
Setelah pertemuan Lisa dan mantan tunangannya, Abdy merasa
sedikit takut takut jika Lisa kembali kepada mantan tunangannya itu. Ada banyak
seputaran pemikiran yang tidak jelas dalam pikiran Abdy saat ini, di katakan
cemburu Abdy juga tidak ingin mengakuinya, namun jujur Abdy sangat takut dengan
pertemuan Lisa dan mantan tunangannya itu. Takut jika Lisa membuka hati dan
menerimanya kembali.
Abdy tidak berhenti merangkul lengan Lisa, meskipun Lisa
telah berusaha melepas tangan Abdy yang kini tengah melingkar sempurna di
lehernya.
“Lepas Dy. Aku merasa tidak nyaman jalan dalam keadaan
seperti ini.” Lisa berusaha melepas tangan Abdy dari lehernya.
Namun Abdy justru menarik leher Lisa, agar lebih mendekat
dengannya.
“Apa yang kamu lakukan?” melotot melihat ke arah wajah Abdy.
Melihat pelototan mata Lisa, Abdy bukannya merasa takut
justru membalas tatapan mata Lisa yang kini tengah melotot melihat ke arahnya.
“Apa!”Abdy menaikkan kedua alisnya tersenyum melihat wajah
Lisa yang kini terlihat kesal.
Lisa yang melihat tatapan mata Abdy merasa agak sedikit
gugup jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencan dan Lisa tidak tau kenapa
jantungnya tiba-tiba berdetek kencang seperti itu.
“Lepas Dy. Aku saudah sampai di depan kamar aku.” Lisa
kembali berusaha melepas tangan Abdy yang kini tengah melingkar sepurna di
lehernya.
“Kamar kamu? Hehehe” menertawai “Ini adalah kamar aku, semua
barang-barang aku ada di dalam kamar ini.” Abdy bersandar di daun pintu ketika
mengatakan itu “Kecuali kalau kamu mau tidur denganku, eh maksudku tidur
sekamar denganku.” Terkekeh sambil melihat ke arah Lisa yang kini kembali
melotot melihat ke arahnya.
“Sudah jangan melihatku seperti. Ayo kita masuk. Aku akan
sangat senang barbegi tempat tidur denganmu.” Abdy mulai ingin membuka pintu.
Namun Lisa tiba-tiba berkata “Lebih baik aku tidur di sini
daripada aku harus tidur sekamar denganmu! Apalagi sampai satu tempat tidur
denganmu, hem, enggak banget, mendingan aku ambil kamar satu lagi untukku.”
Lisa ingin berjalan kembali ke arah recepsionis.
Namun lagi-lagi Abdy kembali tertawa, sambil memegan
perutnya dan berkata. “Semua kamar penuh, tidak ada yang kosong, aku suda
mengeceknya tadi.”
Lisa yang mendengar ucapan Abdy yang mengatakan semua kamar
sudah penuh, berbalik dan kembali berjalan ke arah Abdy yang kini telah tertawa
melihat ke arahnya.
“Benar.” Menatap “Semua kamar sudah penuh? Lalu aku harus
tidur di mana? Aby dan Becca tidur sekamar, kamu di kamar ini, lalu aku tidur
di mana?” Lisa bingun.
“Sudahlah Lis, kita tidur sekamar saja, aku janji tidak akan
macam-macam. Cuman satu macam saja.” Abdy tersenyum sambil memandang wajah Lisa
dengan sorotan mata jailnya.
Aby yang baru saja membuka pintu kamar melihat ke arah Lisa
dan Abdy yang kini tengah berdebat tentang kamar yang akan ia tempati untuk
menginap. Berhubung pintu kamar mereka berhadapan.
Aby pun berkata, “Maaf ya Lis, aku lupa, kalau seharusnya
aku memesan kamar tiga. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur di kamarku bersama
dengan istriku biar aku yang tidur bersama Abdy.
Abdy yang mendengar ucapan kakak membulatkan matanya tidak
setuju dengan apa yang baru saja yang Aby katakan.
Bos kampret ini benar-benar
tidak mengerti, aku kan ingin tidur sekamar dengan Lisa, karna aku ingin memperbaiki
hubungan yang tidak ber arah ini, jangan mau ya Lis, aku mohon jangan mau
tolak! keinginan bos sialan inii. Umpat kesal Abdy dalam hati.
