Cinta Aby

Cinta Aby
Eps. 163


__ADS_3

Setelah pertemuan Lisa dan mantan tunangannya, Abdy merasa


sedikit takut takut jika Lisa kembali kepada mantan tunangannya itu. Ada banyak


seputaran pemikiran yang tidak jelas dalam pikiran Abdy saat ini, di katakan


cemburu Abdy juga tidak ingin mengakuinya, namun jujur Abdy sangat takut dengan


pertemuan Lisa dan mantan tunangannya itu. Takut jika Lisa membuka hati dan


menerimanya kembali.


Abdy tidak berhenti merangkul lengan Lisa, meskipun Lisa


telah berusaha melepas tangan Abdy yang kini tengah melingkar sempurna di


lehernya.


“Lepas Dy. Aku merasa tidak nyaman jalan dalam keadaan


seperti ini.” Lisa berusaha melepas tangan Abdy dari lehernya.


Namun Abdy justru menarik leher Lisa, agar lebih mendekat


dengannya.


“Apa yang kamu lakukan?” melotot melihat ke arah wajah Abdy.


Melihat pelototan mata Lisa, Abdy bukannya merasa takut


justru membalas tatapan mata Lisa yang kini tengah melotot melihat ke arahnya.


“Apa!”Abdy menaikkan kedua alisnya tersenyum melihat wajah


Lisa yang kini terlihat kesal.


Lisa yang melihat tatapan mata Abdy merasa agak sedikit


gugup jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencan dan Lisa tidak tau kenapa


jantungnya tiba-tiba berdetek kencang seperti itu.


“Lepas Dy. Aku saudah sampai di depan kamar aku.” Lisa


kembali berusaha melepas tangan Abdy yang kini tengah melingkar sepurna di


lehernya.


“Kamar kamu? Hehehe” menertawai “Ini adalah kamar aku, semua


barang-barang aku ada di dalam kamar ini.” Abdy bersandar di daun pintu ketika


mengatakan itu “Kecuali kalau kamu mau tidur denganku, eh maksudku tidur


sekamar denganku.” Terkekeh sambil melihat ke arah Lisa yang kini kembali


melotot melihat ke arahnya.


“Sudah jangan melihatku seperti. Ayo kita masuk. Aku akan


sangat senang barbegi tempat tidur denganmu.” Abdy mulai ingin membuka pintu.


Namun Lisa tiba-tiba berkata “Lebih baik aku tidur di sini


daripada aku harus tidur sekamar denganmu! Apalagi sampai satu tempat tidur


denganmu, hem, enggak banget, mendingan aku ambil kamar satu lagi untukku.”


Lisa ingin berjalan kembali ke arah recepsionis.


Namun lagi-lagi Abdy kembali tertawa, sambil memegan


perutnya dan berkata. “Semua kamar penuh, tidak ada yang kosong, aku suda


mengeceknya tadi.”


Lisa yang mendengar ucapan Abdy yang mengatakan semua kamar


sudah penuh, berbalik dan kembali berjalan ke arah Abdy yang kini telah tertawa


melihat ke arahnya.


“Benar.” Menatap “Semua kamar sudah penuh? Lalu aku harus


tidur di mana? Aby dan Becca tidur sekamar, kamu di kamar ini, lalu aku tidur


di mana?” Lisa bingun.


“Sudahlah Lis, kita tidur sekamar saja, aku janji tidak akan


macam-macam. Cuman satu macam saja.” Abdy tersenyum sambil memandang wajah Lisa


dengan sorotan mata jailnya.


Aby yang baru saja membuka pintu kamar melihat ke arah Lisa


dan Abdy yang kini tengah berdebat tentang kamar yang akan ia tempati untuk


menginap. Berhubung pintu kamar mereka berhadapan.


Aby pun berkata, “Maaf ya Lis, aku lupa, kalau seharusnya


aku memesan kamar tiga. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur di kamarku bersama


dengan istriku biar aku yang tidur bersama Abdy.


Abdy yang mendengar ucapan kakak membulatkan matanya tidak


setuju dengan apa yang baru saja yang Aby katakan.


