
Hamish memutar balik arah jalan yang Ia lewati, dan lansung melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju rumah sakit.
Di dalam perjalanan menuju Rumah sakit, Hamish tak berenti berdoa.
"Ya, Allah, jaga istriku, jangan membuatnya kenapa -napa. Aku masih membutuhkannya, dan putri kami masih sangat kecil untuk di tinggalkan oleh Mommynya."
Setelah sampai di parkiran mobil, dengan segera Hamish keluar dan berlari masuk ke dalam Rumah sakit.
Hamish berlari ke arah Recepsionis untuk bertanya. Namun sebelum Ia sampai Ratna memanggilnya.
"Tuan" teriak Ratna yang berada di lorong rumah sakit.
Hamish berbalik badan, untuk mencari dari mana arah datangnya suara tersebut.
Setelah melihat Ratna yang tengah melambaikan tangan kepadanya, dengan segera Hamish berlari menghampiri Ratna.
Dengan nafas tak beraraturan, Hamish bertanya. "Dimana istriku?"
Dengan segera Ratna menjawab, "Di dalam Tuan" menunjuk ruangan tertutup yang ada di hadapannya "Nyonya tengah di periksa oleh Dokter" Ratna menjelaskan.
Setelah cukup lama menunggu, pintu ruangan pemeriksaan terbuka, dan keluarlah Dokter yang dulunya menyarangkang untuk melakukan pengankatan janin.
Melihat pintu ruangan terbuka dengan segera Hamish berjalan ke arah Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" menatap wajah Dokter "Apa semuanya baik -baik saja?" tanya Hamish dengan wajah yang sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Maaf, Tuan Hamish untuk saat ini saya tidak bisa menjelaskan apapun soal kondisi kesehatan istri anda. Kita akan menunggu hasil laporannya, baru saya bisa menjelaskan semuanya pada anda."
Setelah mengatakan itu Dokter berlalu pergi meninggalkannya. Hamish mengacak rambutnya karna telah menyesal mendengar keinginan istrinya yang ingin mempertahankan janinnya.
Setelah beberapa menit kepergian dokter, para perawat mendorong berangka yang di tempati Bella tak sadarkan diri, menuju arah ruangan rawat inap.
Hamish memilih kamar yang paling terbaik, di dalam rumah sakit tersebut, karna Ia ingin agar istrinya merasa nyaman.
__ADS_1
Hamish berjalan masuk ke dalam kamar ruangan perawatan Bella. Dengan langkah yang lunglai, kaki gemetar tak bisa mengatakan apa lagi, setelah mendengar kata yang keluar dari mulut Dokter.
"Kondisi istri anda sangatlah mengkhawatirkan, penyakitnya telah menggerogoti seluruh tubuhnya, kemungkinan hidupnya hanya tinggal 35%, bahkan janin yang ada di dalam kandungan kemungkinan besar hanya akan bertahan sampai empat, lima bulan ke depan." Dokter menjelaskan.
Hamish sampai di sampin berangka yang di tempati Bella saat ini tengah tak sadarkan diri. Hamish pun berkata.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" melihat ke arah istrinya "Apakah aku harus membiarkanmu pergi meninggalkanku?" menangis
"Aku tak bisa" menangis keras "Aku sangat mencintaimu, aku tak bisa hidup tampa dirimu." bersujud di samping berangka sambil menangis tersedu -sedu.
Bella membuka matanya dengan sangat pelan, karna mendengarkan suara tanggisan. Bella melihat sekeliling kamar. Namun tak menemukan suaminya karna saat ini Hamiah tengah bersujud sambil menangis.
"Sayang, kamu dimana?" ucap pelan Bella.
Bella hanya mendengar suara tangisan, namun tak melihat orang yang tengah menangis itu.
Mendengar panggilan istrinya, Hamish mengusap air matanya, lalu berdiri.
"Aku di di sini sayang." mengelus kepala Bella, lalu mengecup lembut dahinya.
Dengan segera Hamish berkata. "Tidak, aku tidak menangis." Hamish berusaha menutupi kesedihannya.
Namun Bella tau kalau suaminya sangat sedih melihat keadaannya saat ini.
