Cinta Aby

Cinta Aby
Eps.180


__ADS_3

Berpikir dan berpikir, berusaha dan berusaha, agar semua


keinginan dan impiannya bisa tercapai, kalau hanya di dalam kamar seperti ini


yang ada orang yang cintainya akan menjadi milik orang lain, itulah yang ada di


dalam pikiran Abdy saat ini.


Setelah sambungan telponnya dengan Lisa terputus, Abdy


berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersikan diri, karna ia ingin ke


kantor Aby, dan entah apa yang ingin di lakukan Aby di kantornya sehingga ia


memanggil Abdy ke kantornya.


Namun sebenarnya Abdy merasa lega, karna memiliki alasan


agar hari ini ia tidak perlu ke kantor Papanya, mengingat bekas bogeman calon


mertuanya masih menghitam di pinggir bibirnya dan Abdy tidak ingin Papanya tau


dengan keadaannya saat ini, yang ada ia akan di suruh memutuskan hubungannya


dengan Lisa jika ke dua orang tuanya mengetahui hal ini, mengingat ke dua orang


tuanya tidak pernah memukulnya hingga ia dewasa. , dan pasti jika mereka


mengetahui kalau putra mereka di pukul oleh seseorang permasalahannya akan


bertambah panjang dan rumit. Itualah yang ada di dalam pikiran Abdy saat ini.


Setelah selesai bersiap, Abdy berjalan keluar dari dalam


kamarnya dan mencari keberadaan kakaknya dan juga kakak iparnya. Namun ia tidak


menemukan salah satu dari mereka berdua hingga ia bertanya kepada pelayan yang


tengah melakukan beres-beres di dalam dapur.


“Bi, kakak dan kakak ipar kemana?” Tanya Abdy sambil melihat


ke arah pelayang yang tengah mencuci piring di dapur.


“Oh, Tuan dan Nyonya, mereka berdua keluar bersema Den.”


“Baiklah terimakasih.”


Abdy yang mendengar ucapan pelayang yang bekerja di rumah


kakaknya yang mengatakan mereka berdua telah pergi bersama menggaruk alisnya


yang tidak gatal.


“Oh, mungkin kakak ipar ikut kakak ke kantor.” Abdy berkata


pelan sambil berjalan ke luar dari rumah Aby, lalu memilih mobil untuk ia


gunakan untuk pergi ke kantor. Karna saat ini mobilnya berada di perapatan


jalan yang tidak jauh dari rumah orang tua Lisa.


Abdy masuk lalu mulai menyalakan mesin mobil, lalu


melajukannya keluar dari dalam pekarangan rumah Aby dan menuju arah kantor


kakaknya.


Setelah tiga puluh menit, mobil yang Abdy kendarai kini


telah terparkir di parkiran perusahaan kakaknya. Abdy mematikan mesin mobilnya


lalu turun dan mulai berjalan masuk ke dalam perusahaan kakaknya.


Dengan ketampanan, postur tubuh yang tegap, atletis, rambut


di sisir rapi, memperlihatkan dahi yang berbentuk sempurna, alis tebal, hidung


mancung, kulit putih dengan kharisma yang benar-benar menawan. dan cara


berpakaian yang selalu terlihat rapi, dan modis, Abdy melangkah masuk ke dalam


perusahaan kakaknya, semua mata para karyawan baik tua maupun muda, punya suami


maupun single yang melihat putra bungsu dari Doni Atmaja selalu terhipnotis


ketika melihat Abdy masuk ke dalam kantor kakaknya.


Dulunya Aby yang memiliki banyak penggemar di dalam


perusahaannya ketika ia masih lajang, namun setelah pera karyawan mengetahui kalau


bos mereka telah menikah, banyak yang merasa kecewa setelah mengetahui hal itu


karna harapan untuk menarik pesona bosnya gagal.


Dan di saat mereka mengetahui kabar kematian istri bos


mereka, mereka kembali berlomaba-lomba untuk menarik pesona di depan bos


mereka, karna ingin memilikinya, dan tidak memikirkan betapa menakutkannya bos


mereka di saat istrinya pergi meninggalkannya. Namun mereka kembali kecewa


setelah mengetahui kalau istri bos mereka ternyata masih hidup, kecewa


sekaligus merasa senang karna kecerian bos mereka kembali sama seperti semula.


