Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 69 acara pernikahan


__ADS_3

Rena membawa barang belanjaan sedang kan Luthfi yang membawa Faiz.


"Gus kamu beli apa" tanya Rena.


"Apa" tanya Luthfi tak mendengar karena di sana sangat ramai dengan orang orang yang memilih barang.


"Kamu beli apa" tanya Rena.


"Baju untuk Faiz" ucap Luthfi.


"Oh" ucap Rena.


Mereka pulang ke arah rumah saat ini mereka harus bersiap untuk menghadiri acara pernikahan.


Walaupun begitu Rena sangat salut pada Gus Yasya karena selama ini dia selalu gagal dalam percintaan.


Dahulu juga pernah kalau Gus yasya akan meminang seorang wanita tapi sayangnya wanita itu malah suka pada kakak nya Rena yang tak lain adalah Gus Adam suami nya Zia.


Rena merasa sangat salut pada Gus Yasya karena dia begitu cepat melupakan seseorang yang sudah menyakiti nya.


"Gus Yasya beneran menikah" tanya Rena.


"Ya" ucap Luthfi.


"Aku gak percaya" ucap Rena.


"Kenapa? bukan karena gagal dalam cinta pertama kita tak bisa menikah" ucap Luthfi.


"Bukan begitu tapi setau aku dulu juga Gus Yasya akan menikah tapi kan gak jadi" ucap Rena.


"Belum jodoh nya" ucap Luthfi.


"Ya aku tau" ucap Rena.


"Aku juga dulu begitu" ucap Luthfi.


"Oh ya" tanya Rena.


"Ya aku pernah gagal dalam percintaan karena kesalah pahaman, hingga berujung kamu menikah dengan orang lain, kamu tau Rena rasanya sakit sekali menyaksikan orang yang kita sayang menikah dengan orang lain" ucap Luthfi.


"Maaf" ucap Rena.


"Kenapa meminta maaf" tanya Luthfi.


"Aku dulu sempat mengkhianati mu" ucap Rena.


"Contohnya" tanya Luthfi.


"Aku akan memberikan satu hal yang paling penting pada Kak Abi" ucap Rena.


"Kenapa tak kau berikan" tanya Luthfi.


"Karena saat itu ada seorang wanita datang dan mengaku punya anak dari Abimana" ucap Rena.


"Kamu mengalah" tanya Luthfi.


"Tentu saja aku yang mengalah" ucap Rena.


"Kenapa mengalah kamu istri nya bukan dia hanya selingkuh nya saja" ucap Luthfi.


"Tapi dia punya anak" ucap Rena.


"Lantas karena dia punya anak kamu jadi meninggal kan dia" tanya Luthfi.


"Ya aku pergi dari kehidupan dia, aku mengalah lagi pula sebenarnya aku juga gak terlalu berharap untuk mempertahankan rumah tangga yang tak suram itu" ucap Rena.


"Ja hat sekali kamu" tanya Luthfi.


"Gus kamu ini dari tadi memojokkan aku saja" ucap Rena.


Luthfi menatap pada istri nya itu.


"Maaf tapi apa kamu akan melakukan itu pada ku" tanya Luthfi.


"Tidak mungkin kalau saja ada wanita yang datang meminta pertanggung jawaban pada mu aku akan perjuangkan tapi kalau kamu yang salah, maaf aku pergi aku gak mau di duakan Gus, aku ingin menjadi satu satunya bukan salah satunya" ucap Rena.


"Baiklah aku akan kabulkan ucapan mu itu" ucap Luthfi.


"Ucapan yang mana" tanya Rena.


"Yang ingin menjadi satu satunya" ucap Luthfi.


"Terima kasih" ucap Rena.


"Ya sayang" ucap Luthfi.


Sesampainya di rumah Rena langsung menidurkan Faiz yang baru saja tidur di perjalanan pulang.


Rena menatap pada Faiz yang wajahnya tak ada mirip mirip nya dengan Gladys.


"Gus kalau aku perhatikan Faiz ini mirip seperti seseorang" ucap Rena.


"Siapa" tanya Luthfi sambil membuka paper bag yang baru saja dia bawa.


"Kak Abimana" ucap Rena sambil meneliti wajah bayi itu.


Luthfi malas membahas Abimana lagi dia sangat kesal kalau nama Abimana terucapkan di mulut Rena.