Bella tersenyum lalu berkata. "Bagaimana? apa kata dokter soal anak kita? apa calon anak kita sehat?" tanya Bella pelan dan lembut.
Mendengar kata istrinya Hamish hanya terdiam, tak menjawab apa yang tengah Bella tanyakan.
Melihat kediaman suaminya Bella kembali berkata. "Aku tau anak aku pasti kuat" mengelus perutnya yang mulai terlihat "Sekuat Mommynya Ia kan sayang?" melihat ke arah Hamish yang kini tengah melihat ke arahnya.
Hingga malam Bella tak berenti berbicara dalam pelukan Hamish, Bella menceritakan semua kisah dari masa lalunya pada suaminya.
Dan entah kenapa Bella begitu sangat semangat menceritakan senua masa lalunya, hingga akhirnya Ia terlelap dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
Hamish yang melihat istrinya tengah terlelap dalam pelukannya, mencoba merebahkan tubuh Bella dengan nyaman. Setelah itu Hamish menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Lalu mencoba untuk turun dari berangka tersebut. Namun sebelum kakinya menginjak lantai.
Bella berkata. "Tidurlah di sini bersamaku" menepuk tempat kosong yang ada di sampinnya "Aku ingin kamu memelukku sampai pagi" tersenyum hangat melihat ke arah Hamish.
Hamish yang tadinya ingin turun, kembali menaikkan kedua kakinya,lalu merebahkan tubuhnya di sampin istrinya, lalu menarik tubuh Bella masuk ke dalam pelukannya.
Hamish mengecup lembut dahi Bella sangat lama, seakan Ia merasa kalau kecupan ini adalah kecupan terakhirnya untuk istrinya.
Hamish mengelus wajah pucat Bella yang kini terlihat lebih tirus daripada biasanya.
"Selamat malam sayang, tidurlah aku akan selalu memelukmu seperti ini?"
Pelan -pelan Bella mulai menutup matanya, hingga akhirnya terlelap dalam pelukan suaminya.
Melihat istrinya tengah tertidur, Hamish tak berenti memangdangi wajah Bella yang kini nampak sangat pucat.
Menjelang subuh mata Hamish tak bisa tertutup karna kegelisahan mulai melanda hatinya. Ia merasa sangat ketakutan ditinggalkan oleh orang yang sangat berarti dalam hidupnya, orang yang paling Ia cintai di dunia ini.
Hamish terkejut ketika Bella terbangun dalam keadaan batuk dan juga sesak nafas, dengan segera Hamish memencet tombol yang ada di atas kepalanya.
Hamish memegan kuat tangan Bella, lalu berkata, "Kamu harus kuat sayang" menyemangati "Demi aku dan putri cantik kita"
Namun Bella tak berenti sesak nafas, dan membuat Hamish tambah panik melihatnya.
Setelah beberapa saat para dokter masuk ke dalam ruangan, untuk memeriksa keadaan Bella, salah satu dokter berlari keluar, dan kembali dengan membawa tabung oksigen, dan langsun memakaikan Bella alat pernapasan dan itu membuat Bella kembali bernafas dengan normal.
Setelah melihat kondisi pasiennya membaik dan bernafas dengan normal para dokter itu, keluar dari ruangan rawat Bella.
Hamish kembali naik di atas berangka, lalu kembali memeluk erat tubuh istrinya. "Istriku sangat kuat" tersenyum melihat ke arah Bella.
Bella hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan suaminya padanya. Dengan nada suara terputus -putus Bella berkata.
"Jika, aku mati, carilah Mommy yang baik untuk putri kita" Bella meneteskan airmatanya ketika mengatakan itu. "Aku ingin kamu hidup bahagia tampaku" dengan nada suara terputus -putus "Dan satu lagi, setelah putri kita dewasa, aku ingin kamu menikahkannya dengan putra Doni." Setelah mengatakan itu Bella menarik nafasnya dengan sangat pangjang.
__ADS_1
Mmmm,hhhh.
"A -ku -sa -ngat men -cin -taimu sayang." setelah mengatakan itu Bella menghembuskan nafas terakhirnya.