Dengan senyuman Abdy melangkah masuk ke dalam lobi kantor


kakaknya, dan mendapat sambutan ramah oleh para karyawan, bahkan salah satu di


antara mereka mengajak Abdy untuk keluar makan siang karna berhubung Abdy


sampai di kantor di jam makan siang.


“Abdy, makan siang yu.” Ucap salah satu karyawan yang


bernama Elica.


“Maaf aku sudah makan di rumah.” Tolak Abdy dengan lembut.


Lara yang melihat Abdy, berbicara dengan salah satu


karyawan, berjalan menghampirinya, dan lansung berkata.


“Awas, Dy, ingat Lisa.” Lara memperingati Abdy karna ia tau


hubungannya dengan Lisa, Lara juga tau kalau Abdy sangat mencintai Lisa


terlihat jelas ketika ia menghadiri acara pertunangannya, ia mengajak Lisa dan


memperkenalkannya sebagai kekasihnya pada semua teman-temannya.


Abdy yang mendengar perigatan Lara tersenyum dan berkata.


“Tentu aku tidak akan selalu mengingatnya” tersenyum “Karna


Lisa selalu berada di sini.”


Dengan senyuman merekah Abdy menyentuh bagian hatinya ketika


selesai mengatakan itu, karna memang nama Lisa kini telah memenuhi seluruh


ruangan hatinya.


Lara yang mendengar itu tersenyum, sambil berlalu

__ADS_1


meninggalkan Abdy karna tunangannya telah menunggunya di parkiran karna ia


ingin keluar makan siang dengan tunangannya.


Sementara Abdy melanjutkan langkahnya menuju arah Lif, karna


ia akan menggunakan Lif  untuk segera


sampai di ruangan Aby.


Setelah sampai di depan pintu ruangan kakaknya, tampa


mengetuk pintu Abdy mendorong pintu ruangan Aby lalu masuk. Abdy membulatkan


matanya terkejut ketika melihat Aby dengan istrinya di atas kursi kebesarannya


tengah melakukan adengan romantis ala-ala korea itulah yang ada di dalam


pikiran Abdy saat ini. Ia mendapatkan Aby tengah bercumbu dengan kakak iparnya dalam


gaya yang tidak bisa ia katakan.


“Maaf bos.” Kata Abdy mengangetkan Aby yang kini tengah


asyik mencumbui bibir istrinya “Aku tidak tau kalau bos?...” Abdy terkekeh


sambil membalikkan badannya, karna ia tidak menyangka akan mendapat tontonan drama


korea di siang bolong seperti ini.


Sementara Aby yang mendengar ucapan adiknya terkejut. Lansung


belepas bibirnya dan tangannya dari tubuh istrinya, karna merasa sedikit kesal


dengan kelakuan adiknya yang tidak mengetuk pintu masuk ke dalam ruangannya Aby


pun berkata.


“Kamu itu tidak tau mengetuk pintu?” dengan nada kesal Aby


mengatakan itu.


Sementara Becca merasa sangat malu karna ini kesekian kalinya


adik iparnya menemukannya tengah bercumbu dengan suaminya, karna merasa malu


tampa berkata apapun Becca berjalan masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya.


Namun Abdy yang melihat itu berkata.


“Kakak ipar.” Memanggil “Kakak ipar tidak perlu merasa malu,


anggap saja aku hanya angin lalu yang kebetulan lewat.” Abdy sengaja mengatakan


itu karna ia tau kakak iparnya sangat malu, terlihat jelas dari wajahnya yang


terlihat memerah itulah yang Abdy lihat saat ini.


Becca yang mendengar ucapan adik iparnya berbalik sejenak,


lalu berlari masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya lalu menutupnya. Rasa malu


pasti Becca rasakan saat ini, karna ia tengah melakukan pegan-pegangan dengan


suaminya.


Abdy yang mendengar nada kesal Aby berkata “Lagian sih,


punya kamar pribadi melakukan hal itu di luar, jadi jangan salahkan aku. Beruntung


aku yang melihatnya, kalau orang lain bagaimana?” Dengan santainya Abdy


mengatakan itu.


