
Malam ini Kathir dan Yadna tidak bisa tertidur bagaimana mungkin mereka bisa tertidur nyenyak sedang kan masalah ini belum terpecahkan.
"Tidur lah" ucap Kathir sambil menatap pada layar laptop.
Selama beberapa hari ini Kathir tidak berangkat bekerja karena harus membantu Yadna memecahkan masalah ini, Kathir melakukan itu khusus untuk Yadna jika bukan untuk Yadna maka Kathir tidak akan melakukan hal itu sampai sejauh ini.
"Aku belum mengantuk" ucap Yadna.
"Ya baiklah" ucap Kathir.
"Kata Adiba besok adalah hari pembukaan kantor cabang, aku tidak tau hal itu, apa besok bapak akan bekerja" tanya Yadna menatap pada Kathir yang fokus pada laptopnya.
"Apa boleh" tanya Kathir.
"Boleh, tentu saja, kenapa tidak" tanya Yadna.
"Baiklah aku akan berangkat ke perusahaan ku pagi sekali, tapi apa kau akan ikut" tanya Kathir yang memikirkan kalau rumah itu cukup bahaya bagi Yadna.
"Kamu ikut saja ya" pinta Kathir.
"Ya baiklah" ucap Yadna.
Malam ini mereka tertidur di ranjang yang sama walaupun tak ada rasa kantuk tapi tetap saja mereka memaksa kan matanya untuk tertutup supaya bisa tidur dengan nyenyak.
Yadna menatap pada wajah suaminya itu, entah kenapa dia merasa sangat berhutang Budi pada Kathir yang selalu saja membantu nya itu.
Padahal Yadna tidak mempunyai perasaan sedikit pun pada Kathir, tetapi Kathir semakin hari semakin perhatian saja pada Yadna.
"Mungkin jika aku bekerja seumur hidup pada mu saja tak akan bisa membalas kebaikan mu pada ku" ucap Yadna.
"Apa maksudnya" batin Kathir yang masih belum tertidur tapi dia menutup mata nya.
Saat ini tak ada yang bisa Yadna katakan bahkan saat Yadna memeluk Kathir saja dengan cepat Kathir melepas kannya, dari sana Yadna paham kalau Kathir tidak suka berdekatan dengan nya.
"Dunia ini sangat kejam pada ku" gumam Yadna.
Sedangkan di Villa saat ini Mita memutuskan untuk pulang tengah malam, Mita di kawal oleh beberapa orang untuk pulang.
Sedangkan Arsala dan Sisi masih ada di sana karena di ikat di sana, Mita sangat ja hat pada mereka bahkan seharian ini mereka tidak di berikan makanan.
Arsala berniat akan kabur karena sekarang penjaga yang menjaga di sana sedang tidak ada.
"Aku harus pulang" batin Arsala.
Arsala melihat ke arah sekitar tak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya, bahkan tak ada serpihan kaca yang bisa dia jadikan alat untuk memotong tali yang melilit di tubuh nya itu.
Arsala tampak kebingungan Villa itu sangat bersih dan seperti nya barang tajam memang tak pernah di perlihatkan di ruang tamu.
__ADS_1
"Astaga bagaimana ini" gumam Arsala.
Sisi yang kebingungan menatap pada Arsala yang kesusahan, sayang nya Sisi tidak bicara apa apa karena mulut mereka di lakban.
"Ada apa dengan dia" gumam Sisi.
Pagi ini Kathir terbangun terlebih dahulu, dia melihat jam yang masih menunjukan pukul lima pagi hari.
Kathir menatap pada Yadna yang sekarang tertidur di tangannya.
Kathir menatap pada wajah Yadna yang sekarang tengah terpejam dan sangat damai.
"Hanya begini saja bisa membuat aku gi la" gumam Kathir.
Yadna yang masih tertidur langsung memeluk Kathir layaknya dia tengah memeluk Guling yang ada di kamar nya.
"Sekarang aku harus kerja ayo semangat" gumam Yadna mengigau karena dia masih tertidur.
Kathir menatap lagi pada Yadna yang ternyata masih tidur.
