
Berpikir dan berpikir, berusaha dan berusaha, agar semua
keinginan dan impiannya bisa tercapai, kalau hanya di dalam kamar seperti ini
yang ada orang yang cintainya akan menjadi milik orang lain, itulah yang ada di
dalam pikiran Abdy saat ini.
Setelah sambungan telponnya dengan Lisa terputus, Abdy
berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersikan diri, karna ia ingin ke
kantor Aby, dan entah apa yang ingin di lakukan Aby di kantornya sehingga ia
memanggil Abdy ke kantornya.
Namun sebenarnya Abdy merasa lega, karna memiliki alasan
agar hari ini ia tidak perlu ke kantor Papanya, mengingat bekas bogeman calon
mertuanya masih menghitam di pinggir bibirnya dan Abdy tidak ingin Papanya tau
dengan keadaannya saat ini, yang ada ia akan di suruh memutuskan hubungannya
dengan Lisa jika ke dua orang tuanya mengetahui hal ini, mengingat ke dua orang
tuanya tidak pernah memukulnya hingga ia dewasa. , dan pasti jika mereka
mengetahui kalau putra mereka di pukul oleh seseorang permasalahannya akan
bertambah panjang dan rumit. Itualah yang ada di dalam pikiran Abdy saat ini.
Setelah selesai bersiap, Abdy berjalan keluar dari dalam
kamarnya dan mencari keberadaan kakaknya dan juga kakak iparnya. Namun ia tidak
menemukan salah satu dari mereka berdua hingga ia bertanya kepada pelayan yang
tengah melakukan beres-beres di dalam dapur.
“Bi, kakak dan kakak ipar kemana?” Tanya Abdy sambil melihat
ke arah pelayang yang tengah mencuci piring di dapur.
“Oh, Tuan dan Nyonya, mereka berdua keluar bersema Den.”
“Baiklah terimakasih.”
Abdy yang mendengar ucapan pelayang yang bekerja di rumah
kakaknya yang mengatakan mereka berdua telah pergi bersama menggaruk alisnya
yang tidak gatal.
“Oh, mungkin kakak ipar ikut kakak ke kantor.” Abdy berkata
pelan sambil berjalan ke luar dari rumah Aby, lalu memilih mobil untuk ia
gunakan untuk pergi ke kantor. Karna saat ini mobilnya berada di perapatan
jalan yang tidak jauh dari rumah orang tua Lisa.
Abdy masuk lalu mulai menyalakan mesin mobil, lalu
melajukannya keluar dari dalam pekarangan rumah Aby dan menuju arah kantor
kakaknya.
Setelah tiga puluh menit, mobil yang Abdy kendarai kini
telah terparkir di parkiran perusahaan kakaknya. Abdy mematikan mesin mobilnya
lalu turun dan mulai berjalan masuk ke dalam perusahaan kakaknya.
Dengan ketampanan, postur tubuh yang tegap, atletis, rambut
di sisir rapi, memperlihatkan dahi yang berbentuk sempurna, alis tebal, hidung
mancung, kulit putih dengan kharisma yang benar-benar menawan. dan cara
berpakaian yang selalu terlihat rapi, dan modis, Abdy melangkah masuk ke dalam
perusahaan kakaknya, semua mata para karyawan baik tua maupun muda, punya suami
maupun single yang melihat putra bungsu dari Doni Atmaja selalu terhipnotis
ketika melihat Abdy masuk ke dalam kantor kakaknya.
Dulunya Aby yang memiliki banyak penggemar di dalam
perusahaannya ketika ia masih lajang, namun setelah pera karyawan mengetahui kalau
bos mereka telah menikah, banyak yang merasa kecewa setelah mengetahui hal itu
karna harapan untuk menarik pesona bosnya gagal.
Dan di saat mereka mengetahui kabar kematian istri bos
mereka, mereka kembali berlomaba-lomba untuk menarik pesona di depan bos
mereka, karna ingin memilikinya, dan tidak memikirkan betapa menakutkannya bos
mereka di saat istrinya pergi meninggalkannya. Namun mereka kembali kecewa
setelah mengetahui kalau istri bos mereka ternyata masih hidup, kecewa
sekaligus merasa senang karna kecerian bos mereka kembali sama seperti semula.