“Kamu itu ya, benar-benar. Ah.” Aby terlihat nampak sangat


Abdy yang melihat wajah kesal kakaknya kembali tersenyum,


lalu berkata. “Uda, bos, nanti di lanjutkan setelah sampai di rumah, karna di


rumah terserah! apa yang ingin bos lakukan tidak akan ada yang menggangu alias


bebas.”


Abdy terkekeh pelan ketika selesai mengatakan itu, karna


melihat wajah kesal kakaknya yang terlihat jelas melihat ke arahnya.


“Baiklah sekarang katakan apa yang ingin bos sampaikan


sehingga mengajakku ke datang kemari, sekaligus menggangu acaramu dengan kakak


ipar?” Abdy duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Aby, sambil melihat


wajah kesal yang masih Aby tunjukkan.


“Aku ingin kamu menyiapkan semua dokument-dokument yang


telah di siapkan Lara” menunjuk arah maf yang berwarna biru yang ada di meja


yang ada di dalam ruangannya “Dan bawa semua ke ruangan pertemuan, karna


sebentar lagi aku akan menemui seseorang.”


“Baiklah” melihat ke arah meja “Kalau begitu aku bawa semua


dokument itu ke ruangan pertemuan.” Setelah mengatakan itu Abdy berangjak dari


duduknya kemudian berjalan ke arah meja, lalu mengambil maf yang berwarna biru


itu kemudian membawanya ke ruangan dimana Aby menyuruhnya.


Sementara Aby yang melihat adiknya keluar dari ruangan,


masuk ke dalam kamar pribadinya dan mendapati istrinya tengah berdiri santai di


dekat jendela kamarnya.


“Sayang.” Memeluk istrinya dari belakang.


“Iya.” Berbalik sejenak melihat ke arah Aby yang kini tengah


memeluknya dari belakang.


“Aku ingin ke ruangan pertemuan untuk menemui Rendi Ayah


Lisa. Apa kamu ingin ikut denganku untuk menemuinya?”


“Tentu saja By, aku ingin menemuinya, karna aku penasaran,


seperti apa wajah yang telah memukul wajah adik iparku seperti itu.”


Sebenarnya Becca yang paling sangat kesal ketika melihat


wajah tampan adik iparnya bonyok seperti itu, kekesalannya bertambah ketika


mendapat kabar kalau saat ini adik iparnya tengah berada di balik jeruji besi. Dan


itu membuatnya sangat penasaran orang seperti apa yang telah melakukan hal itu


kepada adik iparnya. Bahkan ketika Abdy menceritakan semua kalau ia layaknya


menjual putrinya sendiri agar seluruh utangnya lunas.


“Baiklah, ayo kita ke ruangan pertemuan, karna seharusnya ia


sudah menungguku di sana.”

__ADS_1


“Yu.”


Becca dan Aby melangkah keluar dari dalam kamar pribadinya,


lalu berjalan menuju arah ruangan pertemuan.


Sementara Abdy yang baru saja memasuki ruangan pertemuan


begitu sangat terkejut ketika melihat Rendi tengah duduk sambil menanti


kedatangan Aby. Abdy bingun sekaligus bertanya-tanya untuk apa Ayah Lisa berada


di kantor kakaknya?.


Seputaran mulai berkeliling di atas kepala Abdy, mungkin Aby


mengundangnya atu bagaimana, dan mungkin karna ini Aby menyruhnya datang ke


kantornya, itulah yang terlintas dala kepala Abdy saat ini.


Dan begitu pun dengan Rendi yang sangat terkejut melihat


pemuda yang tadi pagi ia jebloskan masuk ke dalam penjara kini tengah berdiri


di depannya dengan stelan jas yang sangat mahal menurutnya, karna Rendi bisa


membedakan mana jas yang mahal, mana yang bukan.


Rendi berangjak dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah


Abdy, sambil berkata. “Oh, jadi kamu bekerja di kantor ini?” sebuah nada suara


sinis keluar dari dalam mulut Rendi “Dan jas mahal yang kamu kenakan ini?”


tersenyum sinis “Pasti kamu membelinya dengan cara mencicilnya kan? Karna tidak


mungkin kamu sanggup membeli stelan jas semahal ini.” Rendi kembali menyindir


Abdy, sementara Abdy yang mendengar sindiran calon mertuanya hanya tersenyum


tidak menampakkan wajah kesal dan semacamnya.


