
Di dalam ruangan kamar perawatan yang di tempati Lisa,
seluruh anggota keluarga terlihat begitu sangat bahagia, canda dan tawa mereka
mulai terdengar, memenuhi seluruh sudut ruangan.
Sementara Abdy dan Lisa kini tengah sibuk saling bercerita,
mengunkapkan rasa yang ada di dalam hati mereka berdua, Abdy mulai mnegeluarkan
gombalan-gombalan yang selalu sukses membuat wajah Lisa merona seketika.
“Lis, setelah menikah nanti kita akan bulan madu ke mana?”
tanya Abdy pelan sambil melihat ke arah Lisa.
Abdy meraih rambut Lisa lalu menyelipkannya di telinganya,
karna rambut Lisa menghalangi penglihatan Abdy ke wajah Lisa, dan bagi Abdy itu
sangat menggangu.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy tersenyum, karna pertanyaan
Abdy menurutnya terlalu cepat, menikah saja belum dan saat ini Abdy telah
memikirkan untuk pergi berbulan madu.
“Kita ngak perlu bulan madu Dy, di kamar kamu pun itu juga
sudah cukup begiku.” Lisa tersenyum hangat melihat ke arah Abdy yang kini
tengah menatapnya dengan penuh cinta.
“Ngak bisa begitu donk, aku kan juga ingin membawa istri aku
jalan-jalan, sekaligus liburan.”
“Ngak aku tidak mau pergi, cape, aku hanya mau di rumah saja
istirahat.” Lisa kembali menolak ajakan untuk pergi bulan madu, namun
sebenarnya ia juga sangat ingin ia hanya ingin melihat reaksi Abdy jika ia
tidak ingin pergi untuk berbulan madu.
Abdy menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan
ketika mendengar ucapan terakhir Lisa lalu ia berkata.
“Baiklah jika kamu tidak ingin pergi berbulan madu, kita
bulan madu di rumah mama saja, aku akan menghukummu selama seminggu kerna telah
menolak ajakanku untuk pergi berbulan madu, kamu hanya akan tinggal di kamar
selama seminggu dan menerima semua yang akan aku lakukan padamu.” Abdy mengedipkan
matanya tersenyum ketika mengatakan itu.
Lisa sebagai wanita dewasa mengerti dengan apa yang semua Abdy
katakan padanya, karna setelah resmi menjadi istri sah Abdy otomatis ia akan
menerima semua yang akan Abdy lakukan padanya.
Wajah yang tadinya biasa-biasa saja kini telah merona
seketika, dan Lisa tidak tau apa yang membuat wajahnya terlihat seperti itu,
apa karna ia membayankan sesuatu yang lain atau bagaiman yang jelasnya yang ia
pikirkan saat ini telah membuat wajahnya merona seketika.
Abdy yang melihat wajah Lisa merona seperti itu tersenyum
sambil berkata, “Lis, wajah kamu kenapa?” tanya Abdy dengan tatapan mat
jailnya.
Lisa yang mendengar itu bukannya menjawab ia hanya mengambil
bental untuk menutupi wajahnya yang saat ini tengah merona seperti tomat mask.
Seluruh keluarga yang sedang membahas soal perencanaan
pernikahan melihat ke arah Lisa yang kini tengah menutup wajahnya dengan
bantal, dan itu membuat Nabila dan Clarisa tersenyum karna ia juga mengerti
karna sering mengalami hal itu ketika mereka berdua masih muda. Hingga akhirnya
Nabila memilih mengajak semua kecuali Abdy untuk keluar dari ruangan perawatan
Lisa.
“Akan lebih baik kalau kita membahas soal pernikahan
anak-anak kita di luar, sekaligus kita akan makan siang.” Ucapa Nabila melihat
ke arah Rendi dan juga Clarisa.
Rendi yang mendengar ucapan Nabila berpikir sejenak, lalu
berkata “Baiklah akan lebih baik jika kita membahas soal pernikahan ini di
luar, dan biarkan anak-anak kita berbicara dari hati ke hati.” Rendi melihat
sejenak ke arah Abdy dan Lisa yang kini tengah saling menggoda, lalu melihat ke
arah Nabila dan juga Doni.