Bos kampret ini benar-benar


tidak mengerti, aku kan ingin tidur sekamar dengan Lisa, karna aku ingin memperbaiki


hubungan yang tidak ber arah ini, jangan mau ya Lis, aku mohon jangan mau


tolak! keinginan bos sialan inii. Umpat kesal Abdy dalam hati.


Lisa yang mendengar ucapan Aby, tersenyum, namun tidak menerima tawaran


Aby untuk tidur bersama dengan istrinya karna ia juga mengerti soal hubungan


Aby dan istrinya yang selalu ingin bersama.


Semoga pilihanku tetap, tidur sekamar dengan Abdy. guman Lisa dalam hati


“Tidak. Kak.” Tersenyum “Biar aku tidur sekamar dengan Abdy


saja.” Melihat ke arah Abdy yang kini tersenyum senang melihat ke arahnya.


“Baiklah kalau itu pilihanmu, masuklah dan istrirahat. Oya


Lis, besok jam 7 pagi tolong kamu kekamar aku, karna aku harus segera


menghadiri Mithin pentin denga klienku di Restoran yang tidak jauh dari Hotel


ini” Aby menjelskan


“Ingat Dy, kamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh kepada


Lisa.” Melihat ke arah wajah adiknya “Dan kamu Lisa kasi tau aku jika Abdy


melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai.” Melihat ke arah Lisa ketika


mengatakan itu.


“Baik kak. Aku akan melaporkan semuanya jika Abdy melakukan

__ADS_1


sesuatu yang tidak aku inginkan.” Lisa mengatakan itu sambil melihat ke arah


wajah Abdy yang kini tidak berhenti tersenyum melihat ke arahnya karna merasa


sangat senang karna akhirnya Lisa ingin tidur sekamar dengannya.


“Baiklah sekarang kalian berdua, istrirahat.”


Setelah mengatakan itu kepada Lisa dan Abdy. Aby kembali


membuka pintu kamarnya lalu masuk dan melihat istrinya kini telah terlelap


sambil mengenakan pakaian yang ia kenakan dari kotanya.


Hingga akhirnya Aby berpikir ingin menganti pakaian yang di


kenakan istrinya dengan gaun tidur yang biasa Becca kenakan kalau di


Apartemnensnya.


Aby berjalan ke arah koper istrinya, lalu membuka, dan


mengeluarkan gaun tidur Becca yang nampak terlihat seksi menurut Aby.


“Istriku akan terlihat cantik jika mengenakan gaun tidurnya


bersamaku.” Tertawa pelan sambil melihat gaun tidur yang ada di tangannya.


Aby berjalan ke arah dimana istrinya saat ini tengah


terlelap. Pelan-pelan Aby mulai membuka jaket lalu mengeluarkan baju dan celana


jeans yang Becca kenakan dan kini hanya menyisakan pakaian dalam istrinya saja.


 Aby yang melihat


bentuk tubuh istrinya yang kini hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, menelan


salipanya karna merasa ingin menyentuhnya, namun Aby masih berusaha mencoba


menahannya meskipun sebenarnya Aby sangat mengiginkannya dan sangat merindukan


semua yang ada dalam tubuh istrinya.


“Ah, istriku kapan kamu bisa mengingatku? Aku begitu sangat


merindukanmu, ini sudah berbulan-bulan aku tidak menyentuh tubuhmu.”


Aby segera memakaikan gaun tidur istrinya, agar tidak


tergoda dengan pemandangan indah tubuh istrinya yang begitu sangat menggoda


iman. Setelah selesai , Aby berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera


membersikan diri dan setelah itu ia akan beristirahat karna besok pagi ia harus


menghadiri rapat penting.


Sementara di dalam kamar seblah, Abdy dan Lisa tidak


berhenti berdebat soal yang akan tidur di atas tempat tidur, karna keduanya


ingin tidur di atas tempat tidur yang berukurang King zise tersebut.


“Abdy, kamu tidur di sopa.”


“Tidak! Aku mau tidur di sini.”


Mereka berdua telah berdiri di kedua sisi tempat tidur saat


ini.


“Abdy, kamu itu kan cowok, mengalah donk sama yang cewek.”


“Enggak! pokonya aku mau tidur di sini, titik.”


Abdy naik di atas tempat tidur kemudian menyelimuti seluruh


arahnya.