"Dia mengigau" batin Kathir yang berusaha melepaskan pelukan Yadna.
Kathir memegang tangan Yadna, dia berusaha untuk melepaskan pelukan Yadna yang sekarang erat pada tubuhnya.
"Astaga dia terlihat sangat cantik sekali ketika tidur" gumam Kathir.
"Pak" ucap Yadna menatap pada tangannya yang di pegang oleh Kathir melingkar di perut Kathir.
"Apa yang kamu lakukan pak" tanya Yadna bingung.
Kathir melepaskan tangan Yadna yang saat ini tengah dia pegang.
"Kamu memeluk aku" ucap Kathir.
"Benarkah" tanya Yadna.
"Ya aku hanya ingin melepaskan nya aku harap kamu tidak melakukan ini lagi" ucap Kathir yang langsung bangun dari tempat tidur nya.
Yadna menatap pada Kathir yang menjauh dari nya menuju ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
"Aneh sekali kemarin dia sangat hangat pada ku, bahkan dia juga sangat perduli tapi kenapa sekarang dia sangat ketus padaku" gumam Yadna.
Kathir memegang dadanya dia sekarang sangat tidak baik baik saja, jantung nya seolah berdetak sangat kencang bahkan dia bisa merasakan nya sekarang.
"Astaga kenapa aku ini" gumam Kathir.
Pagi ini Kathir sudah bersiap karena sekarang mereka harus ke perusahaan nya untuk pembukaan kantor cabang.
__ADS_1
Sebenarnya rencana ini adalah rencana dari perusahaan Widirdja Group yang menginginkan kantor cabang.
Entah untuk apa hanya saja Kathir hanya bisa mengiyakan saja apa lagi kantor cabang itu sebenarnya hanya akan di pakai oleh karyawan dari Widirdja Group.
"Sudah siap pak" tanya Yadna yang sekarang tengah merapihkan jilbab nya.
"Sudah aku juga sudah siapkan semua berkasnya" ucap Kathir.
Setelah Kathir bersiap tadi, Yadna dengan cepat ke kamar mandi dia juga tak lupa memakai pakaian yang lumayan bagus untuk dia pakai sekarang.
Namun sayang saat dia keluar dari kamar mandi, Kathir tidak ada di sana mungkin karena Kathir saat itu tengah di ruang kerja nya.
Yadna menatap pada suaminya itu, Yadna melihat kalau dasi yang Kathir pakai terlihat sangat berantakan.
"Pak biar aku bantu" ucap Yadna yang langsung memasang kan dasi yang ada di leher Kathir.
Di saat yang bersamaan sekarang Mita mamahnya Kathir tengah melihat hal itu di ambang pintu kamar Kathir.
Begitu marahnya dia saat tau kalau Kathir sangat menyukai Yadna, bahkan dari kedekatan mereka bisa Mita tebak seberapa sayang nya mereka berdua.
"Aku tidak percaya kalau Kathir akan memilih gadis seperti Yadna" gumam Mita.
"Terima kasih" ucap Kathir.
"Sama sama, oh ya banyak yang harus kita lakukan ayo berangkat sekarang" ucap Yadna.
"Kamu tak akan sarapan" tanya Kathir.
"Apa kita sempat untuk sarapan" tanya Yadna.
"Sempat" ucap Kathir.
"Baiklah ayo" ucap Yadna yang langsung mengikutinya suaminya yang sekarang menuju ke arah meja makan.
Makanan Mewah tersaji di meja makan terlihat kalau sekarang Papahnya Kathir tengah ada di sana tengah sarapan sebelum berangkat ke perusahaan nya.
"Pah selamat pagi" ucap Kathir.
"Pagi" ucap Pak Amta.
"Papah sekarang adalah pembukaan Kantor cabang" ucap Kathir.
"Kamu mengikuti rencana mereka" tanya Pak Amta.
"Ya pah mereka meminta di buatkan Kantor cabang" ucap Kathir.
"Lain kali jangan terlalu percaya" ucap Pak Amta tersenyum pada Yadna dan pergi dari sana meninggal kan piring kotor bekas dia makan barusan.
__ADS_1