“Ide yang sangat baik.” Doni berdiri sampil memperbaiki jas
yang ia kenakan, lalu berjalan ke arah pintu bersama dengan Rendi.
Sementara Nabila dan Clarisa berjalan ke arah Abdy dan juga
Lisa untuk pemit keluar.
“DY, Lisa, Mama keluar dulu ya. Mama ingin keluar untuk
membahas soalpernikahan kalian, sekaligus makan siang, oya apa kalian ingin
makan sesuatu? Biar nanti mama akan bawakan.” Tanya Nabila pelan dan lembut
kepada anak dan calon menantunya.
“Aku masih merasa kenyang ma, aku merasa sangat kenyang
ketika melihat wajah Lisa di tambah melihat senyuman hangatnya kepadaku, ah,
aku merasa mungkin selama satu minggu aku tidak akan makan.” Canda Abdy
menegdipkan sebelah matanya kepada Lisa.
Nabila dan Clarisa yang mendengar ucapan Abdy tersenyum,
karna ucapan yang Abdy katakan sangat konyol menurutnya hingga membuat Nabila
berkata.
“Gombal kamu sudah tidak mempang.” Tersenyum “Sudah basi”
Nabila terkekeh setelah mengatakan itu begitupun dengan Clarisa.
Sementara Lisa, saat ini ia tidak bisa berkata apa-apa lagi,
wajah pucatnya tidak berhenti merona semua karna kata-kata yang keluar dari
dalam mulut Abdy.
Setelah Nabila dan Clarisa pamit kepada anak menantunya,
mereka berdua keluar mengikuti arah lagkah suami mereka masing-masing. Dan meninggalakan
Lisa dan Abdy berdua di dalam rungan perawatan.
Lisa menundukkan wajahnya di hadapan Abdy, karna rasa malu
mendengar ucapan Abdy masih ada di tambah saat ini ia hanya tinggal berdua
dengannya.
Abdy yang melihat wajah Lisa tertunduk tersenyum, sambil
meraih tangan Lisa dan mengecup punggun tangan Lisa dengan sangat lembutnya.
“Aku sangat mencintaimu Lis” ucapa Abdy lembut melihat ke
arah Lisa yang kini tengah menundukkan wajahnya.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy mengankat wajahnya melihat
ke arah Abdy yang kini tengah melihat ke arahnya, Lisa bisa melihat di sorot mata
Abdy kalau memang benar Abdy sangat mencitainya.
“Aku juga mencintaimu Dy, sangat mencintaimu dan tidak ingin
berpisah lagi denganmu.” Lisa menatap ke arah Abdy dengan pandangan yang sangat
lembut.
Setelah cukup lama berbicara, membahas soal cinta mereka,
Abdy menyuruh Lisa untuk isrtirahat karna Lisa sudah cukup lama duduk dan menemaninya
bercerita.
“Akan lebih baik kalau kamu istirahat.” Ucap pelan Abdy
sambil mengeusap lembut wajah Lisa.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy tersenyum, namun tidak
merebahkan tubuhnya justru saat ini Lisa ingin turun dari berangka yang ia
tempati, Abdy yang melihat itu dengan segera berdiri lalu berjalan ke arah
dimana Lisa ingin turun.
“Kamu ingin kemana?” tanya Abdy sambil memegan tangan Lisa
yang kini mulai menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit.
“Aku mau ke kamar mandi Dy.” Lisa menginjakkan kedua kakinya
di lantai lalu mulai berjalan, mungkin kakinya terasa kram atau bagaiamana
hingga akhirnya ia hampir terjatuh, namun beruntung Abdy masih setia memegan
tangannya.
“Biar aku membantumu masuk ke dalam kamar mandi.” Abdy mulai
mengambil botol cairan impus Lisa lalu membantunya untuk berjalan, namun Abdy
bisa melihat kalau saat ini Lisa begitu sangat kesusahan untuk berjalan hingga
akhirnya ia memberikan botol cairan infusnya kepada Lisa.