"Sudahlah kamu ini hanya ngada ngada saja mana mungkin mirip Abimana" ucap Luthfi.


"Aku beneran Gus" ucap Rena.


"Mungkin kamu rindu pada Abimana jadi kamu mengingat wajah dia terus" ketus Luthfi.


"Kamu cemburu" tanya Rena.


"Cemburu? hahah tidak aku tidak cemburu, Hah mana mungkin aku cemburu pada Abimana" ucap Luthfi yang pura pura tidak cemburu.


"Gus aku bisa melihat dari tatapan mu yang tak suka" ucap Rena.


"Ya aku cemburu kamu selalu mengingat dia tapi kamu tidak mengingat aku, Rena aku sangat cemburu saat bibirmu mengucapkan nama orang lain" ucap Luthfi.


"Tapi aku membicarakan kebenaran" ucap Rena.


"Sudahlah sekarang jangan bahas dia kamu tau gak dia itu klien baru aku" ucap Luthfi.


"Klien" tanya Rena.


"Ya padahal perusahaan kita berdiri di bidang yang tak sama tapi dia mau bergabung dengan ku, aneh bukan bahkan dia juga mau memberikan keuntungan yang sangat besar jika aku berinvestasi di perusahaan nya itu" ucap Luthfi.

__ADS_1


"Lalu bagaimana tanggapan kamu" tanya Rena.


"Aku terima saja" ucap Luthfi.


"Kamu gak curiga pada kak Abimana kalau nantinya dia akan melakukan sesuatu pada perusahaan mu" tanya Rena.


"Tuh kan berprasangka buruk lagi baru saja di ingatkan, Tapi tidak mungkin, aku juga sedang mengatur rencana untuk membuat dia pergi dan aku juga sedang menata matai dia kalau dia datang ke perusahaan, bisakah jangan membahas dia lagi" tanya Luthfi.


"Ya siapa juga yang membahas dia bukannya kamu kan yang pertama kali membahas nya" ucap Rena tersenyum pada suami nya itu.


Luthfi melihat pada jam yang ada di dinding kamar nya itu.


"Sudah pukul tiga sore ayo kita Sholat dan bersiap, tadi aku sudah bicara pada Bi Cici katanya dia mau mengasuh Faiz" ucap Luthfi.


"Baiklah ayo" ucap Rena.


Mereka langsung melaksanakan sholat Ashar bersama, Luthfi yang akan menjadi imannya dan Rena adalah makmum.


Setelah selesai Rena langsung memilih baju baru yang akan dia pakai sekarang itu, Pilihan Rena jatuh pada gamis hitam yang pertama kali dia coba di toko itu tadi.


Rena memakai nya dia memilih kerudung yang senada dengan bajunya.


"Apa aku gak akan berlebihan jika memakai pakaian serba hitam" gumam Rena.


Namun Rena justru suka pada baju hitam dia lebih sering memakai nya, karena warna hitam tidak akan menampakkan bentuk tubuh, terlebih kalau warna hitam nya berbahan tebal.


Rena memoles sedikit riasan pada Wajahnya dia tak mau membuat suaminya malu karena Rena tak bisa berias diri.


Rena tak berlebihan dia hanya memakai lipstik merah, dia tidak memakai apa apa lagi.


Rena jarang sekali dandan dia tak bisa berias diri, karena selama di pesantren tak ada yang memakai riasan tebal atau terlalu menor.


Bahkan di pesantren berias diri itu di larang hanya saja suka ada santri putri yang bandel membawa pelembab bibir ke pesantren.


Namun tak ada yang akan menghukum karena jika memakai pelembab bibir tak akan membuat seorang wanita jadi terlihat menor.


Rena menatap pantulan diri nya di cermin, dia sangat tak percaya diri kalau memakai riasan berlebihan.


Rena takut ada yang membicarakan nya jadi dia jarang memakai itu.


Luthfi datang ke sana dia menatap pada Rena yang ada di depan cermin, Luthfi kagum pada istri nya yang cukup cantik natural itu.


Rena yang melihat suaminya berdiri diam di ambang pintu pun langsung berdiri dan menatap pada suami.


"Gus aku bagaimana" tanya Rena.


"Cantik" ucap Luthfi.


"Benarkah rasanya gak nyaman ya" ucap Rena.


"Kamu cantik Rena" ucap Luthfi.