Dengan senyuman Abdy melangkah masuk ke dalam lobi kantor
kakaknya, dan mendapat sambutan ramah oleh para karyawan, bahkan salah satu di
antara mereka mengajak Abdy untuk keluar makan siang karna berhubung Abdy
sampai di kantor di jam makan siang.
“Abdy, makan siang yu.” Ucap salah satu karyawan yang
bernama Elica.
“Maaf aku sudah makan di rumah.” Tolak Abdy dengan lembut.
Lara yang melihat Abdy, berbicara dengan salah satu
karyawan, berjalan menghampirinya, dan lansung berkata.
“Awas, Dy, ingat Lisa.” Lara memperingati Abdy karna ia tau
hubungannya dengan Lisa, Lara juga tau kalau Abdy sangat mencintai Lisa
terlihat jelas ketika ia menghadiri acara pertunangannya, ia mengajak Lisa dan
memperkenalkannya sebagai kekasihnya pada semua teman-temannya.
Abdy yang mendengar perigatan Lara tersenyum dan berkata.
“Tentu aku tidak akan selalu mengingatnya” tersenyum “Karna
Lisa selalu berada di sini.”
Dengan senyuman merekah Abdy menyentuh bagian hatinya ketika
selesai mengatakan itu, karna memang nama Lisa kini telah memenuhi seluruh
ruangan hatinya.
Lara yang mendengar itu tersenyum, sambil berlalu
__ADS_1
meninggalkan Abdy karna tunangannya telah menunggunya di parkiran karna ia
ingin keluar makan siang dengan tunangannya.
Sementara Abdy melanjutkan langkahnya menuju arah Lif, karna
ia akan menggunakan Lif untuk segera
sampai di ruangan Aby.
Setelah sampai di depan pintu ruangan kakaknya, tampa
mengetuk pintu Abdy mendorong pintu ruangan Aby lalu masuk. Abdy membulatkan
matanya terkejut ketika melihat Aby dengan istrinya di atas kursi kebesarannya
tengah melakukan adengan romantis ala-ala korea itulah yang ada di dalam
pikiran Abdy saat ini. Ia mendapatkan Aby tengah bercumbu dengan kakak iparnya dalam
gaya yang tidak bisa ia katakan.
“Maaf bos.” Kata Abdy mengangetkan Aby yang kini tengah
asyik mencumbui bibir istrinya “Aku tidak tau kalau bos?...” Abdy terkekeh
sambil membalikkan badannya, karna ia tidak menyangka akan mendapat tontonan drama
korea di siang bolong seperti ini.
Sementara Aby yang mendengar ucapan adiknya terkejut. Lansung
belepas bibirnya dan tangannya dari tubuh istrinya, karna merasa sedikit kesal
dengan kelakuan adiknya yang tidak mengetuk pintu masuk ke dalam ruangannya Aby
pun berkata.
“Kamu itu tidak tau mengetuk pintu?” dengan nada kesal Aby
mengatakan itu.
Sementara Becca merasa sangat malu karna ini kesekian kalinya
adik iparnya menemukannya tengah bercumbu dengan suaminya, karna merasa malu
tampa berkata apapun Becca berjalan masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya.
Namun Abdy yang melihat itu berkata.
“Kakak ipar.” Memanggil “Kakak ipar tidak perlu merasa malu,
anggap saja aku hanya angin lalu yang kebetulan lewat.” Abdy sengaja mengatakan
itu karna ia tau kakak iparnya sangat malu, terlihat jelas dari wajahnya yang
terlihat memerah itulah yang Abdy lihat saat ini.
Becca yang mendengar ucapan adik iparnya berbalik sejenak,
lalu berlari masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya lalu menutupnya. Rasa malu
pasti Becca rasakan saat ini, karna ia tengah melakukan pegan-pegangan dengan
suaminya.
Abdy yang mendengar nada kesal Aby berkata “Lagian sih,
punya kamar pribadi melakukan hal itu di luar, jadi jangan salahkan aku. Beruntung
aku yang melihatnya, kalau orang lain bagaimana?” Dengan santainya Abdy
mengatakan itu.