Lisa yang mendengar ucapan Aby, tersenyum, namun tidak menerima tawaran
Aby untuk tidur bersama dengan istrinya karna ia juga mengerti soal hubungan
Aby dan istrinya yang selalu ingin bersama.
Semoga pilihanku tetap, tidur sekamar dengan Abdy. guman Lisa dalam hati
“Tidak. Kak.” Tersenyum “Biar aku tidur sekamar dengan Abdy
saja.” Melihat ke arah Abdy yang kini tersenyum senang melihat ke arahnya.
“Baiklah kalau itu pilihanmu, masuklah dan istrirahat. Oya
Lis, besok jam 7 pagi tolong kamu kekamar aku, karna aku harus segera
menghadiri Mithin pentin denga klienku di Restoran yang tidak jauh dari Hotel
ini” Aby menjelskan
“Ingat Dy, kamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh kepada
Lisa.” Melihat ke arah wajah adiknya “Dan kamu Lisa kasi tau aku jika Abdy
melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai.” Melihat ke arah Lisa ketika
mengatakan itu.
“Baik kak. Aku akan melaporkan semuanya jika Abdy melakukan
__ADS_1
sesuatu yang tidak aku inginkan.” Lisa mengatakan itu sambil melihat ke arah
wajah Abdy yang kini tidak berhenti tersenyum melihat ke arahnya karna merasa
sangat senang karna akhirnya Lisa ingin tidur sekamar dengannya.
“Baiklah sekarang kalian berdua, istrirahat.”
Setelah mengatakan itu kepada Lisa dan Abdy. Aby kembali
membuka pintu kamarnya lalu masuk dan melihat istrinya kini telah terlelap
sambil mengenakan pakaian yang ia kenakan dari kotanya.
Hingga akhirnya Aby berpikir ingin menganti pakaian yang di
kenakan istrinya dengan gaun tidur yang biasa Becca kenakan kalau di
Apartemnensnya.
Aby berjalan ke arah koper istrinya, lalu membuka, dan
mengeluarkan gaun tidur Becca yang nampak terlihat seksi menurut Aby.
“Istriku akan terlihat cantik jika mengenakan gaun tidurnya
bersamaku.” Tertawa pelan sambil melihat gaun tidur yang ada di tangannya.
Aby berjalan ke arah dimana istrinya saat ini tengah
terlelap. Pelan-pelan Aby mulai membuka jaket lalu mengeluarkan baju dan celana
jeans yang Becca kenakan dan kini hanya menyisakan pakaian dalam istrinya saja.
Aby yang melihat
bentuk tubuh istrinya yang kini hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, menelan
salipanya karna merasa ingin menyentuhnya, namun Aby masih berusaha mencoba
menahannya meskipun sebenarnya Aby sangat mengiginkannya dan sangat merindukan
semua yang ada dalam tubuh istrinya.
“Ah, istriku kapan kamu bisa mengingatku? Aku begitu sangat
merindukanmu, ini sudah berbulan-bulan aku tidak menyentuh tubuhmu.”
Aby segera memakaikan gaun tidur istrinya, agar tidak
tergoda dengan pemandangan indah tubuh istrinya yang begitu sangat menggoda
iman. Setelah selesai , Aby berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera
membersikan diri dan setelah itu ia akan beristirahat karna besok pagi ia harus
menghadiri rapat penting.
Sementara di dalam kamar seblah, Abdy dan Lisa tidak
berhenti berdebat soal yang akan tidur di atas tempat tidur, karna keduanya
ingin tidur di atas tempat tidur yang berukurang King zise tersebut.
“Abdy, kamu tidur di sopa.”
“Tidak! Aku mau tidur di sini.”
Mereka berdua telah berdiri di kedua sisi tempat tidur saat
ini.
“Abdy, kamu itu kan cowok, mengalah donk sama yang cewek.”
“Enggak! pokonya aku mau tidur di sini, titik.”
Abdy naik di atas tempat tidur kemudian menyelimuti seluruh
arahnya.