Luthfi mendekat pada istri nya itu dia tak bisa melakukan apa apa selain menatap kecantikan istri nya.


Sebenarnya Rena cukup cantik tanpa riasan, namun akan sangat cantik lagi jika memakai riasan.


"Masya Allah" gumam Luthfi.


"Ayo segera lah bersiap" ucap Rena.


"Ya aku akan ganti pakaian dulu" ucap Luthfi.


"Aku akan tunggu di sini" ucap Rena sambil duduk di pinggir ranjang.


Drtt drtt


"Siapa ini" gumam Rena.


📞📞


"Ning Rena kamu akan datang" tanya Ainun yang menelpon Rena.


"Ya kak aku akan datang" ucap Rena.


"Aku akan tunggu di tempat nya ya, aku sudah datang" ucap Ainun.


"Baiklah aku akan datang" ucap Rena.


📞📞


Sedangkan di sisi lain.


"Tuan saya mendengar kalau Luthfi dan istri nya akan menghadiri acara pernikahan" ucap anak buah Herman yang saat ini tengah menghadap pada Herman.


"Oke, bagaimana dengan Mayang apa dia mencari aku" tanya Herman.


"Seperti nya ya tuan karena dari riwayat panggilan di hpnya dia menghubungi nomor anda yang lama" ucap Anak buahnya.


"Biarkan saja, oh ya aku sangat menginginkan sertifikasi rumah yang Mayang tempati dahulu ada uang ku juga di sana, ada kerja keras aku juga di sana jadi aku akan mengambil nya, tapi aku pikir Mayang bukan wanita polos yang membiarkan sertifikasi rumah nya di rumah nya, aku hanya perlu tau di mana surat sertifikat rumah nya itu" ucap Herman.


"Tuan apa aku harus mencari tau" tanya anak buahnya.


"Tidak perlu" ucap Herman.


"Baiklah" ucap anak buahnya.


"Aku ingin melihat Mayang hancur dengan perlahan" gumam Herman tertawa memikirkan hal itu.


"Tuan sebenarnya susah karena Nyonya di bantu oleh Luthfi" ucap anak buahnya.


"Ya aku tau tapi menurut aku gak mungkin karena Luthfi itu sangat pintar dia gak akan mau di manfaat kan orang tuanya apa lagi mereka tak terlalu akur" ucap Herman.


"Tapi tuan masalah nya Nyonya sudah di transfer uang oleh Luthfi" ucap anak buahnya.


"Biarkan saja aku yakin kalau nanti nya Luthfi ga akan lagi membantu" ucap Herman percaya diri.


Pukul lima sore hari nya, Luthfi dan Rena berangkat ke arah tempat yang sudah Yasya Kirim kan itu.


"Siapa saja yang datang" tanya Luthfi.


"Seperti nya Kak Ainun dan Gus Fauzi" ucap Rena.


"Baguslah kalau begitu" ucap Luthfi.


"Ya kita jadi ada temannya" ucap Rena.


Mereka sampai ke acara itu ternyata benar acara itu di langsung kan secara mewah dan berkelas.


Mereka masuk ke dalam ternyata benar Yasya ada di sana.

__ADS_1


"Mau ngucapin selamat" tanya Luthfi.


"Nanti saja" ucap Rena.


Rena sekarang mencari Ainun yang katanya datang ke sana.


"Gus lihat kak Ainun" ucap Rena yang langsung menuju ke arah Ainun yang di ikuti oleh Luthfi.


"Assalamualaikum kak" ucap Rena.


"Astaghfirullah Ning Rena kamu cantik sekali" ucap Gus Andi guru juga di pesantren, masih ingat di benak Luthfi kalau saat itu Gus Andi menginginkan Rena untuk menjadi istri nya.


"Kamu ini mana ada mengucap kan kekaguman dengan istighfar, minimal Masya Alloh lah" ucap Fauzi.


"Ya maaf, Ning ini beneran kamu" tanya Gus Andi.


"Ya aku siapa lagi" ucap Rena.


"Masya Alloh nikmat Alloh yang mana yang kita dustakan" ucap Gus Andi.


Luthfi hanya menatap tajam pada Gus Andi, namun Gus Andi tak menyadari nya dia di sadarkan oleh Fauzi kalau Luthfi menatap padanya dengan tatapan tajam.


"Lihat suami nya" bisik Fauzi.