Dengan senyuman Abdy berkata “Silahkan duduk Om, sebentar


lagi bos pemilik perusahaan ini akan masuk.” Abdy berkata pelan dan santai dan


itu membuat Rendi kembali tersenyum sinis melihat ke arahnya.


Hem—em.


“Tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku! Aku tau! kamu


bersikap seperti itu karna kamu menginginkan sesuatu dariku, benar kan?” terdiam


sejenak “Tapi kamu jangan pernah bermimpi! Akan mendapatkan semua itu! Karna aku


tidak akan pernah membiarkannya” Rendi mendorong tubuh Abdy ketika selesai


mengatakan itu.


Dan di saat Rendi mendorong tubuh Abdy, kakinya tersandung


dengan pinggiran kursi  dan itu membuat


Abdy terjatuh, namun beruntung di saat Abdy ingin terjatuh dengan segera Aby


menjadikan tubuhnya sebagai sandaran buat Abdy hingga akhirnya Abdy tidak jadi


terjatuh, justru memeluk tubuh kakaknya.


“Maaf, bos.” Ucap Abdy ketika melihat wajah orang yang di


peluknya.


Becca yang melihat tindakan Rendi begitu sangat terkejut,


karna kali ini ia melihat tindakan Ayah Lisa secara lansung.


Sementara Aby, wajahnya mulai sangat memerah, bukan memerah


karna merasa malu atu sebagainya justru ia merasa sangat marah dan kesal


melihat adiknya di perlakukan seperti itu. Aby tidak terima dengan apa yang


baru saja di alami adiknya.


Hingga tampa berkata apapun, Aby mengambil dokument yang ada


di tangan Abdy dan lansung berjalan ke arah kursi kebesarannya lalu duduk.


Sementara Rendi yang melihat wajah pemilik dari perusahaan


yang di tempatinya duduk saat ini merasa takut, karna ia berpikir kalau pemilik


perusahaan yang di tempatinya duduk saat ini tengah merasa sangat marah karna


terlihat jelas dari wajahnya yang memerah.


“Apa kamu tidak apa-apa Dy.” Tanya Becca kepada Abdy.


“Iya, aku tidak kenapa-napa ka...?” Abdy tidak melanjutkan


ucapannya karna Rendi berbalik melihat ke arahnya.


Setelah menanyakan hal itu kepada adik iparnya, Becca menatap


wajah Ayah Lisa dengan penuh seksama karna ia merasa seperti pernah melihat


wajah orang tersebut.


 “Sepertinya aku


pernah melihat wajahnya, tapi di mana?” berpikir “Iya, aku pernah melihatnya di


poto, bersama dengan Mommy dan juga Mama Nabila, iya memang sepertinya dia.” Becca


berkata pelan sambil berjalan ke arah suaminya.


Sementara Aby masih terlihat nampak sangat kesal, kesal


memikirkan apa yang baru saja di alami adiknya kalau ia tidak segera masuk ke


dalam ruangan pertemuannya.


“Baca ini!” Aby melemparkan dokument-dokument yang tadi Abdy


bawa masuk ke dalam ruangannya di hadapan Rendi “Jika anda menyetujui semua


persyaratan yang tertulis di dalam dokument tersebut, aku akan membantu meringankan


segala beban masalah yang telah kamu hadapi.” Dengan nada suara datar dan tegas


Aby mengatakan semua itu.


Sementara Becca yang mendengar ucapan Aby melihat ke arah


Rendi, yang kini mulai membuka maf berwarna biru tersebut dan mulai melihat apa


saja yang tertulis dalam kertas putih tersebut.


Becca mendekat ke arah Aby dan mulai membisikkan sesuatu


yang tidak ada yang tau kecuali hanya mereka berdua.


“Apa kamu yakin?” Aby memastikan apa yang baru saja istrinya


bisikkan kepadanya.

__ADS_1


“Iya, aku sangat yakin.”


__ADS_2