Pulanglah biarkan aku di sini" ucap Arsala dengan suara yang sangat lemah sekali.


"Kak apa yang kamu bicarakan ayo kita pulang" ucap Adiba.


"Terima kasih sudah mau menolong aku" ucap Arsala.


"Kak" ucap Adiba melihat Arsala yang berbeda, hingga seketika Arsala tak sadarkan diri di pelukan Adiba.


"Kak bangun kak" ucap Adiba hingga terjatuh lah air mata yang sempat dia tahan itu.


"Kak jangan tinggalkan aku" batin Adiba menjerit.


mohon maaf ya kemarin author sempat Hiatus... insha Allah sekarang akan di lanjutkan lagi....

__ADS_1


__ADS_2