Cinta Aby

Cinta Aby
Eps. 142


__ADS_3

Mendengar ucapan Mbo Ere. Abdy merasa seakan jantungnya


berhenti berdetak, tubuhnya terasa tiba-tiba kaku. Wajah yang tadinya ceria


ingin bertemu dengan Lisa kini berubah menjadi sangat pucat. Semua perasaan


yang Abdy rasakan saat ini bercampur aduk menjadi kesedihan tersendiri buatnya.


Abdy begitu sangat sedih dan gelisa ketika mendengar semua yang tengah di


katakan Mbo Ere padanya.


Tampa berkata apapun, Abdy melangkahkan kakinya kebelakang.


Namun sebelum langkahnya menjauhi Mbo Ere, Abdy kembali mendekat kepada Mbo


Ere, lalu bekata.


“Mbo, apa Mbo tau di mana alamat kakek dan nenek Lisa di


Paris?” menatap penuh harap “Kalau Mbo tau? Tolong kasi alamatnya padaku.”


Dengan segera Mbo Ere menjawab pertanyaan Abdy. “Maaf, Den,


saya tidak tau, alamat kakek, nenek non Lisa di sana, yang saya tau kalau Non


ke Paris itu saja.


Mendengar ucapan Mbo Ere. Abdy kembali merasa seakan


dunianya runtuh. Lisa yang selama ini yang mulai menyentuh dinding hati Abdy kini


telah pergi menjauh darinya.


“Ahh.” Mengacak rambut, berjalan ke arah mobil lalu masuk


“Kenapa kamu pergi Lis? Kenapa kamu tak mengatakan padaku kalau kamu ingin


pergi ke Pari.” Mengepalkan tangan di stir mobilnya.


Setelah bebarapa saat termenung di dalam mobilnya. Abdy


kembali keluar dari mobilnya, lalu kembali mengetuk pintu rumah Lisa. Setelah


pintu rumah Lisa terbuka tampa meminta izin Abdy lansung masuk kedalam rumah,


lalu berjalan ke arah kamar Lisa.


Melihat tingkah Abdy yang masuk kedalam rumah majikannya


tampa permisi Mbo Ere pun berkata. “Den, Den Abdy mau kemana?” berlalari di


belakang Abdy.


Tampa berbalik melihat ke arah Mbo Ere. Abdy pun berkata.


“Maaf Mbo, aku ingin ke kamar Lisa. Aku ingin mencari alamat nenek Lisa di


Paris.”


Setelah mengatakan itu Abdy membuka pintu kamar Lisa, karna


saat ini Abdy tengah berada di depan pintu kamar Lisa. Abdy masuk dan lansung


berjalan ke arah laci meja yang berada tepat di sampin tempat tidur Lisa. Cukup


lama Abdy mengacak-acak seluruh isi laci dan juga buku-buku yang ada di dalam


kamar Lisa namun yang Ia cari tak kunjung Ia dapat.


Abdy memegan kepalanya, karna merasa cukup lelah mengacak


seluruh laci yang ada di dalam kamar Lisa. Namun tinggal satu lagi yang belum


Abdy geledah yaitu lemari pakaian Lisa, karna merasa tidak enak membuka lemari


pakaian Lisa, akhirnya Abdy berkata pada Mbo Ere.


“Mbo.” Tersenyum “Aku boleh meminta tolong? Aku ingin Mbo


membuka pintu lemari pakaian Lisa, siapa tau di dalam sana ada terselip alamat


nenek Lisa. Dan Mbo tenang saja, aku pasti akan membantu Mbo Ere membereskan


semua ini.” Abdy tersenyum melihat ke arah Mbo Ere ketika mengatakan itu.


Mendengar ucapan Abdy yang meminta tolong, Mbo Ere pun


berjalan ke arah lemari pakaian Nonanya. Karna Mbo Ere juga merasa kasihan


melihat Abdy yang sedari tadi tak berhenti mencari alamat tersebut.

__ADS_1


Mbo Ere pun membuka lemari, lalu mempersilahkan Abdy


mengacak semuanya. “Silahkan Den!”


