
Melihat Aby seperti itu. Dengan segera Abdy menghampiri kakakya, karna Ia tau kalau Aby saat ini tengah kacau dan butuh suport, apalagi ini tentang istrinya, istri yang begitu Ia cintai.
Abdy menepuk pundak Aby, lalu berkata.
"Saat ini kakak ipar tengah berada di tempat yang tak ada signal. Setelah yang Ia tempati ada signal, pasti kita akan tau alamat dan tempatnya."
Aby melihat ke arah Abdy, lalu berkata. "Butuh berapa lama kita akan tau? bahkan saat ini kita tak tau, kemana orang itu mebawa istriku pergi." Aby mengatakan semua itu, karna saat ini Ia tak dapat berfikir dengan jernih.
Abdy yang mendengar itu, kembali menepuk pelan bahu Aby, lalu berkata. "Akan lebih baik kita kembali kerumah. Dan memikirkan cara kita untuk menolong kakak Ipar" setelah mengatakan itu Abdy membantu Aby untuk berdiri.
Aby bangun. Namun sangat sulit meninggalkan tempat itu. Karna Ia masih yakin kalau istrinya akan kembali dan memeluknya dengan sangat erat. Namun apa daya itu hanya ada dalam fikirannya saja.
Abdy membantu Aby berjalan keluar dari Hotel, menuju arah mobilnya.
Setelah itu Abdy melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju arah rumah orangtuanya.
Setelah sampai di rumah, keduanya di sambut pertanyaan bertubi -tubi oleh Nabila Mamanya.
"Aby, Abdy, mana menantu Mama? kenapa kalian tak pulang bersama?" melihat belakan Aby dan Abdy.
"Mana Rebecca? Aby, Abdy." tanyanya lagi.
Aby yang mendengar pertanyaan Mamanya hanya terdiam tak menjawab. Aby berjalan ke arah sopa yang ada di ruangan tamu, dimana Nabila dan Doni saat ini tengah menanti kedatangannya.
Mendengar pertanyaan Mamanya, Abdy menjawab. "Ma, kami tak menemukannya. Bahkan kami telah kehilangan jejak." Hanya itu yang Abdy katakan membuat Nabila begitu sangat syok.
Mendengar ucapan Abdy. Pelan -pelan Nabila memegan kepalanya yang tiba -tiba terasa pusing. Hingga akhirnya Nabila jatuh tak sadarkan diri. Beruntung Abdy dengan cepat menangkap tubuh Mamanya, kalau tidak Nabila pasti terjatuh ke lantai.
Melihat Mamanya tak sadarkan diri, Abdy berteriak. "Ma, Mama!"
__ADS_1
Doni dan Aby yang mendengar teriakan Abdy segara berdiri dari tempat duduk masing -masing.
Doni dan Aby berlari menghampiri Abdy yang kini tengah mengankat tubuh Mamanya.
"Mama kenapa Dy?" tanya mereka berdua.
Dengan segera Abdy menjawab. "Aku juga tak tau, Mama hanya tiba -tiba pingsang." Abdy sedikit menjelaskan.
Aby mengankat tubuh Mamanya masuk ke dalam kamarnya yang berada tak jauh dari ruangan tamu yang Ia tempati saat ini.
Doni yang melihat istrinya tiba -tiba tak sadarkan diri, terlihat begitu sangat panik. Begitupun dengan yang Aby rasakan saat ini.
Abdy merebahkan tubuh Mamanya di atas tempat tidur. Sementara Aby mencari obat minyak kayu putih di laci meja yang ada di dalam ruangan kamar kedua orangtuanya.
Setelah menemukannya dengan segera Aby berjalan ke arah tempat tidur, dengan membawa minyak kayu putih tersebut, lalu pelan -pelan Ia sedikit meletakkan botol minyak kayu putih itu di bawah hidung Nabila.
Nabila mulai sedikit bergerak, setelah mengcium wangi minyak kayu putih tersebut.
Aby dan Abdy yang melihat Mamanya telah membuka kedua matanya, merasa sangat lega. Karna mereka berdua sangat takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan oleh Mamanya.