"Eh Gus Luthfi sudah lama tidak bertemu" ucap Gus Andi merasa malu pada Luthfi karena menatap Rena.


"Ya" ucap Luthfi.


Mereka duduk di sana acara akan segera dimulai.


Pengantin perempuan nya datang ke sana dengan di iringi dua orang yang memapahnya.


Namun mata Luthfi langsung melotot saat melihat calon istri dari sahabat nya itu.


"Rena lihat bukan kah itu wanita itu" tanya Luthfi.


Rena melihat pada wanita yang Luthfi maksud kan itu.


"Itu kan" ucap Rena tak percaya pada apa yamg dia lihat itu.


"Rosa" ucap Luthfi.


"Ya dia Ning Rosa" ucap Rena.


"Gak sangka ya Gus Yasya menikah dengan Rosa yang tak punya hati itu" ucap Ainun.


"Tapi kenapa bisa bukannya dahulu Ning Rosa itu pergi ke luar negeri" tanya Rena.


"Ya dia jual diri di sana" ucap Ainun.


"Ai jangan begitu" ucap Fauzi marah.


"Ya maaf" ucap Ainun.


Rena tak percaya kalau Yasya akan menikah dengan Rosa, bahkan Rena masih ingat dahulu saat membongkar kebenaran Rosa yang ingin balas dendam pada Zia kakak iparnya Rena.


"Astaghfirullah benar ya seseorang bisa berubah karena dua hal yaitu keadaan dan waktu selain dari itu tak akan ada yang bisa merubah sifat seseorang" gumam Rena.


Acara berlangsung dengan sangat meriah apalagi ada hiburan Qosidah juga di sana.


Para tamu undangan menikmati makanan mereka.


Sedangkan Luthfi saat ini mengajak Rena untuk mengucapkan selamat pada Yasya dan Rosa yang baru saja menikah.


"Selamat ya Gus Yasya" ucap Luthfi.


"Ya Gus Terima kasih" ucap Yasya.


Rena mengucapkan selamat pada Rosa.


"Ning selamat ya" ucap Rena tanpa merasa benci atau kesal pada kelakuan Rosa dahulu.


"Terima kasih, Ning Rena maafkan aku karena dahulu aku sangat ja hat pada mu" ucap Rosa.


"Tak apa jangan di bahas" ucap Rena.


"Bagaimana dengan kakak mu" tanya Rosa.


"Kak Zia sudah memaafkan tenang saja" ucap Rena.


"Alhamdulillah terima kasih" ucap Rosa.


"Tak apa jangan merasa bersalah kamu baik kok, mungkin kamu dulu sedang gelap mata saja, Ning sekarang kan sudah menikah lupakan saja ya" ucap Rena.


"Terima kasih dan sekali lagi aku minta maaf" ucap Rosa.


"Ya tak apa" ucap Rena.


Malam semakin larut, saat ini Luthfi mengajak sahabat dari pesantren nya untuk mampir ke rumah dan menginap di rumah Luthfi untuk malam ini saja.


Karena tidak mungkin mereka langsung pulang ke pesantren apa lagi pesantren cukup jauh dari kota.


Di perjalanan Luthfi fokus mengendarai mobil nya, terlihat jika di hadapan nya ada seorang wanita yang melambaikan tangan nya.


"Gus itu ada wanita yang meminta tolong" ucap Rena.


"Sudah biarkan saja" ucap Luthfi.


"Gus takut nya dia sedang kesusahan" ucap Rena.


"Jangan di tolong Gus biasanya seperti ini itu jebakan" ucap Fauzi.


"Ya baiklah kita pulang saja" ucap Luthfi.


"Astagfirullah kalian sangat tak berperasaan" geram Rena dia tak menyangka kalau suaminya tak mau membantu orang dalam kesusahan.


"Rena aku hanya takut kalau wanita itu jebakan" ucap Luthfi.


"Kalian ini sudah berburuk sangka pada orang lain" ucap Rena kesal.


"Ning mereka benar" ucap Gus Andi.


"Benar bagaimana" tanya Rena kesal.


"Sudah biarkan saja" ucap Luthfi.


Mereka sampai ke rumah Luthfi yang sangat besar itu.


"Masya Alloh Gus ini rumah kamu" tanya Ainun.

__ADS_1


"Ya" ucap Luthfi.


"Bagusnya" ucap Ainun.


__ADS_2