“Kamu itu ya, benar-benar. Ah.” Aby terlihat nampak sangat
Abdy yang melihat wajah kesal kakaknya kembali tersenyum,
lalu berkata. “Uda, bos, nanti di lanjutkan setelah sampai di rumah, karna di
rumah terserah! apa yang ingin bos lakukan tidak akan ada yang menggangu alias
bebas.”
Abdy terkekeh pelan ketika selesai mengatakan itu, karna
melihat wajah kesal kakaknya yang terlihat jelas melihat ke arahnya.
“Baiklah sekarang katakan apa yang ingin bos sampaikan
sehingga mengajakku ke datang kemari, sekaligus menggangu acaramu dengan kakak
ipar?” Abdy duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Aby, sambil melihat
wajah kesal yang masih Aby tunjukkan.
“Aku ingin kamu menyiapkan semua dokument-dokument yang
telah di siapkan Lara” menunjuk arah maf yang berwarna biru yang ada di meja
yang ada di dalam ruangannya “Dan bawa semua ke ruangan pertemuan, karna
sebentar lagi aku akan menemui seseorang.”
“Baiklah” melihat ke arah meja “Kalau begitu aku bawa semua
dokument itu ke ruangan pertemuan.” Setelah mengatakan itu Abdy berangjak dari
duduknya kemudian berjalan ke arah meja, lalu mengambil maf yang berwarna biru
itu kemudian membawanya ke ruangan dimana Aby menyuruhnya.
Sementara Aby yang melihat adiknya keluar dari ruangan,
masuk ke dalam kamar pribadinya dan mendapati istrinya tengah berdiri santai di
dekat jendela kamarnya.
“Sayang.” Memeluk istrinya dari belakang.
“Iya.” Berbalik sejenak melihat ke arah Aby yang kini tengah
memeluknya dari belakang.
“Aku ingin ke ruangan pertemuan untuk menemui Rendi Ayah
Lisa. Apa kamu ingin ikut denganku untuk menemuinya?”
“Tentu saja By, aku ingin menemuinya, karna aku penasaran,
seperti apa wajah yang telah memukul wajah adik iparku seperti itu.”
Sebenarnya Becca yang paling sangat kesal ketika melihat
wajah tampan adik iparnya bonyok seperti itu, kekesalannya bertambah ketika
mendapat kabar kalau saat ini adik iparnya tengah berada di balik jeruji besi. Dan
itu membuatnya sangat penasaran orang seperti apa yang telah melakukan hal itu
kepada adik iparnya. Bahkan ketika Abdy menceritakan semua kalau ia layaknya
menjual putrinya sendiri agar seluruh utangnya lunas.
“Baiklah, ayo kita ke ruangan pertemuan, karna seharusnya ia
sudah menungguku di sana.”
__ADS_1
“Yu.”
Becca dan Aby melangkah keluar dari dalam kamar pribadinya,
lalu berjalan menuju arah ruangan pertemuan.
Sementara Abdy yang baru saja memasuki ruangan pertemuan
begitu sangat terkejut ketika melihat Rendi tengah duduk sambil menanti
kedatangan Aby. Abdy bingun sekaligus bertanya-tanya untuk apa Ayah Lisa berada
di kantor kakaknya?.
Seputaran mulai berkeliling di atas kepala Abdy, mungkin Aby
mengundangnya atu bagaimana, dan mungkin karna ini Aby menyruhnya datang ke
kantornya, itulah yang terlintas dala kepala Abdy saat ini.
Dan begitu pun dengan Rendi yang sangat terkejut melihat
pemuda yang tadi pagi ia jebloskan masuk ke dalam penjara kini tengah berdiri
di depannya dengan stelan jas yang sangat mahal menurutnya, karna Rendi bisa
membedakan mana jas yang mahal, mana yang bukan.
Rendi berangjak dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah
Abdy, sambil berkata. “Oh, jadi kamu bekerja di kantor ini?” sebuah nada suara
sinis keluar dari dalam mulut Rendi “Dan jas mahal yang kamu kenakan ini?”
tersenyum sinis “Pasti kamu membelinya dengan cara mencicilnya kan? Karna tidak
mungkin kamu sanggup membeli stelan jas semahal ini.” Rendi kembali menyindir
Abdy, sementara Abdy yang mendengar sindiran calon mertuanya hanya tersenyum
tidak menampakkan wajah kesal dan semacamnya.