“Pegan ini.” Setelah mengatakan Abdy lansung mengankat tubuh
__ADS_1
Lisa berjalan ke arah kamar mandi lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membawa
Lisa masuk.
Setelah sampai di dalam kamar mandi, Abdy menurunkan tubuh
Lisa lalu berkata. “Kamu mau ngapain di sini?” sebuah pertanyaan konyol keluar
dari dalam mulut Abdy, yang menanyakan apa yang akan di lakukan seseorang jika
di dalam kamar mandi.
Lisa yang mendengar itu bukannya menjawab justru ia hanya
menyuruh Abdy untuk keluar karna ia ingin melakukan sesuat di dalam kamar
mandi.
“Sekarang kamu keluar sana.” ucap pelan Lisa.
Abdy yang mendengar ucapan Lisa yang mengusirnya keluar dari
dalam kamar mandi mengerutkan dahi karna ia sedikit tidak paham dengan apa yang
akan Lisa lakukan di dalam kamar mandi.
“Kenapa kamu menyuruhku keluar? Aku kan mau menemani kamu di
sini.”
“Kamu tidak perlu menemaniku di sini, aku bisa sendiri.”
“Tidak! aku tidak akan meninggalkanmu, sekarang kamu lakukan
apa yang ingin kamu lakukan.”
Abdy terus melihat ke arah Lisa ketika mengatakan itu karna
ia tidak ingin meninggalkan Lisa, sementara Lisa yang mendengar ucapan Abdy
yang tidak ingin meninggalakannya keluar dari dalam kamar mandi menepuk dahi
karna jika Abdy terus berada di dalam kamar mandi ia akan melihat apa yang akan
Lisa lakukan saat ini.
“Abdy aku bisa sendiri, sekarang kamu keluar ya.”Lisa sudah
merasa tidak tahan karna ia ingin sekali buang air kecil.
“Tidak!! Aku ingin menemanimu di sini.” Abdy memaksa “Dan
lakukan apa yang ingin kamu lakukan sekarang.”
Lisa yang mendengar ucapan Abdy membulatkan matanya terkejut
dengan apa yang baru saja Abdy katkan padanya, karna menurutnya ucapan Abdy
sangat;ah konyol.
“Tapi Dy, aku ingin buag air kecil” Jujur “Aku kan malu
untuk melakukannya jika kamu ada di situ berdiri.
“Kamu tidak perlu malu, anggap saja aku suamimu dan lakukan
yang ingin kamu lakukan” setelah mengatakan itu Abdy membalikkan tubuhya dan
membiarkan Lisa melakukan apa yang ingin di lakukan.
“Abdy aku tidak bisa melakukannya jika kamu ada di sini.” Suara
Lisa agak sedikit memohon meminta agar Abdy keluar dari dalam kamar mandi.
Abdy yang mendengar ucapan Lisa berbalik kembali melihat ke
arah Lisa yang kini tengah berusaha berdiri di atas kakinya, karna ia masih
sangat kesusahan untuk berdiri di atas kakinya, Abdy yang mendengar dan melihat
Lisa yang kini tengah kesusasah berdiri, berjalan sedikit mendekat, lalu
membuka celana pasien yang Lisa kenakan.
Lisa yang melihat Abdy membuka celana yang ia kenakan merasa
syok dan terkejut melihat Abdy kini tengah berusaha membuka celana pasien yang
ia kenakan.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Lisa terkejut dengan apa yang
tengah Abdy lakukan saat ini.
“Membantumu membuka celanamu.” Jawab Abdy santai.
“Apa!” Lisa sangat terkejut mendengar ucapan abdy yang ingin
membuka celananya.
“Kamu tidak perlu melakukan itu Dy, aku bisa sendiri, lagian
aku juga merasa sangat malu jika kamu melakukan hal itu karna kamu bisa
melihatnya.” Lisa masih berusaha menarik celana yang ia kenakan agar Abdy tidak
membuka celananya.