“Kalau kamu mau.” Tersenyum “Kamu bisa tidur di sini, di


sampinku.” Abdy menepuk bantal yang ada di sampinnya setelah mengatakan itu.


“He—e, mendingan aku tidur di sana.” Melihat ke arah sopa


“Daripada harus tidur di sampin kamu.”


Setelah mengatakan itu Lisa mengambil bantal yang ada di


sampin Abdy lalu membawanya ke sopa, setelah meletakkan bantalnya di sopa, Lisa


berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri sambil membawa


pakaian gantinya.


Abdy yang melihat Lisa menutup pintu kamar mandi, bangun,


lalu berangjak dari tempat tidur, berjalan ke arah sopa, untuk mengambil bantal


yang Lisa bawa, lalu mengambilnya, dan menyimpannya kembali di tempatnya


semula, sementara ia ikut naik ke atas tempat tidur dan membungkus kembali tubuhnya


dengan selimut sama seperti Lisa melihatnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Lisa pun keluar dari dalam kamar mandi, lalu berjalan ke


arah sopa dan melihat bantal yang di bawanya tadi kini tidak ada, lalu beralih


melihat ke atas tempat tidur dan melihatnya di sana.


“Perasaan aku sudah membawa bantal itu ke sini deh.” Bingun,


sambil berpikir “Iya, benar. Aku membawa bantalnya tadi.” Melihat ke arah Abdy


yang kini tegah menutup seluruh wajahnya dengan selimut “Hem, ini pasti ulah si


ular tengil ini.” Lisa nampak sedikit kesal lalu berjalan kembali untuk


mengambil bantal tersebut.


Lisa kembali mengambil bantal lalu kembali berjalan ke arah


sopa dan meletakkan bantal yang ia bawa, kemudian merebahkan tubuhnya yang


terasa sedikit lelah karna perjalanan yang di tempunhnya lumayan sedikit jauh.


Abdy yang mendengar semua ucapan Lisa yang mengatainya ular


tengil tersenyum karna sebenarnya ia belum tertidur. Abdy membuka selimut, lalu


bangun dan duduk di atas tempat tidur, sambil melihat ke arah Lisa yang kini tengah


tidur membelakanginya.


“Apa gadis bodoh itu sudah tidur?” mengacak rambut “Lisa,


Lisa. Kenapa sih! Hati kamu susah banget aku luluhkan? Apa karna kamu


benar-benar mencintai calon suamimu si Adi,Adi yang tinggal di Paris itu.”


Abdy masih mengingat nama sepupu Lisa, namun ia tidak pernah


tau kalau Adi itu adalah kakak sepupu Lisa.


Abdy berangjak dari tempat tidur, lalu berjalan mendekat ke

__ADS_1


arah Lisa yang kini tengah tertidur itulah yang Abdy pikirkan saat ini.


Abdy mulai menyentuh leher Lisa, karna ia ingin mengankat


tubuh Lisa naik ke atas tempat tidur.


Dan Lisa yang mendapat sentuhan di lehernya membuka mata.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” terkejut melihat ke arah


wajah Abdy yang kini terlanjur mengankatnya.


“Diam!”


“Tidak mau, turunkan aku!”


“Aku bilang diam, diam!, kalau kamu tidak mau diam. Aku


pastikan bulan depan kamu akan mengandung bayi ular tengil ini.”


Abdy mengancam Lisa dan itu membuat Lisa terdiam dan


mematung di atas gendongan Abdy, bahkan saat ini Lisa membenamkan wajahnya di


dada bidang Abdy karna merasa takut mendengar ancaman Abdy.


Ancaman yang bisa saja Abdy lakukan karna mengingat saat


ini, mereka tinggal di dalam kamar yang sama, dan tidak ada yang bisa di


lakukannya jika Abdy benar-benar melakukan apa yang di katakannya.


“Nah begitu, jadilah gadis yang pintar dan penurut, menurut


sama calon suamimu.” Terenyum sendiri melihat ke arah wajah Lisa.


Dengan pelan Abdy merebahkan tubuh Lisa di atas tempat


tidur, berhubung saat ini di atas tempat tidur ada hanya satu bantal yang bisa


di gunakan untuk tidur.