“Kalau kamu mau.” Tersenyum “Kamu bisa tidur di sini, di
sampinku.” Abdy menepuk bantal yang ada di sampinnya setelah mengatakan itu.
“He—e, mendingan aku tidur di sana.” Melihat ke arah sopa
“Daripada harus tidur di sampin kamu.”
Setelah mengatakan itu Lisa mengambil bantal yang ada di
sampin Abdy lalu membawanya ke sopa, setelah meletakkan bantalnya di sopa, Lisa
berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri sambil membawa
pakaian gantinya.
Abdy yang melihat Lisa menutup pintu kamar mandi, bangun,
lalu berangjak dari tempat tidur, berjalan ke arah sopa, untuk mengambil bantal
yang Lisa bawa, lalu mengambilnya, dan menyimpannya kembali di tempatnya
semula, sementara ia ikut naik ke atas tempat tidur dan membungkus kembali tubuhnya
dengan selimut sama seperti Lisa melihatnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Lisa pun keluar dari dalam kamar mandi, lalu berjalan ke
arah sopa dan melihat bantal yang di bawanya tadi kini tidak ada, lalu beralih
melihat ke atas tempat tidur dan melihatnya di sana.
“Perasaan aku sudah membawa bantal itu ke sini deh.” Bingun,
sambil berpikir “Iya, benar. Aku membawa bantalnya tadi.” Melihat ke arah Abdy
yang kini tegah menutup seluruh wajahnya dengan selimut “Hem, ini pasti ulah si
ular tengil ini.” Lisa nampak sedikit kesal lalu berjalan kembali untuk
mengambil bantal tersebut.
Lisa kembali mengambil bantal lalu kembali berjalan ke arah
sopa dan meletakkan bantal yang ia bawa, kemudian merebahkan tubuhnya yang
terasa sedikit lelah karna perjalanan yang di tempunhnya lumayan sedikit jauh.
Abdy yang mendengar semua ucapan Lisa yang mengatainya ular
tengil tersenyum karna sebenarnya ia belum tertidur. Abdy membuka selimut, lalu
bangun dan duduk di atas tempat tidur, sambil melihat ke arah Lisa yang kini tengah
tidur membelakanginya.
“Apa gadis bodoh itu sudah tidur?” mengacak rambut “Lisa,
Lisa. Kenapa sih! Hati kamu susah banget aku luluhkan? Apa karna kamu
benar-benar mencintai calon suamimu si Adi,Adi yang tinggal di Paris itu.”
Abdy masih mengingat nama sepupu Lisa, namun ia tidak pernah
tau kalau Adi itu adalah kakak sepupu Lisa.
Abdy berangjak dari tempat tidur, lalu berjalan mendekat ke
__ADS_1
arah Lisa yang kini tengah tertidur itulah yang Abdy pikirkan saat ini.
Abdy mulai menyentuh leher Lisa, karna ia ingin mengankat
tubuh Lisa naik ke atas tempat tidur.
Dan Lisa yang mendapat sentuhan di lehernya membuka mata.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” terkejut melihat ke arah
wajah Abdy yang kini terlanjur mengankatnya.
“Diam!”
“Tidak mau, turunkan aku!”
“Aku bilang diam, diam!, kalau kamu tidak mau diam. Aku
pastikan bulan depan kamu akan mengandung bayi ular tengil ini.”
Abdy mengancam Lisa dan itu membuat Lisa terdiam dan
mematung di atas gendongan Abdy, bahkan saat ini Lisa membenamkan wajahnya di
dada bidang Abdy karna merasa takut mendengar ancaman Abdy.
Ancaman yang bisa saja Abdy lakukan karna mengingat saat
ini, mereka tinggal di dalam kamar yang sama, dan tidak ada yang bisa di
lakukannya jika Abdy benar-benar melakukan apa yang di katakannya.
“Nah begitu, jadilah gadis yang pintar dan penurut, menurut
sama calon suamimu.” Terenyum sendiri melihat ke arah wajah Lisa.
Dengan pelan Abdy merebahkan tubuh Lisa di atas tempat
tidur, berhubung saat ini di atas tempat tidur ada hanya satu bantal yang bisa
di gunakan untuk tidur.