Nabila melihat ke arah Aby, lalu mengulurkan tangannya. Aby yang melihat Mamanya mengulurkan tangan padanya, dengan segera Ia meraih tangan Mamanya lalu mengenggamnya dengan sangat erat.
Nabila pun berkata. "By, pergilah cari istrimu dan bawa pulang." menatap lembut wajah putranya yang kini terlihat kacau "Mama, tau orang yang membawa Becca itu, berasal dari negara yang Becca tempati Mama tau itu. Bersiaplah untuk berangkat ke Sydney, Ayah akan menemanimu ke sana, dan langsung ke rumah orangtua Becca." kata Nabila pelan.
Mendengar ucapan Mamanya. Aby mengecup lembut punggun tangan Mamanya, lalu berkata. "Baik, Ma, aku janji akan membawa menantu kesayangan Mama pulang ke rumah kita."
Nabila tersenyum mendengar apa yang dikatakan Aby padanya. Ia lalu berkata. "Pergilah dan siapkan semua yang akan kamu perlukan. Dan kamu Dy, siapkan pakaian Ayahmu yang akan Ia bawa ke Sydney." kata Nabila pada Abdy.
Aby yang mendengar ucapan Mamanya berkata. "Lalu Mama? siapa yang akan menemani di rumah? kalau Ayah ikut bersamaku ke Sydney."
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Aby pada Mamanya, dengan segera Abdy berkata. "Bos, tenang saja, ada aku yang akan menjaga Mama. Bos pokus saja mencari keberadaan kakak ipar dan bawa Ia pulang dengan cepat." Abdy menyemangati kakaknya.
Mendengar ucapan Abdy. Aby mendekat ke arah Abdy yang kini tengah berada di depan pintu lemari pakaian. Aby memeluk erat adiknya lalu berkata.
"Terimakasih banyak Dy." menepuk bahu "Kamu memang adik yang bisa di andalkan. Aku bangga padamu."
Setelah mengatakan itu Aby keluar dari kamar orangtuanya, lalu berjalan ke arah lantai dua dimana letak arah kamarnya.
Aby masuk ke dalam kamar dan melihat sekeliling. Air mata Aby tiba -tiba menetes ketika menatap kemeja yang Becca kenakan semalam. Aby berjalan ke arah kursi yang ada di depan lemari hias, lalu mengambil kemeja yang semalam Becca kenakan.
Aby mencium cukup lama kemeja itu. Karna kemeja itu masih terasa wangi tubuh istrinya. Aby pun berkata sendiri dalam kamar.
"Apapun yang terjadi, aku akan membawamu kembali sayang. Aku berjanji. Becca tunggu aku, aku akan segera datang menjemputmu."
Setelah mengatakan itu Aby dengan cepat mengepas beberapa pakaian yang akan Ia bawa ke Sydney.
Selesai berkemas, Aby turun ke lantai dasar, lalu berjalan ke arah ruangan tamu, disana Ayah dan Mamanya dan juga Abdy tengah menunggunya.
"Kamu sudah siap?" tanya Abdy
"Iya." Hanya itu yang kata yang keluar dari mulut Aby.
Nabila berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah Aby. Nabila mengelus lembut wajah putranya dengan penuh kasih sayang.
Lalu berkata. "Kamu jangan putus asa Dy, karna setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya." setelah mengatakan itu Nabila tersenyum hangat, agar putranya bisa lebih semangat. Karna yang Nabila lihat saat ini, Aby begitu sangat terpuruk.
Aby tersenyum mendengar apa yang dikatakan Mamanya. Walaupun senyumnya itu senyum Ia paksakan. Namun untuk membuat Hati Mamanya merasa lega Aby tersenyum hangat.
Setelah itu Nabila dan Abdy mengantar Doni dan Aby ke bandara.
__ADS_1
Nabila menyarankan pada Suaminya agar mereka menggunakan pesawat pribadi mereka, agar lebih cepat sampai dan tak memiliki kendala apapun.