“Biarkan saja aku melihatnya, karna cepat atau lambat aku pasti
akan melihat semuanya.” Abdy tersenyum jail melihat ke arah Lisa ketika
mengatakan itu karna menurut Abdy melihat sekarang atau sesudah menikah sama
saja, asal jangan menyentuhnya dulu karna ia tidak ingin cinta sucinya ternodai
Lisa yang mendengarkan ucapan Abdy masih berusaha
mempertahankan celana yang ia kenakan meskipun saat ini Abdy terus menariknya
karna ia ingin agar Lisa segera buang air. Lisa akan merasa sangat malu jika
Abdy melihat milik berharganya, meskipun nantinya Abdy juga yang akan
memilikinya namun menurut Lisa ia akan merasa sangat malu jika Abdy melihat
saat ini.
“Dy, kumohon biar aku saja yang melakukannya.” Lisa memasang
wajah memelas di hadapan Abdy “Aku akan merasa sangat malu jika kamu melihatku
buang air di sini, kamu keluar ya sayang ku mohon.” Lisa mengatupkan tanganya
ketika mengatakan itu.
Karna jujur saat ini saja malunya sudah setengah mati, di
tambah Abdy akan membantunya membuka celana yang akan di kenakan yang ada
setelah keluar dari dalam mandi ia hanya akan membungkus wajahnya dengan
selimut karna merasa malu melihat wajah Abdy lagi.
Abdy yang mendengar ucapan Lisa yang memohon, tersenyum
karna ia tidak menyukai jika Lisa harus melakukan hal itu yang menurutnya
sangat menyakiti hati Lisa.
“Baiklah sayang aku akan keluar, dan tidak akan melakukan
hal yang tidak kamu sukai, tapi ingat setelah selesai kamu harus segera
memanggilku.” Abdy memegan wajah Lisa dengan kedua tangannya ketika mengatakan
itu.
Setelah itu Abdy berjalan keluar dari dalam kamar mandi,
namun sebelum ia menutup pintu kamar mandi Abdy kembali berbalik dan berkata.
“Ingat! Setelah kamu selesai dengan urusanmu panggil aku. Oke.”
“Siap, pak bos.” Lisa terkekeh ketika selesai mengatakan
itu.
Abdy menutup pintu, lalu berdiri di depan pintu kamar mandi,
Abdy takut meninggalkan depan pintu kamar mandi karna ia takut jika terjadi
sesuatu dengan Lisa dan ia tidak mendengarnya hingga akhirnya ia memilih untuk
berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
Setelah selesai membantu Lisa, keluar dari dalam kamar
mandi, kini Abdy tengah mengusap wajah dan lengan Lisa dengan tissu basah yang
telah di siapkan sebelumnya, Abdy mulai mengusap wajah, leher bahkan hampir
sampai di bagian kenyal Lisa, namun di saat Lisa menegurnya Abdy berhenti
mengusap bangian itu bagian yang paling Abdy sukai.
“Hentikan jangan menyentuh yang itu.” Lisa menepuk pelan
tangan Abdy ketika tisu yang ada di tangan Abdy mulai mengusap bagian
kenyalnya.
Abdy yang mendengar dan melihat apa yang telah di lakukan
Lisa kepadanya tersenyum jail, Abdy pun berkata.
“Memangnya kenapa jika aku menyentuhnya, sebelumnya aku juga
pernah menyentuhnya bahkan aku juga pernah bermain di sini.” Abdy menaruh jari
telunjuknya di bangian kenyal Lisa yang terlapisi oleh bra dan juga baju pasien
rumah sakit yang ia kenakan saat ini.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy, kembali merasa sangat malu,
dan itu membuat wajahnya kembali merona seketika.
“Apaan sih Dy.” Lisa mengambil bantal untuk menutupi
wajahnya karna merasa sangat malu dengan apa yang baru saja Abdy katakan
padanya.
Lisa yang melihat perhatian yang di berikan Abdy untuknya
tersenyum senang karna ia tidak pernah mengduga Abdy akan sangat mencintainya
dan sangat memperhatikannya seperti ini.
Sementara Abdy kini tengah sibuk mengusap semua bagian tubuh
Lisa dengan tisu basah, cuman bagian terlarang saja yang tidak Abdy usap dengan
__ADS_1
tisu basah, karna Lisa melarangnya.