Abdy meraih bantal yang tadi ia gunakan, lalu meyimpannya di
bagian tengah tempat tidur dan otomatis tubuh Abdy berada di atas tubuh Lisa
ketika meraih bantal tersebut. Setelah melakukan itu Abdy menyelimuti tubuh
Lisa dengan selimut, sambil berkata.
“Tidurlah. Karna jika kamu tidur di sana besok pagi jika
kamu terbagun tubuhmu akan terasa pegal dan sakit.”Abdy tersenyum hangat
melihat ke arah Lisa.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy, tersenyum dan berkata “Terimakasih
ya Dy, aku selalu salah paham dengan semua tingkah laku yang kamu lakukan
padaku.” Menatap ke arah Abdy yang kini masih berdiri di sampin tempat tidur.
“Sama-sama Lis.” Berbalik badan, namun kembali melihat ke
arah Lisa, karna sedikit bingun dengan apa yang Lisa katakan soal salah paham “Salah
paham apa maksud kamu Lis? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu barusan?” Abdy
kembali melihat ke arah Lisa ketika mengatakan itu.
“Sudahlah Dy,lain kali aku jelaskan ya, karna untuk saat ini
aku merasa sangat lelah dan mengantuk.” Setelah mengatakan itu Lisa berbalik
badan dan kembali menarik selimutnya untuk tidur.
Namun tidak dengan Abdy, karna begitu sangat penasaran
dengan apa yang baru saja Lisa katakan. Abdy melompat naik ke atas tempat tidur
lalu masuk ke dalam selimut dan ikut merebahkan tubuhn ya di sampin Lisa.
Lisa yang melihat Abdy masuk ke dalam selimut yang sama
dengan yang ia kenakan merasa sangat terkejut.
“Apa yang kamu lakukan!?” melotot ke arah Abdy yang kini
tengah merebahkan diri di sampinnya.
“Mau tidur.” Ucap santai Abdy sambil berbalik wajah melihat
ke arah wajah Lisa yang kini tengah melotot melihat ke arahnya.
“Kenapa mesti di sini? Kamu kan bisa tidur di sana.”
“Tidak, aku mau tidur di sini. bersamamu.” Tersenyum manis
melihat ke arah wajah Lisa yang kini mulai nampak sedikit kesal.
“Baiklah, sekarang kamu tidur di sini. Aku akan pindah, dan
tidur di sana.” Menunjuk ke arah sopa.
Lisa mengibaskan selimut yang di kenakannya, lalu bangun. Namun
sebelum ia menggerakkan tubuhnya Abdy menarik tangannya dan otomatis Lisa
kembali merebahkan tubuhnya seperti semula.
Namun bedanya saat ini, tangan Abdy telah melingkar sempurna
di perutnya. Lisa yang melihat tangan Abdy melingkar di perutnya merasa sedikit
terkejut.
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan kamu.” Berusaha melepas
tangan Abdy yang melingkar sempurna di perutnya.
“Diam! dan tidurlah, buat dirimu senyaman mungkin Lis, karna
aku sangat mengantuk Lis.” Berkata pelan sambil memeluk erat tubuh Lisa dari
belakang karna saat ini Lisa membelakanginya.
“Bagaimana caranya aku bisa tertidur dan membuat diriku
senyaman mungkin kalau tangan kamu memeluk tubuhku dengan cara seperti itu.” Mengomel.
“Sudah Diam! kalau kamu tidak mau diam. Aku akan benar-benar
melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan Lis. Apa kamu mau jika aku melakukannya
sekarang? Dan aku pastikan bulan depan kamu akan sengera mengandung bayiku.”
Abdy kembali mengancam Lisa.
Ancaman yang membuat buluh kuduk Lisa berdiri semua, karna
merasa sangat ketakutan mendengar ancaman Abdy yang terdengar aneh menurutnya.
Lisa pun terdiam karna merasa takut dengan ancaman yang Abdy
katakan. Sedangkang Abdy yang melihat Lisa terdiam semakin mendekatkan tubuhnya
ke tubuh Lisa, bahkan saat ini jarak tubuh
__ADS_1
Abdy dan Lisa sudah tidak ada lagi, cuman pakaian yang mereka kenakan sebagai
penghalang.