Dengan senyuman Abdy berkata “Silahkan duduk Om, sebentar
lagi bos pemilik perusahaan ini akan masuk.” Abdy berkata pelan dan santai dan
itu membuat Rendi kembali tersenyum sinis melihat ke arahnya.
Hem—em.
“Tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku! Aku tau! kamu
bersikap seperti itu karna kamu menginginkan sesuatu dariku, benar kan?” terdiam
sejenak “Tapi kamu jangan pernah bermimpi! Akan mendapatkan semua itu! Karna aku
tidak akan pernah membiarkannya” Rendi mendorong tubuh Abdy ketika selesai
mengatakan itu.
Dan di saat Rendi mendorong tubuh Abdy, kakinya tersandung
dengan pinggiran kursi dan itu membuat
Abdy terjatuh, namun beruntung di saat Abdy ingin terjatuh dengan segera Aby
menjadikan tubuhnya sebagai sandaran buat Abdy hingga akhirnya Abdy tidak jadi
terjatuh, justru memeluk tubuh kakaknya.
“Maaf, bos.” Ucap Abdy ketika melihat wajah orang yang di
peluknya.
Becca yang melihat tindakan Rendi begitu sangat terkejut,
karna kali ini ia melihat tindakan Ayah Lisa secara lansung.
Sementara Aby, wajahnya mulai sangat memerah, bukan memerah
karna merasa malu atu sebagainya justru ia merasa sangat marah dan kesal
melihat adiknya di perlakukan seperti itu. Aby tidak terima dengan apa yang
baru saja di alami adiknya.
Hingga tampa berkata apapun, Aby mengambil dokument yang ada
di tangan Abdy dan lansung berjalan ke arah kursi kebesarannya lalu duduk.
Sementara Rendi yang melihat wajah pemilik dari perusahaan
yang di tempatinya duduk saat ini merasa takut, karna ia berpikir kalau pemilik
perusahaan yang di tempatinya duduk saat ini tengah merasa sangat marah karna
terlihat jelas dari wajahnya yang memerah.
“Apa kamu tidak apa-apa Dy.” Tanya Becca kepada Abdy.
“Iya, aku tidak kenapa-napa ka...?” Abdy tidak melanjutkan
ucapannya karna Rendi berbalik melihat ke arahnya.
Setelah menanyakan hal itu kepada adik iparnya, Becca menatap
wajah Ayah Lisa dengan penuh seksama karna ia merasa seperti pernah melihat
wajah orang tersebut.
“Sepertinya aku
pernah melihat wajahnya, tapi di mana?” berpikir “Iya, aku pernah melihatnya di
poto, bersama dengan Mommy dan juga Mama Nabila, iya memang sepertinya dia.” Becca
berkata pelan sambil berjalan ke arah suaminya.
Sementara Aby masih terlihat nampak sangat kesal, kesal
memikirkan apa yang baru saja di alami adiknya kalau ia tidak segera masuk ke
dalam ruangan pertemuannya.
“Baca ini!” Aby melemparkan dokument-dokument yang tadi Abdy
bawa masuk ke dalam ruangannya di hadapan Rendi “Jika anda menyetujui semua
persyaratan yang tertulis di dalam dokument tersebut, aku akan membantu meringankan
segala beban masalah yang telah kamu hadapi.” Dengan nada suara datar dan tegas
Aby mengatakan semua itu.
Sementara Becca yang mendengar ucapan Aby melihat ke arah
Rendi, yang kini mulai membuka maf berwarna biru tersebut dan mulai melihat apa
saja yang tertulis dalam kertas putih tersebut.
Becca mendekat ke arah Aby dan mulai membisikkan sesuatu
yang tidak ada yang tau kecuali hanya mereka berdua.
“Apa kamu yakin?” Aby memastikan apa yang baru saja istrinya
bisikkan kepadanya.
__ADS_1
“Iya, aku sangat yakin.”