*****
Becca berjalan masuk ke dalam kantor perusahaan Aby, dengan
senyuman yang selalu Becca sunggingkang ketika ia di sapa oleh para stap dan
para karyawan suaminya, di lobi kantor Aby nampak sangat ramai karna para
karyawan dan juga para stap berjalan ke luar dari dalam perusahaan Abdy karna
mereka semua ingin keluar untuk mencari makanan untuk mengisi perut mereka
masing-masing karna saat ini jam makan siang telah tiba.
Becca berjalan ke arah Lif sambil membawa paper beg makanan
untuknya dan juga untuk Aby. Karna jam makan sian telah tiba hingga akhirnya ia
membeli sekaligus makan bersama dengan suaminya.
Becca masuk ke dalam lif, ketika pintu lif telah terbuka,
dan mulai memencat angka 4 di mana arah letak ruangan kerja Aby Atmaja
suaminya.
Setelah sampai di lantai empat pintu lif terbuka, dengan
senyuman ceria Becca berjalan ke arah ruangan suaminya dan di sambut hangat
oleh Lara secertaris Aby.
“Selamat siang Bu.” Sapa hangat Lara kepada Becca.
“Sianga Lara. Bapak ada di dalam ruangannya?” tanya Becca
dengan senyuman.
“Ada Bu, silahkan masuk?”
“Terimakasih lara.”
Setelah itu Becca berjalan ke arah pintu ruangan Aby, dengan
senyuman ceria Becca pelan-pelan membuka pintu ruangan suaminya, karna ia
datang ke kantor suaminya tampa mengabari ataupun tampa pengawalan, dan jika
Aby sampai mengetahui hal ini Aby akan sangat marah kepada Abdy karna telah
membiarkan Becca ke luar tampa adanya pengawalan.
Becca mendorong pintu ruangan Aby lalu melihat ke arah meja
kerja yang selalu Aby gunakan untuk bekerja di sana Becca melihat Aby yang kini
tengah serius mengerjakan pekerjaannya, karna sangat serius Aby tidak menyadari
kalau saat ini Becca telah berdiri di sampinnya.
Aby tidak terlalu memperhatikan, ia hanya sibuk mengerjakan
pekerjaannya karna tidak mengeira istrinya akan datang ke kantornya secera
tiba-tiba tampa adanya pengawalan.
Becca terus memperhatikan Aby yang kini belum menyadari
keberadaannya, hingga akhirnya ide jail terlintas di dalam pikirannya.
Becca mengambil sehelai rambutnya, lalu membungkukkan badannya
di sampin tempat duduk kebesaran Aby. Kursi kebesaran Aby yang cukup lumayan besar
dan itu tidak akan membuat Becca terlihat oleh Aby.
Becca berdiri lalu memasukkan sehelai rambutnya ke dalam
telinga Aby dan itu membuat Aby merasa gatal dan juga geli di telinganya, namun
itu tidak ia perdulikan Aby hanya mengusap telinganya ketika ia merasa gatal
dan juga geli.
Becca tidak berhenti memasukkan sehelai rambutnya ke dalam
telinga Aby, yang membuat Aby tidak berhenti mengusap telinganya, mungkin karna
merasa sangat kesal dengan rasa gatal dan rasa geli di telinganya Aby mengumpat
sendiri.
“Ini telinga kenapa gatal terus, apa ia tidak tau kalau saat
ini aku sangat sibuk.” Umpat kesal Aby yang masih memegan telinganya.
Hingga akhirnya Aby melihat pantulan wajah istrinya di
binggkai poto yang kini tengah tertawa pelan sambil menutup mulutnya dengan
tangannya.
Hem jadi istriku yang melakukan ini?. Guman Aby yang melihat
pantulan wajah istrinya di bingkai poto yang ada di atas mejanya.
Aby kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedikit lagi akan
selesai, dan Becca masih kembali melakukan apa yang telah membuat Aby merasa
gatal dan geli di telinganya.
“Huff, akhirnya pekerjaanku selesai juga.” Aby menyandarkan
tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya dengan melihat ke arah bingkai poto
yang ada di hadapannya, dan di sana Aby melihat Becca tengah menutup mulutnya
dengan ke dua tangannya.