Setelah di persilahkan dengan segera Abdy berjalan ke arah


lemari, lalu mulai mecari yang Ia cari. Cukup lama Abdy mencari, hingga


akhirnya matanya tertuju pada sebuah buku yang berwarna biru mudah. Abdy


mengambil buku tersebut yang tak lain adalah buku Diari Lisa, lalu membukanya


kemudian membacanya. Lembaran pertama telah selesai Abdy baca. Namun karna penasaran


dengan cerita selanjutnya Abdy mengambil buku Diari Lisa pulang ke rumahnya.


Abdy pun berkata pada Mbo Ere. “Mbo, buku ini aku bawa ya.”


Melihat ke arah Mbo Ere “karna aku penasaran dengan semua yang tertulis di


dalam buku ini.” Setelah mengatakan itu pada Mbo Ere, Abdy mulai merapikan


semua yang telah ia lakukan di dalam kamar Lisa.


Abdy melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata,


karna ingin segera sampai di rumahnya, dengan perasaan kalut Abdy memasuki


pintu gerban rumah kedua orang tuanya.


Nabila yang melihat putranya masuk ke dalam rumah dengan


cara terburu-buru berkata. “Abdy, Nak. Kamu sudah pulang?” tersenyum hangat


kepada putranya “Bagaimana pekerjaan di kantor? Semunya lancar?” mendekat ke


arah putranya yang tengah berdiri di dekat tangga.


Tampa menjawab pertanyaan Nabila, Abdy lansung memeluk


Nabila sambil berkata. “Ma, aku sangat merindukan kakak!” memeluk erat tubuh


Mamanya.


Namun di dalam hati Abdy berkata “Ma, Lisa telah pergi


meninggalkanku tampa adanya pemberitahuan. Aku merasa sangat sedih Lisa


meninggalkanku.”


Mamanya tau soal perasaan yang sebenarnya terhadap Lisa.


Nabila yang mendengar ucapan putranya tersenyum sambil


berkata. “Setelah semua urusan kakakmu selesai Ia akan segera pulang bersama


dengan kakak iparmu.” Mengelus lembut kepala Abdy  “Dan urusan perusahaan kakakmu, itu akan


menjadi tanggun jawabmu selama Ia tak ada.”


Mendengar ucapan Nabila, Abdy melepas pelukannya, kemudian


berkata. “Tentu saja Ma, itu akan menjadi tanggun jawabku.” Tersenyum “Baiklah


Ma, aku naik ke atas dulu ingin istirahat. aku sangat lelah.”


Setelah mengatakan itu, Abdy kembali melanjutkan langkah


untuk naik ke lantai atas di mana letak kamarnya. Abdy membuka pintu kamarnya


lalu masuk. Abdy membuka jas yang Ia kenakan, lalu melemparnya ke arah sopa. Namun


tampa Abdy ketahui buku diari yang Ia bawa dari rumah Lisa tengah terjatuh dan


masuk kedalam kolom sopa yang ada di dalam kamarnya.


Abdy berjalan ke arah kamar mandi, karna Ia ingin membersikan


seluruh tubuhnya. Setelah selesai dengan ritual mandinya Abdy keluar dari dalam


kamar mandi, lalu berjalan ke arah tempat tidur. Abdy menatap langit-langit


yang ada di dalam kamarnya, Lalu kemudian mengingat buku yang Ia bawa dari


rumah Lisa.


“Astaga, aku lupa.” Bangun lalu beranjak dari tempat tidur,


kemudian berjalan ke arah sopa dimana dia meletakkan jas kerjanya. Karna abdy


menyimpan buku diari Lisa di dalam kanton saku jasnya.

__ADS_1


Abdy meraih jasnya, lalu mulai mencari. Satu persatu kantong


saku jasnya Ia periksa, namun ia tak menemukan apa yang Abdy cari. “Kemana


bukunya? Apa terjatuh?” bejalan ke arah kamar mandi, karna Abdy pikir buku yang


tengah Ia cari, ada di dalam kanton saku celananya.