Abdy meraih bantal yang tadi ia gunakan, lalu meyimpannya di


bagian tengah tempat tidur dan otomatis tubuh Abdy berada di atas tubuh Lisa


ketika meraih bantal tersebut. Setelah melakukan itu Abdy menyelimuti tubuh


Lisa dengan selimut, sambil berkata.


“Tidurlah. Karna jika kamu tidur di sana besok pagi jika


kamu terbagun tubuhmu akan terasa pegal dan sakit.”Abdy tersenyum hangat


melihat ke arah Lisa.


Lisa yang mendengar ucapan Abdy, tersenyum dan berkata “Terimakasih


ya Dy, aku selalu salah paham dengan semua tingkah laku yang kamu lakukan


padaku.” Menatap ke arah Abdy yang kini masih berdiri di sampin tempat tidur.


“Sama-sama Lis.” Berbalik badan, namun kembali melihat ke


arah Lisa, karna sedikit bingun dengan apa yang Lisa katakan soal salah paham “Salah


paham apa maksud kamu Lis? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu barusan?” Abdy


kembali melihat ke arah Lisa ketika mengatakan itu.


“Sudahlah Dy,lain kali aku jelaskan ya, karna untuk saat ini


aku merasa sangat lelah dan mengantuk.” Setelah mengatakan itu Lisa berbalik


badan dan kembali menarik selimutnya untuk tidur.


Namun tidak dengan Abdy, karna begitu sangat penasaran


dengan apa yang baru saja Lisa katakan. Abdy melompat naik ke atas tempat tidur


lalu masuk ke dalam selimut dan ikut merebahkan tubuhn ya di sampin Lisa.


Lisa yang melihat Abdy masuk ke dalam selimut yang sama


dengan yang ia kenakan merasa sangat terkejut.


“Apa yang kamu lakukan!?” melotot ke arah Abdy yang kini


tengah merebahkan diri di sampinnya.


“Mau tidur.” Ucap santai Abdy sambil berbalik wajah melihat


ke arah wajah Lisa yang kini tengah melotot melihat ke arahnya.


“Kenapa mesti di sini? Kamu kan bisa tidur di sana.”


“Tidak, aku mau tidur di sini. bersamamu.” Tersenyum manis


melihat ke arah wajah Lisa yang kini mulai nampak sedikit kesal.


“Baiklah, sekarang kamu tidur di sini. Aku akan pindah, dan


tidur di sana.” Menunjuk ke arah sopa.


Lisa mengibaskan selimut yang di kenakannya, lalu bangun. Namun


sebelum ia menggerakkan tubuhnya Abdy menarik tangannya dan otomatis Lisa


kembali merebahkan tubuhnya seperti semula.


Namun bedanya saat ini, tangan Abdy telah melingkar sempurna


di perutnya. Lisa yang melihat tangan Abdy melingkar di perutnya merasa sedikit


terkejut.


“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan kamu.” Berusaha melepas


tangan Abdy yang melingkar sempurna di perutnya.


“Diam! dan tidurlah, buat dirimu senyaman mungkin Lis, karna


aku sangat mengantuk Lis.” Berkata pelan sambil memeluk erat tubuh Lisa dari


belakang karna saat ini Lisa membelakanginya.


“Bagaimana caranya aku bisa tertidur dan membuat diriku


senyaman mungkin kalau tangan kamu memeluk tubuhku dengan cara seperti itu.” Mengomel.


“Sudah Diam! kalau kamu tidak mau diam. Aku akan benar-benar


melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan Lis. Apa kamu mau jika aku melakukannya


sekarang? Dan aku pastikan bulan depan kamu akan sengera mengandung bayiku.”


Abdy kembali mengancam Lisa.


Ancaman yang membuat buluh kuduk Lisa berdiri semua, karna


merasa sangat ketakutan mendengar ancaman Abdy yang terdengar aneh menurutnya.


Lisa pun terdiam karna merasa takut dengan ancaman yang Abdy


katakan. Sedangkang Abdy yang melihat Lisa terdiam semakin mendekatkan tubuhnya


ke  tubuh Lisa, bahkan saat ini jarak tubuh

__ADS_1


Abdy dan Lisa sudah tidak ada lagi, cuman pakaian yang mereka kenakan sebagai


penghalang.


__ADS_2