Aby tersenyum melihat kekonyolan yang tengah di lakukan
istrinya hingga akhirnya ide untuk mengerjai Becca mungcul di kepalanya.
“Huaa. Semua pekerjaanku telah selesai, setelah makan siang
nanti aku akan menemuinya, karna aku sangat merindukanya sudah beberapa saat
aku tidak menemuinya, dan aku merasa sangat merindukannya, hua, akan lebih baik
aku menemuinya sekarang daripada nanti rasa rinduku tidak bisa tertahankan
lagi.” Aby tersenyum sambil melihat ke arah bingkai poto yang ada di atas
mejanya dan melihat reaksi wajah Becca ketika mendengar apa yang baru saja ia
katakan.
Sementara Becca yang mendengar ucapan Aby yang ingin menemui
seseorang bertanya-tanya siapa yang ingin Aby temui? Apa ia kekasinya sehingga
ia sangat merindukannya? Dan bahkan Becca mulai berpikir kalau saat ini Aby
telah selingkuh dengan wanita lain dan itu membuat dada Becca terasa sangat
panas ingin segera memarahi suaminya.
Rasa sedih, kesal, cemburu ketika mendengar suami kita
merindukan seseorang dan bukanlah diri kita membuat kita ingin melakukan
sesuatu yang jahat, itulah yang tengah Becca rasakan saat ini hingga akhirnya
Becca berdiri dan lansung menarik telinga Aby dengan begitu sangat kuatnya.
“Apa kamu bilang!!” dengan tatapan berapi-api “Kamu sangat
merindukan kekasihmu? Siapa dia? Apa dia lebih cantik daripada aku, sehingga
kamu sangat merindukannya?” itulah pertanyaan-pertanyaan yang Becca lontarkan
kepada Aby.
Pertanyaan yang membuat Aby tersenyum sekaligus merasa sakit
karna Becca tengah menarik telinganya dengan sangat kuat.
“Ao, ao, ao” ringgis Aby berdiri dari kursi kebesarannya
karna Becca memang benar-benar menarik telinganya dengan begitu sangat kuatnya.
Becca terbakar cemburu ketika mendengar suaminya mengatakan
semua itu, karna merasa sangat cemburu Becca tidak menyadri kalau saat ini ia
tengah menarik telinga suaminya dengan begitu sangat kuatnya yang membuat Aby
meringgis kesakitan.
“Sayang lepaskan telingaku sakit.” Telinga Aby mulai memerah
dan Becca bisa melihat itu.
“Tidak akan! Aku tidak akan melepaskan telinga kamu sebelum
mengatakan siapa nama wanita yang sangat kamu rindukan itu?” Becca semakin kuat
menarik telinga Aby, dan itu membuat Aby tidak berhenti meringgis kesakitan
karna tarikan tangan Becca sangat kuat.
Mungkin saat ini Aby sudah jera mengerjai istrinya, karna
ulahnya sendiri ia harus menahan rasa sakit yang istrinya buat untuk, dan saat
ini Aby bersumpah tidak akan lagi mengerjai istrinya untuk ke dua kalinya.
“Lepas sayang ini sangat sakit, aku akan memberitahukanmu
siapa wanita itu” Aby sedikit meninggikan suaranya mungkin karna efek
telinganya yang di tarik keras oleh Becca.
Becca melepaskan telinga Aby, lalu menatap tajam lalu ia
berkata.
“Siapa dia? Dimana Dia? Kamu berselingkuh dariku sudah
berapa lama?” Becca meneteskan air matanya ketika mengatakan semua itu, karna
jujur saat ini Becca merasa sangat sedih dan sakit hati mendengar apa yang telah Aby katakan.
Aby yang melihat air mata istrinya menetes di wajahnya
dengan segera ingin mengusap dengan tangannya namun Becca menepis tangan Aby
ketika ia ingin mengusap air mata Becca.
“Jangan menyentuhku!” berteriak pelan “Aku tidak ingin lagi
__ADS_1
di sentuh oleh suami penghianat sepertimu.” Becca kembali meneteskan air
matanya ketika selesai mengatakan itu.