Setelah memeriksa kantong celananya. Namun yang Ia cari tak kunjung


ketemu, Abdy menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berkata. “Dimana aku


menyimpan buku itu?” berpikir “Ah, mungkin tertinggal di mobil.” Berjalan keluar


dari kamarnya, kemudian berlari turun ke lantai dasar, dan lansung berlari


menuju garasi rumahnya, karna di sana Abdy menyimpan mobilnya.


Dengan segera Abdy membuka pintu mobilnya lalu mencari


dimana dia meletakkan buku diari Lisa. Setelah menggeledah semua, namun yang di


carinya tak kungjung ketemu. Abdy mulai memikirkan dimana dia meletakkan buku


tersebut.


“Ah, aku ingat.” Tersenyum sambil menaikkan jari angka satu “Tapi,


aku sudah mencarinya, namun aku tak menemukannya. Tapi baiklah aku akan mencoba


mencarinya lagi. Ini semua demi membaca isi hati Lisa yang sebenarnya.” Tersenyum


sambil berjalan masuk ke dalam ruamhanya “Aku ingin tau! Apakah Lisa masih


mencintai mantan tunangannya itu? Atau mencintai orang lain.”


Abdy kembali berlari naik ke lantai atas dimana letak


kamarnya, lalu kembali mencari. Hingga akhirnya Abdy mengbungkukkan badan di


sekitar sopa yang ada di dalam kamarnya. Setelah melihat buku yang bersampul


warna biru langit tersebut.


Abdy pun berkata. “Oh, astaga Lisa. Untuk membaca isi buku


Diarimu saja. Aku harus berjuang keras .” mengelus buku yang ada di tangannya “Lantas


untuk mendapatkan cinta darimu?” menatap buku yang ada di tangannya “Apakah aku


juga harus berjuang keras untuk mendapatkanmu? Astaga Lisa apa yang telah kamu


lakukan padaku? sehingga aku seperti ini?” setelah mengatakan itu Abdy berjalan


ke arah tempat tidur.


Abdy merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu mulai


membuka halaman, dan mulai membacanya. Abdy merasa bagaikan membaca novel cinta


ketika membaca semua lembaran-lembaran isi buku diari Lisa. Hingga akhirnya


Abdy menemukan lembaran dimana Lisa mengatakan isi hatinya untuk orang yang


tengah membantunya melupakan semua masalahnya dengan mantan tunangannya. Di dalam


lembaran Diari itu Lisa menulis kata.


Abdy Atmaja, dialah pemuda yang telah mengubahku, dari Lisa yang lemah menjadi kuat.


dia pemuda konyol dan juga Playboy yang begitu suka menarik perhatian gadis-gadis cantik.


walaupun aku tau, semua sipat dan kelakuannya itu.


namun aku suka memiliki seorang sahabat baik sepertinya. seiring berjalannya waktu,


pertemuan demi pertemuan dengannya, membuatku merasa sesuatu yang aneh.


haha, ini mungkin adlah perasaan yang konyol menurut aku pribadi.


namun satu hal yang pasti, aku sangat mengaguminya dan sangat menyukainya, dan lebih pastinya 


aku mulai memiliki perasaan untuknya. 


Namun semenjak aku melihatnya kedekatannya dengan wanita lain. aku mulai merasa, kalau selama ini dia tak memiliki perasaan untukku dan hanya mengangapku sebagai sahabatnya saja tak lebih dari itu.


Untuk sesaat, aku mulai berpikir, jika aku selalu berada di dekatnya, aku sendiri yang akan tersakiti, karna mengharap cinta dari sahabat yang tak pernah mencintaiku.


Iya jujur aku mencintainya, karna itu, aku akan berusaha menjauh darinya meskipun sangat menyakitkan untukku. aku akan tetap berusaha untuk melupakannya untuk selamanya...


setelah membaca semua isi dari

__ADS_1


buku diari Lisa. Abdy lansung terbangun dan mengambil hapenya yang berada di


sampinnya...


__ADS_2