Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 88


__ADS_3

Nagita dan Revan pura pura bahagia di atas pelaminan, bahkan saat ini Nagita tak bisa melakukan apa apa karena ternyata dahulu Revan adalah orang pertama yang mengambil sesuatu yang berharga pada diri nya.


"Astaga kenapa aku sebo doh ini" gumam Nagita.


Papah Nagita datang ke sana dia mendekat pada Nagita dan Revan.


"Selamat ya, papah suka dengan suami kamu" ucap Papah Nagita.


"Ya pah terima kasih" ucap Revan.


"Kata Mamah kamu sekarang ini adalah kesalah paham ada apa ya" tanya Papah Nagita.


Nagita langsung bangkit dia berjalan ke arah Mayang yang sekarang ada di sana.


"Tante jangan bicara apa pun pada Papah anggap saja kalau Revan putra mu" bisik Nagita.


"Kamu gi la ya" tanya Mayang dengan suara pelan.


"Tante lakukan saja, atau aku akan batalkan surat kepemilikan pabrik itu" ucap Nagita.


"CK Terserah lah" ucap Mayang.


Mayang langsung pergi dari sana menuju ke arah luar rumah Nagita, niat nya dia ingin mencari angin segar tapi sayang di sana ada Sofi yang seperti nya tak di biarkan masuk padahal gerbang terbuka.


Mayang hanya tersenyum saja melihat Sofi yang saat ini seperti memaksa pada satpam untuk membiarkan dia masuk ke dalam.


Namun setelah itu, ada sebuah keributan datang ke sana, Luthfi dan Rena yang naik motor datang ke sana dengan Dimas yang mengikuti dari belakang.


"Luthfi" gumam Mayang.


Luthfi masuk ke arah gerbang dia ingin selamat dari kejaran Herman yang sampai sekarang mengikuti dia ke sana.


"Rena" sahut Sofi yang langsung memeluk putri nya itu.


Beberapa motor berhenti di sana, dan terlihat Herman membuka helm nya.


Mayang yang melihat hal itu langsung geram dia ingin sekali mencabik cabik Herman karena telah menjual aset berharga.

__ADS_1


Namun di antara ketakutan itu ada Sofi yang merasa tak asing pada Herman yang baru datang itu.


"Mas Herman" sahut Sofi yang membuat Herman berhenti melangkah mendekati Luthfi.


"Sofi" gumam Herman menatap heran dia tak menyangka kalau Mantan istri nya itu ada di sana.


"Apa kabar" tanya Sofi yang replek saja langsung memeluk Herman karena Sofi sangat merindukan Herman.


Selama enam belas tahun ini sebenarnya hubungan mereka belum ada kejelasan, bahkan mereka belum resmi bercerai apa lagi tak ada surat gugatan yang masuk ke pengadilan.


"Aku sangat merindukanmu" ucap Sofi yang sekarang masih berada di pelukan Herman.


Mayang yang melihat hal itu langsung terheran heran, dia tak sangka kalau suaminya itu ada hubungannya dengan Sofi yang sekarang adalah besan nya.


"Sedang apa kamu di sini" tanya Sofi melepas kan pelukan nya.


Herman tak menjawab dia melihat ke arah Luthfi dan Rena yang masih bingung dengan kedekatan itu.


Namun tangan Luthfi memegang erat pada tangan Rena.


"Mas kamu tau" ucap Sofi terhenti saat melihat Mayang mendekat pada Herman.


Mayang menampar Herman yang sekarang ada di hadapannya itu.


"Akhirnya kau menampakkan diri juga" geram Mayang.


Luthfi melihat pada Rena yang saat ini ada di hadapannya.


"Semoga tak ada yang bisa memisahkan kita lagi, apa pun yang terjadi semoga tak terlalu besar" gumam Luthfi.


Sofi mendorong Mayang yang baru saja menampar Herman.


"Berani sekali kau menampar mas Herman" geram Sofi.


"Mas? dia suami sah aku" geram Mayang.


Sofi terkejut, tentu saja dia tak menyangka kalau selama ini wanita seperti Mayang itu adalah istri dari suaminya juga.

__ADS_1


Apa mungkin mereka bisa di katakan adik dan kakak madu??


"Mas benarkah itu" tanya Sofi menatap pada Herman.


"Ya" balas Herman yang sekarang telah tertangkap basah, tadinya dia ingin menculik Rena sekarang dia jadi mati kutu di sana.


Sofi tak menyangka dia menangis di sana, namun Sofi menangis dalam diam, hanya air matanya saja yang keluar dia bahkan tak sampai sesegukan.


"Kamu tau Mas, Anak kita, anak perempuan kita, dia masih hidup" ucap Sofi yang langsung menghapus air mata nya.


"Hahaha mustahil aku sudah melenyapkan nya" ucap Herman tertawa.


"Rena, dia adalah bayi kecil kita, kau tau selama enam belas tahun ini aku menunggu mu untuk kembali tapi sayang kau ternyata sudah punya keluarga baru" ucap Sofi.


Herman tak percaya pada Sofi namun jika di lihat Rena lebih mirip dengan Sofi dari pada Umi Arum yang ada di pesantren.


"Rena anak kita" tanya Herman.


"Ya" ucap Sofi.


"Hahaha jangan naif aku sudah membu nuh nya jadi gak mungkin Rena anak kita" geram Herman.


"Terserah kalau kau gak percaya, tapi aku benci pada mu, mulai sekarang aku akan bawa Rena dan Luthfi tolong ceraikan Rena secepatnya" pinta Sofi yang langsung menarik Rena untuk pergi dari sana.


"Mah jangan bawa Rena" sahut Luthfi.


"Lepas kan dia, kalian ini sekarang adik kakak" sahut Sofi yang dengan paksa menarik Rena dan membawanya pergi dari sana.


Rena mengkode pada Luthfi untuk Luthfi diam saja, Rena yakin kalau Mamanya itu hanya sedang sakit hati saja jadi dia sangat kasar.


Rena ikut pada Sofi yang sekarang ada di sana.


"Rena" Sahut Luthfi.


Namun ada yang mau Luthfi tanyakan.


"Pah, mah ada apa ini" tanya Luthfi.

__ADS_1


"Ayo pulang" geram Mayang.


"Benar kalian adik kakak" ucap Herman yang membuat Luthfi hanya diam saja.


__ADS_2